
Niar tidak bisa menolak undangan dari Juna, karena selama ini yang banyak membantunya adalah Juna.
Niar memutuskan untuk datang walau hanya sebentar.
Undangan sabtu malam Minggu tapi Niar berangkat sabtu pagi, Niar packing untuk dua hari rencananya dia akan kembali ke Bogor Minggu sore.
"Semua sudah siap mbak." ujar bi Imah.
"Perlengkapan untuk Erlang juga sudah beres bi?" tanya Niar memastikan.
"Sudah mbak." jawab bi Imah mantap.
"Kita tinggal nunggu taxi onlinenya datang bi."
Akhirnya taxi online pesanan Niar datang dan
mereka berangkat menuju Jakarta.
Sampai di Jakarta mereka langsung ke hotel,
Niar sudah boking hotel untuk dua hari.
Setelah sampai di hotel mereka istirahat sejenak sebelum siap-siap ke pesta resepsi pernikahan Juna.
Sorenya mereka siap-siap berangkat menggunakan taxi online lagi, dan akhirnya mereka sampai di pesta Juna.
Niar turun dari taxi menuntun Erlang menuju pelaminan dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, Niar juga menikmati hidangan yang sudah tersedia di pesta itu.
Setelah acara selesai Niar pulang ke hotel untuk istirahat.
__ADS_1
Dua hari di Jakarta Niar sengaja tidak mampir ke danau, karena Niar tidak ingin mengingat masa suram itu.
Paginya mereka jalan-jalan ke taman, ke mall,
siangnya Erlang pengen berenang di hotel itu.
Erlang berenang bersama bi Imah, Niar mengawasinya dari kejauhan, Erlang haus dari kejauhan dia memanggil Niar.
"Mah, Erlang haus mau minum." teriak Erlang dari kejauhan.
"Iya, bentar nak." Niar mencari minuman Erlang namun tidak menemukannya, ternyata masih ketinggalan di kamar.
"Erlang, minumnya ketinggalan di kamar,
sebentar ya mama ambilin."
"Iya ma."
Tanpa memandang wajah laki-laki itu Niar menunduk untuk meminta maaf. "Maafkan saya pak saya yang salah, saya sedang buru-buru."
Dan ternyata yang di tabraknya adalah Yusuf,
Yusuf memandangi Niar sesaat untuk memastikan kalau itu benar-benar Niar.
Setelah Yusuf yakin kalau itu benar-benar Niar, Yusuf langsung memeluknya. "Sayang, kamu kemana saja? aku sudah lama nyariin kamu?"
Niar diam membeku di pelukan Yusuf, air matanya mengalir begitu saja.
Yusuf melonggarkan pelukannya. "Sayang kenapa kamu diam saja?"
__ADS_1
Niar belum menjawab pertanyaan Yusuf, dari kejauhan ada anak laki-laki kecil bak SUPER HIRO dia berdiri meletakkan tangan di pinggang dan berteriak. "Siapa kamu? jangan sakiti mamaku!"
Yusuf melepas pelukannya lalu menoleh ke arah anak kecil tadi. "Siapa anak itu? wajahnya mirip sekali denganku." batin Yusuf.
Yusuf menatap Niar. "Sayang, anak kecil itu siapa? Wajahnya mirip sekali denganku?
apa dia anak kita?"
Niar tidak mampu untuk sekedar berbicara, dia hanya mengangguk dan kembali meneteskan air matanya.
Detik itu juga Yusuf langsung lari mendekati Erlang dan memeluknya erat, namun Erlang menolak di peluk Yusuf, dia lari dan bersembunyi di belakang mamanya. "Mama aku takut."
Seketika niar tersenyum tipis. "Loh, katanya jagoan kecil mama mau ngelindungi mama kok takut?"
"Tapi orang itu besar ma, Erlang jadi takut."
"Ya Allah Papa macam apa aku ini, bahkan anakku sendiri tidak mengenaliku." batin Yusuf.
Niar berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Erlang. "Erlang sayang, yuk kita duduk dulu katanya tadi haus."
Erlang mengangguk lalu Niar membopong Erlang menuju kursi. Erlang duduk di kursi dan minum, karena Erlang memang sudah kehausan dari tadi.
Yusuf berjongkok di depan Erlang sambil menangis. "Sayang aku ini Papamu nak, maafin Papa sayang, Papa bukan Papa yang baik."
Erlang diam dia masih belum mengerti.
"Mas, biarkan waktu yang akan mengenalkan Erlang sama papanya.."
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah setia mengikuti karya saya, Jangan lupa like aku🙏🙏🙏