Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Aku bingung


__ADS_3

"Hi, Vi gimana kondisi mu?" suara Rumi yang muncul dari balik pintu, menatap kearah Viona.


"Baik, Mbak Rumi," jawab Viona dengan nada dingin.


Rumi berjalan maju menghampiri Viona. "Vi, saya butuh uang dong," ucap Rumi tanpa segan.


Semua yang ada di sana memandangi Rumi. Darma dan Alisa merasa heran, kok kakak nya Viona yang ini kerjaannya cuma minta dan minta.


Termasuk oma Yani yang baru masuk mengikuti Rumi. "Uang buat apa? kau juga kerja, jangan minta-minta."


"Oma, Viona adik aku. Wajarlah kalau aku minta sama dia. Lagian gak akan habis kok uangnya Viona kalau cuma transfer 3 juta aja," ujar Rumi sambil mendelik dan berdiri tidak jauh dari Viona.


Viona meraih ponselnya dari tas. "Sudah ku transfer."


"Makasih." Suara singkat Rumi sambil berlalu toh dah dapat uang yang jadi tujuannya.


Bu Asri dan oma Yani menggeleng pelan, matanya menatap kepergian Rumi.


"Dasar, jangan terlalu di turuti Vi. Biarkan saja orang kerja kok, ke enakan." Gerutu oma Yani.


Viona menyandarkan kepalanya di bantal yang sudah ia susun.


"Eh, Oma itu mau panggil kalian makan di bawah yu?" oma Yani mengajak semuanya makan malam.


"Vi gak lapar Oma, atau suruh bi Ijah bawakan ke sini aja. Vi malas turun. Apalagi ada mereka." Viona menggeleng.


"Ya ... udah, nanti Oma suruh bi Ijah bawa ke sini." Oma Yani beranjak dari duduknya.


Alisa pun turun. "Oke, kami pulang dulu ya. Besok datang lagi ke sini, gak masuk kerja, kan?


Viona menggeleng. "Nggak."


"Kalian mau ke mana? makan dulu." Oma Yani memegang tangan Alisa.


"Mau pulang, Oma. Besok kami datang lagi kok." Alisah berpamitan pada oma Yani. Bergantian dengan Darma.


"Kasian baby di rumah, Oma." Darma berjalan setelah berpamitan.


"Oh, baiklah." Oma Yani mengangguk.


"Yu, calon manten. Kita pulang dulu." Alisa mencium pipi Viona kanan dan kiri.

__ADS_1


"Oke," sahut Viona.


Alisa dan suami, diikuti oleh oma keluar dari kamar Viona. Tinggallah Viona sendiri, Tidak lama bi Ijah membawa makan malam buatnya. Setelah itu Viona mencoba memejamkan mata kembali.


Malam semakin Larut, Viona berbaring dengan gelisah. Tidak bisa tidur lagi sekejap pun. Sampai pagi menjelang Viona terus terjaga. Membuat wajahnya terlihat pucat.


Ibu dan omanya tampak cemas melihat kondisi Viona saat ini. "Kok Vi tambah pucat sih?" tutur bu Asri.


"Iya, Vi kerumah sakit ajalah kalau begitu, Ibu jadi tambah cemas lihat Vi macam ini." Tambah oma Yani.


Seraya menghela napas Viona berkata. "Vi, semalam gak bisa tidur Oma, Mah ... nanti juga kalau sudah di tidurkan pasti segar lagi."


"Sudah diminum obatnya?" tanya bu Asri kembali.


"Sudah Mah."


Di rumah itu sudah mulai memasang dekoran. Dihiasi bunga-bunga yang cantik dan dominan berwarna putih dan ping. Kesukaan Viona.


"Oma, tidak suka dengan anak-anak mu Asri, mereka pada sok dan dan gak punya sopan santun." Celetuk oma Yani.


Bu Asri menoleh, menatap datar sama sang bunda. "Gimana lagi? sikapnya dari dulu gak mau berubah," lirihnya bu Asri pada oma Yani.


Viona beberapa kali menguap. "Vi, tidur dulu ya, Mah. Oma, jangan mikirin orang kalau bikin pusing. Bawa santai aja." Kemudian memejamkan matanya sambil memeluk guling.


"Baiklah sayang. Tidur yang cukup ya? biar kesehatan mu lebih meningkat," ucap sang bunda.


"Untungnya, cucu ku ini tidak seperi itu." Gumamnya oma Yani. Kemudian keduanya meninggalkan kamar Viona.


****


Di rumah sakit, Fatir tengah duduk di dekat Hesya, sang adik yang masih di rawat. Di hadapannya sang ibu yang selalu setia menemani Hesya.


"Viona sedang kurang sehat, Bu." Kata Fatir sambil menyuapi Hesya jeruk.


"Huolah ... sakit apa Nak Viona nya? tapi tadi pagi Ibu dapat paket makanan dari Nak Viona katanya."


Fatir menatap sang bunda lama. Kemudian berkata. "Cuma kelelahan aja kali, Bu."


"Semoga cepat sembuh aja. Gimana kata dokter? apa Hesya bisa di ajak keluar sebentar, menghadiri acara kamu Nak, besok! dalam keadaan Sya yang masih seperti ini." bu Afiah menatap haru sang putra yang akan melaksanakan akad. Dan akan menanggung sebuah tanggung jawab sebagai suami.


Fatir terdiam sambil memetik-metik jeruk. "Sepertinya Sya gak bisa ikut, biar dia di jaga suster aja dulu. Banyak perawat kok, Ibu ikut dengan ku, setelah akad Ibu boleh balik ke Rumah sakit diantar Adam atau Sidar," ujar Fatir.

__ADS_1


"Apa benar Mas mau menikah? tapi sama siapa? bukankah Mas belum ada biaya untuk menikahi mbak Raya? tanya Hesya mendongak pada mas nya.


Dengan tatapan lembut, Fatir mengangguk. "Benar, Mas mau menikah. Doakan ya? coba Sya dah agak baikan. Pasti menghadiri, jadi saksi pernikahan Mas." Fatir menelan saliva nya. Sedih adik bungsunya sudah tentu tak akan menyaksikan dirinya menikah.


"Dengan siapa Mas?" Sya kembali bertanya. "Oh, Sya tahu pasti dengan mbak cantik dan baik itu ya?"


Lagi-lagi Fatir mengangguk, tangannya mengusap kepala Sya dengan penuh kasih sayang.


"Aku senang deh, secara mbak cantik itu kan baik." Tambah Hesya.


Bu Afiah tersenyum mendengar perkataan dari Sya. "Semoga mbak nya sehat selalu dan makin lancar rejeqinya pula."


"Aamiin," ucap Semuanya.


"Nak, apa benar kamu sudah mendapat hadiah pernikahan? Adam bilang seperti itu," tanya bu Afiah.


"Iya, Bu. Benar, kadang aku malu terus-terusan di kirim barang. Ponsel mereka Adam dan Sidar. Belum lama ini Viona mengirim satu set meja makan dan satu set sofa--"


"Oh, iya ... Sidar yang cerita katanya di rumah ada sofa baru yang empuk nya seperti sofa di sini. Iya, Ibu baru ingat. Ibu harap, jangan sekali-kali buat dia kecewa. Kasihan."


"Nggak tahu, Bu. Aku bingung, gimana dengan Soraya? Ibu tahu kami sudah hubungan cukup lama bertahun-tahun." Keluh Fatir.


"Pilihlah satu, Nak ... jangan bikin repot sendiri. Tapi sekarang sudah nanggung dengan pernikahan yang tinggal menghitung waktu ini, Tentunya pilihan harus jatuh pada Viona," ujar bu Afiah.


"Tapi, Bu ... aku gak mencintai dia." Fatir menoleh sang adik yang sudah tertidur.


"Cinta itu bisa tumbuh dengan sendirinya, dengan seringnya bersama serta seiring waktu. Ibu juga dulu gak cinta sama bapak mu Nak ... namun pada kenyataannya dengan hati ikhlas dan juga membuka hati, dan seringnya bersama timbul lah rasa sayang dalam hati kami. Begitupun kalian. Ibu sangat berharap Fatir jangan permainkan pernikahan. Jadilah suami yang bertanggung jawab," pesan sang Ibu.


"Jujur, Aku bingung." Tambah Fatir.


"Ibu, tahu kamu melakukan ini karena kamu gak enak dengan kebaikan Viona yang bersedia membiayai adik mu di rawat. Tapi Ibu yakin kalau suatu saat nanti kamu akan mencintainya. Ibu yakin itu, Nak!" sambung bu Afiah lirih serta mengusap punggung Fatir lembut.


Kemudian Fatir pun berpamitan, mau menyiapkan diri tuk hari esok yang akan menjalani ritual sakral. Ia berjalan melewati lorong rumah sakit. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, rupanya Soraya yang menelpon dan minta di datangi.


Ia melihat putaran jam yang di tangannya baru menunjukkan pukul 20.wib. "Huuh." Fatir membuang napasnya. Kemudian bergegas menghampiri motornya di parkiran, Tidak membuang waktu lama Fatir segera melajukan motornya ke rumah Soraya.


Sekitar 30 menit kemudian. Akhirnya sampai juga di tempat tujuan, Fatir berdiri di depan pintu. Baru saja mau mengucap salam, pintu sudah terbuka dan muncullah seseorang dari balik pintu ....


****


Dengan harap-harap cemas. novel ini bisa diterima di hati reader semua. Mohon dukungannya🙏

__ADS_1


__ADS_2