Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Pelaminan


__ADS_3

Kedua pemuda itu menoleh ke arah sumber suara berasal. "Eh, Oma." Mengangguk hormat.


"Kalian, gak makan?" tanya oma Yani.


"Makan, ini lagi makan!" Adam menunjuk piring yang ada di sampingnya.


"Oh, kosong. Ambil sana tambah lagi, kalian jangan sungkan-sungkan," tutur oma Yani kembali.


"Biasanya kalo orang gak pernah nemu makan enak itu, suka kesurupan makannya. Kebetulan kami menyediakan banyak di sana." Suara pak Rusadi membuat suasana menegang.


Kedua pemuda itu saling tatap dengan hati yang terhina.


Oma Yani menoleh ke arah sang mantu. "Kamu jangan sok, jangan suka menghina orang, punya mulut itu di jaga bukan di umbar. Jaga perasaan orang." Suara oma Yani sedikit memekik dan tak kalah pedasnya.


Pak Rusadi terdiam dengan sorot mata yang tajam, kemudian melengos meninggalkan tempat tersebut.


Netra mata oma Yani bergerak melihat ke arah dua pemuda itu. "Kalian jangan ambil hati omongan mantu Oma itu, dia memang kaya gitu orangnya. Yu temani Oma ke sana?"


Keduanya mengangguk dan mengikuti langkah oma nya Viona itu.


Viona yang sudah berganti kostum, bak putri raja. Sungguh cantik parasnya Viona yang dasarnya cantik di dandani seperti apapun tambah mempesona saja.


Kostum Fatir pun sudah berganti bak pangeran di Negeri dongeng. Orang yang tak pernah bergaya aneh-aneh, ketika pas seperti ini membuat pangling yang melihat. Termasuk Darma, dia hampir saja tak mengenali sahabatnya itu.


"Aku hampir tidak mengenali mu, kau seperti pangeran di Negeri dongeng," puji Darma.


"Nggak mungkin." Fatir menggeleng mendengar ucapan Darma.


"Memang gak mungkin. Yuk pelaminan sudah menunggu." Ajak Darma.


"Iya nih. Putri yang cantik ... anda dipersilahkan turun," ucap Alisa dengan halus.


Viona tersenyum manis. Kemudian berjalan lebih dulu, di susul oleh Fatir di belakang. Alisa memandangi suaminya seraya memberi suatu isyarat.


Darma menyenggol tangan Fatir membuat sang empu sontak menoleh. "Tuntun tangannya."


"Malu, lagian belum tentu dia mau aku pegang." Bisik Fatir sambil menghentikan langkahnya.


"Dengar ya? dia itu sudah menjadi istri mu. Wajar kalau kamu mau pegang, mau peluk cium kek itu hak kamu." Jelas Darma.


Fatir termangu. "Aku gak berani."

__ADS_1


"Oke kamu gak berani, tapi setidaknya tunjukkan kebahagiaan kalian kali ini." Darma frustasi jadinya.


Viona menatap kearah Fatir yang berdiri beberapa meter darinya. Ia tak tahu apa yang Fatir dan Darma bicarakan. Kemudian Fatir berjalan maju ke arahnya, dengan ragu Fatir meraih lengan Viona tanpa menyentuh kulitnya, Viona terkejut dan ingin menepisnya namun Alisa menggeleng.


"Tunjukkan kebahagian mu sama semua orang. Khususnya orang tua mu," ucap Alisa penuh harap.


Viona pada akhirnya mengangguk pelan. Lalu mereka berjalan berdampingan dengan tangan bergandengan menuju pelaminan yang terletak di pekarangan rumah.


Para undangan yang terdiri dari kolega bisnis bu Yani. Bawahan atau anak buah nya, rekan kerja dan sahabat Viona sudah pada datang dan memberikan selamat. Ikut bahagia akan pernikahan Viona.


Banyak pria termasuk putra dari kolega bu Yani yang dibuat patah hati dengan pernikahan ini. Tidak sedikit dari putra atau cucu dari mereka yang menyimpan hati pada Viona, namun hati Viona terlalu angkuh untuk dimiliki. Kerasnya hati Viona cukup sulit terkikis dan tidak tergoda oleh kemewahan yang mereka miliki.


Susana begitu ramai ditambah suara musik yang mengiringi dan menghibur para tamu undangan yang tengah menikmati hidangan.


Dari jauh terlihat seorang pria yang mengenakan pakaian pilot degan tergesa-gesa masuk menyeruak diantara para tamu undangan. Dia berdiri di tempat yang kosong tatapannya tertuju pada mempelai wanita yang tampak cantik sekali.


"Seharusnya aku yang berada di sana, mendampingi dirimu." Batin pria tersebut berkali-kali menelan saliva nya yang berkumpul di tenggorokan.


Viona pun menatap kedatangan pria tersebut. Air mata Viona berjatuhan begitu melihat pria tersebut berdiri tidak jauh dari pelaminan tempatnya berdiri saat ini, dada nya begitu sesak. Terasa sakit, air mata yang jatuh bak air hujan yang deras membasahi bumi.


"Vi," gumamnya Alisa ketika melihat Viona menyembunyikan wajah ke arahnya. Lantas memeluk tubuhnya.


Fatir kaget melihat Viona menangis sekaligus bingung. Baru aja ketawa sama tamu undangan tapi dengan tiba-tiba menangis tersedu.


Viona menangis di pelukan Alisa. Hatinya merasa tak sanggup menyembunyikan perasaannya yang begitu besar pada Hendra.


"Selamat ya Vi," suara Hendra sari belakang Viona.


Sontak Viona memutar tubuhnya menoleh ke arah suara barusan dan langsung memeluk Hendra. "Mas. Hik hik hik." Tangisnya semakin tersedu di bahu Hendra.


"Maaf, Mas baru bisa datang. Mas sibuk, ini pun langsung dari bandara." Sambung Hendra.


Viona menanggapinya dengan anggukan di sela tangis pilunya.


"Kamu cantik sekali." Bisik Hendra. Membuat hati Viona berbunga mendapat pujian dari sang mantan kekasih.


"Tapi sayang, sekarang Vi bukan punya Mas Hendra lagi," lanjutnya. Bikin Viona merasa makin terhiris hatinya.


"Mas Hendra? Mas kapan datang, aduh aku kangen banget sama kamu Mas." Suara Rumi yang bergegas naik dan menarik tangan Hendra. Disusul oleh Sita.


"Iya, Mas mana istri dan anak mu? masa gak si ajak?" tanya Sita menimpali.

__ADS_1


Hendra melepaskan pelukannya pada Viona. Walau hati masih belum puas untuk melepaskan rindu, mumpung ada kesempatan. Namun kedua adiknya menganggu kesempatan yang ada.


"Mas, dari penerbangan dan langsung ke sini, belum sempat pulang," tuturnya Hendra sambil memeluk kedua adiknya bergantian.


"Aku kangen sama Mas ku ganteng ini," ungkap Rumi sambil melirik ke arah Viona yang menyeka air mata di pipinya.


"Mas juga kangen sama kalian berdua." Balas Hendra namun matanya bergerak pada Viona yang terus menatap ke arah dirinya.


Yang dirasakan Viona sekarang adalah rasa yang campur aduk, antara bahagia bisa bertemu Hendra orang yang sangat ia cintai dan ia rindukan. Sedih! sebab kini Hendra bukan kekasihnya lagi.


"Kalian pergilah dulu, Mas mau bicara sebentar dengan mempelai." Pinta Hendra pada kedua adiknya itu.


Sita dan Rumi menjauh dari jejeran pengantin tersebut. Sementara Hendra menggerakkan matanya menoleh ke arah Fatir yang tampak berbincang dengan Darma.


"Hi. Apa kabar?" sapa Hendra pada Darma.


"Baik, Alhamdulillah. Wah ... makin gagah aja nih," balas Darma sambil memeluk Hendra sebentar.


Kemudian Hendra beralih pada Fatir ia pandangi dengan tatapan intens. "Aku titip Viona ya? jaga dia dan buat dia bahagia, Sebab aku gak bisa membuatnya bahagia ke depannya." Pinta Hendra pada Fatir dan menepuk bahunya pelan.


Kepala Fatir mengangguk. "Insya Allah." keduanya berpelukan dan saling mengusap punggung masing.


Sakit rasanya hati Hendra saat ini. Walau ia sudah menikahi janda anak satu. Namun hatinya sampai detik ini pun masih belum bisa move on dari Viona.


"Vi, harus bahagia. Sekali lagi selamat menempuh hidup baru ya? Mas bahagia bila Vi bahagia." Hendra kembali memeluk Viona sambil mengusap air mata yang berlinang di pipinya.


Viona mengangguk dan air matanya kembali menetes. Tak sanggup mendengar suara Hendra yang seakan mengiris hati.


Setelah bersalaman dengan pak Rusadi dan bu Asri juga Oma Yani, Hendra turun dan bergabung dengan tamu lainnya.


"Jangan nangis Mulu. Sembab tuh matanya." Alisa menyeka air mata Viona.


"Iya Sayang, masa pengantin menangis terus. Jelek ah." Timpal bu Asri membujuk putrinya itu.


"Mama," Suara parau Viona dan menghambur memeluk sang bunda.


"Jangan begini sayang, sekarang Vi sudah jadi istri Fatir. Gak boleh seperti ini," sambung bu Asri dengan sangat lirih.


Viona menyeka air matanya dengan tisu. Kemudian duduk di samping Fatir kembali.


Fatir yang merasa tidak dianggap, ingin rasanya pergi dari pelaminan namun ia tahan lagi mungkin gak baik juga bila harus meninggalkan mempelai wanita di pelaminan ....

__ADS_1


****


Hi ... reader ku semua apa kabar hari ini, dukung aku ya jangan lupa like dan komennya juga.


__ADS_2