
*
*
"Baiklah aku setuju, kita lakukan demi anak kita mas." ujar Niar pasrah, karena memang tidak ada pilihan lain.
Yusuf dan Niar saling berpelukan dan menangis karena mungkin kebersamaan mereka tinggal sementara.
Yusuf segera menghubungi Daniel lalu memintanya kembali ke rumah sakit.
"Bagaimana keputusan anda pak Yusuf? Anak anda atau istri anda?"
Yusuf beranjak dari kursi. "Baik, kami setuju dengan persyaratan anda."
Daniel mengeluarkan sebuah kertas yang sudah dia sediakan sebelumnya. "Ini surat perjanjian kita silahkan dibaca dan di tanda tangani!"
Yusuf membaca surat perjanjian itu
dan isinya. Setelah operasi berjalan Yusuf dan Niar sudah tidak boleh berdekatan lagi dan sesegera mungkin mengurus perceraian mereka.
Dengan mata yang berkaca-kaca Yusuf tetap menanda tangani surat itu, Niar hanya duduk dan menangis tanpa bisa berkata apa-apa.
Setelah Yusuf menanda tangani surat itu dia meminta secepatnya operasi supaya Erlang cepat tertolong. "Saya sudah menanda tangani suratnya, dan saya minta secepatnya operasi di lakukan. Saya tidak mau menunggu lebih lama lagi kasian Erlang dia menderita cukup lama."
"Itu gampang pak Yusuf, sekarang juga aku akan menemui Dokter dan mengatur jadwal operasinya." jawab Daniel.
Daniel ke ruang Dokter dan Dokter baru akan melakukan operasi sorenya.
__ADS_1
Sore itu juga Daniel dan Erlang di operasi, butuh waktu berjam-jam untuk operasi transplantasi ginjal.
Yusuf, Niar dan Kayla menunggu di luar
dengan tegang, gelisah dan sedih.
Setelah operasi selesai kedua pasien dibawa keluar dari kamar operasi dan di pindah ke kamar rawat inap.
Erlang dan Daniel masih belum sadar, mereka di tempatkan kamar bersebelahan.
Yusuf, Niar dan Kayla menemani Erlang di kamarnya, sedangkan Daniel di jaga oleh suster.
Daniel sudah sadar terlebih dahulu dan langsung mencari Niar. "Suster."
"Anda sudah sadar pak, saya panggilkan dokter dulu ya?"
Suster ke kamar sebelah untuk memanggil Niar sesuai permintaan Daniel. "Bu Niar."
Niar menoleh. "Iya sus."
"Anda di cari pak Daniel."
"Sebentar." jawab Niar.
Niar langsung memeluk Yusuf sambil menangis. "Aku nggak mau mas."
"Pergilah sayang tepati perjanjian kita,
__ADS_1
sungguh sebenarnya aku juga tidak rela
tapi saat ini kita memang harus mengalah."
"Kayla nggak nyangka kalau pak Daniel seperti itu pada kita." Kayla angkat bicara.
"Sudah-sudah kita turuti saja keinginannya, toh dia sudah memberikan ginjalnya untuk Erlang." ujar Yusuf.
Niar beranjak dari kursi. "Aku ke kamar sebelah ya mas kalau Erlang sadar segera panggil aku."
"Pasti sayang, nanti kalau Erlang sadar pasti dia akan mencari Mamanya, karena Mamanya yang sudah berkorban untuknya."
Niar berjalan menuju kamar Daniel lalu duduk
di sebelah Daniel.
Daniel meraih tangan Niar lalu mengecupnya.
Niar merasa risih dan menarik tangannya. "Maaf jangan menyentuh aku, kita belum ada ikatan apa-apa, aku masih istri sah nya mas Yusuf."
"Okey kalau begitu aku akan menyuruh Yusuf secepatnya mengurus perceraian kalian dan kamu akan segera menikah denganku sesuai perjanjian kita." ancam Daniel.
Niar menatap tajam ke arah Daniel. "Aku belum mau menikah denganmu sebelum Erlang benar-benar sembuh." jawab Niar.
Daniel tersenyum tipis "Dengan senang hati aku akan menunggumu, tapi ingat jangan dekat-dekat lagi dengan Yusuf calon mantan suamimu."
Bersambung....
__ADS_1