
*
*
Yusuf mengecup senyum manis istrinya. "Andai tanganku tidak sakit aku pasti sudah bercinta denganmu."
Niar terkikik. "Sabar, aku mandi ya keburu malam nih."
"Oke."
Niar mandi dan Yusuf masih di ranjang
menunggu Niar selesai mandi untuk makan malam bersama.
Beberapa menit kemudian Niar keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang hanya berbalut handuk sedada.
"Sayaang kenapa kamu memamerkan tubuh indahmu di depanku? Kamu sengaja menggodaku?" protes Yusuf.
Niar berjalan santai menuju lemari. "Terus aku di suruh ganti baju di kamar mandi gitu?"
Niar mengambil baju ganti di lemari yang
agak tinggi dan mengharuskan Niar untuk berjinjit, saat berjinjit Niar keseleo dan hampir jatuh. Yusuf yang melihat itu spontan menggunakan tangan kirinya untuk menangkap Niar, namun mereka tetap jatuh.
"Aduh... tanganku sakit."
__ADS_1
Niar mengelus-elus tangan yusuf yang sakit. "Maaf mas."
Yusuf diam dan hanya memandangi wajah Niar sambil senyum-senyum tak jelas.
Niar menyatukan alisnya. "Kenapa senyum-senyum? Katanya sakit."
Yusuf terkekeh. "Kamu lucu kalau lagi panik, sebenarnya sudah tidak sakit sih."
"Orang panik di bilang lucu." gumam Niar.
*
Keesokkan harinya Yusuf ke kantor di temani Niar karena memang saat ini Niar adalah tangan kanannya. Hampir semua karyawan tidak tau kalau Niar adalah istri sang pemilik perusahaan, karena Niar memang tidak pernah ikut ke kantor, dan terpaut usia yang cukup jauh. Niar baru berusia dua puluh delapan tahun, masih cantik dan menarik.
Sembilan tahun yang lalu memang Niar kerja disitu, tapi semenjak Niar hamil dia risain dan tidak pernah ke kantor sama sekali.
Niar menemani Yusuf kesana kemari bagaikan asisten Yusuf. Niar berada di ruangan Yusuf mereka bekerja bersama-sama.
Yusuf menguap karena rasa kantuk menyerangnya. "Sayang, bikinin aku kopi dong."
"Jangan kopi dong mas, sebentar lagi kan jamnya minum obat."
"Tapi aku ngantuk."
Niar mendekati Yusuf lalu mengecup keningnya. "Masih ngantuk?"
__ADS_1
"Masih."
Kecupan Niar pindah ke pipi kanan dan kiri. "Masih ngantuk juga?"
"Masih."
Akhirnya kecupan Niar pindah ke bibir, Niar mencium serta menghisapnya sesaat, hanya sesaat Niar segera menutup bibir Yusuf dengan tangannya. "Sudah, ini kantor tau nanti kalau ada yang melihat gimana?"
"Loh, aku nggak minta kok, kamu aja yang terlalu baik mau ngasih gratisan."
Niar melotot. "Siapa bilang gratis? Enak aja gratis, kamu sudah nyuruh aku kerja dua puluh empat jam loh. Mandiin kamu, gantiin baju kamu, nyuapin kamu dan kerjaan kantor pun sekarang aku yang ngerjain."
"Terus kamu mau di bayar berapa untuk semua itu?" tanya Yusuf.
Niar mengusap lembut pipi Yusuf. "Bayar dengan seluruh sisa hidupmu hanya bersamaku."
Yusuf memejamkan matanya menikmati usapan lembut di wajahnya. "Cuma itu?. Yusuf membuka matanya. "Sejak aku melamar kamu kan aku sudah bilang kalau seluruh sisa hidupku akan aku berikan padamu sayang."
Niar memeluk Yusuf erat. Saat memeluk Yusuf ada yang mengetuk pintu, seketika Niar melepaskan pelukannya dan kembali duduk seperti orang yang sedang bekerja.
Ternyata yang datang adalah Staff OB
Staff itu melirik Niar yang sedang fokus bekerja. "Cantik sekali sekretaris pak Yusuf yang baru." batin Staff OB tersebut.
Bersambung...
__ADS_1