
Yusuf kembali meletakkan kartu nama itu di tempat semula, dan menyiapkan baju ganti untuk Niar.
Akhirnya Niar keluar dari kamar mandi.
"Sayang, aku sudah siapin baju buat kamu." ujar Yusuf sembari meletakkan sisir di atas meja rias Niar.
Niar melangkah menuju meja rias lalu mengecup singkat bibir Yusuf. "Terima kasih."
Setelah Niar memakai baju, Niar dan Yusuf menghampiri anak-anak di kamar sebelah.
Tok tok tok "Erlang, Kayla yuk turun kita makan kue buatan Mama."
Erlang dan Kayla keluar dengan antusias lalu Mereka turun menuju dapur dan Niar menyiapkan kue tersebut.
"Selamat makan." ujar Niar setelah meletakkan kue yang sudah di potong-potongnya.
Mereka makan kue bersama di lanjut nonton televisi di ruang tengah sambil menunggu makan malam.
Bibi berjalan dari arah dapur menuju ruang tengah. "Tuan, makan malamnya sudah siap."
Yusuf menoleh. "Terima kasih bi." Yusuf beralih menatap anak-anaknya. "Anak-anak ayo kita makan malam dulu terus belajar."
Mereka makan dalam diam sampai makanan mereka habis. Setelah makan malam selesai anak-anak kembali ke kamar masing-masing, untuk belajar terus istirahat.
Yusuf masih di bawah menunggu Niar yang sedang membantu bibi membereskan meja makan.
__ADS_1
"Sudah selesai?" tanya Yusuf setelah melihat Niar berjalan ke arahnya.
Niar mengangguk lalu mereka berjalan menuju kamar.
"Sayang, itu kartu nama siapa yang ada di meja rias kamu?" tanya Yusuf setelah duduk di tepi ranjang.
Niar menoleh meja riasnya. "Oh itu, itu adalah kartu nama kepala sekolah anak-anak, namanya pak Daniel."
Dahi Yusuf berkerut. "Kok bisa ada di kamu?"
Niar menyentuh kerutan di dahi Yusuf. "Kan anaknya sekelas sama Kayla, namanya Mesya, mereka juga akrab banget mas. Tadi waktu aku jemput Kayla, sambil nungguin jam pulang Erlang kita ke taman dekat sekolah terus Mesya ikut, dan Papanya nyusul kita jemput Mesya, gitu ceritanya."
Yusuf memicingkan matanya. "Tapi dia tidak coba-coba deketin kamu kan?"
Niar terkekeh. "Ya enggak lah mas, dia juga punya istri kok."
Niar menoel hidung Yusuf. "Cemburu? Masa gitu aja cemburu mas?"
"Cemburu tanda cinta." jawab Yusuf.
Niar membelai wajah Yusuf. "Jangan pernah cemburu sama siapapun mas, karena aku tidak akan pernah berpaling darimu, hanya kamu satu-satunya pria yang ada di hatiku, seluruh sisa hidupku hanya untukmu."
Yusuf tergelak kencang. "Tumben bisa ngegombal?"
"Huh.." Niar mendengkus lalu mencubit pipi Yusuf.
__ADS_1
"Aww. sakit tau!"
Niar mengusap pipi yang di cubitnya tadi. "Iya ya maaf sini aku obatin." Niar mengecup pipi yang ia cubit tadi.
Yusuf mengarahkan pipi sebelahnya. "Satunya lagi dong."
Niar meraup wajah Yusuf dengan telapak tangannya. "Dasar modus!" lalu Niar mengecup pipi sebelahnya.
"Yang tengah sekalian."
Niar mengecup bibir Yusuf dan kali ini Yusuf tidak melepaskan kecupan Niar begitu saja dia membalas dengan ciuman mesra, Niar juga tidak bisa menolaknya karena Niar juga ketagihan ciuman mesra dari suaminya.
*
Pagi menjelang biasanya Niar bangun duluan tapi kali ini Yusuf yang bangun duluan,
Yusuf membuka mata dan melihat istrinya masih terlelap dia tidak tega untuk membangunkannya, dia mengecup kilas kening istrinya terus mandi.
Keluar dari kamar mandi ternyata Niar sudah menyiapkan baju kerja Yusuf. "Sayang, kok sudah bangun?"
"Kamu kok nggak bangunin aku tadi?" Niar tidak menjawab pertanyaan Yusuf tapi malah balik bertanya.
"Kasian lihat kamu masih nyenyak tidurnya." jawab Yusuf setelah memakai baju lalu mengambil jas nya.
"Tidak apa-apa, kan memang sudah menjadi tugasnya seorang istri melayani suami, Oya mas yang antar jemput anak-anak biar aku ya?"
__ADS_1
Bersambung...