Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Manja


__ADS_3

Soraya yang berniat ingin menjenguk Sya. Sedang berjalan menuju ruang VIP, tadi sudah bertanya pada pihak Rumah sakit. Sengaja gak bilang sama Fatir dulu untuk membuat kejutan, malas sih tuk datang tapi untuk menunjukkan perhatian Fatir ia harus rela hati dan pikirannya tak sejalan.


Ketika beberapa langkah lagi ke tempat yang di tuju. Ia mendapat telepon sehingga harus ia angkat terlebih dahulu, setelah menerima telepon Soraya jadi galau antara memilih masuk dulu menemu calon mertua atau ia urung sebab ada yang lebih penting.


Netra mata Soraya memandangi pintu yang seharusnya ia tuju. Namun pada akhirnya Soraya memilih kembali dan meninggalkan tempat tersebut, langkahnya kian pasti menjauhi Rumah sakit itu. Soraya naik taksi dengan pandangan menunduk melihat isi tasnya.


Fatir datang dengan motor barunya, sehingga mereka tidak saling melihat meski melintasi tempat yang sama. Lantas Fatir membawa langkah kakinya melintasi koridor menuju ruangan sang adik di rawat.


"Assalamu'alaikum ..." ucap Fatir dan langsung menghampiri sang bunda meraih tangan dan menciumnya.


"Wa'alaikum salam. Istri mu sedang membawa Sya jalan-jalan ke taman." Lirih bu Afiah sambil mengusap punggung sang putra lembut.


"Oh," netra mata Fatir tertuju pada tas Viona yang tergeletak di sofa.


"Ibu sehat?" tanya Fatir menatap sang bunda.


"Sehat. Gimana jualan hari ini ramai Nak?" tanya balik Bu Afiah.


"Alhamdulillah, Bu ..." sahut Fatir sambil mendudukkan dirinya di sofa yang tidak jauh dari tas Viona.


"Syukurlah. Semoga semakin rame, laku dan semakin lancar usaha mu Nak ...."


"Aamiin, makasih atas doanya Ibu." Fatir bangkit mau melihat sang adik dan Viona.


"Gimana, apa Soraya dah tahu belum kalau kamu sudah menikah?" tanya sang bunda.


"Belum, Bu. Biar saja, waktu itu aku mau putuskan dia. Tapi dianya gak mau Bu," ujar Fatir seraya mendudukkan kembali tubuhnya.


Pintu terbuka tampak Viona mendorong kursi roda yang di duduki Sya.


"Mas Fatir? aku kangen deh." Sambut Sya setelah melihat sang kakak bersama sang bunda.


"Mas juga kangen sama kamu Sya." Fatir dan Sya berpelukan.


Viona duduk dekat Bu Afiah. Menatap kakak beradik itu berpelukan. Bibir Viona menyunggingkan senyuman.


Lalu Fatir menggerakkan netra matanya pada Viona, mengamati penampilannya yang masih mengenakan pakaian formal. "Belum pulang ya? masih pakai pakaian formal gitu." Duduk tidak jauh dari Viona.


"Oh, iya. Belum sempat pulang." Jawab Viona tampak capek.


Fatir mengangguk, kemudian mengobrol dengan Ibu dan adiknya.


"Oya, Bu. Sya kenapa itu makanannya gak di buka? bukalah. Sayang kalau gak di makan mubazir." Viona menunjuk yang ia bawa tadi.


Bu Afiah pun membukanya. Isinya lauk komplit dengan nasinya. "Wah ... makasih sudah repot-repot bawakan makan. Tiap waktu kirim paket juga." Menatap ke arah Viona yang duduk bersandar.


"Sama-sama Bu." Kemudian Manik mata Viona mengarah pada Fatir. "Kau belum makan?"


"Ha? belum." Fatir menoleh mengalihkan pandangan dari televisi.


"Ya sudah, makanlah Nak, ini makanan banyak. Jangan membiarkan perut mu kosong, nanti lambung mu kambuh." Timpal bu Afiah.

__ADS_1


"Pagi sarapan?" tanya Viona sambil melirik sekilas.


"Tadi Pagi sarapan," sahutnya. Kemudian mengambil cup makanan yang langsung ia lahap dengan nikmat.


Bu Afiah dan Sya pun makan bersama. "Enak Bu. Dagingnya empuk banget," kata Sya sambil mengunyah sedikit demi sedikit.


"Ayo, makan bersama Nduk?" tutur Bu Afiah pada wanita cantik yang statusnya sudah menjadi menantunya itu.


"Nggak ah, Bu ... Aku sudah makan tadi." Tolak Viona.


"Mas, makan sendiri aja. Suapi dong Mbak cantiknya, bukannya apa yang suami makan istri harus makan juga iya, kan Bu?" Sya memandangi sang bunda.


Bu Afiah cuma menanggapi dengan senyuman dan matanya melihat ke arah Fatir dan Viona bergantian.


Fatir yang sedang mengunyah pun terhenti.


"Ayolah Mas ... pasti sangat romantis deh." Sya penuh permohonan.


"Baiklah Mas akan menyuapi Mbak cantik," ucap Fatir sambil menggeser duduknya. Kemudian menyuapi Viona dengan tangannya. Viona menatap makanan di tangan Fatir sejenak, detik kemudian melihat Sya sebentar.


"A ..." pada akhirnya Viona membuka mulutnya menerima asupan dari Fatir.


Sya bersorak bahagia. "Horai ... kalian romantis banget."


"Em ... enak juga," gumamnya Viona. "Mau lagi." Sambil membuka mulutnya kembali, ketagihan dengan suapan dari tangan Fatir rasanya lebih nikmat aja ketimbang makan sendiri.


Fatir menunjukkan senyumnya. Lantas menyuapi Viona kembali setelah dirinya.


"Baiklah, aku tambahkan sambalnya yang banyak Nona," goda Fatir.


"Akhh ... gak gitu juga kali ah, nanti bibirku terbakar," ungkap Viona sambil menutup mulutnya. Akhirnya Viona dan Fatir makan bareng sampai tak bersisa lagi.


"Terkadang kebersamaan itu lebih membuat nikmat loh," ucap Bu Afiah sambil membereskan bekas makan nya.


Fatir mengangguk seraya berkata pelan pada Viona. "Apalagi makannya di suapi orang, pasti lebih nikmat. Manja!"


Viona tersipu malu. Kemudian berdiri berjalan untuk mengambil minum dari dispenser dan membawanya untuk yang lain juga. Setelah itu membawa langkahnya ke kamar mandi.


Sekembalinya dari kamar mandi. Viona pamit, kebetulan sebentar lagi juga Maghrib. Fatir yang tengah baringan pun terbangun dan meraih kemeja yang tadi ia buka dan hanya menyisakan kaos saja.


"Bu, ini uang buat pegangan. Kali aja pengen membeli apa!" Viona memberikan uang pada bu Afiah.


"Tapi, Nduk ... simpan aja uang nya. Ibu gak perlu apa pun kok. Di sini juga kami sudah terjamin, Ibu malu." Bu Afiah tak lantas mengambilnya.


"Tidak apa Bu, terima saja. Aku ikhlas kok." Viona memeluk Bu Afiah. Lanjut Sya yang sudah berada di tempat tidurnya.


"Mbak pulang dulu ya. Cepat sembuh nanti ke rumah mbak." Tangan Viona mengusap kepala Sya penuh perhatian.


"Mbak cantik sering-sering ke sini ya?" harap Sya.


"Iya, kapan-kapan kalau tidak sibuk Hem."

__ADS_1


"Fatir balik Bu, kebetulan tadi aku ninggalin dagangan. Belum habis katanya." Fatir mencium tangan sang bunda.


"Yo wes. Hati-hati." Pesan bu Afiah.


Keduanya berjalan di koridor Rumah sakit meninggalkan bu Afiah dan Sya. Viona berjalan gontai kakinya terasa pegal-pegal. Entah kenapa tumitnya sedikit lecet, padahal sepatu yang ia kenakan yang biasa ia pakai dan nyaman.


Fatir menoleh ke belakang melihat Viona yang beberapa langkah tertinggal. "Kenap?"


Viona cuma menggeleng. Tak menjawab pertanyaan dari Fatir, sehingga Fatir menyeret langkahnya menghampiri.


"Kenapa?" ulang Fatir melihat Viona sedikit meringis.


"Kaki sakit. Pegal-pegal di tambah lagi tumit kayanya lecet, perih." Pada akhirnya Viona menjawab juga.


Fatir berjongkok. "Buka sepatunya?" perintah Fatir pada Viona namun Viona hanya terdiam menunduk melihat Fatir.


"Buka sepatunya?" ulang Fatir.


Viona pun akhirnya membuka sepatu lantas mengangkat sedikit kakinya yang benar saja sedikit lecet yang menimbulkan rasa perih. "Ya ampun ... kok bisa sih? padahal kan sepatu ini sudah sering ku pakai. Nayaman lagi."


Fatir berdiri sambil menjinjing sepatu Viona, berjalan lebih dulu di depan Viona yang masih berdiri.


"Loh, masa saya harus jalan nyeker sih?" Viona menatap punggung Fatir yang dengan santainya menjinjing sepatu miliknya.


Langkah Fatir terhenti dan berbalik. "Katanya pakai sepatu kakinya sakit? ya udah, jalan nyeker saja."


"Nggak mau, panas." Balas Viona.


"CK, Fatir berdecak kesal. Lalu berjalan mundur. "Apa perlu saya gendong hem?" manik mata Fatir mengitari tempat sekitar.


Viona memutar bola mata indahnya. Melotot kesal. "Ogah. Nanti cari kesempatan dalam kesempitan lagi! gak mau."


"Bukan, tapi menyelam sambil minum air." elak Fatir sambil menarik bibirnya tersenyum.


"Sama aja," ketus Viona sambil jalan pelan.


Senyum Fatir tampak mengembang. Berjalan mengikuti dari belakang. "Mau di antar pulang gak?" tawar Fatir setelah sampai ke mobi Viona.


"Nggak usah, jualannya belum bereskan. Biar saya pulang sendiri saja."


Bener sih jualan Fatir belum habis yang di tungguin oleh Sidar. "Baiklah, hati-hati." Fatir menutupkan pintu mobil Viona setelah sang empu duduk dengan baik di dalamnya.


"Aish ... kekeh kek nganterin, dah tahu kaki ku sakit." Gerutu Viona sambil nyetir.


Beberapa waktu kemudian, Fatir yang sudah tiba di tempat ia berjualan. Menggantikan lagi adiknya, Sidar. Sebelumnya ia menunaikan tiga rakaat lebih dulu.


Prok! prok! prok!


Suara tepukan tangan dari arah belakang. Fatir langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut ....


****

__ADS_1


Hi ... jangan lupa like & komennya dan aku ucapkan terima kasih banyak bagi yang sudah.🙏


__ADS_2