Buai Kupu-kupu Malam

Buai Kupu-kupu Malam
Menikah di rumah sakit


__ADS_3

Setelah beberapa jam akhirnya dokter keluar.


"Bagaimana kondisi anak saya dok?" tanya Ibu pada Dokter yang menangani Yusuf.


Dokter tersenyum ramah. "Syukurlah tidak ada luka dalam namun luka luar cukup parah, butuh waktu beberapa hari rawat inap."


"Lakukan yang terbaik Dok." sahut Niar.


"Sekarang boleh kita masuk dok?" tanya Ibu lagi.


Dokter menggeser tubuhnya agar keluarga pasien bisa masuk. "Silahkan, pasien juga dalam keadaan sadar."


Mereka masuk dengan menangis sedih melihat keadaan Yusuf.


Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia namun menjadi hari kesedihan


"Kalian jangan nangis? Aku tidak apa-apa kok." ujar Yusuf.


Niar berjalan lalu duduk di samping ranjang. "Gimana keadaan kamu mas? Kenapa bisa sampai begini?"


"Pak sopir menghindari truk dari arah berlawanan tapi malah kita yang nabrak pembatasan pinggir jalan dan hampir masuk jurang, syukurlah kita masih selamat." jawab Yusuf.


Niar meringis ngeri melihat luka Yusuf.


Yusuf mengedarkan pandangannya namun ia tidak menemukan orang yang di carinya. "Sayang Erlang mana?"


"Di luar bersama bi Imah, anak kecil kan belum boleh masuk rumah sakit."


"Yaaah." Yusuf mendesah kecewa. "Padahal aku kangen sama Erlang sudah beberapa hari ini aku tidak ketemu Erlang."


"Makanya cepet sembuh biar bisa main-main lagi sama Erlang." ujar Niar.


"Pasti sayang. Aduh, nasib pernikahan kita gimana? Gagal?"

__ADS_1


"Tidak gagal, hanya di tunda dulu sampai kamu sembuh." jawab Niar.


Yusuf melebarkan matanya. "Enggak-nggak aku nggak mau nunda-nunda pernikahan kita."


Niar membuang napas berat. "Terus maksud kamu gimana? Mau di lanjutin? Kamu aja masih di rumah sakit kayak gini."


"Pokoknya aku nggak mau menunda pernikahan kita!"


"Yusuf, kamu jangan ngeyel kayak anak kecil gitu, sabar dikit kenapa!" sahut Ibu.


"Aku mau kita nikah di rumah sakit Bu, hari ini juga." ujar Yusuf lalu menatap Andi. "Andi, tolong hubungi pak penghulu tadi."


"Baik kak."


Andi segera keluar kamar lalu menghubungi penghulu tadi dan ternyata dia bersedia melaksanakan Ijab Qobul di rumah sakit.


Satu setengah jam kemudian penghulu itu datang.


Niar bersiap-siap dia masih memakai kebaya karena memang tadi langsung ke rumah sakit belum sempat ganti baju, Yusuf hanya memakai kemeja putih jas hitamnya di copot oleh suster yang menanganinya tadi.


Ijab Qobul pun terucap dari bibir Yusuf dan mereka telah resmi menjadi suami istri.


Mereka menikah di rumah sakit, dengan perlengkapan seadanya, menggunakan pakaian seadanya.


Namum itu tidak mengurangi rasa bahagia mereka.


Penghulu, saksi, wali dan Ibu Yusuf semua mengucapkan selamat, lalu berpamitan.


Pesta resepsi di undur sampai Yusuf sembuh.


" Semua sudah beres, sekarang Ibu keluar dulu ya mau nyusul Erlang di taman."


"Iya Bu."

__ADS_1


Niar kembali duduk di sebelah Yusuf. "Nggak nyangka ya mas kita bakal nikah di rumah sakit."


"Yang penting kan Sah." Yusuf menggeser tubuhnya lalu menepuk sisi sebelahnya. "Sini istriku sayang."


Niar menuruti kemauan Yusuf. "Ada apa? Mau makan?"


Yusuf geleng-geleng.


"Minum?" tanya Niar.


Yusuf geleng-geleng lagi.


"Terus maunya apa?" tanya Niar pasrah.


"Maunya di peluk sama istriku."


Niar duduk di tepi ranjang lalu memeluk suaminya pelan.


"Aku ingin menikmati indahnya malam bersamamu sayang."


"Makanya cepet sembuh, nanti tiap malam aku nemenin kamu."


"Pulang sekarang yuk."


Niar melotot. "Nggak boleh! Kata Dokter kamu harus di rawat beberapa hari dulu sampai kamu bener-bener sembuh."


"Kalau kamu yang ngerawat di rumah pasti lebih cepat sembuhnya."


"Emang aku dokter?"


"Kamu adalah dokter di hatiku." jawab Yusuf nyeleneh.


"I love you." bisik Niar di telinga Yusuf.

__ADS_1


Bersambung...


Terima kasih banyak atas kunjungannya🙏🙏


__ADS_2