Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Kangen apa


__ADS_3

Oma Yani dan Asri mau keluar kamar Viona dan meninggalkan mereka berdua. Keduanya saling pandang sesaat dan sama-sama tersenyum penuh arti.


"Biarkan mereka menikmati waktunya tuk bulan madu," ucap Oma Yani pada Asri.


"Iya, Bu. Kayanya bulan madu yang tertunda," timpal Asri seraya menutup mulutnya.


Viona dan Fatir yang sempat mendengar perkataan Bu Asri dan sang Oma. Jadi salah tingkah dan wajah bersemu merah seperti tomat saja. Mungkin karena belum terbiasa jadinya masih malu-malu gitu.


Di pintu berdiri pak Rusadi menatap tajam ke arah kamar, terutama pada Fatir. "Kau gak jualan? pemalas! gimana biasa kaya kalau bermalas-malasan. Hem, enak benget di cukupkan oleh istri." Sinis pak Rusadi.


"Kamu ini apa-apaan sih? datang-datang bicara seenak dewe. Vi kurang enak badan, dan Fatir menjaganya," ketua Oma Yani.


Degh!


Fatir bengong melihat ayah mertua yang menatap begitu sinis dan tidak suka padanya. Kata-katanya selalu menyinggung perasaannya, Namun Fatir berusaha menghela napas dan mengelus dada tuk bersabar.


Viona dibuat semakin merah wajahnya, malu pada Fatir dengan ucapan papanya.


"Iya nih, Papa jangan suka gitu ah. Bicaranya di jaga." Bu Asri menghampiri dan menyeret suaminya menjauhi kamar Viona. Diikuti oleh Oma Yani dari belakang.


Viona menoleh ke arah Fatir yang sedang menutup pintu.


"Maaf ya? bila papa selalu bicara yang menyakiti hati mu!" Viona menunduk.


Fatir duduk di sisi Viona dan mengangkat wajah Viona dengan jari telunjuknya. "Ndak apa-apa aku terbiasa kok. Aku tahu siapa diriku."


"Jangan diambil hati ya?" pinta Viona dengan tatapan yang begitu sayu.


"Sudah, jangan pikirkan itu, aku ndak apa-apa," suara Fatir lirih dan jarinya mengusap bibir Viona yang lembut itu. Jelas matanya mengarah ke sana penuh gairah, akhirnya terjadi pertemuan diantara keduanya.


Berapa saat kemudian, wajah keduanya menjauh dan tampak salah tingkah. "Aku ambilkan sarapan dulu ya? nanti kamu istirahat dan aku mau jualan dulu, Sore aku balik. Menjemput mu untuk keluar kota." Mengangguk dan mengusap pipi Viona dengan lembut.


Viona menatap begitu lekat. "Mau mengantar ku?"


"Tentu! ya udah, aku turun dulu." Fatir merapikan bajunya sambil berdiri. Membawa langkahnya keluar kamar.


Netra mata Viona menatapi. dan merasa heran dengan perasaannya sendiri. "Apa aku sudah mencintainya? tapi ... bukan kayanya. Ini cuma sebuah kewajiban saja sebagai istri dan tentunya aku gak penasaran lagi." Bibir Viona tertarik memperlihatkan senyum manisnya.


Setelah mengambil buat sarapan, Fatir kembali menaiki anak tangga yang di pandangi bi Ijah dengan senyuman kagumnya.


Cklek!


Pintu terbuka, namun netra mata Fatir tak mendapatkan Viona di tempat semula. Namun terdengar suara air keran dari dalam kamar mandi.


Fatir menyimpan nampan di meja setelah menutup pintu dan menguncinya. Viona muncul dari balik pintu memang langkahnya sedikit berbeda dari biasanya.


Hati Fatir tertegun, mungkin gara-gara juniornya yang terlalu bersemangat mengoyak lawannya sehingga pemiliknya terluka. "Tapi, aku sudah sepekan mungkin dan berusaha membuat nyaman. Arhg ... teganya aku."


"Masih sakit?" pertanyaan itu lolos dari bibir Fatir.


Viona menoleh dan menaikan kakinya ke sofa. menyimpan bantal kecil dipangkuan nya. "Nanya?" malah balik tanya.


Fatir menggaruk tengkuknya dan memalingkan pandangan. Kemudian menggerakkan netra nya melihat Viona. "Nanti juga kalau sudah terbiasa tidak akan sakit lagi. Sebenarnya--"


"Sebenarnya apa?" selidik Viona menatap penuh penasaran.


Dengan malu-malu Fatir berkata. "Adik kecilku juga sakit dan ngilu." Suaranya pelan. "Kalau gak di salurkan." Dan tertawa lucu sendiri.


Brugh!


Viona memukulkan bantal yang ada di pangkuannya sambil mesem-mesem. "Udah ah, sarapan dulu. Nanti telat sarapan. Bukannya kamu punya riwayat sakit lambung!"

__ADS_1


"Hem." Fatir langsung mengambil makanan di meja lantas memakannya dengan lahap.


Begitupun Viona, ia makan sambil mesem-mesem entah kenapa hatinya saat berbunga-bunga.


"Kenapa mesem-mesem? apa yang lucu?" Fatir menatap heran.


"Ndak kok, siapa juga yang mesem-mesem?" sahut Viona di sela mengunyah nya.


"Itu, mesem terus," ungkap Fatir kemudian mengarahkan tangannya ke dagu Viona sebab ada secuil bumbu di sana.


Setelah itu, Viona mengambil tisu dan mengusapnya. Makan pun usai dengan tak tersisa lagi sedikitpun. Lantas Viona memanggil bi Ijah tuk mengambil bekas makannya sementara Fatir mencuci di kamar mandi.


Viona berdiri dekat jendela melihat pemandangan di luar yang lumayan panas padahal waktu masih pukul 10. Tiba-tiba ada tangan yang merangkul perutnya dan menempelkan dadanya ke punggung Viona.


Kepala Viona menoleh. Sehingga pipinya menyentuh hidung mancung Fatir dan merasakan deru napasnya.


"Aku pergi dulu ya?" ucap Fatir sambil masih memeluk tubuh Viona.


Viona memutar tubuhnya sehingga berhadapan dengan Fatir dan menatap lekat. "Iya. Jangan terlalu sore jemput aku nya."


"Hem, kenapa, kangen apa?" menempelkan bibir di kening Viona.


"Bukan, katanya mau antar aku ke luar kota? gimana sih." Ketus Viona seraya berjalan mendekati tempat tidur setelah tangan Fatir memudar.


Merangkak naik dan menarik selimut. Fatir mengikuti Viona, memasangkan selimut setelah Viona berbaring. Tubuh Fatir membungkuk dengan kedua tangan bertumpu ke tempat tidur yang menahan tubuhnya.


Cuph!


Kecupan hangat mendarat lagi di kedua pipi Viona dengan mesra. Membuat kelopak mata pemiliknya terpejam. "Istirahat ya? doakan aku, biar jualannya lancar dan rame."


Viona membuka matanya, wajahnya sedikit kecewa mau ditinggal. "Hem!" sambil mengerucutkan bibirnya.


"Bau rokok," ucap Viona setelah Fatir melepaskannya.


"He he he ... hari ini belum merokok juga." Kemudian. membawa langkahnya meninggalkan sang istri yang bersiap istirahat.


Di depan bertemu dengan orang tua Viona alias mertua. Fatir pun berpamitan dengan hormat, Bu Asri yang bersikap ramah. lain lagi dengan pak Rusadi yang bersikap dingin dan tidak mengenakan.


"Hati-hati Nak Fatir. Oya nanti mau jemput Vi, gimana?" Bu Asri menatap sang mantu.


"Oh, iya. InsyaAllah Ma, nanti sore saya balik lagi." Fatir mengangguk.


"Saya sih gak perduli." Gumam pak Rusadi sambil melihat entah kemana?


"Pa, jangan gitu ah!" sela Bu Asri.


"Ndak apa Ma," kemudian Fatir pun berlalu melintasi pintu utama.


****


Flash bak


"Saya ndak suka kamu dekati saya! saya dah punya kekasih toh," jelas Soraya pada seorang pria sawo matang, dengan rupa yang pas-pasan. Pokoknya di mata Soraya pria ini jelek.


Pria itu sudah lama menyimpan harapan sama Soraya, dia cinta berat sama sosok wanita ini sekalipun berulang kali Soraya tolak namun pria itu tak pernah putus asa. Terus saja mendekati.


"Kamu itu gak nyadar ya? kalau kekasih mu itu mungkin saja dah bosan, makanya seperti yang kau bilang dia sekarang jarang menemui mu," ucap Pria itu pada Soraya.


"Eh, Bambang, dia jarang menemui ku. Karena dia sibuk berjualan, bukan karena bosen. Jangan sembarangan ya kalau ngomong." Soraya tak terima pria yang bernama Bambang bicara seperti itu.


"Sesibuk nya pria, kalau masih cinta atau tak ada alasan lain. Ndak bakalan los konteks atau tak mengunjungi kecuali memang jauh. Komunikasi itu gampang dengan adanya alat komunikasi." Tegas Bambang terus berusaha menggoyahkan kokohnya bangunan rasa cinta Soraya terhadap Fatir.

__ADS_1


Mendengar perkataan seperti itu, Soraya bengong dan memikirkannya. Apa benar yang dikatakan Bambang tentang Fatir yang memang sekarang sulit dihubungi apalagi untuk bertemu. Untuk dia datangi pun Fatir melarang, lagian malas kalau harus datang ke rumahnya atau ke tempat jualannya Fatir.


Bibir Bambang tersenyum senang melihat Soraya bengong begitu. "Laki-laki yang masih sayang sama kekasihnya. Tidak akan membiarkan sang kekasih menunggu. Lah keburu karatan." Tambahnya.


Soraya masih saja bengong sambil menyedot minumnya. Ia berpikir ada benarnya juga kali ya, tapi gak mungkin juga Fatir seperti itu. Kemudian Soraya beranjak dari duduknya.


"Gimana kalau kita nanti malam jala-jalan?" ajak Bambang menatap Soraya.


"Em ... gimana nanti sajalah." Soraya melenggang meninggalkan kantin.


"Nanti malam saya jemput!" pekik Bambang.


Soraya cuma menoleh tanpa ekspresi. Dan Bambang tersenyum berasa menang meskipun belum pasti tapi dia yakin akan berhasil.


Soraya menggerutu sambil berjalan. "PD amat sih, rupa jelek juga ih ... tapi lumayan lah dari pada sepi hi hi hi."


Langkah Soraya berhenti di depan meja kerjanya. Namun detik kemudian ia beranjak kembali teringat harus menemui pasien.


Langkah Soraya yang menulusuri koridor Rumah Sakit diikuti oleh seorang pria tadi yang bertemu di kantin.


"Hi ... Cantik? Mas temani ya!" ucapnya sangat percaya diri.


"Saya mau ketemu pasien, ngapain ngikutin saya sih? gak ada kerjaan apa?" ketus Soraya tanpa menoleh sedikit pun.


"Kerjaan? ada, temenin kamu." Godanya.


"Aish ... bukan kerjaan itu, tapi iseng," jelas Soraya seraya menggeleng. Kadang merasa jengah melihat orang ini selalu mengikutinya.


"Sama aja, lagian aku mau ke tempat pasien juga. Kita satu arah juga." Tambah Bambang.


Kemudian mereka terpisah di ruang masing-masing pasien.


Senja yang berwarna merah, mewarnai langit yang terbentang luas. Memayungi bumi dan hiruk pikuk manusia.


Ketika malam, Soraya sudah bersantai di kamarnya. Dengan ponsel di tangan berselancar ria di medsos. Ketika membaca berita tentang CEO muda menikahi pria miskin ketika mau melihat gambarnya, tiba-tiba ada yang memanggil namanya dari balik pintu kamar.


Akhirnya Soraya menutup berita di medsos tersebut dan gak jadi melihat gambar pengantin itu. "Iya, Bu ... apa sih?" Soraya bangun dari baringan nya, dengan malas mendekati pintu dan membuka pintu tersebut.


"Itu, Nduk ... ada Nak Bambang katanya sudah ada janji sama kamu." Bu Siti menatap Soraya dengan lekat.


"Janji? ndak kok, Raya gak janji. Dia aja yang gede rasa ih." Soraya mencibirkan bibirnya.


"Tapi, dia sudah datang temui saja. Jangan gitu sama tamu Nduk." Pinta Bu Siti dan menarik tangan Soraya biar menemui tamunya.


"Iya, iya Bu ... gak sabaran Napa sih?" gerutu Soraya sambil membuntuti langkah sang ibu ke ruang tamu.


Soraya berdiri termangu dekat sofa dan Bu Siti pergi ke belakang. Tampak Bambang tengah menunggu Soraya dengan duduk santai Di sofa.


"Ngapain ke sini? kan saya gak menjanjikan apa-apa!" ucap Soraya sambil menduduki sofa.


"Ya ... kan saya juga bilang, kalau saya akan menjemput ke rumah. Dan saya sudah membuktikan omongan saya," jelas Bambang.


"Hem, ini orang gentle juga. Lumayan lah buat aku jadikan teman kencan selagi Fatir gak ada." Gumamnya Soraya.


"Gimana? kita jalan sekarang yu? ya ... makan bakso atau ke Mall gitu." Ajak Bambang dengan penuh harap.


Soraya tak serta merta mengiyakan, dia termenung dan menatap ke arah Bambang ....


****


Fatir dan Viona menyapa kalian nih, apa kabar hari ini? jangan lupa kasih dukungan agar semangat nulis ya🙏

__ADS_1


__ADS_2