
Niar tidak berani teriak dia hanya bisa meronta-ronta "Tolong hentikan!" Lirihnya dengan derai air mata.
Yusuf sudah tumbang, Niar pun di lepaskan dan mereka pergi begitu saja.
Niar lari mendekati Yusuf mengangkat kepala Yusuf lalu memangkunya, dia berteriak sekeras-kerasnya "Tolong..!!! tolong..!!"
Dalam keadaan sudah tak berdaya Yusuf masih sempat menanyakan keadaan Niar. "Sayang, kamu tidak apa-apa kan?"
Niar menggenggam tangan Yusuf. "Jangan tanya aku kenapa, yang harus di khawatirkan itu kamu mas."
"Aku tidak apa-apa." Yusuf masih bisa bilang tidak apa-apa, namun setelah itu genggaman di tangannya terlepas dengan sendirinya, Yusuf tidak sadarkan diri.
Niar panik setengah mati dan terus berteriak minta tolong. Sampai akhirnya ada mobil sayur yang lewat dan mau menolong mereka, Yusuf segera di bawa ke rumah sakit terdekat.
Yusuf masuk UGD. Niar menunggu di luar, dia menunggu dengan gelisah, khawatir.
Sambil menunggu Yusuf, dia kembali ke ruang administrasi tadi. "Sus, boleh saya pinjam teleponya sebentar?"
Suster sedikit menggeser telepon di hadapannya. "Silahkan Bu."
Niar meraih telepon itu lalu menekan beberapa digit nomor.
"Hallo, dengan siapa saya berbicara?" sahut Andi dari seberang telepon.
__ADS_1
"Ini kak Niar Ndi, kakak pakai telepon rumah sakit."
"Ada apa kak? Siapa yang sakit?" terdengar suara panik dari seberang sana.
Niar kembali menangis. "Tolongin kakak Ndi, Kak Yusuf di rampok dan sekarang di rumah sakit, kakak sudah tidak ada uang lagi semua di ambil rampok tadi, kamu segera nyusul Kakak kesini ya!"
"Baik Kak, Andi langsung nyusul Kakak sekarang."
"Kakak tunggu Ndi."
Niar menutup telfonya lalu menggesernya ke arah Suster tadi. "Sudah Sus, terima kasih banyak."
Suster itu tersenyum ramah. "Sama-sama bu."
"Bagaimana keadaan suami saya Dok?" tanya Niar setelah Dokter keluar dari ruang UGD.
"Bisa ke ruang saya bu, saya akan menjelaskan lebih detail dan biar pasien di pindah di kamar rawat dulu."
"Saya mau melihat keadaan suami saya dulu dok, boleh kan?"
"Silahkan masuk bu, tapi jangan sampai membangunkan pasien!" pesan Dokter pada Niar.
Niar mengangguk cepat. "Baik Dok, setelah ini saya akan ke ruangan Dokter."
__ADS_1
"Baik Bu, saya tunggu." Dokter kembali ke ruangannya, dan Niar segera masuk.
Air matanya menetes begitu deras saat melihat suaminya, Niar mendekat lalu mengecup tangan Yusuf yang tidak terpasang infus, mengusap pelan wajahnya yang banyak luka memar. "Cepat sembuh ya sayang, aku yakin kamu kuat, kamu adalah pelindungku. Aku ke ruangan Dokter sebentar mas kata Dokter ingin menyampaikan sesuatu." bisik Niar lalu menyeka air matanya.
Niar beranjak dari tempatnya menuju ruangannya Dokter.
Tok tok tok "Permisi Dok."
"Silahkan masuk, silahkan duduk."
Niar memasuki ruang Dokter lalu duduk di kursi berseberangan meja dengan Dokter. "Bagimana Dok kondisi suami saya saat ini Dok? Apa ada luka yang serius?"
Dokter menghela napas pelan. "Begini Bu, akibat pukulan tadi di bahu sebelah kanan, tulangnya sedikit retak dan salah satu otot mengalami cidera, jadi untuk sementara waktu pak Yusuf tidak bisa mengangkat sesuatu, bahkan mungkin untuk makan sendiri saja tidak bisa, harus pakai tangan kiri."
Niar menutup mulutnya lalu air matanya kembali mengalir. "Tapi masih bisa sembuh kan Dok?"
"Memang bisa sembuh, tapi butuh waktu agak lama dan butuh penanganan khusus."
"Kalau saya bawa pulang suami saya ke Jakarta boleh nggak Dok?"
"Sebaiknya jangan dulu Bu, tunggu sampai kondisi pak Yusuf membaik."
*
__ADS_1
Bersambung...