
"I love you too sayang." balas Yusuf juga berbisik. "Semoga pernikahan kita langgeng sampai kakek nenek dan hanya maut yang memisahkan kita."
Niar menengadahkan kedua tangannya. "Aamiin." Niar lalu mencium pipi Yusuf. "Sekarang istirahat ya mas biar cepet sembuh."
Yusuf menggeleng cepat. "Aku belum mau istirahat, aku masih berduaan sama kamu."
"Jangan ngeyel deh! Nanti kamu malah nggak sembuh-sembuh loh, mau cepat pulang atau lama-lama di rumah sakit?"
"Maunya cepat pulang." jawab Yusuf.
"Makanya nurut jangan ngeyel!"
"Tapi aku maunya tidur di peluk kamu."
Niar terkekeh. "Dasar bayi gede."
Yusuf akhirnya tidur di pelukan istrinya, Ibunya sudah di depan pintu tapi tidak jadi masuk, dia tidak mau merusak suasana.
"Ya Tuhan maafkan aku yang dulu telah memisahkan dua orang yang saling mencintai, aku dulu telah merenggut kebahagiaan anakku sendiri. Andai aku tidak egois mungkin Yusuf sudah bahagia dari dulu dan aku juga tidak berpisah dengan cucuku" gumam Ibu.
Ibunya keluar lagi dan membiarkan mereka menikmati kebersamaan. Dia kembali menyusul Erlang yang sedang bermain di taman rumah sakit.
"Hai Erlang, kita pulang ke rumah oma yuk, bi Imah ayo kita pulang duluan."
"Tuan dan mbak Niar gimana nyonya?"
"Nggak apa-apa Yusuf sudah baikan kok paling beberapa hari lagi boleh pulang."
__ADS_1
Akhirnya mereka pulang duluan dengan sopir, tak lupa bi Imah mengirimkan pesan pada Niar memberi tau kalau dirinya sudah pulang duluan.
*
Beberapa hari kemudian Yusuf sudah di perbolehkan pulang.
"Erlang. Papa Mama pulang."
Erlang yang tadinya sedang bermain langsung lari menghampiri mereka. "Papa Mama dari mana kok lama?"
"Papa dari rumah sakit sayang, tuh lihat kaki Papa masih sakit." ujar Yusuf sembari memperlihatkan kakinya yang masih sakit.
"Ya udah balik rumah sakit lagi biar sembuh." ujar Erlang polos.
Yusuf tergelak. "Nggak mau ah, di rumah sakit itu tidak enak tau setiap hari di suntik sama Dokter, dan yang lebih menyebalkannya lagi Papa nggak bisa main sama Erlang."
"Sini gendong Mama aja, Papa kan kakinya masih sakit." sahut Niar.
"Tidak apa-apa sayang, kakiku sudah sembuh kok."
Yusuf mengangkat tubuh Erlang. "Pegangan yang kuat ya, kudanya mau lari kencang nih."
"Sudah-sudah, kalian istirahat dulu capek kan? Erlang sini ikut Oma, Oma mau ke supermarket nanti Erlang main di sana ya?"
"Erlang mau ikut Oma atau mau dirumah?" tanya Niar.
"Ikut. Beli es krim?"
__ADS_1
Ibu mengambil alih Erlang dari gendongan Yusuf. "Iyaa, nanti beli es krim, ayo bi kita berangkat. Andi ikut juga kan?" tanya Ibu pada Andi sembari mengedipkan matanya yang tidak kelilipan.
Andi merapatkan bibirnya menahan senyum. "Pasti ikut dong, Om Andi kan masih kangen dan pengen main-main sama ponakan Om yang paling ganteng."
Mereka berangkat belanja, ternyata ibu Yusuf pengertian, dia tidak mau mengganggu pengantin baru.
Tinggallah Yusuf dan Niar berdua di rumah.
Niar menarik lengan Yusuf. "Ayo mas kamu istirahat dulu di kamar."
"Ayo." jawab Yusuf, lalu Yusuf nekat membopong Niar masuk kamar meskipun berjalan dengan pincang."
"Mas. Turunin aku nanti jatuh kaki kamu kan masih sakit."
"Nggak ada yang sakit kalau aku bersama kamu, tapi kalau berpisah dengan kamu yang tidak sakit aja menjadi sakit."
"Gombal!" cibir Niar.
"Beneran sayang, aku sudah lama merindukan saat saat seperti ini,
bersamamu, memelukmu, menciummu,
dan---." Yusuf menjeda kalimatnya. "Bikin anak yang banyak sama kamu."
Bersambung....
Jangan lupa like dan share novelku,
__ADS_1
terima kasih sudah mampir ššš