Buai Kupu-kupu Malam

Buai Kupu-kupu Malam
Daniel 9


__ADS_3

*


*


Yusuf tersenyum lalu mengecup puncak kepala Niar. "Agak aneh aja, masa' bisa segitu dekatnya sampai mau jagain anak-anak kita segala."


"Sudah, nggak usah di pikirin, Daniel itu orangnya baik kok."


"Tapi aku sedikit curiga sama dia."


Niar menegakkan tubuhnya. "Sudah ah, jangan berprasangka buruk pada orang lain nggak baik, mending sekarang kita ganti topik gimana?"


Yusuf mengangkat satu alisnya. "Tentang?"


"Tentang kita dong."


"Tentang kita yang mau program anak kembar?" tanya Yusuf sembari tersenyum dan menaik-turunkan alisnya.


"Dua saja mas!" kekeh Niar.


"Ayolah sayang, aku pengen punya anak yang banyak biar rame terus kalau kita sudah tua nanti banyak yang ngurus kita." rayu Yusuf.


"Enggak, titik!"


"Katanya ganti topik tentang kita, giliran bahas anak nggak mau."


"Ya udah kita tidur aja."

__ADS_1


Yusuf mengangkat tubuh istrinya menuju kamar lalu membaringkannya di ranjang. "I love you." bisik Yusuf di telinga Niar.


"I love you too sayang jangan pernah berhenti mencintaiku."


Yusuf tersenyum. "Aku tidak akan pernah berhenti mencintai kamu sayang, karena aku sudah menyerahkan segalanya untukmu, seluruh jiwaku, ragaku, hatiku, hartaku, semuanya untukmu, sampai rambutmu memutih, kulitmu keriput aku tetap mencintaimu, engkaulah satu-satunya wanita di hatiku."


Niar mengusap lembut pipi Yusuf. "Makasih mas, aku berjanji akan selalu setia padamu."


Yusuf meraih tangan Niar yang sedang mengusap wajahnya lalu mencium tangan Niar.


"Aku selalu bahagia di sampingmu mas, engkau selalu memperlakukan aku seperti ratu."


"Aku juga bahagia bersamamu sayang, engkaulah yang menyempurnakan hidupku."


Niar memeluk erat tubuh Yusuf. "Mau tidur apa mau bercinta dulu?" bisik Niar seduktif.


"Bercinta dong." jawab Yusuf cepat.


Yusuf mencium perpotongan leher Niar. "Aroma wangi tubuhmu membuat aku selalu rindu ingin bercinta denganmu sayang."


Ciuman demi ciuman berlanjut saling memuaskan. Usai bercinta mereka tidur hingga pagi.


*


Pagi menjelang Niar sudah bangun duluan karena harus membuat sarapan untuk semua.


Yusuf membuka mata namun tidak menemukan istrinya di sampingnya, Yusuf menyusul ke dapur karena Yusuf sudah tau kalau Niar pasti sedang memasak.

__ADS_1


Yusuf langsung memeluk istrinya dari belakang. "Sayaang, kamu bangunnya pagi sekali."


Niar menoleh. "Biar nanti kalau kalian bangun sarapan sudah siap."


"Kita kan bisa makan di luar jadi kamu nggak perlu repot-repot gini."


"Nggak repot kok cuma masak."


Yusuf melepas pelukannya. "Apa yang bisa aku bantu nih?"


"Itu sayurnya di potong-potong dan bawangnya di kupas."


"Woke."


Mereka masak bersama di dapur dan hampir satu jam kemudian semua sudah beres tinggal nunggu anak-anak.


"Anak-anak belum bangun ya?"


"Belum mas."


"Sambil nunggu anak- anak kita mandi dulu yuk."


Yusuf jongkok di depan Niar. Niar pun naik ke punggung Yusuf mereka ke kamar mandi dan mandi, setelah mandi ternyata anak-anak sudah menunggu di meja makan.


Mereka sarapan dan jalan-jalan di sekitar kebun teh, sampai siang dan sorenya mereka kembali ke Jakarta.


*

__ADS_1


Hari sudah Senin lagi rutinitas kembali seperti biasa, usai jemput anak-anak sekolah Niar berangkat ke kampus, di perjalanan Niar melihat Eva sedang di pinggir jalan berdiri menunggu seseorang yang sedang memperbaiki mobil.


Bersambung..


__ADS_2