Buai Kupu-kupu Malam

Buai Kupu-kupu Malam
3 Episode terakhir


__ADS_3

*


*


Diam-diam Daniel mendekati Niar yang sudah tertidur lelap, Daniel mengusap wajah Niar. "Sayang, maafin aku yang sudah egois memaksa kamu ikut aku, aku sudah menyakitimu, aku hanya ingin bersamamu walau hanya sebentar, izinkan aku bisa merasakan memilikimu sesaat saja. Kalau tidak begini aku tidak akan bisa merasakan dekat denganmu." Daniel bermonolog lalu mengecup pelan kening Niar. "Good night sayang tidur yang nyenyak." lanjutnya.


Daniel kembali ke sofa dan baru sebentar dia memejamkan mata dia kaget mendengar Niar menangis, Daniel langsung mendekat dan memeluk Niar untuk menenangkannya dan


ternyata Niar hanya mimpi buruk.


Niar yang menyadari kalau Daniel sedang memeluknya langsung mendorong tubuh Daniel.


"Maaf Niar aku tidak sengaja, refleks."


Niar beringsut menjauh "Silahkan anda kembali tidur di tempat anda."


"Okey aku tidur." Daniel kembali ke sofa dan memejamkan matanya kembali.


Namun Niar sudah tidak bisa tidur lagi,


Niar duduk dan bersandar kepala ranjang dan lagi-lagi kembali menangis, seharusnya dia saat ini berada di rumah sakit menunggu Erlang bersama suaminya.


Melihat Niar tersiksa membuat hati Daniel berdenyut sakit.


*

__ADS_1


"Pagi-pagi gini sudah rapi, kamu mau ke rumah sakit?" tanya Daniel saat melihat Niar menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapi.


"Iya." jawab Niar singkat sembari melangkah menuju meja makan.


"Nggak boleh!!"


Niar berhenti melangkah lalu menarik kursi kemudian menduduki kursi tersebut. "Daniel tolonglah mengerti yang di rumah sakit itu adalah anakku."


"Sekali tidak tetap tidak!" kekeh Daniel.


Niar beranjak dari kursi. " Kamu jahat!!" Niar melangkah menuju tangga hendak kembali ke kamar, namun baru dua anak tangga yang Niar pijak Nair terpeleset. Air mata Niar luruh begitu saja tanpa bisa di cegah.


Daniel yang melihat Niar terjatuh langsung beranjak dari kursi lalu berjalan mendekati Niar. "Sayang, hati-hati dong, sini aku lihat mana yang sakit?" Daniel berjongkok lalu memeriksa kaki Niar.


"Enggak apa-apa."


Daniel selalu iba jika melihat Niar menangis. "Ya sudah kamu boleh ke rumah sakit."


Senyum Niar langsung terbit di sudut bibirnya. "Terima kasih atas pengertiannya."


*


Niar akhirnya berangkat ke rumah sakit, jarak rumah sakit dari rumah Daniel cukup jauh butuh waktu beberapa jam.


Tok tok tok Niar mengetuk pintu kamar rawat Erlang.

__ADS_1


Yusuf beranjak dari sofa lalu membuka pintu tersebut.


Pintu terbuka, begitu melihat Yusuf yang membuka pintu untuknya Niar langsung memeluk erat tubuh Yusuf. "Aku merindukanmu mas."


Yusuf membalas pelukan Niar tak kalah erat. "Aku juga sangat merindukanmu sayang."


"Ehemm... hem.... Mama kesini mau jenguk Papa atau jenguk Erlang ya?"


Suara Erlang membuat keduanya melepas pelukannya mereka.


Niar berjalan mendekati ranjang lalu mencondongkan tubuhnya untuk memeluk serta mencium anaknya. "Jenguk kamu dong sayang anak Mama yang paling ganteng."


"Itu nyatanya Mama malah meluk-meluk Papa."


Yusuf merangkul bahu Niar. "Kita kan juga kangen ya Mah." jawab Yusuf sambil tersenyum padahal hatinya hancur kala mengingat perjanjian itu mungkin ini pelukan terakhirnya.


Begitupun dengan Niar dia juga sedih dia tidak tahan di rumah Daniel.


"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu mas, tapi kita bicara diluar saja ya." bisik Niar di telinga Yusuf.


Yusuf mengangguk lalu menuntun Niar keluar kamar tak lupa yusuf pamit dulu sama Erlang. "Papa sama Mama keluar dulu ya sayang."


"Mau kangen-kangenan?" goda Erlang pada orang tuanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2