
Fatir dan Viona saling tatap heran. "Kenapa mereka?"
"Sudah. Pulang saja. Itu urusan mereka bro, urusan kamu sudah selesai. Cukup! kita pulang?" Darma menggiring Alisa dan menepuk pundak Fatir supaya pulang.
"Tapi, mas itu!" Viona penasaran.
"Sudah, kita pulang saja, Vi." Tangan Alisa menarik tangan Viona yang memegang pergelangan Fatir.
Kemudian benar-benar meninggalkan tempat tersebut menuju mobilnya Viona. Dalam hati Fatir memang sangat penasaran apa yang sudah terjadi di dalam? sehingga terdengar ribut dan suara jeritan, sesekali matanya menoleh ke arah rumah tersebut.
Tiba-tiba Viona merasa mual, kepalanya mendadak pusing berat dan tubuhnya melemas. Genggaman tangannya pun memudar. Fatir menoleh dan langsung menyambar tubuh Viona yang tumbang hampir saja jatuh ke tanah kalau saja Fatir kurang sigap.
"Sayang!" Fatir sangat terkejut dengan kondisi Viona yang tiba-tiba pingsan. Kemudian dengan segera menggendong tubuh wanita tersebut.
Oma Yani dan Alisa juga Darma. Terkesiap melihat Viona pingsan dan terkulai. "Vi, kenapa?" hampir berbarengan.
Fatir tak menjawab, melainkan membawanya masuk ke dalam mobil. "Pak supir, jalan!"
Oma bergegas naik bersama yang lain, ia panik melihat Viona dalam pangkuan Fatir. "Pulang ke rumah saja. Eh ke rumah sakit, eh jangan-jangan. Bawa ke rumah saja biar dokter pribadi kami yang datang." Oma Yani tampak gugup.
Supir dan yang ada di mobil kelimpungan mendengar perintah Oma Yani. Namun pada akhirnya mereka bisa memutuskan kemana tujuan mereka saat ini yaitu pergi ke Rumah Sakit.
"Bangun sayang? bangun. Maaf aku sudah membuat mu menangis dan bikin kamu kepikiran yang tidak-tidak." Fatir memeluk erat tubuh Viona. Alangkah gusar dan cemasnya Fatir saat ini.
Selama pernikahan baru kali ini mendapati Viona selemah ini.
"Vi, kamu kenapa Nak? minyak angin ada gak?" Oma Yani menoleh ke arah Alisa yang tampak cemas.
Alisa menggeleng. Sebagai sahabat ia sangat khawatir mendapati Viona seperti ini, ia begitu gugup takut Viona ke napa-napa.
Selang beberapa waktu. Mobil berhenti di depan rumah sakit, Fatir bergegas turun setelah Darma juga duluan turun dan meminta brankar pasien.
__ADS_1
Fatir dan perawat segera membawa Viona ke ruang UGD. sesampainya di depan pintu, suster meminta Fatir menunggu di luar sana sementara pemeriksaan berlangsung.
Fatir dan yang lain menunggu dengan penuh rasa cemas. Semua yang ada di sana terlihat jelas guratan ke khawatiran yang teramat mendalam.
Terlihat dokter keluar dari ruangan dimana Viona diperiksa. Semua mendongak dan Fatir segera menghampiri. "Gimana dok istri saya?"
Dokter wanita itu menatap intens ke arah Fatir lalu melukis senyumnya seraya berkata. "Istri anda cuma kecapean dan stres saja dan ... selamat ya istri anda tengah hamil 6 Minggu," ucap dokter sambil mengulurkan tangan.
Fatir terkesiap dan tak percaya. Manik matanya menyapu ke Oma dan Alisa juga Darma yang saling lirik, kemudian kembali melihat dokter tersebut. "Benarkan dok? istri saya hamil?"
Dokter tersenyum dan mengangguk. "Silakan, anda sudah bisa menemuinya dan sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang inap."
Fatir dan yang lain segera masuk dan mendapati Viona terbaring lemah, Fatir setengah berlari dan meraih tangan Viona erat dan mengecup hangat keningnya.
"Sayang, kenapa gak bilang kalau tengah hamil? kamu sudah membuat cemas setengah mati," ungkap Fatir. Duduk dekat Viona terbaring.
"Vi, akhirnya ... oma mau punya cicit juga dari kamu Vi. Cucuku satu-satunya." Oma Yani begitu antusias dan bahagia mendengar kabar ini.
Viona memandangi Fatir dan Omanya bergantian. "Aku gak tahu kalau sedang hamil." akhirnya Viona mengeluarkan suara dari mulutnya dengan pelan.
"Selamat ya, Vi ... aku senang deh akhirnya hadir juga buah cinta dari kalian." Alisa memeluk Viona bergantian dengan Oma Yani.
"Tuh, kan Oma. Kalau burung Fatir Oma matikan gimana dengan kehamilan Viona Oma? jelas Fatir gak akan bisa menengok baby nya, kasian kan?" celetuk Darma pada Oma Yani.
Oma Yani nyengir dan mengangkat tangannya. Peletak menyentil telinga Darma. "Kau ini saya itu cuma bercanda dan itupun kalau Fatir terbukti menduakan cucu saya. Kalau nggak! mana berani saya membiarkan cicit saya tanpa ayah, kau ini sembarangan kalau ngomong."
Darma dengan ekspresi sakit, mengusap-ngusap telinganya yang terasa panas. "Jahat Oma, kan Oma sendiri yang bilang gitu. Mau buat mati burung Fatir."
"Mas, diem ah. Bercanda Mulu deh." Alisa menepuk bahu suaminya, Darma yang menyeringai.
Fatir hanya terkekeh mendengar argumen Oma dan Darma yang berdebat tentang dirinya. Lalu melempar senyuman pada sang istri yang terlihat pucat.
__ADS_1
Viona di pindahkan ke ruang inap VIP dan Darma juga Alisa pergi untuk mencarikan makanan buat makan siang mereka yang sudah super terlambat. Sebab suasana sudah menunjukan sore hari dan mendekati Maghrib.
Bu Asri baru datang dan langsung memeluk erat Viona menyambut kehadiran calon baby yang masih di dalam perut Viona yang masih rata.
Tangan Bu Asri mengelus perut Viona setelah merasa puas memeluknya. "Selamat ya sayang ... Mama sangat bahagia, bahagia banget. Kok Vi ndak cerita sama Mama kalau Vi hamil?" mata bu Asri berkaca-kaca dan ini tangis bahagia karena mau punya cucu.
"Vi, ndak tahu sebelumnya Mam, kalau Vi ndak pingsan mungkin ndak akan ketahuan kalua Vi hamil," sahut Vi sambil memegangi tangan sang bunda.
Bu Asri menatap dengan lekat sang putrinya. Bibirnya tak berhenti tersenyum bahagia menghiasi wajahnya yang sudah tidak muda lagi.
Viona menatap ke arah sang bunda. Di balik kebahagiannya terselip rasa kecewa yang mendalam. "Kalau saja mama tahu tentang perselingkuhan papa, pasti mama akan merasa hancur." Batin Viona tidak berhenti menatap sang bunda.
Begitupun Bu Asri. "Maaf sayang, ini Mama harus simpan perselingkuhan papa mu sementara waktu. Mama tak ingin kamu kepikiran yang macam-macam." Gumamnya dalam hati.
"Asri, suami mu mana? kok tidak ke sini." Suara Oma Yani memecahkan lamunan masing-masing, antara Viona dan sang bunda. Sangat terkesiap. Dan ingin menyimpan rahasia ini masing-masing.
"Ooh, entah kemana, Bu. Belum pulang." Jawabannya terbilang singkat.
"Oh ... menurut ku Viona biar tinggal bersama kita saja biar banyak yang memperhatikan." Oma Yani memberi saran agar Viona tinggal di rumah saja.
"Aku juga setuju dengan saran Ibu. Lagian kita berdua juga bisa memperhatikan Viona, ide bagus tuh." Bu Asri memberikan kode setuju pula di tangannya.
"Ndak-ndak, Vi gak mau. Biar Vi tinggal di apartemen saja tapi bi Ijah ikut aku. Lagian aku tuh jarang diem di rumah. Banyak kesibukan ku Oma ... Mama. Tolong mengerti." Tolak Viona. "Apalagi ... seperti kalian tahu. Pa-pa ndak suka sama suami ku, sebaik apapun dia tetap salah di mata papa. Jadi biarkan kami merasa tenang. Kalian bisa ke sana kapan saja kan?"
Oma Yani dan Asri melirik satu sama lain. Alasan yang Viona berikan sangat masuk akal, Rusadi tidak suka dengan Fatir sebagai mantunya.
"Baiklah, gimana Vi saja. Gimana baiknya sebab Vi sudah bisa menentukan yang terbaik untuk Vi dan keluarga kecilnya nanti." Bu Asri mengangguk seakan memberi dukungan pada Viona.
Oma Yani pun mengangguk pelan, bagaimanapun tak bisa mengatur Viona lagi tuk menuruti maunya. "Yang penting, Vi bahagia saja. Jangan terlalu capek, jaga kesehatan, ya?"
Derap langkah terdengar mendekati pintu ruangan VIP tersebut membuat mereka menghentikan pembicaraannya sejenak ....
__ADS_1
****
Maaf semalam telat banget publis nya. Padahal dari masih sore up nya, aku juga gak ngerti sama sekali padahal episode yang kemarin itu gak ada adegan enak-enak nya tapi kenapa lama bangat review nya.