
Bambang kembali duduk dan tak menghiraukan sikap Soraya dan matanya menatap tajam ke arah dirinya.
Kini suasana begitu tampak serius, Soraya menjadi gusar dan gugup ia berikut keras dengan apa yang harus ia katakan untuk menimpali ucapan Bambang nanti.
"Buat apa sih? ini orang harus datang segala? bikin ribet."
"Begini, Bu. Pak, kedatangan saya kesini sebab mendengar hal yang menimpa Soraya. Putri Bapak dan Ibu, yang sesungguhnya sayalah yang membuat dia seperti sekarang ini."
"Bohong, itu bohong, Bu. Pak, dia itu terlalu terobsesi pada ku tuk jadi kekasihnya. Jangan percaya kata orang ini, Bu, Pak." Pinta Soraya yang wajahnya mulai pucat pasih.
"Diam kamu!" bentak sang ayah pada Soraya. "Maksud kamu gimana? coba jelaskan yang lebih detail." Mengalihkan pandangan pada Bambang.
Bambang menunduk dalam dan merasa malu bukan main. Dihadapan orang tua Soraya yang kini menatap tajam ke arahnya seakan ingin menerkam korbannya. "Ma-maksud saya ... saya lah laki-laki yang menodai putri anda dan membuatnya hamil dan jelas itu anak saya."
"Keparat kau, kurang ajar kau. Ternyata kamu yang mencoreng muka saya dasar laki-laki gak ada akhlak, perusak anak orang." Bugh mengebrak meja. Lalu berusaha menyerang Bambang.
Namun di halangi Bu Siti, agar suaminya tak berlaku brutal yang hanya akan membuat suasana tambah runyam. "Sudah, Pak. Sudah, gak akan selesai masalahnya dengan cara ini."
Bambang hanya bisa pasrah atau menerima segala kesalahannya. Sementara Soraya dibuat malu dan terus menggeleng mengingkari perkataan Bambang. "I-itu tidak benar."
Soraya ingin melanjutkan kata-katanya, namun mual menyerangnya dan segera berlari ke kamar mandi yang ada di kamarnya.
"Apa yang kau katakan itu benar?" lirih Bu Siti. Ia ingin menyelidiki dengan baik tanpa amarah.
Bambang mengangguk. "Benar, Bu. Saya yang sudah melakukannya namun entah kenapa Soraya tidak mau mengakui kalau itu benih saya, justru mengaku itu benih orang lain. Saya bersedia bertanggung jawab." Sambil tetap menunduk.
Hati bu Siti mencelos. Tak dapat berkata-kata lahi, tubuhnya melemas. Tidak menyangka kalau putrinya akan mengalami seperti ini, tak kuasa air matanya mengalir membasahi pipi yang sudah tidak kencang lagi itu.
Suasana rumah hening! tanpa suara dan hanya suara hembusan napas saja yang menghiasi keheningan ini.
Oek oek oek. Soraya mengeluarkan semua isi perutnya. Sampai terasa pahit di lidah.
Setelah membasuh mulutnya, Soraya kembali ke ruang tamu menemui Bambang yang bersama ayah ibunya.
"Pokonya aku gak sudi bila harus menikah dengan dia." Sentak Soraya, seraya menatap tajam dan bertolak pinggang.
"Diam kau, cukup kebohongan mu itu Raya!" sang ayah tak kalah garang dari Soraya. "Cukup kamu buat kami malu. Apalagi saya dibuat malu sama Fatir yang kau tuduh sudah membuatmu hamil, bisa-bisanya kau tuduhkan dia yang menghamili mu Raya ... saya yang malu! mau di simpan di mana muka ini ha? di mana?" menunjuk wajahnya.
"Ya-ya ... di muka, mau di mana lagi? masa di pindahkan ke pantat, kan gak mungkin," sahut Raya tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Raya! jangan gak sopan gitu sama orang tua." Bentak sang ibu.
"Keputusan saya sudah bulat, kalau kamu harus menikah dengan Bambang. Sebab dia yang seharusnya tanggung jawab bukan Fatir, tega-teganya kamu membuat bapak mu malu sama Fatir dan keluarga. Kau benar-benar tak menghormati ku sebagai ayah mu." Hardik sang ayah.
"Tapi Pak? aku--"
"Tak ada tapi-tapi. Pokonya kamu harus menikah dalam waktu dekat ini dengan Bambang, tak ada lagi bantahan dan dengan sangat berat hati saya harus meminta maaf pada Fatir yang sudah di cemarkan nama baiknya."
Soraya menggeleng. Hatinya sungguh menolak pernikahan yang akan digelar. Terutama mempelai pria nya yang tidak sreg di hati.
Bu Siti menghela napas panjang. Tak disangka anak wanita satu-satunya harus mengalami menikah mendadak padahal sudah diimpikan dari lama sebuah pernikahan yang meriah dan penuh persiapan.
"Dengar ya? sekalipun kita menikah jangan harap aku mengakui mu sebagai suami ku," tegas Soraya sambil melengos pergi.
****
Di balkon apartemen. Tengah berdiri seorang pria yang dipeluk dari belakang oleh sang istri begitu mesra dan menempelkan pipinya ke pundak sang suami yang juga memeluk tangannya si istri dan sesekali di kecup dengan hangat.
"Sayang, aku besok mau ke luar kota sekitar tiga atau empat hari--"
"Kok mendadak?" Fatir memutar badan menjadi berhadapan dengan sang istri.
"Ndak mendadak. Sudah di rencanakan jauh hari sih ... cuman aku baru sempat bilang aja." Viona masih melingkarkan tangan di pinggang Fatir.
"Yang penting kan bilang!" sahut Viona.
"Kalau ... gak aku ijinkan?" tanya Fatir.
"Em ... ndak mungkin ndak diijinkan, kamu pasti mengijinkan--"
"Kalau tidak aku ijinkan gimana?" ulang Fatir dengan betahnya mengelus pipi Viona dengan punggung tangannya.
"Ndak, bisa ... aku harus pergi sebab penting. Bila mau kamu aja ikut aku," lirih Viona menatap bola mata sang suami yang begitu lekat menatapnya.
"Aku harus jualan sayang, kalau aku gak jualan nanti ndak ada uang bulanan, oya maaf ya? uang bulanannya belum bisa ngasih lebih apalagi buat make up atau ke salon istri ku ini." Tatapan Fatir berubah sendu. Merasa sedih bila mengingat ia masih belum bisa membahagiakan Viona, istrinya.
Viona membenamkan wajah dibawah leher sang suami serta merapatkan tubuh mereka dengan pelukan yang begitu mesra. "Aku cukup bahagia kok, kamu bertanggung jawab padaku. Dan aku juga masih bisa kok buat cari tambahannya, lagian uang itu cukup kok buat kita sehari-hari di sini dan buat bayar listrik. Yang penting aku gak boros-boros dalam menggunakannya."
"A-aku gak bilang gitu sayang, justru aku sedih belum bisa mencukupi mu." Cuph! mengecup pucuk kepala Viona dan membelai rambutnya.
__ADS_1
"Aku juga ndak bermaksud menyinggung mu kok. Aku cuma mau jadi istri yang pandai mengelola keuangan seperti yang Oma bilang." Viona mendongak menatap wajah sang suami.
Kedua netra mata Fatir pun bergerak membalas tatapan sang istri. "Kamu sudah pandai mengelola keuangan, buktinya perusahaan mu semakin melonjak pesat. Aku bangga sama istri ku ini." Lagi-lagi mendaratkan kecupan hangat di kening Viona.
"Em ... kamu mau ya Mas. Bekerja di perusahaan ku? dan aku akan menempatkan mu di bidang yang sekiranya kamu mampu." Tawar Viona.
"Aku, ndak bisa kerja kantoran Vi, yang aku bisa cuma pegang centong dan mangkuk saja. Ndak bisa yang lain," jawab Fatir sambil mesem.
"Buktinya kamu bisa komputer Mas. Kenapa gak mau dikembangkan?"
"Iya, sebab yang ingin aku kembangkan yaitu. Jualan dan jualan saja. Aku ingin sukses di bidang ku sendiri. Kalau aku bekerja di kantor dan itu jelas ada campur tangan mu, aku ndak mau itu. Biarkan aku berjalan sendiri," ungkap Fatir sambil menatap langit dan bintang yang berkelipan.
Viona terdiam. Merasa salut dengan prinsip Fatir si penjual mie ayam yang jadi suaminya ini, mungkin dia gak mau sukses di bawah bayang-bayang istrinya.
"Oke." Viona kembali memeluk Fatir dari belakang dan menempelkan pipinya di punggung sang suami.
"Kenapa?" tanya Fatir yang dia balas dengan gelengan saja.
Fatir memutar kembali tubuhnya. "Ya udah, dah malam. Masuk yu? boleh dong menghabiskan waktu! kan besok kita gak ketemu tuk sementara waktu."
Viona mengangguk dan memegangi tangan Fatir bergelayut mesra. Mereka berdua berjalan masuk dan langsung ke kamar. Viona Mambawa langkahnya ke wardrobe mengambil pakaian tidur dan ia sengaja mengenakan lingerie yang agak tebal namun tetap mengekspos belahan dada yang rendah.
Fatir pun sudah mengenakan piyama dan berbaring miring menghadap dinding.
"Ah ... kok hadap situ sih? sini dong, gak mau ah, tidurnya hadap sini!" pinta Viona dengan nada manja menggoyang bahu Fatir yang dengan sengaja ngerjain Viona.
"Ndak mau ah, takut tergoda!" sambil mesem dan menyilangkan tangan di dada.
"Iih ... ya udah, aku mau ganti piyama saja." Viona turun dan hampir menapaki lantai namun tangan Fatir dengan cepat memeluk tubuh Viona. Pelukan Fatir pas kena puncak milik Viona yang sengaja gak memakai kain penjaganya. Membuat Viona memejamkan mata akibat ngilu-ngilu asyik dan menggigit bibir bawahnya.
Tangan Fatir yang kekar menarik tubuh Viona ke tengah tempat tidur dan lalu membenarkan kakinya yang tadi bergelantungan ke bawah. Kaki jenjang dan mulus membuat yang melihat tergoda untuk meraba, Begitupun dengan Fatir yang berbaring di sampingnya. Tak ayal meraba lembut kaki Viona dari bawah ke atas.
"Apaan sih ... geli tahu." Tangan Viona menyingkirkan tangan Fatir dari kaki bagian atasnya.
Fatir menunjukkan seringai licik menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Lantas dengan nakal tangannya melanjutkan misi yang tertunda bergerilya ke mana-mana. Yang menjadi korban malah keasyikan dan memeluk pundak tersangka, seiring tangan yang menari-nari di bawah. Dengan perlahan tapi pasti di atas, Fatir membenamkan bibirnya. Di bibir seksi sang istri yang merah merona dan mereguk manisnya.
Fatir melahap habis setiap bagian benda kenyal tipis milik Viona, yang selalu menjadi candu buat Fatir dan sekarang ia sudah berhenti merokok membuat hidupnya lebih sehat, mulut pun wangi tanpa bayang-bayang nikotin lagi.
Setelah puas di bagian atas, Kini wajah Fatir turun ke leher memberi kecupan kecil di ceruknya. Naik lagi ke pipi, kening. Berakhir di bibir lagi, di hati timbul penasaran ketika tangannya bermain di bukit indah Viona. Segera ia turun dan m******* nya kuat-kuat. Sehingga sang empu memekik geli dan menjambak rambut Fatir serta makin menenggelamkan wajahnya di sana Seolah minta terus dan terus ....
__ADS_1
****
Hi ... reader ku yang sangat aku sayangi, semoga kabar kalian baik dan senantiasa dalam lindungan yang maha kuasa.