Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Cinta Lain


__ADS_3

Suasana tenang yang tercipta dalam ruangan VIP restoran mewah membuat empat orang yang duduk di dalamnya menikmati suguhan fasilitas yang diberikan restoran tersebut. Mereka menikmati hidangan setelah rapat kerjasama yang mereka setujui selesai. 


Pria dewasa berusia 32 tahun memiliki wajah biasa saja dengan postur tubuh yang sangat ideal bagi seorang pria dengan bergelimang harta membuatnya di gandrungi para wanita. Dia adalah Heksa Arga Winata. Seorang pimpinan perusahaan  retil yang sudah memiliki cabang di berbagai kota dan negara pewaris ayahnya yang sudah meninggal 4 tahun lalu dengan dugaan bunuh diri. Ia adalah pria yang santun dan sangat ramah kepada setiap orang yang ia jumpai. Tapi tidak setelah ayahnya meninggal dunia. Ia berubah menjadi pria tempramen dan bengis juga pendendam.


Pria paruh baya di depannya dengan wajah yang masih terlihat tampan dengan postur tubuh yang masih tegap di usia nya yang hampir memasuki kepala lima. Ia adalah Zulkarnain Hermawan pimpinan perusahaan produksi bahan pangan. Ia dikenal sebagai orang yang sangat tegas dan kritis . Istrinya bernama Ayudia dan memiliki dua orang anak bernama Elvaria Hermawan dan Elzarino Hermawan.


Setelah makan siang yang di bumbui rapat usai, mereka meninggalkan restoran mewah tersebut di ikuti sekertarisnya masing-masing menuju parkiran.


“Tuan Hermawan!”. Heksa melangkah menuju Hermawan yang sudah sedikit jauh dari tempatnya berdiri.


Suara panggilan dari orang yang di kenal membuat Hermawan dan sekertarisnya menghentikan langkah untuk menuju mobil. “Iya Tuan Heksa?”. Hermawan menyauti panggilan Heksa dengan tanda tanya, entah mengapa ia memanggilnya saat di rasa semuanya sudah deal mengenai kerjasama mereka.


“Maaf saya terlupa. Minggu depan saya mengundang tuan dan keluarga untuk makan malam di rumah”.


“Suatu kehormatan bagi saya di undang untuk datang di kediaman tuan. Tapi maaf, apa tuan mengadakan suatu acara?”.


“Oh tidak, hanya untuk silaturahmi supaya kita lebih saling mengenal, ini kan kerjasama pertama kita.”


“Baiklah, nanti saya usahakan untuk memenuhi undangan tuan.”


“Terimakasih”. Ucap Heksa


“Terimakasih kembali”. Jawab Hermawan


Mereka pun berpencar setelah berbincang dan melanjutkan kegiatannya masing-masing.


.


.


.


Malam harinya Hermawan baru sampai di gerbang utama rumahnya jam delapan malam. Mobilnya melaju pelan menuju depan rumah yang dikemudikan oleh Gino sekertarisnya.


Gino melepas seat beltnya kemudian turun dan langsung membukakan pintu mobil atasannya. 


“Ayah baru pulang?”. Suara Elva menyambut ayahnya yang baru keluar dari mobil. Elva mencium punggung tangan sang ayah di ikuti dengan kekasihnya Richard.


“Selamat malam om.” Sapa Richard pada ayah sang kekasih.


Hermawan hanya mengangguk. “Sejak kapan kau disini?”. Tanya Hermawan dengan menunjukkan rasa ketidaksukaannya .


“Tadi sekitaran jam tujuh om. Habis antar Elva membeli buku”. Jawab Richard dengan senyuman hangatnya.


“Elva, kenapa tidak meminta supir yang mengantar jika hanya untuk membeli buku.” Tanya Hermawan mengalihkan pandangan dari Richard.


“Ayah!”. Elva sontak marah dengan ucapan ayahnya yang tidak menghargai kehadiran kekasihnya.


Hermawan hanya melirik sekilas menatap Elva kemudian memasuki rumah tanpa mempedulikan kekesalan anak sulungnya.


“Maafkan sikap ayahku Rich”. Elva bersandar di pundak Richard sambil memeluk kekasihnya.


“Iya, tidak apa-apa sayang. Ayahmu bersikap demikian juga untuk kebaikanmu. Ayahmu masih belum percaya sama aku. Aku yang harus lebih kerja keras lagi untuk bisa membuat ayahmu merestui hubungan kita.”


“Tapi sampai kapan Rich?. Kita dekat sudah dua tahun. Tapi sikap ayah masih sama.”

__ADS_1


“Kita harus sabar, semoga saja usaha kita untuk mendapatkan restu ayah tidak sia-sia.” Richard meyakinkan Elva untuk terus optimis. “Oh ya, aku pulang dulu . Salam untuk ayah tadi aku belum sempat pamit.” 


“Iya, kamu hati-hati ya bawa mobilnya.” 


“Iya sayang.” Richard memegang pundak Elva meyakinkan bahwa ia akan baik-baik saja. Kemudian ia masuk ke dalam mobil, bersiap untuk berkendara sambil membuka kaca mobilnya untuk melambaikan tangan pada sang kekasih yang berdiri di samping mobil.


Setelah mobil Richard tidak terlihat, Elva langsung masuk ke dalam rumah mencari keberadaan ayahnya. Ia menuju ruang televisi namun yang di lihat hanya ada ibu dan adiknya.


“Ayah dimana Bun?.” Tanya Elva pada Ayudia.


“Ayah tadi langsung ke kamar. Sebentar lagi juga keluar. Kenapa wajahmu terlihat sedih Elv?.” Tanya Ayudia


“Paling juga bang Richard di cuekin lagi sama ayah. He he he....” Elza menimpali pertanyaan Ayudia.


“Huuusssttt. Eza!.” Sahut bunda.


“Biarin Bun, benar kok yang di bilang


Eza. Ayah tidak pernah bersikap baik dengan Richard. Elva malu bun dengan sikap ayah yang demikian”. Menjawab dengan nada sedikit parau karena menahan tangis.


“Elva harus sabar. Ayah pasti punya alasan untuk hal itu nak. Apa kamu sudah pernah bertanya pada ayah alasan ayah bersikap demikian?”. Tanya Ayudia sambil membelai rambut panjang putrinya.


“Sudah bunda, tapi ayah hanya diam dan pergi begitu saja”. Sudut mata elva mulai sedikit mengeluarkan buliran air mata.


“Hussttt.... Anak bunda jadi cengeng begini sih. Coba tanya lagi ke ayah, bicarakan baik-baik. Bunda juga pernah tanya ke ayah tapi ayah bilang biar Elva sendiri yang mengetahui sendiri alasan ayah tidak menyukai Richard”.


“Tapi kan itu membuat Elva bingung bunda”. Elva menjawab sambil mengusap air mata yang jatuh ke pipinya.


Ceklek


“Bunda, Elva, Eza. Yuk makan malam!”. Hermawan mengajak mereka bertiga menuju ruang makan. 


“Ayah....” suara parau Elva memanggil Hermawan.


“Iya, kenapa Elv?”.Tanya Hermawan yang sebenarnya tau maksud Elva memanggilnya.


“Ada yang mau Elva bicarakan”. Jawab Elva sambil menundukkan wajahnya.


“Nanti setelah makan”.Timpal Hermawan yang hanya diangguki oleh Elva.


Acara makan malam keluarga pun di mulai. Banyak hidangan yang tersedia di atas meja. Mereka masing-masing menikmati hidangan buatan Ayudia dengan lahap terkecuali Elva yang sejak tadi terlihat tidak berselera untuk makan.


Seusai makan, Ayudia merapikan meja makan di bantu dengan Elva dilanjut dengan mencuci piring. Sedangkan Elza menuju kamarnya dan Hermawan menuju ruang kerjanya.


“Bun, kira-kira ayah marah tidak ya Elva menanyakan perihal Richard.”.Tanya Elva di sela-sela ia mencuci piring.


“Ayah tidak akan marah kalau Elva bicara baik-baik”.


“Tapi Elva takut ikut terbawa emosi bun mengingat sikap ayah yang selalu dingin dengan Richard. Padahal Richard sangat baik dan perhatian sama Elva. Tapi kenapa ayah sangat tidak suka dengannya”.


“Itu kan yang Elva tahu. Mungkin ada yang Elva tidak tahu. Makannya ayah bersikap demikian dengan Richard”. Jawab bunda yang masih berusaha menenangkan fikiran putrinya.


Setelah acara mencuci piring dan merapikan dapur selesai Ayudia langsung menuju kamarnya. Sedangkan Elva menuju ruang kerja Hermawan yang Elva sudah pasti tau dimana keberadaan ayahnya ketika ada hal penting yang ingin dibicarakan.


Tok tok tok

__ADS_1


Elva mengetuk pintu ruang kerja Hermawan


“Masuk”. Suara dari dalam menyauti ketukan pintu Elva.


Ceklek


Elva membuka handel pintu kemudian masuk ruangan tersebut menghampiri sang ayah yang sedang bergulat dengan laptopnya mengecek email yang masuk dari rekan kerjanya.


“Silakan duduk!”. Titah Hermawan pada Elva.


“Hal apa yang ingin di bicarakan dengan ayah?”.


“Maaf ayah, Elva mau membicarakan tentang Richard”. Elva sedikit takut untuk memulai pembicaraan yang menurutnya ini akan membuat awal dari perdebatan ia dan ayahnya.


“Silakan, luahkan yang ingin kamu katakan!”. Ucap Hermawan.


“Elva heran dengan sikap ayah yang satu tahun belakangan ini terhadap Richard. Awal mula ayah bertemu Richard, Elva nilai ayah welecome dengannya. Ayah pun masih ramah dan masih mau berbincang dengannya. Tapi yang Elva ingat ketika Elva baru pulang dari rumahsakit, tidak lama setelah itu Richard ke rumah dan ayah menunjukkan sikap cuek dan tidak senang dengannya. Apa ada yang salah dengan Richard sehingga ayah bersikap demikian?”.


Hermawan terdiam masih menatap lekat wajah putrinya. Ia menghembuskan nafas kasar atas pertanyaan yang disampaikan oleh putrinya. Sepertinya ia sangat jengah dengan masalah ini . Tapi karena mengenai putrinya ia harus bersikap dan bertindak supaya kedepanya tidak ada hal buruk yang terjadi pada putrinya.


“Hanya itu yang ingin kamu bicarakan dengan ayah?”. Hermawan meyakinkan kembali pertanyaan putrinya dan diangguki oleh Elva.


“Baiklah, ayah akan memberitahu alasannya. Tapi sebelumnya ayah ingin menanyakan sesuatu denganmu”.


“Iya yah, apa yang ingin ayah tanyakan?”.


“Apa yang membuatmu menyukai pria seperti Richard?”.


Elva tercengang mendengar pertanyaan dari ayahnya.


Mengapa ayah bertanya seperti itu, bukankah ayah tau jika Richard selama ini baik dan tidak bermasalah dengan siapapun. Tapi dari pertanyaannya sepertinya ada yang salah dengan Richard. Batin Elva.


“Richard pria yang Pintar, baik, ramah, sopan dan setia. Dia selalu ada disaat Elva butuh yah”. Jawab Elva dengan penuh rasa percaya diri.


“Apa selama ini kamu tidak merasakan ada yang aneh dengan hubungan kalian?”. Ayah bertanya kembali pada Elva.


“Maksud ayah?”. Elva tidak mengerti apa maksud pertanyaan ayahnya.


“Jika ayah mengatakan yang sebenarnya apa kamu akan percaya dengan apa yang ayah katakan?. Ayah rasa tidak. Maka dari itu ayah membiarkan kamu menemukan sendiri kesalahan kekasihmu itu”.


“Memang apa kesalahan Richard sehingga ayah sampai membencinya?”. Ujar Elva dengan rasa penasarannya.


“Elva, ayah rasa masih banyak pria lain yang jauh lebih baik dari pada dia yang pantas bersanding denganmu. Bukan pria munafik sepertinya”.


“Elva semakin tidak mengerti dengan apa yang ayah katakan”. Elva semakin gusar dengan ucapan ayahnya.


“Ayah mengetahui ini ketika kamu terbaring di rumahsakit. Kamu menelpon dia untuk datang menjengukmu saat itu, tapi dia bilang tidak bisa karena sedang ada urusan penting yang tidak bisa ditinggal. Apa kamu ingat?”.


Elva terdiam sambil mengingat kejadian satu tahun lalu dimana saat ia dirawat pasca operasi usus buntu kala itu. Ia ingat betul apa yang diucapkan ayahnya tidak ada yang salah. Hanya saja apa yang dilakukan Richard saat itu ketika tidak bisa datang menjenguknya menjadi pertanyaan rumit untuknya saat ini hingga merubah sikap ayah terhadap kekasihnya itu.


“Bagaimana?. Apa kamu mengingatnya?. Tanya Hermawan kembali dan Elva hanya diam membisu membenarkan perkataan ayahnya.


“Ada cinta lain diantara kalian!”.


Deghh!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2