Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Sangat erat


__ADS_3

"Papa? apa-apaan sih!" kata Bu Asri menatap sang suami yang baru datang.


"Mama ini gimana sih? jelas-jelas dia ini hanya memperalat putri kita, Mama ingin lebih memilih dia ketimbang anak kita! aneh." gerutu Rusadi pada sang istri.


"Apa kabar Pa?" Fatir menyalami pak Rusadi. Namun di tepisnya oleh pak Rusadi.


Melihat itu, Oma Yani menatap tidak suka. "Kau ini, tidak punya sopan santun. Seharusnya kamu itu menjadi panutan, cerminan yang muda bukan seperti itu.


"Saya heran, semua yang di rumah ini kok seperti terhipnotis. sudah jelas dia itu cuma mau ngincar harta kita saja Bu. Adiknya berbulan-bulan di RS itu Vi yang bayarin. Dia itu sudah meraup harta kita, Bu."


"Harta kita? emangnya kamu punya harta? saya rasa Viona tidak akan berani menggunakan harta papanya yang Maruk, dan gila hormat." Oma Yani pergi meninggalkan tempat. Kebetulan mie ayamnya sudah tandas.


"Papa sudah. Malu ih! maaf Nak Fatir? jangan di dengar omongan Papa itu ya?" Bu Asri melihat suami dan mantunya bergantian.


Merasa percuma di ladeni juga, akhirnya Fatir membawa langkahnya menaiki anak tangga untuk menyusul Viona di kamarnya.


"Sampai kapan pun saya itu tak suka sama kamu! camkan itu," jelas pak Rosadi.


"Papa." Bu Asri menatap tajam pada suaminya.


Sejenak Fatir berdiri tertegun, matanya terpejam mendengar ucapan dari sang bapak mertua yang jelas tidak suka pada dirinya.


Ketika Fatir masuk ke dalam kamar dan langsung dilempar pertanyaan dari Viona. "Sudah makan?"


Langsung di balas dengan gelengan kepala seraya berkata. "Belum."


"Oh, ya udah, aku ambilkan. Tunggu ya?" Viona menutup laptopnya dan beranjak dari tempat duduk semula.


Fatir mendekati sofa dan duduk sambil melamun, begitu terngiang semua ucapan dari pak Rusadi di telinganya.


"Hi ..." panggil Viona menepuk bahu Fatir. Membuat Fatir sangat terkejut. "Melamun aja, mikirin apa sih?"


"Hem, nggak kok," netra mata Fatir mengarah pada nampan yang Viona bawa.


"Belum makan malam kan? aku bawakan." Viona berjongkok dan menyimpan nampan berisi piring nasi dan beberapa lauk.


"Baik benar, ada maunya apa?" goda Fatir sambil menyeringai.

__ADS_1


Manik mata Viona melotot sempurna. "Emang selama ini aku jahat sama kamu ha? jelek amat pikirannya."


"Nggak sih, terlalu baik malah, sebenarnya gak perlu perlakukan ku seperti ini. Nanti aku baper." Fatir mengambil piring dari tangan Viona. Fatir langsung menyuapi Viona yang begitu lekat menatap netra mata matanya.


"Kalau kaya gini, justru aku yang jadi baper beneran. Dengan sikap mu yang lembut. Aku tahu pasti tadi papa berkata yang bukan-bukan sama kamu." Batin Viona sambil mengunyah.


"Apapun yang papa mu katakan, aku tak perduli. Karena aku percaya jodoh itu kuat, aku memang bukan suami harapan. Lebih tepatnya suami bayaran, tapi akan berusaha aku seorang suami yang bertanggung jawab." gejolak hati Fatir seraya makan dan memandangi wajah Viona.


Tangan Viona mengusap wajah Fatir. "Jangan gitu lihatnya, malu."


"Kenapa harus malu? biasa aja." Fatir menunjukan senyumnya.


Setelah selesai makan Viona kembali membawanya ke bawah, Fatir mengambil air wudu dan melaksanakan salat isya. Setelah itu ia membawa sebatang rokok ke balkon dan menyalakan nya di sana. Kepalanya terasa pusing dan sebatang rokok lah yang dapat menemaninya.


Viona mencari keberadaan Fatir setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur dan kali ini ia sengaja mengenakan lingerie yang tipis, sebenarnya ia pun kurang suka mengenakannya. Terlalu tipis dan lebih suka piyama pendek.


Namun dalam hati sangat penasaran. Kalau Fatir itu normal gak sih? sudah empat bulan menikah dan akhir-akhir ini dekat, gak juga mau menyentuhnya.


"Jangan gila Vi! berharap di sentuh segala? kau itu menikahinya untuk mendapatkan hak waris aja dari Oma. Dan sekarang sudah kamu dapatkan, kenapa kau tidak segera kamu cerai saja? adiknya sudah berangsur sehat. Lagian apa usahanya kau lanjutkan biaya pengobatannya. Tapi suami kau ceraikan!" gumamnya Viona sambil memandangi Fatir yang asik merokok di balkon.


Tampak Fatir mau masuk kamar, Viona buru-buru naik ke atas tempat tidur dan pura-pura sibuk dengan ponselnya.


Fatir begitu terkejut melihat Viona mengenakan pakaian yang begitu menerawang dan memperlihatkan bentuk tubuhnya yang persis body biola. Netra mata Fatir melihat ke arah pintu yang kebetulan terkunci, kemudian ia naik dan menarik selimut menutupi tubuh Viona sampai dada.


Viona mendongak dan sedikit heran dengan Fatir yang menutupi tubuhnya dengan selimut. "Kenapa? gerah ih."


Sebenarnya Fatir dengan susah payah menelan saliva nya. Siapa yang tak kan tergoda jelas-jelas di depan mata disuguhi sebuah keindahan yang tiada tara. "Nggak. Emang gak ada ya pakaian yang lebih sopan dari itu? AC ada, jangan beralasan yang gak masuk akal."


"Emangnya kenapa? suka-suka aku dong mau pakaian yang mana pun. Sekalipun--"


"Sekalipun apa Non? sekalipun polos. Iya? sebenarnya mau menggoda ku ya?" ucap Fatir dengan seringai nakalnya.


"Ti-tidak. Siapa yang yang ingin menggoda mu? nggak A-ada kerjaan banget," Lirih Viona terputus-putus, tampak gugup menerima tatapan Fatir yang seolah menghujam jantung.


Alis Fatir terangkat sebelah. Menatap nakal pada tubuh Viona yang benar-benar menggoda. Viona yang tampak gugup tangannya memeluk selimut dan ia tarik lebih ke atas menutupi dadanya. "Kenapa di tutup? bukannya ingin menggoda ku ya?"


"Si-siapa? ngarang. Nggak ada." Sahut Viona berbalik mau berbaring dan memunggungi tubuh Fatir.

__ADS_1


Namun tangan Fatir menangkap bahu Viona hingga tak jadi berbaring nya. Netra mata Viona menatap lekat ke arah Fatir yang tak membuang tatapannya sedikitpun.


Kemudian mendekati wajah Viona tepatnya mendekati kuping nya. "Kalau berani menggoda harus berani melayani." Bisik nya Bikin bulu kuduk Viona meremang.


Kedua siku tangannya menyangga tubuh yang hampir saja berbaring mendarat di bantal. "Ma-maksud ka-kamu apa? aku mau berganti pakaian dulu." Viona berniat turun.


Geph!


Tangan Viona Fatir tangkap lantas menariknya, sehingga wanita itu jatuh ke tubuh Fatir dan langsung ia peluk.


"Le-lepas, aku mau mengambil piyama dulu." Suara Viona, namun tak berusaha beranjak sedikitpun. Seakan ia malah menikmati pelukan Fatir.


"Pergi saja, kalau bisa." Gumamnya Fatir sambil tersenyum puas dan mempererat rangkulannya.


Wajah Viona yang menyusup di dada bidang Fatir malah merasakan nyamannya di sana tanpa sadar tangannya membalas pelukan Fatir sangat erat, sehingga tubuh keduanya seakan menyatu.


Cup! kecupan hangat mendarat di pucuk kepala Viona. Telapak tangan Fatir mengusap lembut punggung wanitanya.


Rasanya baru kali ini Viona merasakan betapa nyamannya berada dalam pelukan Fatir. Merasakan betapa hangatnya.


Fatir memudarkan rangkulannya dan memberi jarak diantara tubuh keduanya. Viona menatap ke arah Fatir dengan tatapan yang sulit Fatir artikan. Kemudian netra mata Fatir lagi-lagi mengarah pada bibir tipisnya Viona yang selalu menggoda terus melambai untuk disentuh.


Saat ini keduanya sudah menyatukan bibir mereka saling m****** dan m******* nya penuh gelora. Hasrat keduanya mulai naik ke ubun-ubun.


Kedua tangan Fatir berada dan mengunci kepala Viona, sementara tangan Viona menempel di dada Fatir. Mereka berdua menikmati sentuhan yang kian memanas. Kemudian kecupan mereka pun terlepas lantas merubah posisi menjadikan Viona berbaring di bawah Fatir. Lalu menyatukan kembali benda kenyal itu dengan gerakkan yang lembut.


Fatir kini menyusuri pipi dan turun ke leher jenjang Viona yang putih mulus itu. Tak Viona kira sebelumnya, Fatir membuat banyak tanda kepemilikan di sana membuat tubuh Viona panas dingin dan bergetar juga menegang.


Tangan Fatir bergerilya di pahatan indah milik Viona itu. Sepertinya penyatuan akan terjadi dan saat ini Fatir akan benar-benar mencetak gol. Terlihat Viona begitu menikmati dan pasrah. Beberapa kali dari bibirnya suara de sa han yang terdengar merdu di telinga Fatir menambah memuncaknya gairah Fatir saat ini. Sesekali tubuh Viona bergerak geli. Namun tubuhnya terkunci oleh tubuh pria yang kini mengungkungnya.


Jemari Viona yang lentik, membuka kemeja Fatir sehingga tampak perutnya yang rata itu di depan mata Viona. Bibir Fatir tampak tersenyum di sela napasnya yang terus memburu. Ia belum puas bermain di tempat nan indah itu lantas turun ke bawah, di mana ada lembah madu yang tersembunyi. Tempat yang selalu menjadi buruan setiap pria normal dan ingin bermain-main di sana mereguk manisnya.


Setiap sentuhan Fatir di seluruh atau incinya kulit Viona, semakin dia tak mampu bergerak setiap sendinya seakan tak mampu bergerak lebih selain menerima dan pasrah saja bila kesuciannya harus ternoda saat ini juga. Entah kenapa Viona sangat berharap kalau ia segera melepasnya dengan Fatir ....


****


Sorry. Aku baru bisa up lagi, habis beraktifitas di dunia nyata. Jangan lupa like dan komennya, agar aku lebih semangat lagi.

__ADS_1


__ADS_2