
Fatir merengkuh bahu sang istri, menatap dengan mesra. "Kenapa?"
Viona melirik dengan netra nya. "Yu, pergi sekarang?" sambil menyimpang ponselnya ke dalam tas.
Kemudian keduanya berlalu meninggalkan tempat tersebut setelah sebelumnya mengucapkan salam dan dijawab dengan serempak oleh penghuni rumah.
Setelah berada di mobil, Viona tampak murung memandang lepas ke depan. Tangan Fatir mengusap pucuk kepalanya Viona sangat penuh kasih sayang. "Kok murung sih, kenapa hem?"
Viona menghela napas berat lalu melihat ke arah Fatir yang bersiap menyalakan mesin mobil. "Papa selingkuh."
"Ha?" sontak Fatir menoleh sangat terkejut mendengarnya. "Serius?"
"Iya, katanya sekarang papa lebih memilih selingkuhannya ketimbang mama. Kini papa melepaskan mama," lirih Viona dan akhirnya Viona tak sanggup lagi membendung air mata yang memaksa keluar dari alirannya. Menangis tersedu seraya menutup mulut nya.
Fatir segera mengurungkan niatnya yang bersiap putar kemudi, merengkuh kepala sang istri ke dalam pelukan. "Menangis lah di dadaku sampai kau merasa puas dan tenang."
Tangan Fatir mengusap lembut dan mencium puncak kepala Viona. Berharap sang istri tidak terus larut dalam tangisnya.
Viona mendengar ucapan yang lirih dari sang suami seperti itu, semakin menjadi tangisnya dan terdengar memilukan. Makin terisak-isak sebuah tangisan yang tertahan di dada sang suami.
Hati Viona yang hancur sedari waktu tahu sang ayah selingkuh kini ungkapkan dengan tangisannya. Dan jujur pada Fatir sebab rasanya ia tak sanggup bila harus menanggung beban sendirian apalagi mendengar berita kalau sang bunda sudah di cerai juga. Sebuah akhir yang memilukan.
Fatir terus memeluk tubuh Viona dengan erat dan tangannya mengusap punggung sang istri. "Sudah belum menangisinya?"
Viona menghentikan tangisnya dan menyisakan isak, wajahnya yang basah dengan air mata yang tumpah ruah. Fatir mengusap air mata Viona dengan jarinya.
"Lihat tuh jadi jelek, kalau nangis gini?" goda Fatir sambil mengulas senyumnya.
Bibir Viona senyum getir. "Sudah, jalan?"
"Baik, Tuan putri. Siap hamba laksanakan." Fatir mengangkat tangan dengan di tempelkan di sisi kening memberi tanda hormat.
Viona menggeleng, bibirnya tertarik ke samping lalu melihat keluar jendela yang tampak suasana gelap hanya tersinari lampu jalan dan penerangan dari rumah-rumah terdekat dengan jalan.
Mobil terus meluncur kencang namun tetap dengan ke hati-hatian. Pandangan Fatir fokus ke jalanan untuk bisa melintasi kuda-kuda besi lainnya selepas memasuki jalan raya.
__ADS_1
Sesekali manik mata Fatir melirik sang istri yang terus diam membisu tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Fatir hanya menghela napas dan terbesit bayangan kalau ia pun memang pernah melihat sang mertua dengan wanita muda dan tampak mesra. Kepala Fatir mengangguk-ngangguk pelan, kini ia mengerti bahwa wanita tersebut selingkuhannya.
"Ternyata dia." Batin Fatir tanpa ia utarakan pada sang istri.
Setibanya di depan rumah, mewah Viona, mobil berhenti dan menunggu scurity membukakan pintu gerbang. Setelah terbuka barulah mobil memasuki halaman rumah. Viona segera turun tanpa menunggu dibukakan oleh sang suami.
Ia berlari menuju pintu utama dan mencari keberadaan sang bunda setelah berada di dalam rumahnya. "Bi Ijah. Mama dimana?" ketika bi Ijah melintas di depannya Viona.
"Ibu, ada di kamarnya Non." Balas bi Ijah sambil bengong. Ikut Merasakan ada sebuah kehancuran dalam rumah ini. Yaitu kehancuran dalam rumah tangga majikannya.
"Mama?" Viona langsung mendorong handle pintu dan blak pintu terbuka dan di dalam kamar terlihat sang bunda duduk bersandar dengan wajah kusut dan sembab.
Viona berlari berhambur ke pelukan sang bunda dan tak kuasa menahan tangis, Tangis keduanya pecah saling memeluk sama lain.
"Papa sudah menceraikan Mama, Vi. Mama sudah menjadi janda. Papa sudah selingkuh dari Mama dengan wanita yang lebih muda pula hik hik hik ... masih mending kalau menikah, Vi ... ini cuma selingkuhan dan papa membelikan nya rumah yang lumayan mewah di kawasan elit. dan tadi mau beli mobil tapi uang tabungan yang yang tersisa sudah Mama ambil. Dan kartu kredit juga sudah ada yang blokir katanya."
"Aku yang blok, Ma ... Vi yang matikan kartu kredit papa dan menarik akses keuangannya." Balas Viona.
"Papa ngamuk, sebab dia gak bisa bayar mobil buat selingkuhannya." Lirih Bu asri sambil mengusap air mata di pipinya.
"Biar saja, Ma ... biar tau rasa. Kalau bercerai itu lebih baik? ya sudah ikhlaskan saja dari pada Mama tersiksa! paling si wanitanya itu cuma pengen harta papa saja dan setelah papa tak punya apa-apa pasti ditinggalkan. Percaya deh, langsung urus saja perceraiannya di pengadilan," ujarnya Viona kesal dengan sang ayah.
"Iya, Oma juga dukung perceraian mama mu, buat apa punya suami kalau nantinya makan hati? toh dalam segi materi kita gak akan kekurangan. Justru dia yang rugi sudah meninggalkan mu selingkuhi kamu." Suara Oma penuh rasa marah terhadap mantunya.
"Iya, Oma." Timpal Viona.
"Oma pastikan! papa mu itu tidak akan mendapatkan apa pun dari kita, cuma--" menggantung kalimatnya.
"Cuma apa Oma?" Viona penasaran dengan kalimat sang oma yang menggantung.
"Cuma mobil yang saya biarkan dia bawa," sambung Oma Yani dengan nada yang geram.
"Di dalam rekeningnya pun cuma Mama sisakan 5,5 juta saja." Kata Bu Asri. Tangannya menggenggam tangan Viona. "Mama kuat kok sayang, jangan khawatirkan Mama ya? jaga kesehatan mu ... sebab kamu sekarang itu tengah berbadan dua," ucapnya dengan lirih.
__ADS_1
Bu Asri menoleh pada Fatir yang duduk di sofa tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, dia cuma mendengarkan perbincangan istri dan mertuanya itu. "Nak Fatir! kamu jaga Viona ya? Mama titipkan dia, sebab kini kamu lah yang bertanggung jawab akan Viona. Bagus-bagus mau tinggal di sini lagi."
"Biarkan saja mereka tinggal di apartemen, biar mandiri. Kecuali nanti sesudah melahirkan ... tinggal di sini biar ada banyak yang mengurus. Dan di sini lebih luas juga ada yang mengurus keduanya." Protes Oma Yani yang lebih menyarankan Viona tinggal di apartemen.
"Ibu, kok gitu? melarang Vi tinggal di sini!"
"Tapi terserah Vi juga sih." Oma Yani menaik turunkan bahunya.
Viona dan Fatir saling tatap dengan tatapan yang penuh arti. "Malam ini, Vi mau nginep di sini, sampai masalah Mama kelar."
"Deh ... terima kasih sayang. Kamu mau menemani Mama." Bu Asri berusaha tersenyum walau senyuman terpaksa.
Mereka mengobrol sampai larut malam. Tentang perceraian bu Asri dan pak Rusadi dan mereka ingin melihat kehancuran Rusadi setelah itu.
...****...
Selepas dari rumah Bu Asri, Rusadi membawa barangnya ke rumah Malini si selingkuhannya itu.
Namun apa yang ia temukan, Malini membawa pria lain ke rumah dan mengajaknya ke kamar, tempat yang biasa mereka pakai untuk memadu kasih.
Rusadi ngamuk namun kalah telak dengan Malini, Malini mengusirnya begitu saja sebab dia tahu Rusadi sudah kere! buktinya tak bisa membayar mobil yang sudah hampir jatuh ke tangannya. Rumah juga sudah atas nama Malini bukan nama Rusadi.
Malini tertawa puas, bagaimanapun dia sudah mendapatkan rumah dan barang-barang mewahnya juga dari Rusadi. Dan kini tinggal tendang saja Rusadi tanpa harus melayaninya lagi.
"Dasar wanita ****** kau, wanita matre yang kau cari cuma uang dan uang." Hardik Rusadi.
"Ha ha ha ... terserah kamu mau bilang apa pria tua, yang jelas apapun yang aku miliki ini aku sudah membayarnya dengan tubuhku sampai kamu pun menikmatinya dan merasakan kepuasan dari tubuhku bukan?" ungkapnya Malini dengan bangganya.
Rusadi tampak kian tersulut emosinya. "Dasar wanita ja--"
Tiba-tiba ponselnya berbunyi yang mulanya ia biarkan, namun berkali-kali terus berdering ....
****
Mau tau endingnya? tunggu ya🙏 jangan lupa like, komen dan juga vote nya.
__ADS_1