
Esok harinya semua menjalankan rutinitas seperti biasa, mulai dari sarapan, kerja, kuliah, sekolah dan menjalankan pekerjaan di rumah. Itu lah aktivitas keseharian yang dikerjakan keluarga Hermawan selain weekend.
“Semuanya, Eza berangkat dulu ya!”. Ucap Elza pada semua yang sedang menikmati sarapan di meja makan.
“Lho, itu makananmu belum habis Za, kamu mau main kabur aja”. Jawab Ayudia.
“Tau tuh, mubazir tau buang-buang makanan. Dikira cari duit gampang”. Timpal Elva.
“Yaudah, mbak Elva aja yang ngabisin nih...”. Jawab Eza.
“Isshhh males amat bekas jigong mu”. Jawab Elva
“ Emang kamu mau apa Za sepagi ini ke sekolah?”. Timpal ayah.
“Hari ini kan ulangan semester yah, Eza kan bisa baca-baca dikit di sekolah”. Jawab Elza.
“Itu mah Cuma alasannya dia saja yah”. Timpal Elva.
“Hussttt!. Kalian ini sudah besar masih saja suka berantem. Yasudah Za sana kamu berangkat”. Ucap Ayudia.
Elza mencium tangan ayah dan bundanya. Selanjutnya giliran Elva yang bersiap tangannya untuk Elza cium. Namun Elza hanya melewatkannya begitu saja dan langsung berpamitan keluar. Hermawan dan Ayudia hanya tersenyum melihat kelakuan anak-anaknya.
“Awas kamu ya adik durhaka!”. Ucap Elva.
“bodo amat durhaka sama kuntilanak”. Timpal Elza.
Elva terlihat sangat kesal dengan tingkah dan ucapan adiknya. Betapa rasanya ia ingin melemparkan sendok dan garpu ke kepalanya saat ini juga jika tidak ada ayah dan bundanya. Yang ia lakukan saat ini hanya minum dan melanjutkan makannya untuk meredakan rasa kesal di hatinya.
“Elv, jangan lupa kosongkan jadwal malam ini. Kita akan makan malam di rumah klien baru ayah”. Ucap Hermawan.
“Baik yah”. Jawab Elva.
Selesai sarapan Hermawan berangkat ke kantornya sedangkan Elva menuju kampusnya. Ia terlihat nampak gusar. Pasalnya hari ini ia akan bertemu dengan Maria. Entah sikap seperti apa yang akan ia lakukan ketika bertemu dengan mantan sahabatnya itu.
Dulu ia sangat senang bertemu dengan Maria, bercanda tertawa dan saling tukar fikiran. Sekarang dengan kondisi mereka yang seperti ini, jangankan bercanda untuk bertatap muka saja rasanya enggan. Belum lagi jika Maria bersama Richard. Readers pasti tau kan perasaan Elva seperti apa?.
Mobil Elva memasuki parkiran kampus. Ia bersiap keluar dari mobilnya. Elva berjalan lenggang dan santai melewati kerumunan mahasiswa yang sedang duduk berbincang disisi jalan. Entah mengapa perasaannya saja atau memang kenyataan, Elva merasa teman-temannya sepanjang jalan menuju kelas melihat kearahnya. Ada yang berbisik dan ada juga yang menertawakannya. Ia heran apa ada yang salah dengan dirinya. Sepertinya pakaian lengkap yang ia kenakan biasa saja tidak ada yang aneh-aneh.
Elva terus saja berjalan dengan percaya diri tidak peduli dengan orang-orang sekitarnya yang memperhatikannya. Sampai saat ia ingin masuk ke kelasnya ada seorang temannya dengan terang-terangan berkata sesuatu yang membuat Elva naik pitam.
“Makannya, kalau punya pacar dikasih servis dong tiap hari biar gak ke cantol cewek lain. Apalagi ceweknya sahabatnya sendiri”. Ucap Shanty salah satu teman sekelasnya.
Seketika Elva menghentikan langkahnya. Ia menatap sengit ke arah Shanty, dan mereka berdua menjadi pusat perhatian teman-teman sekelasnya tidak terkecuali Maria yang terlihat tegang melihat mereka berdua.
“Kau sedang bergosip tentang siapa?”. Tanya Elva sambil berjalan mendekati Shanty.
“Bergosip tentang siapa?. Ya aku sedang bergosip tentang orang yang ada di video ini!”. Shanty menunjukkan video yang memperlihatkan Elva, Richard dan Maria yang sedang bertengkar di restoran.
Sial, aku lupa saat jalan menuju meja Richard kan aku melihatnya sedang makan juga di sana dengan pria tua. Pantas saja sepanjang jalan menuju kelas banyak yang melihatku dengan berbagai mimik. Pasti video itu sudah menyebar di kampus. Batin Elva.
__ADS_1
“Jangan samakan aku denganmu *****!”. Elva menunjuk Shanty dengan suara tegas dan penuh dengan penekanan yang sudah pasti di dengar oleh teman-teman sekelasnya.
“Kau berani menghinaku!”. Shanty geram dengan ucapan yang baru saja Elva lontarkan.
“Aku tidak menghinamu, wanita yang sering keluar masuk kamar dengan banyak pria hanya demi uang harian itu namanya apa *****!”. Elva pun tidak kalah geramnya dengan wanita tukang gosip di hadapannya.
PLAKK!
Satu tamparan mendarat di pipi Elva. Ia terkejut dan tidak menyangka jika Shanty akan berbuat sekasar itu terhadapnya. Kemudian Elva mendorong tubuh Shanty sampai jatuh ke lantai.
“BERANINYA KAU MENYENTUHKU ****** LIAR!”. Elva menarik kerah kemeja milik Shanty. Kemudian ia membalas tamparan yang sudah mengenai pipinya tadi. Elva menampar Shanty bertubi-tubi. Teman-teman di kelas mencoba melerai mereka berdua dengan durasi yang cukup lama. Karena Shanty dan Elva sama-sama tidak mau kalah.
“Dasar wanita bar-bar!”. Ucap Shanty.
“Dasar kau ****** liar!”. Timpal Elva.
Keduanya masih beradu mulut meskipun sudah terlerai. Elva ditarik sebagian temannya keluar kelas, sedangkan Shanty ditarik sebagian temannya lagi masuk dalam kelas. Maria hanya diam dan terpaku duduk di kursinya. Entah apa yang ada di fikirannya saat ini, ia tak bergerak sedikit pun melihat Elva bertengkar dengan Shanty.
.
.
.
Di lain tempat Hermawan sedang melakukan rapat di kantornya. Sepanjang rapat ia hanya duduk dan mendengar salah seorang karyawannya yang sedang mempresentasikan hasil kerjanya. Setelah selesai, Hermawan menilai berkas kerja karyawan tersebut. Entah mengapa melihat berkas tersebut ubun-ubunnya terasa mendidih. Di lemparnya berkas lembar kerja tepat di depan meja karyawan tersebut hingga ia sangat takut dan terkejut dengan apa yang di lakukan bos nya.
“Pekerjaan macam apa ini?”. Ucap Hermawan.
“Kau tahu, jika hanya hasil yang seperti ini yang kau buat, perusahaan mana yang ingin bekerjasama dengan perusahaan kita!”. Lanjut Hermawan.
“Maaf pak, saya akan perbaiki kembali pekerjaan ini”. Jawabnya.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Hermawan untuk karyawan di hadapannya. ia hanya mengalihkan pandangannya dengan membuang nafas kasar.
“Sebaiknya anda sekarang keluar dan melanjutkan pekejaan anda tuan”. Perintah Gino.
Karyawan tersebut keluar ruangan dan kembali melanjutkan pekerjaannya tersisa hanya Hermawan dan Gino.
“Aku tidak habis pikir, kenapa banyak sekali penjilat di perusahaan ini. Mereka hanya ingin gaji yang besar tapi dengan pekerjaannya mereka sangat lamban dan tidak kreatif”. Ujar Hermawan.
“Maaf tuan, ini pekerjaan saya. Biar saya yang nanti akan membereskan mereka”. Gino pun merasa kesal dengan karyawan tersebut, ia sudah sangat bosan mengingatkan semua karyawan tuan Hermawan. Tapi sepertinya mereka tidak mengindahkan kata-katanya.
Aku akan kasih kalian pelajaran, awas saja nanti. Batin Gino.
Hermawan hanya mengangguk saja mendengar ucapan Gino.
“Gino”. Panggil Hermawan.
“Ya tuan”. Jawab Gino.
__ADS_1
“Kau sudah mendapatkan alamat Tuan Heksa?”.
“Sudah, rumah beliau tidak begitu jauh dari kantor ini”.
“Hmmm, apa kau mau ikut?”. Tanya Hermawan.
“Terimakasih, saya sudah punya janji dengan seseorang”. Jawab Gino.
“Oh, saya paham. Kapan kau akan melamarnya?”.
“hehehe, saya belum tahu pasti. Tapi kami punya rencana menikah akhir tahun ini”.
“Baiklah, semoga kalian di beri kelancaran”.
“Aamiin. Terimakasih”.
Malam harinya keluarga Hermawan bersiap untuk memenuhi undangan tuan Heksa. Ayudia memakai dress panjang berwarna hijau botol dengan rambut di sanggul rapi. Hermawan memakai kemeja lengan panjang berwarna putih dengan lis hijau botol. Dikamar yang berbeda Elza mengenakan kemeja lengan pendek berwarna navy sedangkan Elva memakai dress selutut berwarna navy dengan sedikit belahan disisi kanan memperlihatkan paha mulusnya dan rambutnya di kucir kuda.
Mereka berkumpul di ruang tamu setelah selesai berhias diri sambil menunggu yang belum siap. Elva baru keluar dari kamarnya. Sebenarnya ia sangat malas sekali malam ini untuk keluar rumah. Jadi butuh waktu yang lama bagi orang yang menunggunya berhias, karena sebelumnya Elva sudah tertidur terlebih dahulu tak berniat untuk ikut. Namun apa daya jika sudah buat janji dengan sang ayah mana bisa ia meninggalkannya begitu saja.
“Kuntilanak berhias saja lama sekali”. Ujar Elza.
“Diam kau tuyul”. Jawab Elva.
“Sudahlah kalian ini bertengkar saja, yuk kita berangkat!”. Ajak Hermawan, sedangkan Ayudia hanya menggelengkan kepalanya.
Semua keluar rumah menuju garasi mobil. Jika keluarga ini keluar bersama, supir andalannya adalah Elza. Mereka sudah langsung menempatkan duduk mereka di kursi masing-masing. Elva di sisi kiri Elza sedangkan Hermawan dan Ayudia duduk di kursi belakang.
Mobil melaju keluar gerbang pintu utama menuju arah keluar komplek. Hilir mudik kendaraan di malam hari cukup ramai lancar. Elza membawa mobilnya dengan santai sambil menyalip jika cukup ruang untuk kendaraannya di depan.
Elza tetap fokus berkendara sambil melihat alamat tujuan yang di berikan oleh Gino. Elva, Ayudia dan Hermawan hanya diam melihat pemandangan jalan raya di malam hari.
Tibalah mereka di depan bangunan mewah berwarna putih tulang bercampur gold. Elza keluar mobil dan menekan bel pintu utama. Keluarlah security dari rumah tersebut.
“Maaf, tuan muda ingin bertemu dengan siapa?”. Tanya security.
“Ayah saya tuan Hermawan dan keluarga di undang tuan Heksa untuk datang kesini”. Jawab Elza.
“baik, silakan tinggalkan kartu tanda pengenal kalian setelah itu kalian boleh masuk”.
Elza kembali ke dalam mobil untuk mengambil kartu tanda pengenalnya dan juga keluarganya. Kemudian ia memberikannya ke security tersebut. Mobil diperbolehkan masuk menuju area luar halaman tuan Heksa. Mereka di sambut oleh pelayan tuan rumah tersebut dan di antar menuju ruang makan.
Rumahnya nampak begitu mewah dengan bergaya klasik eropa. Sepertinya ia sudah tinggal lama di eropa hingga bangunan rumahnya nampak mirip sekali dengan rumah-rumah mewah di eropa. Hermawan dan keluarga takjub melihat bangunan rumah tersebut. Berapa kekayaan yang di miliki Heksa hingga ia bisa mempunyai salah satu diantara rumah-rumah mewahnya yang lain ia bisa mendirikan rumah yang sangat mewah seperti ini salah satunya.
Di ruang makan, Heksa menyambut kedatangan keluarga Hermawan. Heksa mengahmpiri dan memberi salam pada keluarga tersebut. Dan Hermawan pun memperkenalkan istrinya hingga anak-anaknya pada Heksa. Saat terakhir Hermawan memperkenalkan putrinya, Heksa sangat terkejut karena ia ingat betul siapa wanita muda di hadapannya. Begitu pula dengan Elva ia pun tak kalah terkejutnya dengan Heksa. Elva ingat bahwa pria dewasa di hadapannya adalah tuan galak yang ia lempar dengan botol minumnya saat joging di taman waktu itu.
“Sepertinya kita pernah bertemu nona”. Ujar Heksa dengan senyuman liciknya.
Deghh!. Elva melebarkan matanya mendengar apa yang barusan Heksa ucapkan.
__ADS_1
Bersambung