
Daniel duduk di sebelah Niar. "Jangan panggil pak! Panggil Daniel saja, kita seumuran bukan?"
"Oh, iya, Daniel." jawab Niar kaku.
Daniel mengulurkan tangannya. "Boleh kenalan?"
Niar juga mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Daniel "Niar."
"Tumben Kayla di jemput Mamanya? Biasanya sopir." tanya Deniel setelah melepas jabatan tanganya.
"Iya, dari pada bosan dirumah, mending jemput anak-anak." jawab Niar.
Daniel mengernyit. "Anak-anak? Memang anda sudah punya anak berapa?"
"Dua, Kayla dan Kakaknya, ini mau sekalian jemput Kakaknya." jawab Niar lalu tersenyum kikuk.
"Masa' masih semuda itu sudah punya anak dua?" batin Daniel.
Niar melirik jam di tangannya sesaat lalu dia berdiri. "Kayla, mainnya udahan ya kita jemput Kak Erlang sekarang."
Kayla menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke arah Mamanya. "Iya Mah." lalu beralih menatap Meysa. "Mesya, aku pulang dulu ya, besok main lagi."
Mesya mengangguk. "Iya Kayla, aku juga mau pulang Papaku sudah datang."
*
__ADS_1
Sampai di rumah anak-anak ganti baju, makan siang dan bobo siang.
Niar mencoba untuk ikut tidur siang namun tidak bisa dia hanya membolak-balikkan badan saja. Akhirnya dia bosan, dan memutuskan untuk bikin kue di dapur, dia sibuk di dapur sampai lupa waktu sampai Yusuf pulang pun Niar tidak tau.
"Erlang, Kayla Papa pulang."
"Den Erlang dan non Kayla sedang di ruang tengah tuan, mereka sedang nonton televisi." jawab bi Imah.
"Terus Mamanya kemana bi?" tanya Yusuf.
"Di dapur tuan." jawab bi Imah lagi.
Akhirnya Yusuf menyusul istrinya ke dapur, dia penasaran masak apa istrinya.
dia mencolek pelan pipi kanan Niar terus jongkok. Niar menoleh ke kanan namun tidak ada siapa-siapa, Niar melanjutkan pekerjaannya kembali. Yusuf berdiri lagi dan mencolek pipi sebelah kiri, terus jongkok lagi.
Ketika Niar menoleh, Yusuf mengagetkannya dengan mencengkram kaki Niar. Sontak Niar kaget dan tepung yang di bawanya tumpah mengenai wajah Yusuf.
Detik itu juga Niar tergelak kencang. "Kasian, makanya jangan jahil! Kena sendiri kan!"
Yusuf menepuk-nepuk wajahnya supaya mengurangi tepung di wajahnya. "Habisnya kamu terlalu sibuk sih, suaminya pulang kerja sampai tidak tau."
"Maaf."
Yusuf tetap ingin menjahili Niar, dia mencium paksa dengan muka yang penuh tepung dan muka mereka kini sama-sama penuh tepung.
__ADS_1
Niar menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya namun tetap saja wajahnya terkena tepung dari wajah Yusuf. "Sudah mas, mandi yuk."
Yusuf mengehentikan aksinya. "Emang bikin kuenya sudah selesai sayang? Boleh icip dong."
"Sudah, tinggal nunggu dingin, nanti di makan bersama anak-anak sehabis mandi, oke!"
"Oke." Mereka berjalan menuju kamar lalu mandi.
Yusuf selesai duluan dan segera ganti baju,
di saat sedang ganti baju Yusuf melihat sebuah kartu nama di meja rias Niar, dia mengambil dan membacanya. "Daniel Subrata S.P." gumam Yusuf.
"Siapa Daniel? Kayaknya Niar nggak pernah cerita tentang Daniel?" batin Yusuf.
Daniel Adalah Kepala Sekolah muda di sekolahan Erlang dan Kayla. Dia masih muda namun sudah menjabat Kepala Sekolah.
Daniel punya anak satu, yaitu Mesya anak semata wayang hasil pernikahannya dengan istrinya.
Pernikahannya tidak di landansi dengan cinta, dulu mereka di jodohkan dan pernikahan itu masih bertahan sampai sekarang.
Mereka memang tidak saling cinta namun mereka bisa saling menerima, sehingga rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kehadiran Mesya juga menjadi alasan mereka tetap bertahan.
Bersambung...
__ADS_1