
*
*
"Seharusnya kamu tidak usah sampai nyebur kolam hanya untuk mengambil cincin itu sayang, aku bisa beliin cincin yang lain yang lebih cantik."
"Tidak ada satu pun barang pemberianmu yang aku sia-siakan, apa lagi sampai hilang atau di buang." ujar Niar dia berdiri lalu mengambil sebuah kotak di bawah meja riasnya, dia membukanya dan memperlihatkan isinya kepada Yusuf.
Semua barang pemberian dari Yusuf Niar menyimpannya dengan baik, ada beberapa baju yang sudah tak terpakai, sandal, sepatu dan lain-lain, bahkan bunga yang sudah layu dan kering pun masih dia simpan. "Ini semua barang pemberianmu mas."
"Bunga-bunga kering ini masih kamu simpan sayang?" tanya Yusuf seakan tidak percaya.
"Iya, aku juga mencintai semua barang pemberianmu mas, aku tidak akan membuangnya, apalagi cincin ini hadiah ulang tahun pernikahan kita, aku pasti menjaganya."
"Sini sayang aku pakek'in cincinnya pasti cocok sekali di jari manismu." Yusuf memakaikan cincin itu dan memang benar cincinnya sangat pas di jari manis Niar.
"Maafin aku sayang, seharusnya aku mempercayaimu, seharusnya aku tidak semarah tadi, mandi yuk kamu sudah kedinginan dari tadi nanti bisa sakit."
Yusuf mengangkat tubuh Niar lalu berjalan menuju kamar mandi dan mandi bersama.
Setelah mandi Yusuf menyelimuti tubuh Niar supaya lebih hangat. "Aku bikinin teh hangat mau? Atau susu?"
Niar menarik lengan Yusuf. "Enggak mas, aku maunya di peluk kamu."
Yusuf pun memeluk Niar dan Niar menenggelamkan wajahnya di dada Yusuf. "Jangan pernah marah seperti tadi ya mas, aku takut."
__ADS_1
Yusuf mengecup puncak kepala Niar. "Enggak sayang, maafkan aku."
Tok tok tok
Yusuf melepas pelukannya lalu menuruni ranjang kemudian berjalan menuju pintu serta membuka pintu tersebut. "Erlang, Kayla ada apa sayang?"
"Makan malam sudah siap Pah." jawab Erlang.
"Kalian duluan nanti Papa nyusul."
"Iya Pah."
"Iya Pah." jawab Erlang dan Kayla bersama.
Yusuf kembali menuju ranjang. "Aku ambilkan makan malam buat kamu ya."
"Enggak-nggak aku ambilin sebentar
anak-anak biar makan sama bi Imah dulu."
"Ya sudah." ujar Niar pasrah.
Yusuf turun ke bawah untuk mengambil makan malam, dia ambil satu piring makanan agak banyak karena untuk berdua, Yusuf menyuapi Niar sambil makan sendiri. Usai makan malam mereka istirahat.
Tengah malam Niar mengigau dan badannya menggigil. Niar mengigau agak keras, Yusuf sampai terbangun. "Sayang, kamu mimpi buruk?"
__ADS_1
Yusuf berusaha membangunkan Niar, Yusuf menepuk pelan pipi Niar, saat tangannya menyentuh pipi Niar yang panas Yusuf kaget.
"Sayang, kamu demam." gumamnya.
"Dingin mas." keluh Niar.
Yusuf turun mengambil obat dan kompres,
dengan telaten Yusuf meminumkan obat turun panas dan mengompres dahi Niar.
Malam menjelang pagi Niar pun membuka matanya dan melihat Yusuf di sampingnya yang masih memegangi kompres.
Niar menyentuh pipi Yusuf "Makasih sayang."
"Sayang, kamu sudah bangun, gimana keadaan kamu sudah baikan kan?" tanya Yusuf lalu menyentuh kening niar untuk memeriksa keadaanya, dan ternyata panasnya sudah turun.
"Aku sudah tidak apa-apa kok mas, oya mulai sekarang yang antar jemput anak-anak pak sopir saja mas."
"Kenapa? Aku nggak apa-apa kok,
aku nggak cemburu lagi."
"Aku nggak mau kalau nantinya timbul masalah lagi di keluarga kita."
"Terserah kamu, kalau itu membuat kamu nyaman."
__ADS_1
Mulai pagi itu Niar sudah tidak jadi sopir anak-anak lagi.
Bersambung...