
Sepasang suami istri itu tengah asyik memadu kasih dengan gelora dan hasrat yang sangat kuat. Pergulatan yang semakin memanas namun tetap dengan ke hati-hatian, mengingat Viona sedang hamil besar.
Fatir menjenguk baby nya yang masih di dalam sana. Dengan pelan dan penuh kelembutan membuat keduanya merasa melayang ke awan. Tubuh keduanya bergetar hebat dan sama menikmati pelepasan itu dan akhirnya tubuh Fatir tumbang menindih tubuh Viona.
Kemudian membaringkan badannya di sisi sang istri yang langsung meringsut ke dalam pelukannya.
Viona mendongak menatap lembut sang suami. "Aku sangat bahagia, mendapatkan suami seperti kamu yang sangat bertanggung jawab dan ulet dalam usaha. Sehingga saat ini sudah terlihat hasilnya, aku bangga sama kami." Cuph! mengecup bibir Fatir dengan sangat lembut.
Mata mereka terpejam, menikmati manisnya benda kenyal itu. Dibawah sinar lampu yang temaram keduanya mengulang lagi yang barusan mereka lakukan seakan tak ada capek-capeknya.
Sesekali Fatir meminum air asi yang sudah banyak keluar. Dan kata dokter kandungan, Viona termasuk wanita yang subur dalam hal asi. Dan itu tidak di sia-siakan oleh Fatir sebagai suaminya, setiap malam ia menyedotnya sampai Viona merasa lega dan ringan.
Sebab kalau tak dikeluarkan Viona merasa keberatan dan menyiksa. Belum lagi keluar sendiri membasahi bajunya. Dokter sudah menyatakan kalau janin yang dikandung Viona berjenis kelamin perempuan.
"Sudah belum sayang?" tanya Fatir menatap lembut sang istri. Takut istrinya belum merasa puas.
Viona mengangguk dan mendorong pelan dada sang suami. Kebetulan tubuhnya sudah terasa lelah dan waktu sudah menunjukan kalau malam dah larut.
Keduanya berpelukan dan tidur di bantal yang sama. Dengan tidak butuh waktu yang lama mereka tertidur sangat nyenyak ditemani angin malam yang berhembus dan menyusup ke dalam pori-pori.
...****...
Viona bersama sang bunda dan Omanya sedang berada di Mall untuk belanja semua keperluan baby nanti bila dah lahiran. Toh sudah ketahuan jenis kelaminnya.
Viona menatap bu Asri dan Oma Yani bergantian. Kedua wanita itu rebutan warna dan model, kata yang satu itu model lama dan kata yang satu ini model baru. Itu warnanya terlalu mencolok dan yang ini warnanya kalem. Bla-bla, bla.
''Aduh ... bisa gak sih yang akur gitu? jangan bikin pusing, Vi. dong.'' Viona memijit keningnya.
"Ini Mama mu--"
"Oma, mu nih bikin, Vi." Bu Asri memotong perkataan sang bunda.
"Kamu, yang bikin rusuh." Oma Yani gak mau kalah dengan Bu Asri.
"Sudah-sudah. Aku pusing." Viona mendudukkan dirinya di kursi yang ada di sana.
__ADS_1
Bu Asri dan Oma Yani saling pandang dan akhirnya memilihkan apa yang mereka suka tanpa banyak bicara lagi.
Akhirnya Viona tersenyum mengembang. Dan setelah mendapatkan banyak barang mereka pun bergegas pulang.
Semua barang dibawa oleh supir, Viona cukup membawa diri saja. Memasuki mobilnya berasa sang bunda dan Omanya.
"Kamu duduk di depan, tahu di sini sempit dan ibu hamil butuh ruang untuk duduk nanti kepanasan, pengap!" ucapnya Oma Yani sembari duduk di samping Viona.
"Huuh ... Ibu-Ibu." Bua Asri menggeleng sembari menutup ini samping Oma Yani.
Viona tersenyum melihat keduanya. Matanya bergerak melihat sang bunda yang duduk di depan bersama supir.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. "Pak, jangan ngebut-ngebut, ingat bawa orang hamil nih.
"Iya, Nyonya besar. Ini juga pelan," sahut supir Viona
"Ibu ... ini juga pelan. Apa masih kurang pelan juga?" tanya Bu Asri.
"Ya ... kalau sudah pelan yo wes ... tak nikmatin saja, yang penting kita semua selamat.
Saat ini Viona sudah berada di unit apartemennya. Ditemani ni Ijah sebab Bu Asri dan Oma sudah pulang.
Fatir kali ini pulang lebih awal sekali. Lagian sudah banyak karyawan yang membantunya di kedai.
"Sayang ... Asslamu'alaikum?"
"Wa'alaikum salam, sudah pulang?" dengan cepat Viona menoleh ke arah sang suami.
"Sudah, sedang apa? gimana tadi belanjanya happy?" tanya Fatir setelah duduk di dekat Viona yang duduk dengan kaki lurus ke depan. Tangan Fatir menarik kepala Viona lantas dikecup nya mesra.
"Happy, tapi pusing." Balas Viona dengan nada manja.
"Kenapa pusing?" kening Fatir mengerut.
"Itu, Oma dan Mama rebutan ... terus, beli barang ini rebutan warana. Rebutan model, bikin pusing kan jadinya aku," ucap Viona dengan tangan bergerak.
__ADS_1
"Ya, ndak apa-apa, itu tandanya. Mereka sayang sama cucunya," lirih Fatir dengan tangan terulur ke perut buncit Viona.
"Iya sih."Tangan Viona memegang tangan Fatir yang mengelus perutnya.
"Ups, sayang rasain deh. Baby nya nendang-nendang gitu." Viona sangat antusias.
"Mana?" Fatir mengusapkan lagi telapak tangannya ke perut sang istri yang benar saja ia pun merasakan pergerakan dari si baby yang begitu lincah.
Hari demi hari Viona menikmati kehamilannya dengan rasa yang kadang menyiksa, tidur miring gak nyaman terlentang terus bosan. Duduk terus juga sakit pinggul, tubuh terasa berat, mudah capek atau lelah.
Sekarang ini Viona sedang duduk di kursi kebesarannya dan berkutat dengan berkas-berkas yang menumpuk di meja. Sesekali Viona berdiri dan berjalan mondar-mandir. Untuk mengusir rasa keram pada kakinya dan rasa pegal di tubuhnya itu.
"Su, tolong bawakan aku minuman dingin ya? rasanya panas banget nih," ucap Viona selepas melihat asistennya masuk.
"Itu saja, Nona?" tanya Su menatap ke arah Viona.
"Tidak, cukup itu saja." Timpal Viona. Ia kembali menempelkan bokongnya di kursi tempatnya semula.
Asistennya pergi dari ruangan Viona dan tidak lama, kembali dengan seseorang Wanita yang berpenampilan nya rapi dan formal.
"Permisi, Nona. Ini pesanannya." Su menyimpan gelas berisi minuman dingin di meja kerja Viona.
"Iya, terima kasih!" Viona melihat asisten dan tamunya bergantian.
"Siang Bu, apa kabar?" wanita tersebut mengulurkan tangan dengan seutas senyum di bibirnya.
Viona berdiri dan menyambut tangan tamunya. "Baik ... Silakan duduk?" menunjuk kursi dan kembali duduk.
Kemudian mereka berbincang tentang bisnis. Dengan begitu serius. Su mendampingi Bos nya, Viona. Ikut berbincang.
Setelah itu beberapa saat kemudian perbincangan pun berakhir. Diakhiri dengan jabatan tangan dan senyuman yang merekah dari keduanya, pun klien Viona berlalu pergi di antar oleh asisten pribadinya.
Setelah itu, Viona baru ingat kalau minumannya belum ia teguk sama sekali. Tangan Viona menggenggam gelas tersebut lalu menyesapnya penuh kenikmatan. Jam makan siang sudah lewat dan Viona memutuskan makan di rumah saja. Menutup laptop dan bersiap pulang, Sebelum melangkah dia merapikan dress hamilnya yang bermotif bunga-bunga terlebih dahulu, lantas memakai blazer dengan warna senada.
Viona berjalan membawa tas kerjanya dan tas kecil yang tampak elegan. Mendekati mobil yang terparkir di area parkir para staf. Ia berdiri di depan pintu menyimpan tas nya duluan ke dalam, namun tiba-tiba ....
__ADS_1
****
Apa kabar semuanya reader ku yang baik hati. Makasih ya kalian masih setia menemani ku🙏