Buai Kupu-kupu Malam

Buai Kupu-kupu Malam
Daniel 5


__ADS_3

*


*


Daniel menunggu di luar dengan tetesan air mata sampai lupa mengabari Eva istrinya, Mamanya Mesya.


Niar di ruang perawatan menemani Kayla yang sedang di obati lukanya oleh Suster, Kayla hanya luka-luka kecil. Setelah selesai, Niar menyusul Daniel. "Dokternya belum juga keluar pak?"


Daniel hanya menggeleng lemah.


"Bagaimana kondisi putri saya Dok?" tanya Daniel setelah Dokter keluar dari IGD.


Dokter menggeleng lemah. "Maaf, pak putri anda tidak bisa kami selamatkan, putri anda sudah meninggal."


"Mesyaaaa...." Daniel berteriak histeris dan langsung memasuki ruangan tersebut, Daniel melihat putrinya sudah terbujur kaku tak bernyawa, air matanya tumpah hatinya hancur.


Niar mendekat serta mengusap bahu Daniel. "Sabar pak, semua sudah kehendak Tuhan."


Daniel menoleh. "Mesya putriku satu-satunya, dialah harapan hidupku, sekarang dia sudah pergi, aku tidak punya siapa-siapa, aku sendirian."


Kayla meraih tangan Daniel. "Kan ada Kayla Om anggap Kayla seperti anak Om sendiri."


Daniel mengelus kepala Kayla. "Terima kasih sayang."


"Aku mau mengabari Eva dulu ya pak?"

__ADS_1


Daniel hanya mengangguk.


*


"Mesyaaa sayang jangan tinggalin Mama nak, nanti Mama sama siapa?" Jerit tangisnya Eva saat Meysa sudah tiba dirumah.


Namun semua sudah suratan takdir tidak bisa di ubah, mau tidak mau Mesya tetap pergi meninggalkan kedua orang tuanya.


*


Beberapa minggu telah berlalu, Daniel sudah mulai terbiasa dengan ketidak hadiran Mesya dan Kayla juga selalu menghiburnya, namun berbeda dengan Eva, dia masih sedih, Eva memang sudah kembali mengajar di kampus namun dia masih sering melamun.


"Udah dong Va jangan sedih terus, ikhlaskan Mesya biarkan dia tenang disana." ujar Niar sembari mengusap bahu Eva.


Eva kembali meneteskan air matanya. "Kamu nggak tau Yar, betapa aku sangat menyayangi Mesya."


"Dan belum lagi pernikahanku dengan mas Daniel, entah akan bertahan sampai kapan." lanjut Eva.


"Tapi kalau menurutku kalau kalian memang tidak saling cinta lebih baik berpisah dan mencari cinta sejati masing-masing."


"Orang tua kami tidak akan setuju Yar."


"Tapi dalam pernikahan yang kita cari adalah kebahagiaan, kalau dalam suatu pernikahan tidak membuahkan kebahagiaan untuk apa?" tanya Niar dan di jawab dengan gelengan oleh Eva. "Entahlah Yar, aku sendiri pusing dengan semua ini."


"Yang sabar semua pasti ada jalan keluarnya."

__ADS_1


Eva tersenyum tipis. "Makasih Yar kamu selalu support aku."


Niar mengangguk samar. "Pulang yuk sudah sore."


Mereka pun pulang, Niar mengantar Eva dulu baru setelah itu dia pulang ke rumahnya.


Niar memasuki rumah beserta paper bag ditangannya. "Erlang, Kayla Mama pulang bawa oleh-oleh."


Anak-anak langsung meninggalkan mainan mereka lalu berhambur memeluk Mamanya serta mengambil alih paper bag di tangan Niar.


"Oya, Papa mana?"


"Di kamar Mah, mungkin sedang mandi." jawab Erlang sembari membuka paper bag tersebut.


Niar mengusap puncak kepala kedua anaknya. "Oke, Mama masuk kamar dulu." ujar Niar dan di angguki oleh kedua anaknya.


Niar menaiki tangga menuju kamarnya lalu membuka pintu kamar kemudian melangkah masuk mendekati suaminya yang sedang menyisir rambut di depan cermin.


Yusuf membalikkan tubuhnya lalu mengecup kening istrinya. "Baru pulang sayang?"


"Iya mas tadi ngobrol bentar sama Eva."


Yusuf menarik lengan Niar hingga duduk di pangkuannya. "Eva gimana sekarang keadaannya, masih sedih?"


"Ya masih lah mas namanya juga anaknya yang pergi."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2