
*
*
"Apakah benar anda bu Niar?" tanya seorang waitress.
Niar menoleh ke samping untuk menatap sang waitress tersebut. "Benar, ada apa ya?"
Waitress tersebut menyerahkan sebuah amplop pada Niar. "Ini ada surat untuk anda."
Niar mengernyit bingung. "Dari siapa?"
"Silahkan di terima dulu nanti anda juga tau dari siapa."
Niar menerima surat itu lalu membukanya kemudian membacanya.
Dear : Raniar Jihania
Niar, saat kamu membaca surat ini mungkin aku sudah tidak ada di Indonesia lagi,
aku melanjutkan studi banding di Inggris.
Aku pergi jauh darimu supaya kamu bisa hidup dengan tenang karena aku tidak mau orang yang aku cintai menjadi tertekan.
Mungkin hampir semua orang menyuruhku menikah lagi, namun aku tidak bisa Niar. Aku hanya mencintai kamu dan aku juga hanya mau menikah denganmu, wanita yang aku cintai.
Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang dulu pernah aku lakukan, menikah dengan wanita yang tidak aku cintai hanya akan menyiksa hati.
Aku akan selalu sabar menantimu
meskipun saat itu kamu sudah menjadi nenek-nenek, tak secantik seperti saat ini namun aku akan tetap mencintaimu.
__ADS_1
Aku akan tetap meminangmu dan menghabiskan sisa hidupku bersamamu walau hanya sesaat.
Aku harap setelah kepergiankukamu bisa hidup dengan tenang dan selalu bahagia.
Selamat tinggal Niar, jaga dirimu baik-baik.
Jangan sedih dan jangan menangis lagi.
"I love you"
From : Daneil Subrata.
Niar sampai meneteskan air matanya saat membaca surat dari Daniel. Niar tidak menyangka sedalam itu cinta Daniel padanya.
"Kamu bodoh Daniel, seharusnya kamu mencari wanita lain bukan aku, karena sampai kapan pun aku akan selalu setia pada suamiku." batin Niar.
Niar memasukkan surat itu ke dalam tas lalu bergegas ke kampus ikut kelas.
*
Niar mengeluarkan surat itu dari dalam tasnya lalu menyerahkannya pada Eva. "Aku menerima surat dari Daniel Va."
Eva menerima surat itu lalu membuka serta membacanya, dia juga terharu. "Aku nggak nyangka Yar kalau mas Daniel bisa sampai sedalam itu cintanya sama kamu, dulu kita hidup bersama bahkan sampai bertahun-tahun, namun dia tidak mencintaiku, aku jadi kasian sama mas Daniel Yar."
Niar menunduk. "Aku jadi merasa bersalah Va."
Eva mengusap bahu Niar. "Kamu kan nggak salah Yar."
Niar mengangkat kepalanya. "Tapi secara tidak langsung aku telah menyakiti hati Daniel."
"Sudah, jangan merasa bersalah gitu,
__ADS_1
nih di baca! 'Jangan sedih dan jangan menangis lagi' mending kita pulang yuk udah sore nih."
"Yuk aku anter kamu pulang dulu."
Eva meringis. "Maaf Yar hari ini aku nggak nebeng, nextime."
"Oooo mau di jemput Pangeranmu?" goda Niar.
"Iyalah masa' nebeng terus."
"Kenapa kamu nggak pakai mobil sendiri Va?" tanya Niar.
"Aku nggak bisa nyetir Yar, dulu mas Daniel tidak mengajari aku."
"Kan bisa kursus."
"Enggak ada waktu."
"Nggak ada waktu atau malas?"
Eva hanya nyengir karena memang benar kata Niar.
Niar mendengkus. "Dasar pemalas! Udah ah aku pulang duluan nanti mas Yusuf nyariin."
Niar ke parkiran masuk mobil dan pulang. Kurang lebih setengah jam Niar sudah sampai di rumah. Ternyata Yusuf memang sudah menunggunya.
"Sayang, jam segini kok baru pulang?"
"Biasa mas ngobrol sama Eva dulu,
anak-anak dimana mas?"
__ADS_1
"Itu di ruang tengah sesang nonton televisi."
Bersambung...