
*
*
Daniel berdiri di depan Yusuf dan Niar. "Bolehkah aku ikut membantu?"
Yusuf mengangkat kepalanya. "Maksud anda?"
"Aku akan ikut tes kalau cocok aku bersedia mendonorkan ginjalku untuk Erlang."
Mendengar Daniel bersedia ikut tes,
Niar langsung berdiri mendekati Daniel
saat itulah jantung Daniel berdegub kencang.
"Sungguh? Kamu benar-benar bersedia mendonorkan ginjalmu untuk Erlang?" tanya Niar memastikan.
"Tentu saja, jika cocok." jawab Daniel mantap.
"Terima kasih banyak Daniel kamu sudah bersedia tes, silahkan ke ruang tes."
Yusuf merasa ada yang aneh, dari mana Daniel tau masalah donor ginjal. Namun dia segera menepis prasangka buruknya dan berprasangka baik semoga ginjalnya cocok dengan Erlang dan Erlang segera tertolong. Yusuf sampai tidak memikirkan dirinya sendiri, tidak memikirkan tentang penyakitnya.
Daniel ke ruang tes dan menjalani serangkaian tes.
__ADS_1
Setelah hasil tes keluar Daniel menunjukkan hasil tes itu kepada Yusuf dan Niar. "Niar lihat hasilnya ginjalku cocok dengan Erlang."
Dengan wajah gembira Niar melihat hasil tes itu dan ternyata memang benar ginjal Daniel cocok dengan Erlang, Niar merasa lega akhirnya Erlang akan terselamatkan.
Yusuf segera memeluk Daniel sesaat sembari menepuk pelan punggungnya. "Terima kasih banyak anda mau membantu kami."
Daniel melepas pelukan mereka. "Tapi ada syaratnya pak Yusuf."
"Apa? Anda minta bayaran berapa?" tanya Yusuf.
"Anda pikir aku kekurangan uang pak Yusuf? uangku sudah banyak asal anda tau."
"Lantas apa yang anda inginkan?"
"Apalagi, tentu Niar sebagai gantinya."
"Kenapa anda mau menolong kami dengan pamrih?"
"Anda tinggal memilih istri anda atau anak anda?"
"Tapi imbalan yang anda mau itu tidak masuk akal, mana mungkin saya akan menukar istri saya dengan ginjal anda?"
"Kembali lagi keputusan ada di tangan anda, pikirkan baik-baik!" ujar Daniel lalu dia mengeluarkan kartu namanya. "Ini kartu namaku di situ ada nomor handphoneku kalau sudah ada jawabannya segera hubungi saja nomor disitu."
Daniel pergi meninggalkan Yusuf dan Niar yang sedang dilema.
__ADS_1
Niar meraih tangan Yusuf. "Mas aku nggak mau di tukar dengan ginjalnya, kita bisa mencari pendonor lain kan?"
Yusuf menggenggam tangan Niar. "Aku juga nggak mau sayang, tapi kita juga harus memikirkan kesembuhan Erlang, kamu tau sendiri kan betapa sulitnya mencari pendonor buat Erlang? Sudah berapa orang yang sudah tes namun hasilnya tidak ada yang cocok."
"Terus kita harus mengiyakan keinginannya Daniel?
"Lakukan ini demi Erlang sayang."
Niar kembali menangis. "Tapi aku nggak bisa hidup tanpa kamu mas."
"Aku juga tudak bisa hidup tanpa kamu sayang, tapi ini demi kesembuhan anak kita."
"Terus gimana dengan penyakit kamu mas?"
"Kita pikirkan nanti setelah Erlang sembuh."
"Nggak bisa gitu dong, kemarin Dokter bilang kalau kamu harus sesegera mungkin berobat mas."
"Iya, nanti aku pikirkan, sekarang kamu bersedia kan menolong Erlang?"
Niar menggeleng. "Jujur sebenarnya aku nggak mau mas, aku mau pisah dari kamu."
"Kita sebagai orang tuanya Erlang tidak boleh egois sayang, kita harus mengalah demi kesembuhan Erlang, kamu mau Erlang tidak tertolong?"
Niar menggeleng cepat. "Aku tidak mau kalau sampai Erlang kenapa-napa, aku mau erlang sembuh seperti sedia kala, tapi aku juga tidak mau berpisah dari kamu dan hidup bersamanya."
__ADS_1
"Aku juga tidak rela kalau dia sampai menyentuh nyetuh kamu, tapi kita harus gimana lagi hanya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan Erlang."
Bersambung...