
"Papa ini ngomong apa sih?" Viona semakin kesal pada sang ayah yang terus menyudutkan mereka berdua. "Dulu juga Vi sering pulang malam bahkan lebih larut malam. Pulang sendiri, gak jadi masalah! kenapa sekarang justru ada yang menjaga, malah Papa permasalahkan?"
"Ada apa ini? ribut malam-malam," tegur bu Asri muncul dari balik pintu.
Fatir langsung maju mendekat meraih dan mencium tangan bu Asri dan oma Yani yang menyusul di belakang.
"Ribut-ribut, gak malu dilihat orang, masuk?" ucap oma Yani.
"Saya mau pulang aja. Viona sudah sampai di rumah, Om." Fatir pamitan langsung.
"Loh, kok buru-buru Nak Fatir, masuk dulu, kita makan dulu," ujar bu Asri dan oma Yani mengangguk setuju.
"Makasih Tante dan Oma." Fatir mengangguk hormat, lalu memutar badan sebentar menatap Viona, kemudian berlalu meninggalkan kediaman Viona. Membawa payung di tangan. Sebelumya hendak bersalaman dengan pak Rusadi. Namun di tepisnya kasar.
"Pemuda itu. Tidak punya malu," ketus pak Rusadi sambil berjalan masuk.
Yang lain pun masuk. Begitupun Viona langsung menaiki anak tangga. Dengan hati kesal, Marah dengan sikap sang ayah yang tidak mengenakan pada Fatir.
Viona melempar tas nya. Kemudian masuk kamar mandi, ingin hilangkan rasa yang menyesakkan dada, Mungkin dengan berendam akan mengurangi rasa gundah yang menyesakan dada itu.
"Huuh, kalau bukan untuk tujuan itu, aku juga tak ingin menikah. Tapi Fatir ... orangnya baik kok." Gumamnya Viona.
****
Fatir tengah berjualan. Di temani adik-adiknya. "Kalian harus berterimakasih pada Mbak Viona yang telah memberikan kalian berdua ponsel baru, bagus-bagus lagi," ucap Fatir pada kedua adiknya.
"Iya, Mas. Kami sudah berterima kasih, dan kami juga ingat kalau kami akan menggunakan benda ini sebaik-baiknya." Sidar mengangguk.
"Tuh ... kan? Mas ada orderan singkong keju 10 cup dan pisangnya 10 cup." Adam menunjuk ponsel barunya yang baru saja menerima pesanan.
"Oya, alhamdulillah ... ya udah, semangat sana?" Fatir merasa senang.
"Nah ... aku juga dapat pesanan nih, 15 porsi mie ayam. Ayo Mas siapkan." Sidar bersorak. Fatir pun segera menyiapkan pesanan.
"Kamu bantu Mas Adam, selagi mie ayamnya siap," suruh Fatir ada Sidar.
"Baik Mas." Sidar langsung menuruti perintah sang kakak.
Setelah siap, masing-masing mengantar pesanan dengan motor yang sama.
Datanglah sebuah mobil yang membawa kursi, meja makan dan satu set sofa. Supir bertanya alamat Fatir Irawan, sebab ada kiriman barang.
Kebetulan yang di tanya Fatir sendiri. Namun jelas, Fatir tak merasa memesan barang-barang tersebut.
"Itu, memang nama saya dan alamatnya juga benar. Tapi saya tak memesan itu semua Mas," elak Fatir.
__ADS_1
"Tapi, kan alamat penerima dan nama penerima juga sama. Gak mungkin pihak konter menyuruh mengirim ke sini kalau tak ada yang memesan Mas." keduanya sama-sama kekeh.
"Tapi, saya tidak pernah pesan ini semua. Lagian juga gak ada uang tuk membayarnya." Fatir tetap kekeh takut harus membayar.
"Ini, sudah di bayar Mas. Tinggal menerima aja."
Fatir mengacak rambutnya frustasi. "Salah alamat kali Mas." Kata Fatir. Mana ada yang beli pisang cokelat lagi.
Pada akhirnya supir menelepon seseorang. Menanyakan kebenarannya dan tetap sama kalau barang itu milik Fatir Irawan. Supir menoleh Fatir yang tengah melayani pembeli. Setelah selesai, supir kembali menjelaskan. "Mas yang pesan ini semua atas nama ibu Viona Nurulita, dan diperuntukkan pak Fatir Irawan. Kalau gak percaya silakan bicara dengan orangnya."
Akhirnya Fatir berbicara dengan yang supir bilang pemesan itu. "Oh, kenapa gak konfirmasi dulu? saya tak merasa memesan jadi jelas saya tolak, kalau gitu ya sudah," ucap Fatir pada orang tersebut.
"Baiklah, turunkan saja Mas." Fatir mengembalikan ponsel milik supir itu.
Adam dan Sidar kaget, melihat Mas nya menurunkan meja makan dan satu set sofa. "Mas. punya siapa nih?"
Fatir menoleh sang adik yang memarkirkan motornya. "Bantuin dulu nurunin."
Sidar segera naik dan menurunkan sofa. Di susul oleh Adam yang lagi-lagi bertanya. "Punya siapa nih Mas?" penasaran.
"Bawa ke rumah. Kiriman mbak Viona." Jawabnya Fatir.
"Mas yang minta?" tanya Adam terheran-heran.
Fatir terdiam sejenak. Melihat sang adik sangat lekat. "Mas gak pernah minta-minta." Jelasnya.
"Mbak cantik nya, gak ke sini ya Mas?" tanya Sidar pada Fatir yang menggotong sofa dengannya.
"Kerja," sahutnya singkat.
Para tetangga pun menggeleng dan memuji. "Wah ... hebat bu Afiah membeli kursi dan sofa sekaligus." Bisik-bisik tetangga, bahkan ada juga yang bicara langsung.
Fatir dan kedua adiknya cuma tersenyum simpul. Tak ada yang mnejelaskan hal itu. Sesungguh nya Fatir merasa was-was. Dengan kebaikan Viona, sementara sikap sang ayah sungguh tidak mengenakan pada dirinya.
Hari ini tidak ada pertemuan. Kecuali bertemu suara tadi di ponsel supir yang membawa pornitur. Fatir kini tengah duduk menikmati sebatang rokok di jarinya. Sambil menunggu pembeli, kebetulan tinggal sedikit lagi.
Sementara singkong dan pisang sudah laris habis. Sidar dan Adam pun pulang, dan Fatir suruh menemui sang ibu ke Rumah sakit.
"Mas, aku datang?" suara sosok wanita memakai pakaian putih.
Fatir mendongak melihat ke arah sosok itu. "Soraya?" gumam Fatir dan melonjak berdiri. "Ngapain ke sini?"
"Aduh, Mas ... gitu amat nanya, kaya gak suka aja aku datang. Gak kangen apa sama aku Mas?" Soraya langsung duduk di bangku yang tersedia.
"Eh, bukan begitu. Kok gak bilang-bilang?" ralat Fatir kembali.
__ADS_1
"Aku kangen, Mas." Soraya duduk mendekat. Tanpa canggung memegang tangan Fatir.
Fatir berusaha menjauh. "Nggak enak kalau ada yang lihat. Kalau ada pembeli, juga di lihat yang lewat. Sedikit menjauh."
"Kenapa sih? kaya baru aja. Kita itu pacaran sudah bertahun-tahun loh Mas." Duduk Soraya makin mepet.
Fatir berdiri. Kebetulan ada pembeli yang datang.
Soraya sedikit cemberut. Lalu mendekat. "Sayang, jalan yu? bete nih." Memegang tangan Fatir.
"Aku masih jualan, coba lihat." Fatir menunjuk jualannya.
"Ah dikit lagi tuh, bikinkan aku dong. Lapar nih."
"Baiklah, akan ku bikinkan yang spesial untuk mu." Fatir langsung menyiapkannya buat sang kekasih, Soraya.
Dalam waktu singkat Soraya pun melahap habis mie ayam yang dibuatkan Fatir.
Bibir Fatir tersenyum, melihat sang kekasih yang seperti orang kelaparan.
"Mas, aku mau ke rumah mu ya? sudah lama gak ke sana." Soraya berdiri.
Fatir terdiam. "Aduh, di rumah ada barang baru. Bisa-bisa nanti jadi pertanyaan Soraya, ini tidak boleh terjadi." Batin Fatir.
"Eh ... katanya mau jalan, tunggu aja di sini. Bentar lagi juga jualan ku habis," cegah Fatir.
Ia telepon Adam, kebetulan belum pergi ke rumah sakit. Untuk Menggantikannya jualan. Kemudian ia ngetik sms padanya, kalau di situ ada Soraya dan ia akan mengajaknya jalan supaya tak kerumah dulu, bisa berabe kalau tahu kursi dan sofa baru.
Tak selang lama, Adam pun datang. "Ya Mas, adik mu datang nih." Mata Adam melirik ke arah Soraya. "Eh, ada Mbak Raya."
"Ya." Soraya singkat.
"Ih. Si mbak cantik aja jutek, tapi gak sejutek dia kali. Emang kaya gitu mbak Raya orangnya," gumam Adam dalam hati.
"Mas, mau ngajak mbak Soraya jalan-jalan sebentar," ucap Fatir semabari menaikan alis sambil tersenyum.
"Oke, Mas. Ya ... dikit lagi kecil ..." sahut Adam. "Eh, Mas. Emang hari ini Mbak cantik gak datang ya?" setengah berbisik.
Sebentar mata Fatir menatap sang adik, tapi perasaan gak ada janji ataupun acara dengannya. "Tidak."
Kemudian, Fatir membonceng Soraya pergi jauh dari tempat tersebut. Adam menatap kepergian sang kakak. "Aku jadi gak ngerti, ini tetap di pacari. Satu lagi mau di nikahi?" Adam menaikan kedua bahunya.
****
Motor Fatir terparkir manis di pesisir pantai. Keduanya berjalan dan bergandengan tangan. Sesekali Soraya merebahkan kepala di bahu sang kekasih ....
__ADS_1
****
Makasih reader ku yang sudah menyukai novel ini, jangan lupa like dan komentar. Karena itu salah satu aku lebih semangat menulis.