Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Menyebar


__ADS_3

Alangkah terkejutnya Viona menerima pesan dari Rumi kalau Rumi bisa aja dan kapan aja memberi tahukan Oma nya kalau Fatir punya kekasih dan mengkhianati Viona. Bahkan dia punya bukti kalau gambar Fatir yang sedang pelukan dengan sang kekasih.


Kepala Viona menggeleng. "Dasar, ini kan waktu ketemu pagi-pagi itu."


"Kenapa Non?" tanya Fatir sambil menggeser kursi ke dekat Viona.


"Ini, Kak Rumi mengancam akan melaporkan kelakuan mu yang punya kekasih."


"Ooh ..." dengan santainya.


"Lho, kok wajahnya biasa aja?" Viona herannya.


"Emang harus gimana Non? kan emang begitu adanya, benar kok tapi ... aku sudah berusaha tuk jadi suami yang baik dan bertanggung jawab dengan semampu ku ketika hasilnya gimana ya ... pasrah aja." Kata Fatir sembari menaikan bahunya.


Viona menghela napas seraya menggeleng. Tangan terus bermain ponsel dan kali ini berselancar di media sosial. Dan hati Viona kembali dibuat dag Dig dug sebab kejadian tadi disebarkan di media dengan beribu penonton dan beragam komentar yang bikin shock dan tersenyum.


"Nah lihat kejadian tadi." Viona memperlihatkan video yang sudah menyebar di media sosial dimana memperlihatkan Soraya marah-marah pada Fatir dan Viona. Dan video tersebut di kasih judul Istri labrak suami sama istri muda.


"Waw ... kita jadi terkenal dong ya? jadi artis di media sosial. CK ck ck ..." Fatir berdecak bangga sambil menyeringai.


"Iih, malu. Tahu ... di kira orang itu benar, aku yang merebut suami orang. Ngerti gak sih? Heran, malah bangga gitu? gak memikirkan repotasi aku apa? sebentar lagi media yang tahu aku akan menyerang ku," keluh Viona. Menghela napas berat.


"Terus gimana dong? saya ndak ngerti soal itu. Saya akan bilang kalau itu salah paham, bilang saja dia itu mantan saya. Masa media ndak ngerti!" ujar Fatir menatap lekat.


"Ndak segampang itu juga. Media itu akan lebih jeli, ya ... kecuali--"


"Kecuali apa Vi?" Fatir penasaran.


Viona menatap lekat ke arah Fatir. "Kecuali pakai uang."


"Hem ... ternyata semua bisa selesai dengan uang toh?" timpal Fatir.


Viona tidak menjawab, ia mematikan ponselnya. Sebab kalau aktif pasti akan berdering terus. Saat ini ia belum siap untuk memberikan konfirmasi, ia mau naik ke atas tempat tidur.


"Non, sebenarnya saya malu memberikan ini yang tak seberapa bila di bandingkan dengan uang kamu, tapi ... sebagai suami jelas saya wajib memberikan nafkah sekalipun cuma seribu rupiah," ucap Fatir yang duduk di kurs kecil depan Viona. Memegang sebuah amplop coklat.


Membuat Viona urung naik ke tempat tidurnya. Menatap ke arah Fatir dan ketika netra matanya bergerak melihat sudut bibir Fatir yang sedikit membiru, tanpa ragu Viona menyentuhnya dengan jari telunjuk.


"Au." Pekik Fatir. Memang masih terasa sakit.


Tangan Viona meraih tas nya mengambil benda kecil ya itu salep, ia pakai baut mengelusi luka Di sudut bibir Fatir.


Fatir tertegun memandangi Viona yang perduli padanya. "Makasih!"


Viona menyimpan kembali ke dalam tas nya. Lantas mengambil sebuah amplop yang Fatir pegang dan katanya buat nafkah.

__ADS_1


"Apa kau selalu membawa benda itu? kemana pun kau pergi!" Menatap ke arah tas Viona. Jangan-jangan? Pikiran Fatir menjadi traveling.


"Buat apa aku bawa ke mana-mana? itu tadi aku beli buat ngobtin luka mu itu." Dengan nada kesal, pasti Fatir berpikiran yang aneh-aneh apalagi dirinya sering bepergian.


"Oh, aku kira!"


"Aku kira apa?" Viona mengulang perkataan Fatir.


Fatir terdiam dan membuka kemejanya dan hanya menyisakan kaos dalam dan celana pendek. Naik ke atas tempat tidur menyusul Viona yang sudah duluan meringkuk memunggunginya. "Ndak salat dulu Non?" menatap ke arah Viona yang cuma terlihat wajahnya saja.


"Em ... lagi M," sahutnya.


"Oh." Fatir terlentang dengan kedua tangan di bawah kepala.


Hening!


Fatir merubah posisi baringnya lebih merapat ke tubuh Viona yang ia pikir dah tidur sebab tak ada pergerakan sama sekali dan suara napas yang teratur. Padahal Viona masih membuka matanya dan bergerak maju ke pinggir memberi jarak pada tubuh Fatir sampai benar-benar dipinggir tempat tidur.


Dengan cepat tangan Fatir memeluk dari belakang dan menarik tubuh Viona agar jauh dari pinggir tempat tidur.


"Lepas ih, aku mau tidur." Suara Viona tanpa bergerak.


"Aku juga mau tidur. Bukan mau lari." Senyum bibir Fatir merekah yang mendapat tak ada penolakan dari Viona.


Tiba-tiba Viona terbangun dan menoleh ke arah Fatir. "Jangan dekat-dekat dengan ku! nanti kekasih mu ngamuk lagi, nanti aku juga yang kena yang tadi aja belum selesai."


Jemari Fatir mulai menari di wajah Viona membelai pipinya yang halus dan lembut. Hidung Fatir mencium wanginya yang semerbak. Menyegarkan rongga hidung.


Sementara Viona jantungnya berdegup kencang. Menerima sentuhan dari Fatir bahkan wajahnya begitu dekat dan jaraknya berapa Senti dari wajahnya. "Jangan mau di sentuhnya Vi, dia tidak mencintai mu. Dia mencintai kekasihnya, jangan biarkan hatimu hancur berkeping Vi, tadi saja membuat hatimu cukup terluka." Dalam hatinya beradu argumen.


Fatir terus menatap wajah Viona yang cantik dan mempesona. "Ayo sentuh dia. Memberi nafkah bukan cuma lahir saja, batin pun butuh dan kalian sudah pada dewasa, apa salahnya tunaikan kewajiban mu itu. Yakin deh dia tak akan menolak dan dengan senang hati melayani kamu, Tidak. Viona tidak masih mencintai kekasihnya dan itu terlihat dari gerak tubuhnya. Dia belum bisa mop one dari cintanya, tahan sampai dia mempunyai rasa yang lebih padamu Fatir." Gumamnya dalam hati.


Kepala Fatir menggeleng. Kemudian mendaratkan kecupan yang di bibir Viona yang nyatanya tak ada penolakan sama sekali. Ia tak mampu lagi menahan hasratnya untuk menyentuh Bibir sang istri yang sudah menjadi candu baginya.


Entah kenapa walau hati dan pikiran berpendapat berbeda, menolak kehadiran Fatir namun anggota tubuhnya sangat menerima dan berharap lagi dan lagi. Viona marah sama dirinya sendiri yang selalu pasrah ketika Fatir melahap bibirnya.


Sejenak Fatir melepaskan dan memberi jeda membiarkan napas keduanya berjalan dengan lancar.


Viona menunduk menyembunyikan napasnya yang tak karuan. Dadanya tampak naik turun, ingin sekali ia menolak dan menyembunyikan wajahnya di balik selimut namun di sisi lain sangat ketagihan. Hingga detik kemudian bibir mereka kembali menyatu dan saling menikmati.


Kali ini tangan Fatir menarik tengkuk Viona dan kedua tangan Viona memeluk pundak pria yang dengan ini tiada lagi jarak diantara mereka berdua. Lama ... saling menikmati satu sama lain yang terasa manis dan menjadi candu itu.


Entah sadar entah tidak. Tangan Fatir bergerak turun menyentuh salah satu buah kenyal yang membuat sang empunya bersuara lirih.


"Au." suara itu lolos dari bibir Viona.

__ADS_1


Membuat Fatir terkesiap dan berucap. "Maaf?" segera menarik tangannya dan bergegas keluar begitu saja dari kamar itu.


Viona menatap kepergiannya dengan rasa kecewa. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya, jemari sedikit meremas selimut kesal dengan kepergian Fatir.


Sampai Viona bersiap tidur. Fatir belum juga masuk kembali ke kamar itu membuat Viona tidur sendiri tanpa Fatir. Malam semakin larut dan suasana semakin berselimut dingin.


Sekitar pukul 02. Dini hari Viona terbangun dan merasakan hangat di punggungnya yang menempel di dada seseorang. Dan ada sebuah tangan yang melingkar di pinggang rupanya tangan itu memeluk dari belakang. Senyum Viona mengembang dan memeluk tangan tersebut.


Si pemilik tangan, tersenyum senang di belakang. Masih ada satu jam lagi untuk bangun dan saat ini waktunya menikmati pelukan di saat suasana dingin mencekam seperti ini.


Hembusan napas yang hangat menyapu ceruk belakang Viona yang terasa begitu hangat. Bibir Fatir mengecup lembut ceruk itu membuat tubuh Viona meremang dan mendadak panas dingin.


Dari belakang bibir Fatir terus mengembangkan senyumnya. Dan menempelkan nya lagi di kulit yang putih, mulus dan bersih. Tubuh keduanya menghangat ditambah merekatkan selimut menutupi tubuh keduanya.


Sekitar pukul tiga Fatir terbangun dan menyelimuti tubuh Viona dengan selimut agar tak kedinginan.


Tubuh Viona bergerak berbalik menghadap ke arah Fatir dan meraih tangannya seraya berkata. "Mau ke mana?" suaranya parau khas bangun tidur.


"Aku harus berangkat ke pasar," balas Fatir tak kalah suaranya yang berat serak-serak basah.


"Terus aku di sini sendiri?" sambung Viona.


"Nanti aku segera pulang dan mengantar mu ngantor. Di rumah ini ada Ibu. Sya dan yang lainnya." Dengan nada sangat pelan.


Tangan Viona memeluk pundak Fatir. "Em ... jangan lama-lama!" sisi manjanya Viona keluar. Matanya memicing memandangi ke arah Fatir.


Bibir Fatir tersenyum sebelum akhirnya mengangguk, jemarinya membelai rambut Viona dengan sangat lembut. "Iya, gak lama kok, akan segera kembali untuk mu."


"Benar ya?" Viona mengerucutkan bibirnya yang bikin Fatir merasa gemas.


Cuph! kecupan singkat mendarat dengan hangat. Kemudian Fatir bergegas turun ke kamar mandi tuk bersih-bersih sebentar.


Manik mata Viona memandangi Fatir yang kembali sambil bertelanjang dada Viona berusaha menelan saliva nya yang sulit ditelan. Ia segera mengalihkan pandangan dan mencoba memejamkan mata kembali.


"Aku pergi dulu ya?" suara Fatir tepat di daun kupingnya Viona dan benda lembab menyentuh pipinya lembut.


Viona membuka mata. Mendapati Fatir yang masih dekat dengannya. "Hati-hati."


Langkah Fatir yang lebar itu keluar dari kamar yang ada Viona nya, bibir Fatir terus mesem. Hatinya berbunga-bunga.


****


Soraya yang di tinggalkan sosok Fatir, menangis histeris meluapkan rasa kecewanya yang begitu dalam. Lama dia duduk bersimpuh di lantai sambil menangis tersedu yang terdengar sangat pilu. Sampai akhirnya scurity di sana membantu Soraya berdiri memberikannya segelas air putih kemudian di antarnya mencari taksi tuk pulang ....


****

__ADS_1


Salam hangat buat reader ku semua semoga saat ini kabar kalian ada dalam lindungan yang maha kuasa.


__ADS_2