
"Mas, aku tak akan memaafkan mu jika mempermainkan perasaan ku, Aku tak segan-segan bunuh diri." Ancam Soraya.
"Tenang, duduk santai aja raya," pinta Fatir dengan tenangnya. menggenggam tangan Soraya membuat merasa nyaman si empu.
Mobil Viona yang menguntit motor Fatir dari belakang. Membawa beberapa hati yang dipenuhi rasa kecemasan bahkan ada satu hati yang hancur dan mungkin tak berkeping. Melihat suaminya membawa wanita lain yang ia pikir akan dinikahinya. Melihat dari sikapnya.
Tidak jauh dari motornya terparkir Mobil itupun berhenti, dengan malas orang-orang yang berada di dalamnya keluar dan berhambur dengan para tamu yang duduk manis di sana.
Semua pasang mata memandangi ke satu titik dimana tempat mempelai yang akan dinikahkan. Tempat akad yang akan berlangsung.
Hati Oma Yani terus bermonolog melihat ke arah Fatir yang berdampingan dengan mempelai wanita. "Apa-apaan si Fatir? awas kalau dia benar-benar menduakan cucu ku! tidak akan ada maaf lagi. Tak ada toleransi lagi buatmu."
"Tega, kamu Mas. Menduakan ku dan kamu sengaja menyuruh ku menyaksikan ritual ini." Mata Viona yang berembun, merasakan sakit yang teramat dalam.
Alisa terus menguatkan Viona dengan cara mengusap punggung Viona. "Sabar, sepertinya ada rencana Fatir yang kita tak tau."
"Iya, rencana menikahi dia. Tega dia menyakiti ku disaat aku dah mencintainya Al, aku tak pernah mengira ini akan terjadi disaat orang tua wanita itu datang menjelaskan kalau bukan Fatir yang membuat Soraya hamil." wajah Viona basah dengan air mata. Walau terus dihapus di lap dengan tisu.
"Tapi, menurutku tidak begitu, Vi. Aku yakin, ini tidak seperti yang kamu bayangkan!" jelas Alisa sekilas tersenyum ke arah Fatir yang menunduk.
Pandangan Viona khususnya tak lepas dari Fatir berada. Setiap geraknya ia perhatikan walau dengan mata yang berkaca-kaca.
Fatir yang tampak tenang mengedarkan penglihatannya mencari keberadaan sang istri yang tidak jauh dari tempatnya berada. Ditatapnya dengan lekat wajah yang tampak sayu dan basah dengan air mata itu.
Wanita berparas cantik dan rambut bergelombang itu duduknya terlihat gelisah. Gusar dan was-was. Sesekali mengusap pipinya.
"Maaf sayang, bukan niatku membuat kamu menangis dan terluka. Aku sengaja menyuruhmu ada di sini, supaya kau tak perlu mendengar penjelasan ku yang belum tentu dengan mudahnya kamu terima." batin Fatir seraya menatap ke arah sang istri.
Inilah detik-detik yang paling menegangkan bagi semua terutama Viona yang ia pikir sang suami akan benar-benar menduakan nya. Dadanya terasa sesak dan kepalanya bagai tertimpa benda berat. Namun ia tahan pengen tahu akhir dari ritual ini.
Bapak penghulu sudah memberikan isyarat kalau acara akad akan di mulai. Sebagai wali dari mempelai wanita, mengulurkan tangan pada si calon mempelai pria.
Soraya menggoyangkan tangan Fatir. "Ayo dong Mas, tangannya. Diulurkan sambut tangan bapak ku."
Fatir cuma tersenyum tenang. Lagi-lagi matanya menatap ke arah sang istri. Lalu menggerakkan tangannya maju untuk berjabat tangan dengan wali nya Soraya.
Dada Soraya berdebar-debar bahagia, akhirnya menikah juga dengan pujaan hati yang selama ini ia tunggu dan sulit ia dapatkan setelah meninggalkan.
Hampir saja Viona beranjak dan meninggalkan tempat tersebut kalau tak di tahan oleh Alisa. "Aku tidak tahan Al, setidaknya kalau kau masih mau di sini. Biarkan aku pergi."
__ADS_1
"Vi, Vi. Saya yakin kalau Fatir tak akan menyakiti mu, Vi percaya deh." Suara yang keluar dari mulut Darma yang baru saja datang ke tempat itu.
Viona dan Alisa menoleh pada sumber suara yang berasal dari Darma. Alisa tersenyum pada sang suami yang menuruti permintaannya tuk datang.
"Mas, akhirnya kamu datang juga." Sapa Alisa mengulas senyuman.
"Lihat saja endingnya gimana, oke?" Gumam Darma.
"Nak Darma, Oma benar-benar tak mengerti." Oma Yani menggeleng dan menolah pada Darma yang duduk terhalang oleh Viona dan Alisa.
"Sabar Oma. Kita lihat endingnya saja," sahut Darma.
Fatir berjabat tangan dengan walinya soraya. Pak penghulu kebingungan! sebenarnya mempelai pria nya yang mana?
Sementara Bambang tak pernah berkata sepatah pun. Ia dah pasrah yang penting ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bertanggung jawab, tentang hasilnya ia pasrahkan saja pada yang maha segalanya.
Bambang sudah capek dengan cemoohan dari Soraya yang jelas-jelas menolak mentah-mentah dirinya.
Ketika akad di mulai tangan Fatir mundur digantikan oleh tangan Bambang yang Fatir tarik dan Soraya baru menyadari itu ketika suara lantang Bambang mengucapkan ijab dan kabul yang bergema di seluruh tempat tersebut.
Semua yang menyaksikan terkaget-kaget. Heran luar biasa, yang mereka lihat dengan jelas tangan Fatir yang berjabat tangan dengan walinya si perempuan. Tapi yang mengucapkan ijab kabul adalah laki-laki yang berada di sebelahnya. Semua terhipnotis dengan suara lantang tersebut.
Lain lagi dengan Fatir, dia menghela napas panjang dan merasa lega. Bebas, lepas dari belenggu yang serasa menghimpitnya.
Betapa tercengangnya Soraya ketika itu. Mata nya melotot dengan sempurna dan mulutnya terbuka. Rasanya tak percaya, baru saja terlintas di pikirannya dan rasa bahagia yang tak terhingga detik-detik dimana ia akan menjadi istri seorang Fatir.
"Sah?"
"Sah ...."
"Alhamdulillah ..."
Fatir menatap ke arah Viona dan melukiskan senyumannya yang indah. Keduanya saling pandang meski dalam kejauhan.
"Tidak, aku tidak mau!" mata Soraya bergerak ke semua orang lalu berdiri, berbalik dan berlari membawa hatinya yang terluka. Soraya tak bisa terima kenyataan kalau kini ia sudah menjadi istri Bambang, pria yang sangat dia benci.
Pun Bambang segera berdiri lalu menyusul Soraya yang berlari sambil menangis.
Fatir hanya memandangi. Biarlah sekarang Bambang yang urus Soraya apapun dan bagaimanapun yang terjadi. Ia berdiri berjalan ke arah Viona yang masih mematung di tempat.
__ADS_1
Langkah Fatir terhenti tepat depan Viona dan langsung disambut oleh Darma.
"Ulah mu bikin jantung kami hampir copot bro. Kami mengira kalau kamu jadi menikah yang ke dua kalinya bersama Soraya." Darma memeluk dan mengusap punggung Fatir. Lalu melepas pelukan dan memberikan senyuman bangganya.
Viona berdiri dan menatap lekat ke arah Fatir. Keduanya bersitatap saling pandang satu sama lain dengan tatapan yang begitu lembut. Walau manik matanya Viona masih meneteskan air mata namun rasanya lain dari tadi. Kini yang jatuh itu air mata bahagia sebab ternyata endingnya tidak seperti yang Viona bayangkan.
"Apa kau masih tidak mempercayai ku?" ucap Fatir dengan tatapan yang terkunci ke arah Viona.
Helaan napas Viona tampak jelas dan membuang dengan pelan. Seraya menggeleng pelan kemudian menyeruak ke dalam pelukan Fatir. "Aku ndak mau kehilangan kamu, Mas." Tepat di dekat telinganya Fatir.
"Siapa yang ingin kehilangan mu juga sayang? aku sangat menyayangi mu. Percaya padaku! selalu." Balas Fatir sambil membalas pelukan Viona yang erat.
"Kamu jahat, buat aku menangis. Buat aku kecewa." Viona menepuk punggung suaminya.
"Maaf sayang." Balas Fatir terbilang singkat dengan masih memeluk tubuh sang istri.
"Oma hampir saja jantungan, saya benar-benar kecewa sama kamu. Kalau saja kau benar-benar menduakan Vi. Awas saya bejek-bejek tubuhmu, bukan cuma itu saja yang akan saya lakukan! saya akan membuat senjata mu mati selamanya." Umpat Oma Yani.
Spontan Darma memegang alat suntuknya sendiri. "Waduh, takut tuh Oma serem banget. Aku yang ngeri Oma, jangan dong Oma ... kasian, nanti Viona gak bisa pakai dong. Oma ndak kasian sama cucu Oma satu-satunya itu?" Darma menatap Oma Yani.
Fatir dan Viona tersenyum simpul mendengar ocehan Oma Yani, kemudian keduanya memudarkan pelukan yang semula sangat erat.
"Jangan dong Oma, nanti saya gak ada cadangan lagi. Selain satu-satunya ini." Wajah Fatir memelas namun tertawa lepas.
"Apaan sih?" Viona mengedarkan pandangan pada Darma yang ikut tertawa pada Fatir. Kemudian melihat Oma dan Alisa. "Pulang yu? sudah selesai juga."
Fatir menggandeng tangan Viona erat. Sesekali meremas jarinya dengan gemas, netra matanya terus memandangi wajah Viona yang tampak sumringah.
"Ayo, Oma mau di bikin kan pisang krispi sama ... sup buah buatan Fatir sendiri." Oma Yani berdiri dengan Alisa.
"Tapi Oma, kalau pisang dan sup buah itu pegangan yang lain. Aku mie aja pegang nya." Timpal Fatir.
"Saya tidak mau tahu, kamu ya? sudah buat saya jantungan dengan tingkah mu itu," Oma Yani menunjuk ke arah Fatir.
"Iya, maaf Oma. Maaf ... bukan disengaja!" Fatir memohon maaf pada Oma Yani sembari meraih tangan dan mencium punggungnya penuh hormat.
"Yo wes ... saya maafkan. Ayo saya lapar, siapkan sesuai yang Oma pinta," tutur Oma Yani.
Ketika mereka mau pulang terdengar suara orang-orang dari dalam yang menjerit ....
__ADS_1
****
Makasih sudah mengikuti setiap karya ku🙏