
Yusuf membuka pintu kamar Erlang lalu masuk ke dalam menyusul Erlang yang sedang bermain. "Hai anak Papa yang ganteng."
Erlang langsung memeluk Papanya,
Yusuf pun membalas pelukan Erlang serta menciuminya.
"Papa udah pulang? Oleh-olehnya mana?"
Dahi Yusuf berkerut. "Oleh-oleh?"
"Oleh-olehnya ketinggalan di kantor sayang, besok aja ya?" sahut Niar di ambang pintu.
Erlang langsung cemberut.
"Sekarang kita main dulu ya?" ujar Yusuf.
Erlang mengangguk antusias lalu mereka bermain-main hingga tidak terasa sudah larut malam.
Yusuf membereskan mainan Erlang. "Sudah malam sayang waktunya bobo."
"Besok jangan lupa oleh-olehnya ya Pah."
Yusuf tersenyum kecil. "Iyaa Papa janji."
Niar memeluk Erlang dan Yusuf ikut memeluk keduanya.
Erlang menaiki ranjang lalu membaringkan tubuh mungilnya. Niar menyelimuti Erlang lalu mengecup pipinya. "Bobo yang nyenyak ya sayang."
Niar dan Yusuf keluar dari kamar Erlang menuju kamar mereka. Dan lagi-lagi Yusuf selalu membopong Niar masuk kamar.
Sampai di kamar Niar ke wastafel cuci muka dan gosok gigi. Tak butuh waktu lama Niar telah selesai, dia kembali ke ranjang menyusul Yusuf yang telah menunggunya.
__ADS_1
"Kok belum tidur mas? Nungguin aku?" tanya Niar sembari menaiki ranjang.
"Iyalah aku kan mau nagih janji sama kamu."
Niar mengernyit. "Janji apa?"
Yusuf menarik tubuh Niar hingga wajah mereka berdekatan, Yusuf sedikit memiringkan kepalanya lalu perlahan bergerak maju hingga bibir mereka bersentuhan. Yusuf meraup bibir Niar serta menghisapnya lembut atas bawah bergantian, semakin lama ciumannya semakin menuntut.
*
Keesokkan harinya mereka menjalani rutinitas seperti biasa, Yusuf ke kantor dan Niar menjaga Erlang.
Kebutuhan rumah sudah menipis, waktunya belanja bulanan. Niar, Erlang dan bi Imah ke supermarket belanja bulanan, dan lagi-lagi wanita itu muncul.
"Hai nyonya Yusuf, ups sebentar lagi jadi mantan nyonya Yusuf."
Suara Kirana yang tiba-tiba membuat Niar berjengkit kaget lalu Niar menarik lengan bi Imah. "Ayo bi kita pergi."
Niar menyentak tangan Kirana. "Lepas!!"
"Aku cuma mau ngasih peringatan sama kamu, tinggalkan mas Yusuf! Atau aku yang akan membuangmu secara paksa?" ancaman Kirana namun tak dihiraukan oleh Niar. "Terserah kamu!"
Niar pergi meninggalkan Kirana begitu saja.
Kirana menggerutu sebal. "Dasar wanita murahan. Aku akan merebut suamimu, mas Yusuf harus jadi milikku lagi hanya dia yang bisa jadi mesin ATM ku."
*
Niar sampai rumah dengan muka kusut,
nggak habis pikir ada ya orang seperti itu,
__ADS_1
yang ada dalam pikirannya hanyalah harta.
"Niar, kok cepet banget belanjanya?" lalu Ibu mengedarkan pandangannya. "Loh belanjaannya mana?"
"Tidak jadi belanja Bu, ada Kirana disana." jawab Niar.
"Wanita itu lagi? Lain kali belanjanya sama Ibu, kalau sama Ibu dia nggak akan berani nyakitin kamu."
"Iya bu, Niar ke kamar dulu ya Bu."
Ibu mengangguk lalu Niar ke kamar dan istirahat, di dalam benaknya ia selalu kepikiran Kirana gimana bisa mas Yusuf bisa mencintai wanita seperti itu.
Emang sih wajahnya cantik tapi hatinya busuk.
Niar tertidur dalam keadaan masih memikirkan Kirana sampai sampai kebawa mimpi. Dalam tidur Niar menangis ketakutan.
"Mas Yusuf jangan tinggalkan kami...
kasian Erlang." Racau Niar sambil menangis sesenggukan dan terdengar begitu pilu.
Jam istirahat Yusuf pulang sebentar untuk mengambil berkas yang ketinggalan. Yusuf sampai di depan kamar dan mendengar istrinya menangis dia langsung membuka pintu dan lari mendekati Niar.
Yusuf menepuk-nepuk pelan pipi Niar. "Sayang, bangun sayang kamu kenapa? Kamu mimpi buruk.?"
Niar membuka matanya perlahan dan melihat suaminya masih ada bersamanya, Niar memeluk erat suaminya dan menangis. "Jangan tinggalin aku mas, jangan tinggalin Erlang, kami butuh kamu."
Yusuf memeluk dan mengusap usap punggung Niar. "Aku tidak akan ninggalin kalian sayang, hei lihat aku lihat mataku." Yusuf melepas pelukannya lalu menangkup wajah Niar dengan kedua tangannya dan mengecup bibirnya.
Bersambung...
Jangan lupa like dan share ya terima kasih šš
__ADS_1