
"Heh, jaga tuh mata. Main tabrak saja." Bentak wanita yang mengenakan seragam putih itu.
"Loh, yang nabrak siapa Mbak?" Viona heran.
"Kok malah nyolot sih? sudah jelas situ yang nabrak saya." Mengusap bahunya.
Viona malas tuk berdebat. Sekalipun tidak merasa salah. "Oke, kalau saya yang salah. Mohon maaf ya? saya buru-buru."
"Hei. Main pergi saja." Tangan Wanita itu menarik tangan Viona agar tak pergi dulu. "Urusan kita belum selesai. Lihat isi paper bag saya berserakan, gak lihat apa?" menunjuk lantai.
Viona menghela napas kasar. Ia berjongkok memungut barang milik wanita tersebut.
Fatir yang berjalan ke luar alangkah terkejutnya melihat Soraya berada di situ Bahkan sedang bersitegang dengan Viona. Dibiarkan gak mungkin, mana dah siang mau antar Viona ngantor. Mau muncul di sana juga bingung harus bilang apa. Namun melihat Viona berjongkok memungut barang-barang di lantai juga kasihan.
Akhirnya Fatir segera menghampiri kedua wanita tersebut.
"Ini Mbak barangnya. Maaf saya buru-buru--"
"Tunggu, kau harus tanggung jawab. Ponsel saya pecah." Soraya mengamati ponselnya dari dalam paper bag.
"Mbak. Itu bukan kesalahan saya, dan saya rasa itu ponsel sudah pecah dari sebelumnya. Bukan akibat kejadian barusan kok."
"Ada apa nih?" suara Fatir membuat kedua wanita itu menoleh.
"Wanita i--" kalimat Viona terputus.
"Sayang, kok ada di sini sih?" Soraya kaget sekaligus bahagia. "Ini ponsel ku rusak dan wanita ini tidak mau ganti sayang, malah mau pergi begitu saja."
Viona terkesiap dan menggeleng mendengar wanita ini memanggil Fatir dengan sebutan sayang. Apalagi menuduh ia yang merusak ponselnya. Ditambah lagi wanita itu menyeruak memeluk Fatir begitu saja, membuat hati Viona berasa di gigit semut.
Manik mata Fatir mengarah pada Viona yang tertegun kemudian berlalu begitu saja. Bergegas membawa langkahnya berjalan cepat menuju mobil. Dadanya terasa sesak. "Oh itu kekasihnya?"
Brug!
Viona menutup pintu, Berniat membawa sendiri mobilnya itu. Tapi sayang kuncinya Fatir yang pegang. Viona memukul setir. "Sial."
"Kenapa kamu gak jawab pertanyaan ku sayang? kenapa ada di sini! aku kangen banget sama kamu, tega ya kamu membiarkan ku sayang."
"Maaf aku lagi ada urusan. Lain kali aku jelaskan." Fatir melepas pelukan Soraya dan bergegas menyusul Viona.
"Sayang? tunggu! sayang. Mas ...."
Dewo dan Rumi saling melempar senyuman. Melihat Fatir dan Soraya berpelukan."Berarti si Fatir punya kekasih. Ini bisa jadi bahan yang bagus nih." Gumam Rumi.
"Bahan apa cinta? bahan kue atau--"
"Bahan bercinta sayang." Jawabnya sambil bergelayut mesra di tangan Dewo.
Fatir masuk dan segera duduk, bersiap memutar kemudi, sekilas matanya temukan Viona duduk bersandar menyilang kan tangan di dada dan wajah yang sedikit menekuk. "Maaf. Kita berangkat sekarang." Sambil mulai melaju.
"Nggak usah. Nanti saja lebaran monyet." Ketus Viona melirik dengan ekor matanya.
"Bilang monyet nya jangan lihat ke sini dong Non. Berarti yang semalam di peluk itu monyet dong? emangnya kamu mau ya tidur bareng monyet yang hitam dan berbulu! ha ha ha ...."
"Jangan tertawa. Gak lucu," pekik Viona. "Pagi-pagi dah bikin kesal aja."
"Iya-iya toh saya bukan badut, jadinya ya tak lucu toh." Fatir berusaha mencairkan suasana supaya Viona tak cemberut.
__ADS_1
Viona memutar bola matanya yang indah itu. "Nggak tau ah. Malas."
"Kok malas? yang rajin dong. Sudah punya suami juga." Fatur mesem. Nanti suaminya gak mau meluk lagi lho.''
"Apaan sih?" Viona tersipu malu dan merasa gemas, Fatir mengungkit terus soal itu.
Fatir tak berhenti tersenyum sambil tetap fokus menyetir. Akhirnya Viona tersenyum lagi.
"Awas ya?" ucap Viona sambil menunjuk dan mengulas senyumnya. Ia mulai lupa dengan kejadian tadi tentang Soraya.
"Awas apa Non?" tahu gak tangan ku sampai pegal nih gara-gara semal--"
"Seett ... udah ya? jangan diteruskan lagi. Cukup." Menempelkan telunjuknya di bibir sendiri.
Tak terasa di jalan, tibalah mereka di area kantor tempat Viona bekerja. Viona turun setelah Fatir membukakan pintu untuknya.
"Bawa aja mobilnya." Titah Viona.
"Baiklah Nona. Nanti siang aku jemput," balas Fatir sambil tersenyum.
Viona berdiri menatap ke arah Fatir yang hendak melangkah pergi. Namun langkah kaki yang sudah selangkah itu berbalik menatap Viona yang masih juga berdiri menatap dirinya, padahal biasanya suka langsung berlalu.
Fatir mendekati wanita yang berpenampilan modis itu. Tangannya mengulur ke arah bahu Viona, Viona menoleh pada tangan Fatir. Cuph! mengecup hangat pipi Viona lantas pergi memasuki mobil.
Viona terkesiap, tak menyangka kalau Fatir akan mencium pipinya di tempat itu dan membuat hati Viona menghangat bibir pun tersenyum tipis. Celingukan, untuk suasana sepi jadi gak ada yang lihat.
Langkah kaki Viona berjalan menuju ke dalam kantor.
"Aduh ... seperti ada bulan di tanggal 17 tuh." Celetuk Alisa.
"Maksudnya, itu wajah bersinar banget. Tampak bahagia sekali, pulang dari luar kota bagai kayanya jadi alasan kangen-kangen nan tuh."
"Apaan sih Al?" Viona tersipu malu.
"Tuh kan ... malu-malu. Sepertinya sudah ada sinyal tuh."
"Sinyal apaan? 3g atau 4g? ada-ada saja deh." Kepala Viona menggeleng.
Alisa menyenggol bahu Viona. "Dah gol belum?"
"Ha? apaan sih? emangnya main bola, gol! Kesamben apa sih pagi-pagi dah ngawur." Lagi-lagi Viona menggeleng.
"Hi hi hi ... ya udah. Aku kerja dulu." Alisa keluar dari ruangan Viona.
Viona mulai berkutat dengan kerjaannya yang menumpuk di meja. Sekitar pukul sepuluh ada sebuah pertemuan yang harus ia pimpin. "Ya ampun ... mana mobil di bawa sama Fatir lagi. Kok aku lupa sih kalau mau meeting di luar."
Akhirnya Viona memesan taksi online. Untuk mengantar dirinya ke tempat meeting.
Setelah beberapa jam kemudian Rapat pun Viona akhiri. "Sebagai rasa bahagia saya atas meningkatnya omset perusahaan kita. Saya akan kasih kalian tiket liburan ke Bali di bulan depan--"
Semua saling pandang satu sama lain, dan mereka tidak menyangka atas kebaikan CEO yang baru ini. "Kami semua Nona!" selidik salah seorang rekan di sana.
Viona mengangguk. "Iya, kalian semua. Namun ingat, yang bagi punya pasangan halal di rumah. Harap bawa pasangan halal nya masing-masing ya? jangan bawa pasangan lain. Saya akan marah jika kalian melakukan itu, sebab saya tidak bertanggung jawab bila sesuatu terjadi pada rumah tangga kalian." Tegas Viona.
Kemudian Viona pergi meninggalkan ruangan rapat. Lalu kembali ke tempat kerjanya semula mengunakan taksi.
Selang berapa waktu dan tak lama di jalan. Viona siap melanjutkan kerjaan. Baru saja duduk di kursi kebesarannya, Alisa dah muncul dengan wajah yang sumringah.
__ADS_1
"Non, sudah waktunya makan siang nih, makan yu?"
"Em ... oke." Viona menoleh jam tangannya lalu berdiri kembali meraih tas nya.
Seperti biasa biasa mereka makan di restoran yang tidak jauh dari kantor. Keduanya duduk di tempat favoritnya ya itu dekat jendela.
Sambil menunggu makanan datang, Alisa menatap ke arah Viona. "Vi. Sebenarnya kalian sudah melakukannya belum sih?" Alisa penasaran.
"Kamu ini bicara apa sih? aku ndak mengerti deh."
"Adu ... h. Kamu itu dah dewasa Non. Masa harus aku jelaskan sih."
"Oya apa? aku ndak ngerti maksud mu apa toh?" tanya Viona lagi.
"CK. Kamu dan Fatir sudah melakukan hubungan itu belum?" sambil mendekatkan wajahnya takut di dengar orang.
"Nggak." Elak Viona dengan cepat.
"Masa sih?" Alisa menatap curiga. "Setiap malam kalian tidur bersama kan?"
"Iya, bersama. Kecuali aku ke luar kota." Viona mengangguk.
"Elleh, apa kalian gak normal ya?" selidik Alisa sambil memicingkan sebelah matanya.
"Sembarangan. Normal lah." Akunya Viona sambil meneguk minuman jus nya.
"Terus kalau normal kenapa sedingin itu? emangnya kami sudah pernah melihat barang dia bangun? dan kamu gak tergoda apa Vi, hem ... harus di selidiki nih!"
Viona mendorong kening Alisa ke belakang. "Kamu itu bicara apa sih? ngelantur mulu. Makan," Viona tak ingin membahas urusan itu.
"Vi, kamu sering bertemu Hendra ya?"
"Kenapa?" Viona menatap ke arah Alisa dengan tatapan curiga. Tahu dari mana?
"Nggak sih. Aku curiga aja sama kamu Vi, hari ini wajah mu begitu nampak cerah dan bahagia."
"Ah, biasa aja. Apa sih yang kamu gak tahu Al ... aku kan selalu cerita termasuk waktu di Jakarta itu." Lanjut Viona di sela makannya.
"Jadi setelah itu gak pernah ketemu lagi?" tanya Alisa penasaran.
"Ketemu, tapi dia nya lagi tugas."
"Oh, jangan ya Vi. Fatir itu pria yang bertanggung jawab, dan kamu dengan Hendra itu gak mungkin bersatu. Jadi jalani yang sekarang. Aku yakin deh ... kamu pasti bahagia tanpa dia."
Viona cuma terdiam mendengarnya. Kemudian beranjak sebab makannya dah selesai.
"Tunggu dong Non? main pergi aja." Alisa mengejar langkah Viona.
"Ada apa?" Viona bicara microphone yang berada di telinganya.
"Apa Vi?" Alisa yang berjalan di belakang merasa heran.
Bodyguard Viona mengatakan kalau ada orang yang mencurigakan mengintai Viona ....
****
Reader ku tersayang apa kabar kalian malam ini, aku ucapkan selamat menunaikan puasa di bulan suci ini. Untuk yang menjalankannya🙏
__ADS_1