
Staff OB itu melirik Niar yang sedang fokus bekerja.
"Selamat siang pak, saya hanya mau menyerahkan data dan absensi anak buah saya pak, setelah anda periksa akan saya serahkan ke bagian HRD." ujar pak Irwan Staff OB tadi.
"Tinggalkan di meja dulu nanti saya akan cek."
Pak Irwan meletakkan beberapa map di meja kerja Yusuf. "Baik pak, kalau begitu saya permisi kembali bekerja."
"Silahkan."
"Sekretaris baru pak Yusuf cantik sekali, pantesan dia di pekerjakan satu ruangan dengannya, padahal biasanya beda ruangan." batin Pak Irwan.
"Mas, sudah waktunya makan siang, kita makan dulu yuk."
"Kamu mau makan apa hari ini?" tanya Yusuf sembari beranjak dari kursi.
"Apa ya?" Niar berpikir sejenak. "Nanti saja pilih menu dulu di restoran."
"Oke, yuk berangkat."
Niar dan Yusuf meninggalkan ruangan dan kebetulan pak Irwan melihatnya, dia nekat mengikuti mereka sampai restoran. Dia curiga dengan kedekatan mereka, dia mengira kalau Niar adalah wanita simpanan Yusuf, dan ternyata benar dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, kalau Niar sedang menyuapi Yusuf.
Padahal memang Yusuf belum bisa makan sendiri.
__ADS_1
Setelah makan siang mereka kembali ke kantor dan bersikap biasa lagi. Mereka bekerja kembali sampai sore dan pulang.
Keesokkan harinya mereka sampai di parkiran dan kebetulan ada pak Irwan disana, dan melihat Yusuf dan Niar turun dari mobil.
"Sebenarnya siapa sih wanita cantik itu? Kenapa dia dekat sekali dengan pak Yusuf, masa iya istrinya? Ah, tidak mungkin, masa kalau istrinya dia kerja, kalau memang istrinya pasti dia santai-santai di rumah mau apa pun tinggal bilang. Atau dia hanya wanita simpanan, terus istrinya dimana?" pertanyaan-pertanyaan pak Irwan dalam hati.
Pak Irwan pun masuk dan bekerja. Yusuf dan Niar juga masuk, bekerja seperti biasa.
Baru mengerjakan beberapa lembar berkas Yusuf sudah menguap. "Sayang bikinin aku kopi dong."
"Kok tidak nyuruh OB aja mas?" protes Niar.
"Kan ada istriku disini, aku lebih suka bikinan istriku dong."
"Jangan lama-lama loh!"
Niar menghentikan langkahnya. "Enggak lama kok paling cuma seminggu."
"Kenapa tidak setahun sekalian?"
Niar membalikkan badan. "Setahun? Itu bikin kopinya ke Arap jalan kaki!"
Niar akhirnya ke dapur bikin kopi, kebetulan jalan ke dapur melewati ruang kerja pak Irwan
__ADS_1
dan pak Irwan yang melihat Niar lewat dia langsung mengikutinya dan menyusul ke dapur.
"Hai mbak cantik, sedang apa disini?" tanya pak Irwan setelah memasuki dapur.
"Bikin kopi pak." jawab Niar malas.
Niar merasa risih dengan kehadiran pak Irwan di dapur, dia buru-buru bikin kopinya,
sampai-sampai air panasnya sedikit terciprat mengenai tangannya.
"Aduh panas."
Pak Irwan mendekat dan menyentuh tangan Niar. "Pelan-pelan mbak, tuh air panasnya sampai kena tangan kan."
Niar segera melepaskan tangan pak Irwan. "Tidak apa-apa pak, maaf saya permisi dulu saya sudah selesai."
Niar membawa kopi keluar menuju ruang kerja Yusuf lagi. "Sayang, ini kopinya sudah datang."
"Terima kasih sayang."
Niar menaruh kopi di meja dan Yusuf melihat tangan Niar memerah, kulit Niar memang putih jadi terciprat air panas sedikit saja langsung merah. "Sayang, tangan kamu kenapa kok merah gini?"
Bersambung...
__ADS_1