
"Wah ... adik ku cantik sekali. Akhirnya mau menikah juga, setelah sekian lama tergila-gila sama Mas ku. Tapi sayang ya sepertinya laki-laki yang sekarang ini bukanlah tipe suami harapan." Sita memuji sekaligus mencibir.
Viona menunduk. Tiba-tiba ia ingat pada pria yang sangat ia cintai, yang terhalang oleh status persaudaraan.
"Mbak Sita jangan ngomong gitu dong, jangan menghancurkan suasana yang bahagia ini. Justru dukung adiknya supaya mendapatkan kebahagiaan." Alisa menatap tajam.
Bu Asri hanya diam sekaligus mengenang, ketika Viona berencana menikah dengan anak tiri sang suami. Viona begitu terpuruk tak ada gairah hidup, sebab tak direstui. Apalagi ketika mendengar sang kekasih menikah, Viona mengurung diri di kamar sampai berbulan-bulan dan cukup lama Viona mengalami keterpurukan hidup. Bukan karena ekonomi, tapi masalah hati.
Salahnya pak Rusadi yang tidak mengenalkan Hendra sebagai anak tirinya dari semula. Yang beliau kenalkan cuma kedua anaknya saja yang sering di ajak tinggal bersama juga. Adalah Sita dan Rumi, sementara Hendra sebagai kakak satu ibu dengan Sita juga Rumi tak pernah dikenalkan pak Rusadi.
Viona pun tak pernah mengenalkan sebelumnya ia pacaran dengan siapa, dekat dengan siapa? tak ia kenalkan pada orang tuanya. Kalau ia berhubungan dengan pria yang bernama Hendra, padahal hubungan itu sampai bertahun-tahun. Pas berencana menikah barulah dikenalkan, akhirnya di tentang oleh keluarga.
"Vi, tolong lah transfer uang 4 juta saja mau beli sepatu buat acara nanti. Uang Mbak kurang nih." Suara Rumi dari balik pintu.
Suara Rumi membuyarkan lamunan bu Asri tentang putri kesayangannya. "Ya ampun ... masa gak punya sepatu Rumi?"
"Tidak, Mam. Yang ada sudah pernah aku pakai, jadi masa harus pakai itu lagi? malu lah aku." Jawabnya datar.
"Kamu ini, kemarin kan beli branded lagi," timpal Sita menatap ke arah sang adik.
"Loh, kan Mbak yang mau pakai nanti. Lagian buat kaki ku gak nyaman, salah pilih." Rumi mengibaskan tangannya.
"Ish-ish, ish. Tiap hari seperti ini menyaksikan orang tiap hari minta uang, bisa pening pala baby." Alisa menepuk jidatnya sendiri.
"Ih, emangnya kamu siapa yang mau tinggal di sini? saudara juga bukan," ucap Rumi dengan nada sinis dan ekor matanya mendelik ke arah Alisa.
"Sudah-sudah, jangan ribut." Viona mengirim langsung dari ponselnya.
Alisa mengajak MUA untuk keluar dari kamar Viona, siapa tahu calon mempelai laki-laki sudah datang. "Vi, aku keluar dulu ya? siapa tahu suami ku dah datang." Menepuk pelan bahu Viona yang ditanggapi dengan anggukan.
"Kemarin lalu sudah belanja banyak dan dibayarin Viona, sekarang masih juga minta." Bu Asri menggeleng kasar.
"Mama, aku minta baik-baik sama Viona bukan nyolong. Lagian berapa sih? gak banyak juga." Timpal Rumi.
"Ada apa nih ribut-ribut?" tanya Oma yang baru muncul di tempat itu.
__ADS_1
"Lah, ini Nenek tua lagi, nimbrung. Pengen tau aja." Gumamnya Rumi mendelik ke arah oma Yani.
"Apa kamu bilang?" oma Yani melotot. Tidak suka dengan sikap Rumi yang tidak punya sopan santun.
"Mbak Rumi, di jaga ya mulutnya jangan gak sopan gitu sama orang tua." Viona pasang badan mendengar Rumi berkata yang tidak mengenakan terhadap omanya.
"Iya, Nak ... jangan gitu. Punya tata Krama lah, hormati Oma." Lirihnya bu Asri sambil melirik kearah sang bunda.
"Helleh, Oma itu kan dari dulu juga pilih kasih. Mentang-mentang saya ini cuma anak tiri Mama." Ketus Rumi seraya melengos pergi.
"Tuh anak tak ada berubahnya ya padahal dah tua juga." Gerutu oma Yani setelah Rumi tak ada.
"Seberapa sih yang Rumi atau kami pinta, tidak berarti apa-apa dengan banyaknya harta kalian ini." Bela Sita dengan entengnya.
"Dasar anak tidak tahu diri. kurang apa saya sama kalian ha? kalian sudah saya jatah. Rumah dan mobil, tabungan. Pendidikan kami yang keluarin buat kalian. Bukan papa mu, papa cuma pekerja biasa yang berada di bawah ketiak saya." Jelas oma Yani, menatap tajam kepada Sita, beliau geram dengan ucapan dari Sita tadi.
"Sudahlah Oma," tutur Viona sambil mengusap dada omanya. "Sabar."
Sita meradang diomongin begitu sama oma Yani. Bibirnya bergetar ingin rasanya mengamuk, bibirnya sudah menganga bersiap beradu argumen.
Namun bahunya di pegang bu Asri. "Sudah Sita, jangan di layani. Sudah, malu masa mau ribut," tutur lembut bu Asri.
Bu Yani mengatur napas dan Berusaha mengontrol emosinya. "Tidak tahu diri amat tuh orang. Emang bapaknya punya apa saat menikah dengan mu Asri? cuma motor butut."
"Sudah Bu ... sudah. Nanti darah tingginya Ibu naik," ucap bu Asri menenangkan. Ia pun berusaha menyembunyikan sakit hatinya yang dirasakannya.
Bu Yani sudah tampak rapi nan cantik dengan kebaya warna senada dengan pengantin. Begitupun bu Asri mengenakan kebaya pendamping pengantin. Bu Yani menoleh ke arah Viona yang tampak melamun.
"Sayang, cucu Oma kok melamun? kamu sangat cantik sekali Vi." Oma Yani membelai wajah Viona.
Viona senyum tipis. "Oma bisa aja. Oma juga Mama terlihat cantik sekali deh, gak kalah sama yang muda-muda." sesungguhnya hati Viona saat ini sangat gelisah. Dan entah apa lagi yang saat ini ia rasakan.
Pernikahan ini bukanlah yang ia impikan. Sosok yang akan menjadi suami nya pun bukanlah pria yang ia harapkan, Viona menundukkan wajahnya dalam-dalam sembari membuang napas yang menyesakkan dadanya.
Di kamar tamu, Alisa sedang sibuk merekomendasikan Fatir untuk berganti pakaian dan dirias oleh MUA yang sudah siap untuk meriasnya.
__ADS_1
"Sayang, di mana mempelai pengantinnya?" tanya Darma sembari menggendong Azam, putranya.
"Ada di kamarnya. Tampak cuantikkkk sekali," sahut Alisa penuh ekspresi.
"Wah, pasti mempelai pria akan terpesona nih. Aku jamin bakalan jatuh cinta, secara siapa sih yang tidak akan jatuh cinta pada Viona sudah cantik baik lagi. Pokoknya sempurna lah," ungkap Darma.
"He'em. Bener!" timpal Alisa singkat seraya mengangguk.
Fatir hanya menanggapinya dengan senyuman tipisnya. Hatinya terus bersabar takut gak bisa ijab kabul atau apalah.
"Aduh, jantung ku berdebar terus nih. Dag dig dug tak menentu gini, takut tak bisa mengucap ikrar nanti." Keluh Fatir, memegangi dadanya.
Tangan Darma menepuk pundak Fatir. "Tarik napas dalam-dalam lalu lepaskan, lakukan itu berkali-kali dan setelahnya lega pasti." Titah Darma.
"Huuh ..." Fatir mengikuti saran Darma. Berkali-kali menarik napas lalu membuangnya.
"Jangankan kamu yang mendadak begini. Aku aja dulu yang lama dan latihan dulu, sama. Grogi, deg degan ni jantung seakan mau copot ketika mau menghadapi penghulu. Iya kan sayang?" Darma menoleh ke arah sang istri. Namun orang nya gak ada. "Kemana istri ku?"
"Keluar, Mas." Jawab seorang MUA.
Di ruang tengah, Alisa memperkenalkan orang tua Viona dengan keluarga Fatir. Mereka semua berjabat tangan. Bu Asri dan oma menyambut ramah calon besannya. Pak Rusadi bersikap biasa aja dan sedikit menunjukkan kalau ia adalah keluarga terpandang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 09 lewat. Pengantin pun bersiap pergi ke masjid karena acara akad akan di adakan di sana. Viona di gandeng Alisa dan kawannya yang lain. Kebetulan dede Azam ada pengasuhnya yang pegang, jadi Alisa leluasa menemani sahabatnya itu.
Fatir termangu ketika melihat pengantin wanitanya melintas, hatinya harus mengakui kalau Viona lebih cantik dari Soraya. sikap ramahnya pun terpancar dari parasnya, bodynya lebih berisi dan terawat. Sungguh auranya cantiknya keluar, beberapa kali ia menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan.
Bahu Darma menyenggol bahu Fatir yang terbengong-bengong. "Terpesona ya? ngaku aja. Uh ... tubuhnya pun berisi seperti gitar Spanyol broo, gak akan nyesel deh." Goda Darma sembari menyunggingkan senyumnya.
"Kamu ngomong apa sih, Dar?" ucap Fatir menggeleng. Namun bibirnya mesem-mesem.
"Ha ha ha ... yu masuk mobil? kita harus duluan tiba di sana." Darma masuk mobil, di susul Fatir dan keluarga.
Duarrrr!
Terdengar suara ledakkan kecil di belakang, beberapa meter dari mobil pengantin wanita ....
__ADS_1
****
Viona dan Fatir up nih, kira-kira ada yang nunggu gak ya🤔 makasih ya sudah membaca. Jangan lupa dukungannya.