Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Akad


__ADS_3

Semua panik dan saling teriak, bertanya ada apa gerangan dan suara apa itu di belakang? orang-orang yang belum masuk mobil berhamburan. Namun para scurity mencoba menenangkan kalau itu hanya suara ban bocor dari sebuah mobil yang yang posisinya berada paling belakang.


Wajah-wajah yang sempat panik, cemas. Kembali tenang, tadi sudah takut ada insiden yang berat.


Akhirnya. Mobil yang di tumpangi Fatir melaju ke tempat yang sudah di siapkan, ya itu masjid yang berada di daerah sana, di susul oleh mobil yang membawa mempelai wanita dan keluarga.


Dua mobil pengantin yang berhias pita dan bunga-bunga meluncur memasuki area masjid agung. Sesampainya di sana, semuanya turun memasuki masjid tersebut dan sudah ada beberapa undangan yang hadir di sana untuk menyaksikan acara akad.


Dengan hati yang tak karuan, jantung yeng terus berdegup kencang dan lutut pun bergetar. Fatir berusaha memantapkan hati, lalu mengayunkan langkahnya masuk ke tengah masjid di sana sudah tersedia sebuah meja yang memang di peruntukkan ijab kabul nanti. Dibarengi pula ucapan salam dan basmalah dalam hati.


Fatir yang berkemeja putih dan jas hitam itu terlihat begitu formal, ia mendudukkan diri di dampingi ibu, kedua pamannya dan Darma, juga kedua adik Fatir yang dengan setia tidak jauh dari sang kakak.


Sementara Viona beserta keluarga dan Alisa duduk di pojokan. Viona tampak gelisah mengingat penghulu belum hadir, Namun MC menenangkan hati yang tampak gelisah itu.


Pak Rusadi yang terlihat gagah dengan kostumnya tampak tenang dan sedikit menyunggingkan senyumnya. "Semoga penghulunya tak datang. Kesasar atau halangan apalah, supaya pernikahan ini gagal. Biarpun malu Setidaknya saya tidak sempat menikahkan mereka, masih banyak pria yang pantas buat putri bungsu ku." Gumam pak Rusadi dalam hati.


Jantung Fatir masih belum bisa tenang, terus saja dag dig dug tak karuan. Ia terus menarik napas dalam-dalam kemudian ia buang perlahan.


"Jangan tegang. Santai aja kawan." Bisik Darma.


"Ngomong itu mudah. Aku yang jalaninya sulit menenangkan diri." Balas Fatir.


Tangan sang bunda menggenggam tangan Fatir memberi dukungan dan menenangkan. "Kamu pasti bisa. Yakinlah semua akan berjalan lancar." Dengan suara lirihnya.


Pak Rusadi sesekali melihat jam yang melingkar di tangannya. "Wah kayanya gak datang nih dari pihak KUA." Gumamnya.


Namun setelah beberapa menit, penghulu pun datang dan langsung duduk di depan meja yang sudah disediakan itu. Fatir merapatkan duduknya ke meja mendekati pak penghulu, jantung berdetak semakin kencang perasaan tidak menentu.Gugup. Tegang, grogi. nervous apalah bercampur menjadi satu.


Sekilas menoleh ke arah kiri yang agak jauh darinya. Seorang wanita dengan mengenakan kebaya pengantin tengah menunduk seakan ingin menyembunyikan wajah cantiknya.


Viona pun merasakan yang sama seperti yang di rasakan oleh Fatir saat ini. Dari telapak tangan Viona keluar keringat dingin. Namun ada kecemasan yang merongrong hati Viona saat ini, ia tidak bisa membayangkan kalau keluarganya tahu bahwa Fatir menikahi Viona itu seumpama pria bayaran untuknya.


Acara akad pun segera di mulai. Dengan di awali basmalah penghulu menuntun ijab dan kabul. Mulanya Fatir terdiam sementara waktu dan menarik napas berkali-kali, membuat semua yang hadir merasa deg degan. Degup jantung benar-benar seakan sedang memacu adrenalin.


Lebih-lebih dengan Viona yang menatap ke arah Fatir dengan harap-harap cemas, seraya menghela napas dalam-dalam. Kemudian ia hembuskan dengan sangat panjang. "Huuh ...."

__ADS_1


Fatir menoleh lagi ke arah Viona dengan perlahan, dua pasang mata mereka pun bertemu sesaat. Kemudian keduanya saling menundukkan wajah masing-masing.


Darma menepuk pundak Fatir seraya berkata pelan. "Ayo kawan, kamu pasti bisa. Masa mau gagal? malu lah kita sebagai laki-laki kalau sampai gak bisa mengucap janji suci. Apalagi di detik-detik seperti ini."


Fatir menanggapinya hanya dengan mengangguk pelan. Lalu memejamkan mata dan menghela napas panjang, lantas menjabat tangan pak Rusadi yang bermuka masam itu. dengan tanpa ragu. "Saya terima nikahnya Viona Nurulita binti bapak Rusadi dengan maskawin seperangkat alat salat, dibayar tunai." Fatir mengucapkan ijab kabul sangat lantang hanya dengan satu tarikan napas saja, selesai.


"Sah? sah? sah?" tanya pak penghulu pada semu yang hadir.


"Sah ..." jawab semua yang hadir serempak dan merasa lega.


Selanjutnya Fatir membacakan ikrar janji suci seorang lelaki pada seorang wanita, bahwa ia akan menunaikan segala kewajibannya sebagai suami terhadap istrinya.


Setelah itu, Viona di tutun-tuntun sang bunda dan Alisa agar duduk di samping Fatir untuk menerima maskawin dan menandatangani buku nikah. Dengan perasaan yang dag dig dug Viona duduk.


Usai memberikan maskawin yang terbentuk cantik. Mereka saling menyematkan cincin pernikahan di jari manis masing-masing.


"Sebagai tanda kalian sudah sah. Silakan mempelai pria mencium kening sang istri dan mempelai wanita mencium tangan suaminya. Sok mangga! kalian sudah Halal kok," saran MC pada Fatir dan Viona.


Netra mata Fatir melirik ke arah Viona yang menundukkan wajahnya itu.


Banyak dorongan yang menyuruh Fatir mencium kening Viona, akhirnya dengan lembut Fatir mendaratkan kecupannya, walau keduanya tampak tegang dan kaku. Dengan ragu-ragu Viona pun meraih tangan Fatir lantas diciumnya singkat.


Semua tersenyum bahagia. Viona hanya senyum tipis yang dipaksakan. Begitupun Fatir berusaha keras menyembunyikan rasa tegang dan gugup.


lanjutan acara adalah membaca doa yang di pimpin oleh pak ustadz. Pembacaan doa yang penuh kekhusyuan dengan hati yang tulus Ikhlas meminta segala kebaikan untuk pasangan pengantin.


Kini saatnya sungkeman pada kedua orang tua masing-masing. Memohon restu dan doa.


"Bu." Fatir memeluk sang bunda yang sedari tadi matanya berkaca-kaca.


"Jadilah suami yang bertanggung jawab. Jangan permainkan pernikahan ini, Nak." Bu Afiah mengusap punggung putra sulungnya.


Hanya anggukan saja sebagai tanggapan Fatir pada sang ibunda. Kemudian beralih pada orang tua Viona, yang pertama Fatir datangi adalah oma Yani.


"Oma." Fatir mencium tangan oma Yani penuh hormat.

__ADS_1


"Jaga cucu ku, sayangi dia seperti kau menyayangi dirimu sendiri atau ibumu. Jangan sakiti dia." Menepuk kedua bahu Fatir.


Fatir mengangguk dan lanjut pada bu Asri sebagai ibunda sang istri. "Tante." Meraih tangan dan menciumnya.


"Mama! Nak Fatir, titip Viona ya? sekarang dia adalah tanggung jawab mu," ucap bu Asri lirih pada Fatir sambil memeluknya.


"Insya Allah Tante, em ... Mama." Jawab Fatir.


Kemudian, Fatir menghadap pak Rusadi, tak ada perkataan yang terucap dari keduanya. Hanya ciuman tangan penuh hormat saja dari Fatir. Setelahnya pak Rusadi mengelap tangannya ke baju bagian belakang.


Kemudian Fatir menoleh pada Viona yang tengah berpelukan dengan sang ibu mertua.


Selesai acara akad. Mereka semua kembali ke rumah dengan mengunakan mobil, kali ini Fatir dan Viona menggunakan satu mobil yang sama. Di belakang pengantin dan di depan supir dan Darma.


"Jangan tegang dong broo, sudah halal nih." Goda Darma setelah melihat ke belakang. Fatir tampak tegang dan kikuk.


Kepala Fatir menggeleng sambil senyum simpul. Sementara Viona pandangannya lepas keluar jendela dengan pikiran yang entah kemana. Jari-jemari pun saling bertaut satu sama lain.


Sesampainya di rumah, langsung acara makan-makan. Suasana di rumah mewah kombinasi warna putih tulang dan hitam itu begitu ramai.


"Mas. Lihat itu kue pengantin tinggi amat ya? lebih tinggi dari kita Mas." Sidar terkagum-kagum melihat kue tar yang menjulang tinggi.


"Iya, gimana rasanya ya?" ucap Adam menatap kue itu.


"Aku gak pulang dulu ah. Sebelum dapat kue ini," lanjut Sidar sambil makan.


"Mas rasa, gak bakalan di buka hari ini tuh," sambung Adam begitu yakinnya.


"Apaan, Mas. Pastilah hari ini dipotongnya ... gak mungkin kapan-kapan." Sidar kekeh.


"Kalian ini ngomongin apa sih?" Suara seseorang dari belakang mereka berdua ....


****


Hi ... reader ku apa kabar hari ini, semoga kabar baik semua ya? jangan dukung Viona dan Fatir ya🙏

__ADS_1


__ADS_2