Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Habiskan


__ADS_3

"Biarkan saja!" ucap Fatir sambil terus menuntun permainannya.


"Akh ..." d****** keduanya memenuhi ruangan kamar tersebut. Beberapa kali terjadinya pelepasan keduanya, tubuh yang bergetar hebat bagai tersengat aliran listrik.


Cukup lama mereka melakukan ritual yang baru pertama kalinya itu. Sampai-sampai beberapa kali menikmati puncaknya dan beberapa kali pula tubuh Fatir ambruk di atas tubuh Viona yang sama-sama lemas kehabisan tenaga.


Namun beberapa saat lagi bola yang sudah kempes pun kembali mengembang dan meminta masuk lagi dan lagi ke gawang yang kini mulai terbiasa dimasukinya. Benar-benar Viona menjadi candu buat Fatir dan candunya melebihi nikotin yang ada dalam kandungan rokok.


"Ya ampun ... sudah 3 jam kami melakukan ritual tersebut." Batin Viona ketika melihat putaran jam yang berada di dinding.


Akhirnya untuk terakhir kalinya mereka berdua merasakan pelepasan, tubuh keduanya sangat menegang pertanda sesuatu yang memuncak.


"Ehg!" gumam Fatir dan tubuhnya terkulai ambruk di sisi sang istri yang kini sudah seutuhnya menjadi istri. Fatir memeluk erat tubuh sang istri dengan kecupan yang hangat di kening dan pucuk kepala.


"Makasih sayang?" suara Fatir begitu pelan. Namun mampu membuat hati Viona berbunga ini kali pertama ucapan kata sayang dari bibir Fatir.


Malam semakin larut keduanya tertidur dengan masih sama-sama polos dan saling berpelukan erat, terlihat rona bahagia tergambar dari wajah keduanya. Suasana dingin menghiasi malam yang beranjak pagi itu, kedua insan yang tengah di mabuk asmara dan tepatnya habis menunaikan indahnya bulan madu itu semakin mengeratkan pelukan.


Biasanya Fatir setiap jam 03.00 terbangun. Namun kali ini ia begitu nyenyak dan tak ingat apapun.


Tiba-tiba Fatir melonjak bangun. Kaget melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 06 pagi. Menggosok matanya berkali-kali tatap saja jarum jam tidak berubah, namun tetap saja bahkan terus bergerak.


"Astagfirullah ..." perlahan Fatir memindahkan kepala Viona ke bantal yang tampak begitu nyenyak. Lantas ia bergegas turun setengah berlari menuju kamar mandi, mau bersih-bersih dan belum salat subuh juga.


Fatir mandi kilat sehingga dengan cepat ia kembali, bergegas mengambil pakaian. Setelah itu menunaikan salat subuh yang sudah terlewat.


Mau membangunkan Viona namun terlihat begitu lelapnya. Lantas membukakan gorden lalu kembali mendudukkan diri di tempat tidur menatapi Viona dengan bibir yang tersenyum mengembang. Membayangkan kejadian semalam yang begitu ah.


Mau pergi ke pasar. Takut Viona kesakitan dan membutuhkan dirinya, akhirnya ia menelpon orang rumah agar ke pasar dan mengurus semua dan dia akan datang agak siangan. Kepala Fatir mendekat dan cuph! mengecup kening Viona dengan lembut. Nggak tega mau ninggalin takut ritual semalam berbekas mengingat waktu itu dia menangis kesakitan.


Viona menggeliat nikmat dan matanya langsung di suguhi wajah tampan Fatir yang begitu dekat dengan wajahnya. "Hem ... pagi sayang? ndak ke pasar ya?" tanya Viona sambil merangkul leher Fatir.


"Pagi juga. Tapi lihat tuh matahari sudah tinggi. Jam berapa nih sayang?" suara Fatir lirih dan menempelkan bibirnya di pipi Viona.


"Ha?" mata Viona bergerak melihat ke arah jam dinding. Viona sangat tercengang ketika melihat putaran jarum jam. Ia melonjak sehingga selimutnya turun mengekspos gundukan indah miliknya.


Dengan cepat Fatir menaikan selimut menutupi bagian itu. Viona jadi menatap lekat wajah Fatir lalu bergegas menurunkan kedua kakinya sambil menjepit selimut di bawah ketiaknya. Namun terlihat bibir Viona meringis.


Fatir kaget. "Kenapa?" dan mendekat memegangi bahunya.


Viona mencoba berdiri dan melangkah satu dua langkah. Lalu berhenti menoleh ke arah Fatir. "Daerah inti ku sakit. Perih." Menggigit bibir bawahnya dan mendudukkan kembali tubuhnya di tepi tempat tidur.


Fatir merangkul bahunya Viona, dan di sekujur tubuh Viona banyak tanda kepemilikan yang ia buat semalam "Kamu sakit? maaf itu karena ulahku!" Mengecup bahu Viona lembut.


Wajah Viona tampak cemas. "Mana pukul 09 mau meeting ke luar kota lagi, gimana dong?" Lirihnya Viona.


"Di kencel aja ke besok." Saran Fatir.


"Ndak bisa ..." keluh Viona sambil melirik tempat tidurnya yang tampak kotor dengan bercak darah di seprei.


Netra mata Fatir pun mengikuti pandangan mata Viona. Ia tersenyum. Biarpun Viona pacaran bertahun-tahun dengan Hendra. Ternyata Viona pandai menjaga kesuciannya selama ini. Sampai dia serahkan pada suaminya yang lebih berhak.

__ADS_1


Tanpa aba-aba. Fatir menggendong tubuh Viona ala bridal style ke kamar mandi. Membuat Viona terkesiap menadapat perlakuan seperti itu, namun dengan refleks merangkul kan kedua tangan di pundak pria yang kini membawanya menuju kamar mandi.


Kemudian Fatir mengisi bathub dengan air hangat. Netra mata Viona terus menatap pria itu.


"Keluarlah? aku bisa sendiri dan aku malu bila ada kamu di sini," pinta Viona yang masih di balut selimut.


"Nggak pa-apa, ini salah ku yang sudah membuatmu sakit begini. Membuatmu menangis juga," ucap Fatir lirih. Lantas menarik tangan Viona dengan pelan menuntunnya masuk ke dalam bathtub, wajah Viona bersemu merah, malu bukan main di hadapan Fatir tubuhnya sepolos baby.


"Ndak usah malu Non, semalam juga Ndak malu bersama dengan ku," ucap Fatir sambil menyeringai puas.


"Apaan sih?" Viona tersipu malu sambil merendam diri di bathtub tersebut. Kemudian Fatir memandikan Viona dengan lembut dan hati-hati.


Viona memejamkan mata merasakan hangat dan wanginya air serta aroma terapi. Berasa menyusup ke dalam pori-pori.


Setelah selesai, Viona di bawa lagi ke kamar. Di dudukan di tepi tempat tidur dan Fatir mengeringkan rambut Viona dengan handuk kecil.


"Oya, sebentar!" Fatir beranjak mengambil celananya yang menggantung. Mengambil sebuah benda kecil dibawanya pada Viona yang menatap heran.


"Apa itu?" tanya Viona sebelum Fatir membuka tangannya.


Fatir kembali duduk di depan Viona. "Aku obati yang merah-merah itu." Langsung saja Fatir mengoleskan salep itu ke kulit Viona yang tampak merah membiru itu.


Fatir menyuruh Viona berbaring dan membuka kakinya. Dia mau mengoleskan di daerah sensitif Viona yang katanya sakit.


"Ndak, aku bisa sendiri kok." Viona menolak perintah Fatir. Ia merasa malu jika sampai Fatir melihat miliknya.


"Sayang ... ayolah. Semua salahku jadi aku harus bertanggung jawab," Fatir membaringkan tubuh Viona di atas tempat tidur dan menaikan kimono handuknya. Membuka kaki Viona sedikit tuk melihat milik Viona dan memang tampak sedikit bengkak dan lecet.


"Sudah. Bangunlah?" Fatir membantu Viona duduk dan bersandar.


"Kamu tidak jualan?" tanya Viona menatap Fatir yang masih duduk di depannya.


"Tidak. Eh jualan, sama anak-anak. Nanti agak siangan aku ke sana." Memberikan segelas air minum pada Viona.


"Oh, seprei nya. Aku bisa minta tolong gak? ambilkan di lemari, seprei yang warna abu bunga." Viona menunjuk lemari.


Netra mata Fatir mengikuti arah yang Viona maksud dan langkahnya yang lebar mendekati lemari dan mengambil barang yang Viona minta lantas membukanya.


Viona turun dan menarik selimutnya untuk diganti. Begitupun dengan bantal dan guling nya.


"Sini! aku yang pasangkan. Non duduk saja di sofa." Fatir menyeret Viona supaya duduk di sofa. Dan ia yang memasang semua.


Viona sedikit tersenyum memandanginya sambil duduk santai. Tangannya mengambil ponsel dan menelpon Su, agar rapat di kencel sampai nanti sore.


Saat ini dia gak berani keluar dulu dengan kondisi yang masih terlihat merah di dan membiru khususnya di bagian leher. Ditambah lagi merasa gak nyaman di bagian tertentu. Badan pun terasa remuk akibat semalam. Seolah semuanya di bikin sekali.


Tempat tidur sudah rapi, yang kotor pun sudah Fatir rendam di kamar mandi. Kemudian Fatir mendekati dan duduk di samping Viona. "Gimana? bisa di kencel!"


"Nanti sore. Diundur waktu." Kepalanya nyender ke bahu Fatir. Kepala Fatir menunduk dan cuph! mengecup pucuk kepala Viona dengan lembut.


Tok ....

__ADS_1


Tok ....


Tok ....


"Vi, kamu masih di kamar kan? kenapa belum sarapan! sudah siang. Fatir juga, motornya masih ada apa gak jualan dia?" suara Oma Yani dari balik pintu.


Fatir dan Viona saling bersitatap. Wajah Viona panik sambil memegangi lehernya. "Gimana nih, malu?"


Fatir yang gak tahu harus bagaimana cuma bengong. Memandangi wajah Viona yang tampak cemas dan menutupi lehernya dengan telapak tangan.


"Ambilkan syal di lemari?" pinta Viona pada Fatir dan Fatir pun mengindahkan permintaan Viona.


"Vi, kalian sudah bangun kan? Nak ... sudah siang sarapan dulu," sambung Bu Asri.


"Iy-iya Mah ... bentar." Viona segera memasangkan syal di lehernya yang penting bisa menutupi tanda merah yang tidak cuma satu itu.


Lantas Fatir membukakan pintu kamarnya. "Oma, Ma ..."


Oma Yani dan Asri sebelum masuk memperhatikan Fatir dan Viona yang terlihat duduk di sofa. Kemudian keduanya masuk ke dalam kamar. Fatir mengikuti dari belakang.


"Nak Fatir gak jualan?" selidik Oma Yani sambil mendudukkan bokongnya di sofa dekat Viona.


"Jualan, sama anak-anak dulu. Nanti saya ke sana agak siangan, Oma." Jawab Fatir sambil menarik bibirnya memperlihatkan senyuman.


Netra mata bu Asri menyapu seluruh ruangan yang tampak aneh dan entah apa?


"Sayang, kamu kok tampak pucat, apa kamu sakit?" selidik Bu Asri yang melihat putrinya tampak pucat dan tangannya memegang dagu Viona lihat kanan dan kiri.


"Eh ... mungkin semalam Vi kurang tidur aja Ma," sahut Viona sambil melirik ke arah Fatir yang duduk di sebrang.


"Kok bisa kurang tidur? bukannya pagi ini kamu mau ke luar kota tuk mimpin rapat?" tanya Oma Yani, matanya memperhatikan ke arah Viona. Ada keganjalan yang Oma Yani dapat dari Viona.


"Iya, Oma, nanti sore saja. Sudah aku undurkan waktunya, badan ku terasa sakit dan remuk gara-gara," ungkap Viona.


"Apa? gara-gara apa Vi?" tanya Oma dan Bu Asri menatap Viona Keduanya merasa penasaran,


"Em ... mak-maksud Vi. Kurang enak badan gitu!" ralat Viona. Menutup mulutnya. "Kok bisa-bisanya ke ceploskan sih nih bibir." Merutuki dirinya.


"Oh, Vi baru selesai mandi ya, mandi basah, wah ... sepertinya putri Mama habis malam pertama ya?" setengah berbisik.


"E-egak ah. Biasa aja kok!" elak Viona.


Oma Yani mengernyitkan keningnya melihat keadaan Viona yang tampak pucat dan ada tanda merah yang Viona berusaha tutupi dengan syal di lehernya. "Asri, keluar aja yu? biarkan mereka berdua! mungkin hari ini mau menghabiskan waktu bersama." Oma Yani berdiri menarik tangan Bu Asri.


Asri pun mengerti dengan lirikan mata ibunya. Lalu mengikuti langkah ibunya.


Namun ketika keduanya mau melintasi pintu ....


****


Sudah membaca kan reader ku semua? jangan lupa like dan komennya🙏

__ADS_1


__ADS_2