Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Tak menyangka


__ADS_3

Dari jauh Alisa dan Darma mengawasi pak Rusadi dan wanitanya yang gelendotan itu. Bahkan Alisa dengan isengnya mengirimkan gambar mereka ke Viona.


"Ngapain kamu kirim ke Viona sayang? nanti kalau jadi bumerang gimana? bisa perang dunia kedua lah." Darma menggeleng sambil menggendong Azam.


"Biarin. Viona bukan anak kecil yang suka grasak-grusuk gitu, dia akan lebih hati-hati dalam ngadepin masalah." Jelas Alisa.


"Aku gak menyangka kalau om Rusadi seperti itu." Darma masih melihat pak Rusadi yang kelihatannya semakin berani cepaka-cepiki pada wanitanya.


"Aku juga. Gak menyangka, Mas." Balas Alisa.


...****...


Ting ....


Suara notifikasi dari ponsel Viona, ekspresi Viona begitu terkejut melihat isi pesan tersebut. Foto ayahnya dengan wanita muda, kiriman dari sahabatnya, Alisa.


Namun Viona gak bisa lebih larut dengan pikirannya atau menanyakan pada Alisa langsung. Sebab saat ini dia sedang meeting penting, biar cari konfirmasi nanti saja. Setelah selesai meeting.


"Saya meminta kerja samanya dari kalian semua. Saling membantu demi berkembangnya perusahaan ini." Viona penuh harapan besar.


Semua yang ada di meja meeting mengangguk penuh dukungan.


"Saya juga berterima kasih pada semua staf yang sampai sekarang masih bertahan dan menjadi bagian dari CV ini makasih banyak? dan baiklah saya rasa meeting kali ini cukup sampai di sini dulu, dan besok saya kembali ke lapangan." Viona menyerahkan Meeting ini kepada Su. asisten pribadinya.


Viona segera meninggalkan ruang tersebut dan mencoba menghubungi Alisa. "Angkat dong?" gumam Viona sebab telepon darinya tak kunjung di angkat.


Tuttt ....


Tuttt ....


Tuttt ....


"Kemana sih Al ... kak gak diangkat sih?" gumam Viona sambil menempelkan benda pipih itu ditelinga nya.


Namun tak kunjung di angkat juga. Viona menatap gambar sang ayah yang tampak mesra dengan wanita seusia Sita, mbak nya.


''Aku tak menyangka papa tega sama mama, bermain di belakang mama.'' Gumam Viona sambil menengadahkan wajahnya ke langit-langit agar air matanya tak sampai turun.


Secara tidak langsung hatinya sakit dan terluka. Bisa membayangkan gimana hancurnya dan kecewanya hati sang bunda bila tahu itu.


Viona kembali ke kamar hotelnya. Dengan hati gusar sebab belum mendapat konfirmasi yang ia inginkan dari Alisa.


Viona berjalan gontai ke kamar mandi namun baru saja mau menyentuh handle pintu. ponselnya berbunyi dan Viona balik arah segera mengambilnya.


Kontak Alisa yang memanggil. Rupanya dia telepon balik.


^^^Viona: "Halo Al? ku konteks dari tadi juga."^^^


^^^Alisa: "Sorry, Vi tadi lagi makan. Ada apa? oh tentang gambar itu pasti. Sorry jiwa iseng ku meronta, Vi. Padahal kaya nya gak seharusnya aku kirimkan, dasar jari aku ndak ada akhlak--"^^^


^^^Viona: "Yang ingin aku tanyakan, itu beneran?"^^^


Dengan hati yang berdebar-debar berharap itu cuma editan walau Viona tau keasliannya.

__ADS_1


^^^Alisa: "Itu ... benarkan, Vi. Tadi aku sama mas Darma jala-jalan di taman. Eh ... lihat papa mu."^^^


Dengan hati mencelos Viona merasa kecewa dan sekaligus sedih serta malu. Ayahnya yang seharusnya jadi panutan kok malah mengecewakan!


Viona: "Al, aku mohon jangan bilang sama siapa-siapa ya. Biar ini jadi rahasia kita aja dulu, suatu saat ini pasti terbongkar sama mama ku."


^^^Alisa: "Iya-iya, Vi. Aku juga gak ada hak untuk itu kok."^^^


^^^Viona: "Makasih Al."^^^


^^^Alisa: "Kali lagi maaf ya, Vi ... jadi ndak enak nih?"^^^


^^^Viona: "Ndak pa-pa Al, justru aku berterima kasih kamu lho."^^^


^^^Alisa: "Kamu sedang apa?"^^^


^^^Viona: "Aku baru mau mandi dan istirahat nih."^^^


^^^Alisa: "Deh ... bobo nya gak di peluk ayang nih? kalau di luar kota. He eh he ...."^^^


^^^Viona: "Ndak apa! nanti bisa balas dendam aku."^^^


^^^Alisa: "Wah ... sekarang sudah bucin nih. Aku ikut senang kalau sahabat ku ini sudah mengakui suaminya."^^^


^^^Viona: "He he he, bisa aja. Tapi di saat harapan ku tertumpu pada dia justru timbul masalah baru."^^^


^^^Alisa: "Masalah apa?"^^^


Viona menceritakan semua masalah Fatir yang dituduh menghamili Soraya. Namun Fatir kekeh tak mengakui itu sebab ia tak merasa melakukannya.


^^^Viona: "Aku, bingung. Antara percaya dan ndak."^^^


Kemudian obrolan mereka berakhir. Pun Viona segera membersihkan dirinya. Dengan cara berendam di dalam Bathtub sambil membayangkan ia bersama suaminya yang jauh di mata namun dekat di hati.


Sekembalinya dari kamar mandi, Viona melihat ponsel yang sempat terdengar berdering. Benar saja ada beberapa panggilan dari Fatir dan sebuah pesan.


^^^Fatir: "Sayang, aku punya kabar bagus. Soraya sudah mengakui kalau bukan aku yang menghamilinya melainkan pria lain, tadi ayah datang dan meminta maaf sama kita."^^^


^^^Viona: "Oo."^^^


Hati Viona berbunga-bunga. Akhirnya terbukti kalau suaminya tidak bersalah dan apa yang di akui Fatir adalah benar.


^^^Fatur: "Kok gitu sayang, gak senang ya dengan berita ini. Masa kamu masih gak percaya dengan ku?"^^^


Viona sengaja mendiamkan Pesan Fatir, biar dia merasa kalau dirinya masih kurang percaya. Padahal bibirnya senyum-senyum sendiri.


^^^Fatir: "Sayang ... dah tidur apa? gak mungkin kamu marah! balas dong sayang."^^^


Detik kemudian Fatir telepon namun sengaja Viona biarkan. Dia mengganti pakaiannya untuk tidur.


Namun Viona merasa curiga kalau keberadaannya di sana ada yang mengawasi. Segera ia berganti pakaian dan menghubungi bodyguard nya yang tidak jauh dari sekitar ia berada.


Netra mata Viona bergerak-gerak ke sekitar ruang kamar VIP yang ia tempati itu. Takut ada penyusup atau apalah, kemudian menyeret langkahnya ke dekat jendela ngecek kali saja tak terkunci. Pintu juga terkunci lalu menghubungi asistennya, Su, yang berada di kamar sebelah.

__ADS_1


Tidak lama kemudian bodyguard nya menghubungi kalau mereka menemukan seseorang yang memang mencurigakan dan mengintai kamar yang Viona tempati sekarang. Setelah di desak katanya dia suruhan saingan bisnisnya Viona dan berniat mencelakai dirinya. Untungnya langsung tertangkap.


Obrolan jarak jauh berakhir dan menimbulkan bernapas lega bagi Viona walau masih ada rasa cemas-cemas gimana gitu?


"Ya, ampun ... aku jadi takut. Mana asisten ku di kamar sebelah, Aku di sini sendirian. Coba ada mas Fatir di sini. Aku takut mas. Pulang cepat juga ndak mungkin tugasku belum selesai." Viona bermonolog sendiri.


Kemudian Viona menelpon seseorang. Agar melakukan sesuatu agar dirinya merasa lebih aman selama berada di sana. Ia tak sanggup sendiri apa lagi dengan tertangkapnya orang yang mencurigakan.


Pletak!


Suara kaca di lempar batu namun kacanya tak pecah sedikitpun saking tebalnya dan mungkin melemparnya dengan batu kecil. Membuat Viona makin ketakutan dan menyembunyikan dirinya di bawah selimut. Di luar kamar sih ada bodyguard tapi kan tidak mungkin menemaninya di dalam kamar.


****


Fatir yang di rumahnya karena sengaja gak pulang ke apartemen. Belum bisa tidur waktu sudah menunjukan pukul 23.30 wib. Sementara yang lain sudah terdengar suara ngorok.


Di luar ada yang mengetuk pintu. Dan Fatir sendiri yang membukakan nya. Dengan hati yang dihinggapi rasa penasaran.


Blak!


Pintu terbuka, berdiri tegak dua orang memakai pakaian hitam dan kaca mata hitam pula. Badannya tinggi besar dan langsung mengangguk hormat pada Fatir yang dibuat heran.


Dari dalam bu Afiah dan Sya juga keluar. Karena penasaran siapa yang datang.


"Selamat malam, Tuan. Anda baiknya ikut kami sekarang juga, no kami sudah menunggu anda Tuan." Kata salah satu orang tersebut.


"I-ikut kalian? emang kalian siapa?" selidik Fatir menatap heran.


"Saya suruhan Bos kami yang menyuruh anda ikut kami." Tambahnya.


"Saya ti-tidak kenal bos anda!" tolak Fatir sambil menggeleng.


"Kalian siapa? ngapain ingin membawa putra saya?" tanya Bu Afiah tampak cemas.


"Kami hanya menjalankan tugas mari Tuan?" meraih tangan Fatir ditariknya.


"Saya tidak mau, saya tidak punya urusan dengan bos kalian." Fatir kekeh menolak dengan alasan tak kenal dengan orang yang mereka panggil bos tersebut.


"Iya, jangan ajak putra saya pergi!" pinta Bu Afiah yang di peluk Sya yang tampak ketakutan.


Namun dua orang tersebut sedikit memaksa Fatir tuk ikut mereka sekarang juga. Fatir mau berontak namun penasaran siapa yang mereka panggil Bos itu.


"Oke. Saya akan ikut." Lalu Fatir menoleh ke arah sang ibunda. "Bu, aku pergi dulu. Doakan saja supaya aku selamat," ucap Fatir lalu berjalan.


"Nyonya, jangan khawatir putra anda buka buat kami sakiti." Kata orang itu yang ditujukan pada bu Afiah. Kemudian mengikuti Fatir dan kawannya.


Baru beberapa langkah. Fatir hentikan langkahnya. "Sebentar! saya mau ngambil ponsel saya. Takutnya nanti istri saya mencari saya."


"Maaf, Tuan sudah tidak ada waktu lagi." Balas salah seorang itu tangannya menempel di punggung Fatir.


Fatir masih kebingungan mau di ajak kemana menemui siapa?masih dibikin bingung. Mereka membawa Fatir ke sebuah mobil dan setelah ketiganya berada di dalamnya, mobil melesat begitu cepat pada suatu tempat yang seingat Fatir belum sempat ia kunjungi ....


****

__ADS_1


Mohon dukungan kalian Reader ku, like. Komen dan vote nya juga, makasih🙏


__ADS_2