Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Nakal juga


__ADS_3

"Kenapa kamu gak jawab pertanyaan ku sayang? kenapa ada di sini! aku kangen banget sama kamu, tega ya kamu membiarkan ku sayang." Soraya mengeratkan pelukannya.


"Maaf aku lagi ada urusan. Lain kali aku jelaskan." Fatir melepas pelukan Soraya dan bergegas pergi meninggalkan Soraya.


Soraya memekik. "Sayang, tunggu? sayang. Mas ...."


Namun Fatir tidak menghiraukan sama sekali. Dia terus saja membawa langkahnya semakin jauh dari Soraya.


Soraya tertegun merasa heran. Yang tadinya mau sarapan pun urung menjadi tak lapar. "Apa mungkin ada hubungannya dengan wanita tadi? ah gak mungkin! aku cukup mengenal Fatir. Ndak mungkin!"


Flash bak of


****


Sore ini Fatir sudah berada di depan rumah Viona dan bergegas berjalan menuju kamar sang istri.


"Oma, sedang apa?" sapa Fatir pada Oma yang tengah membaca buku di ruang keluarga.


"Nak Fatir." Oma menurunkan kaca matanya dan menoleh ke arah Fatir. "Mau ngantar Viona ke luar kota?"


"Iya, Oma!" Fatir mengangguk berdiri sebentar. "Saya ke atas dulu ya Oma?"


"Hem," gumam Oma Yani sambil menatap langkah Fatir yang dipercepat itu.


Setibanya di depan pintu, Fatir mengetuk terlebih dahulu.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Siap?" selidik Viona dari dalam.


"Aku!" jawab Fatir singkat.


"Hem, masuk aja. Kenapa sih?" suara Viona kembali.


Bibir Fatir tertarik menunjukkan senyumnya dan cklek, membuka pintu. Tampak Viona sudah siap. Ia menghampiri setelah menutup pintu.


Viona masih duduk di kursi meja rias. Dan langsung berdiri semprotkan minyak wangi ke tubuh Fatir. "Sudah mandi kan?"


"Belum," sahur Fatir sembari menggeleng.


"Ah ... kok belum sih? mandi dulu gih, bau nanti." Viona mendorong dada Fatir dari hadapannya.


"Wangi lah. Orang kamu yang beliin parfumnya," balas Fatir sambil makin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Viona.


"Em ... pokoknya mandi dulu sana?" ulang Viona.


Fatir mengerutkan keningnya. "Masih ada waktu gitu?"


"Ada, jangan lama-lama aja mandinya." Timpal Viona lagi.


"Mandi bebek ya?" kata Fatir sambil menyeringai.


"Ndak gitu juga kali." Tangan Viona bergerak membukakan kancing kemeja Fatir.


Membuat Fatir sejenak bengong. Menatap wajah Viona yang mengarahkan pandangannya ke kancing-kancing itu.


"Sudah. Mandi sana? buruan." Titah Viona. Namun dengan jahilnya Fatir malah merapatkan badannya pada Viona.


"Ih ... sana," lagi-lagi mendorong dada Fatir.


"Iya-iya," cuph! mengecup pipi Viona singkat.


Viona tersipu malu dan menggelengkan kepalanya. Kemudian mendekati lemari tuk mengambil pakaian ganti buat Fatir. Viona menarik tas nya mengecek isinya.


Tidak lama kemudian. Fatir muncul dari kamar mandi dengan handuk di pinggang. Kedua mata Viona bergerak melihatnya. Tubuh Fatir lumayan atletis ternyata, berkali-kali Viona menelan saliva nya.

__ADS_1


Fatir mendekati Viona yang duduk di tepi tempat tidur. Pandangan Viona terfokus pada perut Fatir yang berotot. "Kenapa Non?"


"Ha?" Viona sontak mendongak. "Ndak. Ini bajunya!" memberikan baju Fatir.


Lagi-lagi Fatir iseng, mencondongkan tubuhnya ke depan membuat tubuh Viona mundur ke belakang dan tangannya memegang pinggang Fatir. Serta mendongak menatap wajah pria yang berada dekat di hadapannya itu.


"Buruan ... nanti keburu sore Ih. Aku tarik nih handuknya." Ancam Viona.


"Tarik aja gak pa-pa, sudah mulai terbiasa kok. muhrim ini." Tantang Fatir kembali sembari menyeringai. Memperlihatkan giginya yang putih tersebut.


"Iih ... cepetan." Pinta Viona.


"Masih sakit gak?" bisik Fatir.


Membuat Viona memutar bola matanya. "Ehgr ... nanya sesuatu yang tidak penting."


"Pentingkah, supaya tahu." Balas Fatir sambil memakai pakaiannya di hadapan Viona.


"Aish ... lama-lama kamu ini berani ya? ndak sopan memakai pakaian di hadapan ku," ungkap Viona pura-pura ketus.


"Tapi suka kan?" goda Fatir. Viona membuang pandangannya sembari menyembunyikan senyumnya.


"Jangan pura-pura gitu ah, bikin aku penasaran saja he he he ...."


"Iih, cepetan pake nya." Viona turun membantu Fatir berpakaian. Kemudian mengambil topi pria yang berwarna biru tua ia pakaikan di kepala Fatir setelah Viona rapikan rambutnya.


Fatir menggerakkan kepalanya ke arah cermin melihat wajahnya, Kemudian Viona semprot lagi tubuhnya dengan minyak wangi.


"Yu, pergi sekarang?" Viona menarik tangan Fatir, yang menyempatkan diri menyambar dompetnya di meja.


Setelah pamit pada orang rumah. Keduanya memasuki mobil. Fatir melajukan nya setelah keduanya mengenakan sabuk pengaman.


"Bismillah ..." Gumam Fatir.


"Ibu tau gak kamu mau ke luar kota sama aku?" tanya Viona sambil melepas pandangan keluar jendela.


Ibu yang dimaksud Viona tentunya bu Afiah ya itu ibu mertuanya.


"Apaan sih? kerjaan. Dan pulangnya ke apartemen," lanjut Viona sambil menyandarkan punggungnya ke jok mobil.


"Iya, siap Non." Balas Fatir sedikit tersenyum.


Viona melirik sesaat lalu kembali melepas pandangannya ke keluar jendela.


"Mau beli sesuatu gak?" tawar Fatir sambil melirik sekilas. "Makanan mungkin."


"Em ... nggak ah, kalau kamu mau beli saja, aku gak ngemil." seru Viona.


Fatir menoleh sebentar, lalu kembali pandangannya ke jalanan. "Oya? ndak lah. Kali aja buat ngemil di jalan."


"Ndak," sambil menggeleng.


Mobil terus melaju berpacu dengan kuda-kuda besi lainnya. Sembari menikmati senja yang merah pertanda siang akan berganti malam. Tidak terasa perjalanan pun terhenti di tempat yang menjadi tujuan.


Viona turun dan membungkukkan kepala ke dalam jendela menoleh ke arah Fatir. "Turun?"


"Aku, di mobil saja menunggu." Jawab Fatir seraya menyandarkan kepalanya ke belakang.


"Baiklah, Su, sudah menunggu ku!" Viona membawa langkahnya ke sebuah gedung yang di depannya ada asisten pribadi Viona di sana.


Fatir menatap punggung Viona sampai tak tampak lagi di mata. Kemudian mengedarkan pandangan mencari masjid terdekat. Waktu sudah memasuki salat Maghrib, ia memutar kemudi membawa mobil mendekati masjid dan Fatir pun turun tidak lupa menguncinya. Lantas bergegas membawa langkahnya ke masjid tersebut.


Di meja meeting sudah berkumpul untuk bermusyawarah tentang kebaikan perusaan. Viona pun sebagai CEO mendengarkan keluhan dan saran-saran terbaik dari para karyawan yang ada di meja Meeting.


"Baiklah, aku merangkum semua saran dan keluhan dari kalian semua. Tentang sarana tentunya akan saya pertimbangkan. Dan masalah keluhan, saya jamin kalian tidak akan menemukannya lagi dan bila ada lagi bicara langsung sama saya," jelas Viona penuh wibawa.


Semua yang hadir mengangguk dan setuju dengan yang Viona utarakan.


"Saya juga meminta maaf yang sebesar-besarnya pada semua staf. Sudah menyita waktu kalian untuk hadir di saat yang seharusnya kalian itu berlibur. Dan untuk masalah-masalah perusahaan hadapi sekarang ini, saya yang akan mengaturnya. Kalian cukup menjalankan saja, oke. Meeting malam ini cukup sekian saja dan terima kasih, oya kalian silakan lanjut makan malam. Selamat malam!" mengangguk hormat, Viona beranjak dari duduknya. Diikuti oleh sang asisten.

__ADS_1


"Kamu mau pulang atau mau ikut makan sama mereka?" Selidik Viona sambil jalan menjinjing tas nya.


"Saya, rasa pulang saja Non. Kebetulan ada acar keluarga," balas Su yang memeluk berkas.


"Oh, oke! hati-hati." Viona berhenti di depan gedung tersebut dan netra matanya mencari keberadaan mobilnya.


"Saya duluan Nona muda!" Su sudah berada dalam mobilnya di kendarai oleh supir.


"Oke," melambaikan tangan.


Viona yang masih mencari keberadaan mobil dan suaminya menjadi gusar. Mengambil ponsel dan hendak menelpon, namun muncul mobil yang ia cari dari arah masjid.


Setelah berada tepat di depan Viona, Fatir keluar dan mengitari depan mobil untuk membukakan pintu buat Viona.


"Makan di sini apa mau di apartemen? aku capek pengen istirahat." Viona menatap ke arah Fatir sebelum masuk ke dalam mobil.


"Kalau begitu, ya ... pulang saja." Fatir membalas tatapan sang istri.


Mendengar jawaban seperti itu, Viona mendudukkan dirinya di samping kemudi. "Oke."


Fatir membawa langkahnya kembali mengitari mobil lantas duduk di belakang setir.


Viona sibuk dengan ponselnya sehingga Fatir yang memasangkan sabuk pengaman. Viona menatap Wajah Fatir yang pandangannya fokus ke sabuk pengaman.


"Makasih?"


"Sama-sama." Fatir menunjukkan senyumnya. Tidak membuang waktu Fatir melesatkan mobilnya menuju apartemen Viona.


Setibanya di apartemen, Viona langsung eksekusi isi lemari pendingin dan memasak untuk makan malam berdua saja.


Viona tengah asyik memasak. Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang, tentunya itu Fatir siapa lagi? toh yang ada di sana cuma berdua saja.


"Apaan sih? lagi mask nih!" Viona setengah menolak.


"Emang siapa yang bilang sedang mencuci?" sahut Fatir sekena nya.


"Iih ... lepas?" pinta Viona sambil mencuci tangannya.


"Lepas saja kalau bisa!" Semakin mengeratkan pelukannya.


Viona memutar badannya agar berhadapan dengan pria yang kini memeluknya itu. "Kamu sekarang nakal ya? sumpah aku baru tahu." Menatap kedua netra mata Fatir.


"Hem, baru tahu ya, kalau aku nakal? tapi cuma sama istri ku saja sih. Nakalnya juga." Menarik pinggang Viona agar semakin merapat dengan tubuhnya bagian depan.


Telapak tangan Viona menempel di dada Fatir. "Aku ndak percaya. Pasti sama kekasihnya juga seperti itu?"


"Mana ada aku seperti itu? ndak berani aku. Takut kebablasan kalau macam-macam, paling berani mencium pipi itupun bisa di hitung dengan jari saja." Kenang Fatir.


Ada rasa panas di hati Viona kala mendengar uraian dari Fatir barusan. Wajahnya mendadak berubah muram. "Oh, iya kah?" ragu.


"Asli! aku melakukan lebih cuma sama kamu saja, ndak sama yang lain."


Viona menyembunyikan wajahnya di bawah leher Fatir. Marah, kesal. Rasa tak rela Fatir sama yang lain, tangannya memeluk tubuh Fatir dan meremas baju Fatir bagian belakang.


Fatir menyeret langkahnya mendekati kompor yang masih menyala dan mematikannya. "Kenapa?" cuph! mengecup pucuk kepalanya Viona.


Kepala Viona menggeleng pelan. Gengsi kalau harus jujur kalau ia cemburu. Dan bagaimanapun itu cuma masa lalu, namun tetap saja membuat dadanya sesak.


"Turus, kenapa diam begini hem?" selidik Fatir jarinya membelai mesra rambut Viona. "Semua orang itu pasti punya masa lalu, aku. Kamu juga yang lain," ucapan Fatir seakan tahu dengan yang Viona rasakan saat ini.


Kepala Viona mengangguk, ia pun menyadari bahwa punya masa lalu dengan Hendra. Dan ya ... cepaka-cepiki sih sudah biasa. Tapi itupun paling di pipi, kening dan tangan. Tidak dengan yang lainnya.


Tangan Fatir naik dan mengarah ke pipi Viona dan menangkupkan kedua tangan di wajah wanita cantik itu. "Masih sakit ndak?" sangat pelan.


Deg!


Lagi-lagi itu saja yang Fatir tanyakan. "Lumayan, sudah agak baikan." Jawab nya Viona pelan dan tampak malu-malu.


Tanpa permisi Fatir mendekatkan wajahnya ke wajah Viona untuk segera melahap bibirnya yang tipis itu. Viona terkesiap namun tak bisa menolak melainkan membalas kecupan tersebut ....

__ADS_1


****


Ayo mana yang suka sama Viona dan Fatir? acungkan jempolnya.


__ADS_2