
''Ternyata ini usahanya suami seorang CEO ... cuma jualan kecil-kecilan begini? apa mampu ya memberikan hak yang layak pada istri." Dewo menggeleng sambil bertepuk tangan.
"Apa urusan mu? saya mau usaha apa yang penting halal, dan tak minta-minta sama orang." Jelas Fatir.
"Ha ha ha ... miskin aja belagu, ups lupa. Sekarang kan sudah jadi suami CEO yang kaya raya, bener-bener, bener. Lupa." Dewo tergelak tawa, menertawai Fatir.
"Anda ke sini itu mau beli jualan saya atau mau apa?" Fatir menatap tajam ke arah Fatir.
Dewo berjalan mondar-mandir dengan tangan melipat di dada memperhatikan Fatir yang melayani pelanggan. "Saya penasaran. Kamu pake pelet apa sih? kok bisa gitu Viona mau sama kamu, apa sih yang layak di harapkan dari laki-laki macam kamu?"
Fatir memejamkan matanya. Terlihat rahangnya mengeras menahan kesal, menerima hinaan dari Dewo.
Dewo terus mengoceh. Sampai dia bilang kalau Fatir mencicipi duluan, makanya menikah pun terbilang dalam waktu begitu singkat.
Hampir semua anggota tubuh Fatir bergetar, gatal ingin melakukan sesuatu yang dapat menghentikan ocehan Dewo.
"Bilang sama saya hi ... kau sudah tiduri dia kan? sebelum menikah. Makanya ia mau menikahi mu orang miskin." Tangan Dewo sedikit mendorong bahu sebelah kanan Fatir. Dewo jengah omongannya tak Fatir gubris.
"Itu urusan saya, mau hitam mau putih dia istri saya. Mau saya tiduri sebelumnya atau sesudahnya itu hak saya, anda bukan siapa-siapanya Viona." Jawaban Fatir dengan tenangnya.
Kalau saja siang hari. Pasti wajah Dewo terlihat berubah merah. Menahan rasa marah. "Dengar ya? seharusnya yang menjadi suami Viona itu saya, bukan kamu." Menatap sangat tajam.
"Hem, saya tidak perduli. Sebab yang penting sekarang ini sayalah yang jadi suami Viona. Jelas Tuan Dewo. Pilihan pak Rusadi yang sama sekali tidak Viona lirik sedikitpun." Fatir menyunggingkan bibirnya.
Fatir memunggungi Dewo yang tersulut emosinya. Tangan yang di kepalkan melayang berniat memukul leher belakang Fatir, namun dengan gesit Fatir menghindar dan menangkap pergelangan Dewo dengan sedikit dipelintir, Fatir mengunci tangan Dewo di punggungnya sendiri.
Dewo nyengir, meringis kesakitan. Dengan cepat Dewo berniat menendang ke belakang tujuan kaki Fatir, namun lebih kalah cepat dengan gerakkan Fatir yang menghindar.
"Jangan main-main dengan saya. Sebab saya juga bisa bertindak lebih kasar dari anda." Fatir menghempaskan tangan Dewo.
Dewo semakin marah. Sambil menunjuk ke arah Fatir, Dewo berkata. "Tunggu pembalasan dari saya."
Kemudian Dewo menjauh dan memasuki mobilnya. Meninggalkan tempat Fatir. Fatir tertegun melihat melajunya mobil Dewo tersebut.
Setelah dagangannya habis. Fatir beres-beres dan menyimpan barang-barang ke rumahnya.
Adam pun sudah pulang, membawa barang-barang sisa ke rumah. "Mas mau kemana?"
"Mau ke tempat Viona." Jawabnya. Sambil mengenakan helmnya.
"Nggak makan dulu Mas?" tanya Sidar menatap sang kakak.
"Nggak. Oya masih ada bahan-bahan di dapur." Fatir balik bertanya.
"Eh ... beras, dan lauk nya masih ada Mas." Balas Sidar kembali.
"Ya, sudah Mas pergi dulu." Sambil melajukan motornya untuk menuju pulang ke rumah Viona.
Motor Fatir membelah jalanan menembus kegelapan. Berlari di bawah hitamnya langit yang tak berbintang itu. Terus saja berlari menyusuri jalanan. Selang beberapa waktu motor Fatir tibalah di depan gerbang rumah Viona.
"Malam Tuan muda?" scurity mengangguk hormat pada Fatir.
Fatir bengong. "Tuan?" kepalanya menggeleng, namun tak lupa tuk membalas sapaan scurity tersebut dengan senyuman.
Fatir melangkahkan kakinya yang lebar masuk rumah yang terasa sepi. "Oma belum tidur? jam segini." Melirik jam di tangannya.
"Anak muda, kau baru pulang? Oma belum tidur masih ada kerjaan." Membuka kaca mata bacanya.
__ADS_1
Fatir mencium tangan Oma Yani yang sedang sibuk dengan berkas-berkas di meja dan pangkuan. "Sudah malam Oma, baiknya istirahat dulu. Besok kan bisa dilanjut lagi."
Tanpa menunggu jawaban. Fatir mengambil berkas dari tangan Oma Yani dan membereskan dengan yang lainnya. Membantu berdiri dan menuntunnya ke kamar. Oma Yani termangu mendapat perlakuan Fatir padanya.
"Oma itu masih banyak kerjaan anak muda."
"Bisa besok Oma ... sudah malam. Sudah waktunya istirahat." Fatir membaringkan Oma di tempat tidurnya. Menyelimuti sampai bahu.
Berkas Fatir simpan di atas nakas. "Oma ada cucu, kenapa gak minta tolong sama dia, jangan ngerjain sendiri. Oma itu sudah sepantasnya istirahat."
"Ah kamu ini, Viona itu sibuk ... apalagi mulai sekarang dan ke depan nya dia memegang perusahaan dari pusat sampai cabang-cabang nya itu Vi yang nangani. Dan ini tugas Oma yang terakhir," ujar Oma Yani.
Fatir duduk di kursi dekat meja, tangannya mengambil sebuah berkas lantas di bukanya sebentar. "Sudah Oma tidur aja ya! besok dilanjut lagi kerjaannya." Fatir kembali menyimpan berkas yang tadi ke tempatnya.
"Sudah. Kau naik sana? istri mu pasti sudah menunggu. Oya jangan lupa kau makan dulu," perintah Oma Yani.
"Nggak mungkin dia menungguku. Yang ada tak menginginkan ku Oma." Batinnya Fatir sambil berdiri.
Lantas Fatir berjalan dan menutup pintu kamar Oma dan menaiki anak tangga menuju kamar Viona.
Setelah masuk. Matanya langsung mendapati Viona yang sedang berkutat dengan laptop di pangkuan. "Belum tidur?"
"Sudah. Ini lagi tidur!" jawabnya singkat.
Senyum Fatir mengembang. Kemudian bergegas ke kamar mandi.
Mata Viona bergerak melihat ke arah Fatir yang mau ke kamar mandi. "Belum mandi?"
"Belum," jawabnya sambil berdiri tanpa menoleh.
Tidak lama Fatir kembali hanya mengenakan handuk. Menoleh pada Viona yang masih sibuk dengan laptopnya. "Pakaian ku di mana?"
Kepala Viona bergerak melihat ke arah Fatir yang detik kemudian memalingkan pandangannya kelainan arah. "Itu di lemari."
"Em ... Ndak apa-apa kalau saya membukanya?"
"Buka saja." Jawab Viona tanpa melihat sedikit pun.
Setelah membuka lemari dan mencari pakaiannya, Viona mengintip sebentar. "Mau tidur pakai piyama."
Fatir membalikkan badannya. "Emang kenapa kalau kaos? sama aja, lagi pula saya juga terbiasa gak pakai baju kalau tidur."
"Apa gak pake baju?"
"Iya," singkat Viona.
"Di sana mungkin panas gak ada AC. Di sini kan sejuk." Tambah Viona.
"Baiklah Non," gumam Fatir tangannya mengambil piyama yang menggantung. "Perasaan saya gak punya piyama ini, dari mana?"
"Itu punya Papa ku," ekor mata Viona mendelik. "Beli lah. Masa bekas."
"Oh, makasih?" ucap Fatir tersenyum.
"Jangan GR ya? aku bukannya perhatian tapi aku gak mau ya kamu itu kucel, apalagi ketika ada di sini." Ketus Viona.
Wajah Fatir yang tadi sumringah berubah drastis. "Oke."
__ADS_1
Kedua netra mata Viona begitu serius pada layar laptop miliknya. Dengan duduk bersandar dan kaki selonjoran.
"Oya, kakinya masih sakit?" selidik Fatir baru ingat kalau kaki Viona tadi lecet.
"Sudah pake salep tadi."
"Masih pegal?" tanya Fatir kembali.
"Bi Ijah lagi pulang," sahutnya dingin.
"Saya bisa pijit, mau saya pijit?" tawar Fatir.
Viona menoleh sesaat. "Emang bisa?"
"Bisa. Lalu Non mau saya pijit."
Viona berpikir sejenak sambil memicingkan matanya sebelah. "Nggak modus kan?"
"Modus? maksudnya! buat apa modus, saya gak berani," lirih Fatir sambil berbaring dan memunggungi Viona.
"Katanya nawari pijit, tapi malah tidur gimana sih?" gumamnya Viona pelan.
Mendengar gumaman Viona, bibir Fatir menyunggingkan senyuman. "Nggak bilang mau, ya sudah saya tidur." Memejamkan mata dengan bibir terus mengembang.
"Iih ... aneh." Viona merubah posisi duduknya sedikit memunggungi Fatir. Hatinya merasa kesal.
Dengan cepat Fatir bangun, duduk bersila menghadap wanita yang cantik dan mengurai rambutnya itu. Saat ini Viona mengenakan piyama pendek, sehingga mengekspos kakinya yang jenjang itu. Tangannya Fatir bersiap memijit kaki Viona.
"Deh ... mau apa?" tanya Viona.
Fatir menatap heran. "Loh, kan mau di pijit bukan?"
"I-iya."
"Makanya jangan banyak tanya." Fatir perlahan menyentuh kaki Viona di pijitnya pelan.
Viona menatap Fatir. "Enak juga pijitannya nih orang," batin Viona lalu menoleh ke lain arah.
"Jangan menatap begitu nanti jatuh cinta." Bibir Fatir menyunggingkan senyuman.
"Ih, Oo ... gak bakalan." Viona dengan yakinnya.
"Jangan yakin gitu. Nanti berubah loh ..." ucap Fatir sambil senyum manis.
"Yakin lah, gak ada ruang buat yang lain, apalagi kamu. Kamu juga, jangan suka senyum-senyum gitu. Suka ya sama aku?" balas Viona memanyunkan bibirnya.
"Nggak janji!" timpal Fatir sambil tetap memijat kaki Viona yang mulus dan tak terhalang kain apa pun.
"Nggak janji apa?" selidik Vina.
"Tiada satu pun yang tahu tentang hari esok. Sebesar apapun rasa cinta kamu sama mantan, kalau Allah berkehendak. Pasti akan berubah juga, bisa dalam sekejap anda mencintai seseorang, kan gak tahu." Fatir mengangkat kedua bahunya.
Tiba-tiba ponsel Fatir berbunyi. Keduanya saling tatap dengan pertanyaan dalam hati, siapa yang malam-malam begini hubungi Fatir ....
****
Aku ucapkan makasih pada yang sudah membaca novel ku ini, jangan lupa like dan komennya🙏
__ADS_1