Buai Kupu-kupu Malam

Buai Kupu-kupu Malam
Niar hamil 2


__ADS_3

"Maaf sayang aku terlalu bahagia,


terima kasih sayang kamu sudah bersedia


menjadi ladang untukku, tempatku menanam benih."


Niar tersenyum. "Aku juga berterima kasih sama kamu, kamu adalah suami terbaik, selalu pengertian sama aku, manjain aku, menjaga aku."


Yusuf tidak tahan melihat senyuman yang begitu manis dan langsung mengecup bibir singkat bibir Niar. "Pulang sekarang ya, Ibu pasti bahagia mendengar kabar kalau kamu sekarang sedang mengandung cucunya lagi."


Niar mengangguk lalu menuntun Erlang. Mereka pulang kerumah.


"Niar, Erlang kalian dari mana? Kita semua cemas nyariin kalian tidak ketemu-ketemu." tanya Ibu sembari berjalan ke arah Niar.


"Niar dan Erlang ngontrak di komplek sebelah Bu." jawab Yusuf.


"Ya sudah yang penting kalian baik-baik saja, lain kali kalau ada masalah jangan pergi lagi ya, kasian Yusuf dia bingung, khawatir, kesana kemari tidak karuan." pesan Ibu pada Niar.


"Iya Bu Niar minta maaf."


Yusuf memeluk Ibunya. "Bu, ada kabar gembira untuk Ibu."


"Oya, Kabar apa itu?" tanya Ibu antusias.

__ADS_1


"Ibu akan segera punya dua cucu?"


"Benarkah? Syukurlah."


Ibu melepas pelukan Yusuf lalu beralih memeluk Niar. "Terima kasih Niar, makin banyak cucu Ibu semakin bahagia."


Ibu melepas pelukannya pada Niar lalu berjongkok di depan Erlang. "Wah Erlang mau jadi kakak, yuk main sama Oma, Oma kangen banget sama Erlang."


Erlang mengangguk antusias, Ibu segera mengangkat tubuh Erlang lalu bermain di kamar Erlang.


"Sayang istirahat yuk, biar Erlang main sama Oma nya."


Niar mengangguk, Yusuf menuntun Niar masuk kamar untuk istirahat, mereka saling melepas rindu. Satu minggu lebih mereka tidak bertemu membuat rasa rindu menggebu-gebu.


Yusuf memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang seakan tidak mau lepas.


Niar melonggarkan pelukannya. "Udahan mas pelukannya kapan istirahatnya.?"


Yusuf terkekeh lalu melepas pelukannya. "Maaf sayang, aku terlalu rindu padamu, lagian kamu perginya lama sih."


Niar berbaring dan Yusuf di sebelahnya dia terus memandangi wajah Niar dan sesekali mengusap pipinya.


Akhirnya Niar tidur, Yusuf keluar kamar menyusul Erlang dan Oma nya, Yusuf juga ingin bermain sama Erlang melepas rindu.

__ADS_1


*


Tiga bulan kemudian perut Niar sudah mulai terlihat buncit, Erlang juga suka banget mengelus-elus perut Mamanya kadang malah di ajak ngobrol. Nanya sendiri tapi juga di jawab sendiri. Membuat semua orang yang melihatnya menjadi gemas.


"Dedek main apa di dalam? Oo.. petak umpet."


Yusuf mengusap puncak kepala anaknya yang sedang bermonolog di depan perut Mamanya. "Nanti kalau dedeknya sudah lahir main petak umpet sama kak Erlang ya?"


Erlang menegakkan tubuhnya lalu mengangguk cepat.


Giliran Yusuf yang mengusap lembut perut Niar dan kebetulan janinnya sedang gerak-gerak membuat Yusuf terkejut dan juga takjub, dia belum pernah merasakan itu sebelumnya, karena waktu hamil Erlang, Niar tidak di sampingnya, menikmati indahnya masa masa kehamilan. Yusuf juga menyesal karena sudah melewatkan masa indah itu.


Kalau mengingat masa suram itu Yusuf merasa bersalah sama Erlang karena tidak melindunginya semasa dalam kandungan dan ketika ia di lahirkan, Niar sendirian.


Tapi dia akan menebus semua waktu yang telah terlewatkan dengan memberi perhatian penuh pada mereka. Yusuf selalu memanjakan istrinya, dia juga selalu rajin membuatkan susu hamil hangat untuk istrinya.


"Kamu mau susu hangat?" tanya Yusuf pada Niar.


"Boleh."


Yusuf beranjak dari tempatnya lalu menuju dapur. Tak butuh waktu lama Yusuf sudah kembali beserta segelas susu hangat di tangannya. "Sayang, susu hangat sudah datang."


Niar meraih susu hangat dari tangan suaminya. "Terima kasih papa ganteng."

__ADS_1


Bersambung...


Terima kasih banyak atas kunjungannya šŸ™šŸ™


__ADS_2