
"Ibu ikut kita kan?" tanya Yusuf pada Ibu.
Ibu menggeleng. "Ibu nggak ikut kalian, Ibu ini sudah tua nggak bisa perjalanan jauh, kalian saja sama Erlang dan bi Imah."
"Ibu tidak apa-apa kami tinggal?"
Ibu terkekeh. "Tidak apa-apa kan ada pembantu, satpam, sopir."
"Ya sudah kalau begitu, brarti kita berempat ke Lombok." ujar Yusuf.
Keesokan harinya mereka berangkat bersama ke Bandara, Andi dengan tujuan ke Palu
Niar, Yusuf, Erlang dan bi Imah tujuan Lombok.
Mereka sampai di Lombok langsung ke hotel, istirahat sejenak sebelum jalan-jalan.
Sore harinya mereka baru jalan-jalan tujuan pertama ke pantai, mereka bersenang-senang di pantai bermain air dan pasir.
Erlang juga sangat gembira bermain pasir bersama bi Imah.
Hari mulai senja Erlang dan bi Imah kembali ke hotel, Yusuf dan Niar masih di pantai ingin melihat matahari terbenam.
Duduk di pinggir pantai sambil berpelukan menikmati keindahan alam.
Langit berwarna jingga dan matahari pun tenggelam, mereka kembali ke hotel.
Paginya mereka jalan-jalan lagi, shoping, juga ke kebun binatang untuk membahagiakan Erlang dan mengenalkannya dengan hal baru.
Ini bukan bulan madu tapi piknik keluarga.
Satu Minggu mereka di lombok sudah waktunya pulang.
*
__ADS_1
"Gimana bulan madunya seru? cucu ibu udah mau nambah lagi kan?" tanya Ibu setelah mereka sampai dirumah. Pertanyaan yang berhasil membuat Niar tersipu malu.
"Belum Bu masih proses, lagian kita itu disana bukan bulan madu, tapi piknik." jawab Yusuf.
"Tapi kan tetap sempat bikinin Ibu cucu dong?"
"Tenang bu nanti Yusuf bikinin yang banyak, Ibu maunya berapa? 5-6? Gampang itu bisa di atur, iya kan sayang?" goda Yusuf.
Niar mencubit lengan Yusuf. "Apaan sih!"
"Pokoknya bikinin yang banyak Ibu tunggu."
"Siapp." Yusuf menarik lengan Niar. "Yuk sayang kita bikin sekarang."
Niar menatap Ibu dan Yusuf bergantian. "Ini pada kenapa sih?"
Yusuf tergelak. "Sudah yuk istirahat dulu kamu pasti capek."
"Gendonggg." ujar Niar manja.
Niar meluruskan kakinya. "Mas pijitin dong, capek nih."
Yusuf menaiki ranjang lalu duduk di sebelah Niar. "Ok. Tapi tidak gratis loh."
Niar mengernyit. "Masa aku suruh bayar kamu?"
"Bukan pakai uang."
"Terus pake apa? Cinta?"
"Sebagai imbalanya? Kita bikinin adik untuk Erlang."
"Mau minta pijit aja syaratnya susah banget ya, aku nyuruh bi Imah aja deh."
__ADS_1
"Iya ya aku pijitin." Yusuf mulai memijit kaki Niar semakin ke atas dan ke atas lagi.
"Sudah cukup belum? Sudah hilangkan capeknya?"
"Sudah mas, lebih enakkan sekarang."
"Sekarang gantian aku yang di pijit!"
"Kamu mau di pijit juga?"
"Iya dong, tapi bukan kaki."
"Terus dimana? Tangan? Punggung?"
Yusuf menjadi gemas karena Niar tidak peka. "Sayang, ayo kita bikinin Ibu cucu lagi!"
Niar menoel hidung Yusuf. "Nih orang pikirannya kok mesum terus ya. Nanti malam saja ya? Sekarang kita istirahat dulu."
"Janji ya nanti malam?"
"Iyaa."
Mereka pun istirahat sejenak.
Tiba-tiba Erlang masuk karena pintu kamar memang tidak di kunci. "Mama bangun!"
Niar membuka matanya perlahan. "Erlang, kok kamu disini, kenapa sayang?"
"Mau es krim."
Niar beringsut. "Yuk Mama ambilin di dapur."
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih banyak buat semua pembaca setia ku. Jangan lupa like dan share ya ššš