
"Entahlah. Saat ini aku tidak tau siapa yang harus aku percayai."
"Kamu harus percaya sama aku suamimu."
Niar dan Erlang beranjak pergi meninggalkan Yusuf, Yusuf sudah berusaha menarik tangan Niar namun tekad Niar sudah bulat dia kekeh mau pergi.
Namum baru sampai di depan pintu kamar Niar pingsan, dengan sigap Yusuf langsung menangkapnya.
Yusuf mengangkat tubuh Niar lalu membaringkannya di ranjang. "Sayang.. Sayang.. kamu kenapa?"
Yusuf sudah menepuk-nepuk pipi Niar tapi Niar tidak bangun-bangun, Erlang juga menangis.
"Mama, Mama." rengek Erlang.
Mendengar Erlang menangis Ibu Yusuf masuk ke kamar lalu mengangkat tubuh Erlang dan ikut duduk di tepi ranjang. "Yusuf Niar kenapa?"
"Tidak tau Bu, mungkin karena akhir-akhir ini Niar terlalu banyak pikiran jadi tubuhnya tumbang."
"Ibu panggilkan dokter saja ya?"
"Iya Bu, tolong telepon dokter sekarang."
Ibunya mencoba menelepon Dokter tapi belum nyambung Niar sudah siuman, Ibu langsung menutup teleponnya.
Erlang menggoyang-goyangkan lengan Niar "Mama.. Mama.."
Ibu meraih tangan Erlang. "Erlang main sama Oma dulu yuk."
Erlang mengangguk lalu Ibu membawa Erlang keluar kamar.
__ADS_1
"Sayang, kamu tidak apa-apa kan? Mana yang sakit?" tanya Yusuf lembut.
Niar membuka matanya perlahan. Kepalaku pusing mas."
Yusuf beranjak dari tempatnya. "Aku panggilkan dokter ya?"
Niar segera menahan lengan Yusuf. "Tidak usah. Tapi tolong tinggalkan aku sendiri!"
"Aku tidak akan ninggalin kamu sendiri dalam keadaan seperti ini sayang."
"Kalau kamu tidak mau pergi biar aku yang pergi."
Yusuf mendesah kecewa. "Sayaang jangan menyiksaku seperti ini."
"Tolong mas aku ingin sendiri! Kepalaku rasanya mau pecah memikirkan semua permasalahan ini."
"Terserah kamulah aku mau istirahat." ujar Niar pasrah.
Belum sempat istirahat Kirana datang lagi membawa anaknya si gadis kecil itu.
Ibunya Yusuf yang menemui Kirana. "Kamu datang dengan rencana apa lagi?"
"Saya kesini hanya mau menuntut hak,
hak seorang anak kepada Ayahnya." ujar Kirana.
Begitu mendengar suara keributan di luar Akhirnya Yusuf dan Niar juga keluar.
Kirana bertepuk tangan sendiri. "Baguslah semua pada keluar biar cepet kelar permasalahannya."
__ADS_1
"Langsung saja! Kamu mau menuntut hak apa? Harta?" tanya Yusuf to the point.
Kirana terkekeh. "Sabar dong sayang, bukan cuma harta, aku juga menginginkan dirimu. Kamu tuh paket lengkap, ganteng, lembut, romantis, perhatian, aku ingin kita kembali seperti dulu."
"Jangan bertele-tele berapa uang yang kamu inginkan agar kamu mau menjauhi keluargaku?"
"AKU INGIN DIRIMU!" ujar Kirana dengan nada tinggi.
"AMBILAH!" jawab Niar dengan nada tak kalah tinggi.
"Tentu aku akan merebut mas Yusuf darimu, dia lebih pantas bersanding denganku, bukan sama kamu! Dasar wanita malam!"
Dengan derai air mata Niar segera membopong Erlang dan meninggalkan rumah itu, Yusuf langsung mengejarnya, namun Niar berhasil bersembunyi di belakang rumah seseorang.
Yusuf kehilangan jejak Niar.
Yusuf kembali ke rumah dengan muka sedih lalu Ibunya segera menghampirinya. "Yusuf, Erlang mana? Niar mana? Jangan bilang kamu tidak menemukan mereka?" tanya Ibu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Yusuf mencengkram rambutnya frustasi. "Yusuf kehilangan jejak mereka Bu, entahlah sekarang mereka dimana."
"Bagus deh wanita malam itu pergi, dengan senang hati aku akan menggantikan posisinya di rumah ini dan menjadi Ratu di rumah ini." sahut Kirana.
"Jangan harap kami akan menerimamu lagi! Kamu lupa dengan kesalahanmu dulu?
Atau perlu Ibu ingat kembali?"
Bersambung...
Jangan lupa like dan share+ tekan love merah sebagai favorit kalian terimakasih šš
__ADS_1