
Sesampainya di tempat pun Fatir segera menyingsingkan lengan bajunya dengan tukang, untuk memperbaiki dua gerobaknya yang rusak.,
Fatir ingin segera menyelesaikan gerobaknya. Sebab gerobak itu tempat mata pencariannya sehari-hari untuk menghidupi keluarganya.
Tak ada tempat pencarian lagi selain berdagang. Sampai saat ini belum ada minat untuknya bekerja di bidang lain.
Adam juga membantu kakak nya dalam mengerjakan gerobak tersebut. "Mas sudah sarapan?"
"Sudah, di apartemen," sahut Fatir sambil terus bekerja.
"By the way, mobil kenapa dibawa ke sini?" tanya Adam lagi.
"Mbak yang nyuruh, ya Mas bawa." Fatir tetap fokus dengan tugasnya.
"Sebenarnya siapa sih yang tega ya? masih untung perabotan sebagian di rumah ya? kalau semau di sini hancur deh semuanya. Huuh ..." Adam menghela napas panjang.
"Tidak penting siapa dia, Mas ndak perduli Dam. Yang jadi harapan Mas sekarang ini semoga saja ke depannya usaha kita tambah lancar, itu saja harapan Mas," ujar Fatir.
"Iya, Mas Fatir soal siapa yang merusak. Serahkan saja pada yang maha kuasa, kita pasrah saja pada yang di atas. Semoga ada hikmahnya." Timpal tukang yang berada tidak jauh dari mereka berdua.
Adam mengangguk-anggukkan kepalanya. Walau bagaimanapun hati sesak, marah pada yang telah tega itu.
****
Soraya sedang bermuram durja, ia tak menyangka sama sekali kalau akan mengandung benihnya Bambang. Tapi sama sekali ia tak ada minat untuk minta pertanggung jawabannya. Justru menjadi kesempatan untuk mengakui ini anak nya Fatir.
Namun setelah didatangi oleh orang tuanya, Fatir sama sekali tidak mau mengakui kehamilannya, dia baru mau bertanggung jawab kalau dirinya sudah melahirkan dan anaknya terbukti darah dagingnya.
Dengan begitu, Soraya akan gigit jari karena memang kalau yang dia kandung bukan hasil hubungannya dengan Fatir melainkan Bambang.
"Terus, siapa yang yang sudah menabur benih itu Nduk? jelas-jelas Fatir tidak mengakuinya." Selidik Bu Siti menatap putrinya.
"Ini anaknya Fatir, Bu. Dianya aja gak mau mengakui karena malu dengan istrinya kaya nya." Soraya berujar dan kekeh mengakui ini benih Fatir.
"Nduk, kalau memang Fatir yang melakukan nya gak mungkin Fatir lari dari tanggung jawab," ungkap sang ibu meragukan putrinya.
"Bu, anak Ibu itu Fatir apa aku sih?" bentak Soraya sambil menatap tajam.
"Bukan begitu Nduk, ibu kecewa kenapa kamu bisa melakukan itu tanpa adanya ikatan pernikahan? kamu sadar itu ndak?" Bu Siti menangis. Gimana nanti kalau kandungan Soraya sudah membesar, orang-orang akan menanyakan siapa suami Soraya? siapa ayah anak yang dikandung Soraya?
Soraya cuma berdiam diri. Tak menjawab apapun, dia memeluk lutut dan menyembunyikan wajahnya di tumpuan tangan yang berada di atas lututnya.
__ADS_1
"Ayo, katakan sama Ibu. Biar jelas minta pertanggung jawabannya." Desak Bu Siti.
Soraya mendongak. "Ibu, aku akan buktikan kalau anak ini anaknya Fatir Bu. Sekarang aku mau menemui Fatir agar mempertanggung jawabkan perbuatannya." Soraya bangkit dan menyambar ponselnya dan dengan cepat membawa langkahnya keluar rumah.
Bu Siti bergegas menyusul Soraya sampai ke teras. "Kau mau kemana, Nduk?"
Soraya tidak menghiraukan sang bunda yang memanggil. Ia terus berjalan cepat sampai menemukan sebuah angkot yang akan melewati jalan xx dimana Fatir tinggal.
Mata Soraya menerawang kosong. pikirannya melayang entah kemana? yang jadi tujuannya sekarang adalah bertemu dengan Fatir dan mengajaknya menikah. Netra matanya bergerak ke kanan dan kiri mengamati sekitar dirinya, yang sama-sama penumpang.
Angkutan umum pun tidak terasa melewati jalan yang di tuju. Soraya memberhentikan angkot lalu turun, dari tempat Soraya berdiri pun sudah terlihat Fatir sedang memperbaiki gerobaknya bersama Adam.
Sebelum melangkah. Soraya menghela napas panjang setelah itu barulah membawa langkahnya menghampiri Fatir. "Mas?" panggil Soraya dengan tatapan tertuju pada Fatir.
Fatir khususnya kaget, tiba-tiba Soraya berada di sana. "Raya, ngapain disini?"
Soraya tak segan menyeruak memeluk Fatir dan menangis dalam pelukannya. Fatir berusaha menjauhkan tubuh Soraya dari dirinya. Namun tangan Soraya begitu erat membuat Fatir kesulitan melepaskan diri.
"Raya-Raya. Jangan gini, malu di lihat orang, kita duduk di sana saja yu." Ajak Fatir.
Akhirnya Soraya memudarkan pelukannya. Dan menjauh mengikuti langkah Fatir yang mengajaknya duduk.
"Dam, Mas duduk di situ dulu sebentar." Fatir menoleh ke arah Adam dan si Abang tukang.
"Kamu tega. Tega sama aku. hik hik hik." Gumamnya Soraya.
"Aku sudah menikah. Dan punya istri, hubungan kita sudah selesai. Masih banyak pria yang lebih baik dari aku."
"Tidak, aku cuma mau menikah sama kamu Mas." Soraya kekeh.
"Aku ndak bisa, aku sudah punya istri." Fatir pun tidak goyah dengan pendiriannya.
"Ceraikan wanita itu, lalu menikah dengan ku. Kamu sangat mencintaiku, Mas. Lepaskan di--"
"Tidak, sampai kapanpun aku tak ingin melepaskannya." Kepala Fatir menggeleng. "Aku sangat mencintai mu, itu benar--"
"Makanya cerai dia dan menikah denganku!" ucapan Soraya yang menjeda omongan Fatir.
"Tapi itu dulu, sebelum orang tua mu menolak ku dan sebelum aku menikah. Tidak sekarang."
"Bohong-bohong banget kalau rasa itu benar-benar hilang, ndak mungkin, setidaknya rasa itu pasti ada buat aku. Aku mohon. Nikahi aku? aku hamil hik hik hik."
__ADS_1
Fatir terdiam menatap Soraya yang menunduk sambil menangis, bahunya bergetar menahan tangisnya.
"Lambatlaun, perut ku pasti membesar, apa yang harus ku jawab pertanyaan mereka tentang ayah anak ini?"
"Siapa yang sudah membuatmu hamil, siapa?" tanya Fatir dengan tegas, kedua tangannya menggoyangkan bahu Soraya. "Katakan padaku, siapa?"
Soraya hanya menatap ke arah Fatir dengan tatapan yang berembun. Ia tak mungkin bilang kalau yang sudah menidurinya Bambang, sebab ia tak mau lagi berurusan dengan pria itu.
"Jawab, Raya? siapa dia, biar aku yang carikan dia untuk minta pertanggung jawabannya.
Kepala Soraya menggeleng seraya berkata dengan lirih. "Aku gak butuh siapapun yang mengakui anak ini. Sebab yang aku mau cuma kamu, aku mohon Mas nikahin aku biar jadi yang kedua. Aku mau," Soraya memohon.
"Hem, ndak etis namanya Raya kalau kau meminta tanggung jawab ku, karena aku tak pernah melakukannya." Jelas Fatir. menggeleng.
"Oke-oke, aku ndak minta tanggung jawab darimu. Tapi aku mohon tolong-tolong nikahin aku dan akui anak ini anak mu, aku mohon!" suara Soraya terus merajuk.
"Jangan gila Raya, aku tidak bisa. Baiknya kamu katakan siapa yang sudah membuat mu hamil? biar aku cari pria bejad itu," ulang Fatir.
"Aku tidak mau menyebutkan dia siapa, yang aku mau hanyalah kamu menikahi ku dan menjadi suamiku itu saja! ndak perlu menanyakan siapa dia. Aku butuh kamu yang mengakuinya. titik," ungkap Soraya.
"Dengar, sekalipun aku mau menikahi mu, itu tidak mungkin. Karena apa? karena wanita hamil tidak boleh dinikahi, untuk menjauhi hubungan suami istri. Sebab bersenggama dengan wanita hamil diluar nikah sekalipun sudah dinikahi tetap haram hukumnya. Sekalipun oleh pria yang sudah menggauli wanita tersebut. Jadi jangan paksa aku tuk melakukannya, percuma cuma status saja," ujar Fatir panjang lebar.
"Aku, gak perduli! aku mau sekalipun cuma status yang penting aku menikah dengan mu, soal lian-lainnya kita pikirkan nanti. Ya-ya mau ya?" Soraya penuh harap.
Helaan napas Fatir begitu berat. Sambil menggeleng ia berkata. "Maaf, aku ndak bisa bantu!"
"Mas, tolong pikirkan Mas. Demi aku, apa aku perlu membunuh anak ini agar kamu puas Mas." Ancam Soraya membuat Fatir terkesiap mendengarnya.
"Kamu, tidak perlu melakukan hal buruk itu. Sudah yang kamu lakukan sehingga itu berkembang dari hasil dosa. Terus kamu mau memusnahkannya jelas akan berdosa pula!"
"Terus aku harus gimana?" pekik Soraya sudah tak menggunakan rasa malu lagi.
"Kamu minta tanggung jawab pada orang yang sudah menghamili mu." Pekik Fatir tertahan. Mulai geram dengan tingkah Soraya.
Soraya setengah berteriak. "Aku tidak sudi, yang aku mau itu cuma kamu ...."
"Terserahlah, aku banyak kerjaan. Semua itu hasil dari ulah mu sendiri. Ternyata yang tega itu bukan aku melainkan kamu yang berani bermain api dibelakang ku. Selama kita pacaran, apa pernah Mas macam-macam sama kamu hem?" Fatir menggeleng.
Soraya mengeratkan giginya. "Aku yakin, kamu akan menjilat ludah mu sendiri dan akan jatuh ke pelukan ku lagi." Dengan yakinnya.
Kemudian Soraya beranjak dari duduknya berjalan pergi meninggalkan Fatir. Dengan senyuman di bibirnya Soraya percaya Fatir akan mau menikahinya ....
__ADS_1
****
Sudah membaca? jangan lupa tinggalkan jejak ya. Semoga kabar kalian hari ini dalam lindungan Allah yang maha kuasa.