Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Tega


__ADS_3

"Aku, aku bisa jelaskan Raya." Tegas Fatir.


Viona bengong dan memandangi ke arah wanita yang memakai rok selutut itu.


"Jelaskan apa Mas, sudah jelas di depan mata kamu bermesraan dengan wanita ini. Kamu itu bilangnya sibuk cari duit. Tapi nyatanya apa Mas ha? kamu sibuk dengan wanita ****** ini ya?" teriak Soraya tak peduli jadi bahan perhatian pengunjung di sana.


"Pelankan suaramu malu!" pinta Fatir mengajaknya duduk bergabung dengan Viona namun Soraya menolak dia tetap berdiri tampak angkuh.


"Eh, wanita perebut suami orang, dia ini calon suami ku. Perlu kamu tahu kami sudah hubungan bertahun-tahun." Soraya menunjuk ke arah Viona.


"Saya!" Netra mata Viona menatap ke arah Fatir yang terdiam.


Fatir kemudian menarik tangan Soraya agar menjauh. "Aku mau bicara."


"Bicara aja di sini, aku mau dengar di sini. Tidak perlu mengajak ku pergi menjauh." Ketus Soraya yang kini terbakar dengan api cemburu.


Fatir menghela napas dalam. Sampai akhirnya ia duduk dan berkata. "Duduklah."


"Tidak mau." Soraya singkat dengan sorot mata begitu tajam pada Viona.


Viona tertegun ia kehilangan selera makannya yang tadi merasa begitu lapar.


"Wanita ini, sebenarnya istri ku--"


"Apa?" Soraya teramat kaget mendengarnya. Bagai mendengar guntur di siang bolong.


Plak!


Tangan Soraya dengan refleks menampar wajah Fatir, membuat Fatir memegangi pipinya yang lumayan terasa panas.


Viona terkesiap melihat Fatir di tampar Soraya. "Kenapa kau tampar dia? kasihan." Viona melihat ke arah Soraya yang sudah dikuasi amarah.


"Apa Mas bilang dia istri kamu? istri dari mana? kau lupa dengan hubungan kita ha?" suaranya bergetar dan lutut pun lemas.


"Iya, wanita ini istri aku dan pernikahan kami di sahkan oleh agama dan negara," jawab Fatir sambil menahan sakit di pipi, dari ujung bibir keluar tetesan darah.


Viona tak tega melihatnya. Ia mengambil tisu dan mengelap ujung bibir Fatir yang berdarah itu.


Soraya tak terima Viona begitu perhatian sama Fatir. "Kamu gak usah sok perhatian sama calon suami ku." Pekik Soraya menepis tangan Viona dari wajah Fatir.


"Dia berdarah. Apa kamu gak kasihan sama dia yang katanya calon suami mu ha?" Viona tak mengindahkan perkataan Soraya. Ia teruskan membersihkan darah dari bibir Pria yang mengakui dirinya sebagai istri.


"Kamu itu cuma wanita baru dalam hidup Fatir. Dasar wanita penggoda calon suami orang," suara Soraya meninggi dan yang ada di sana kembali menoleh dan saling berbisik satu sama lainnya. Memandang rendah ke arah Viona.


"Di jaga ya tuh punya mulut. Aku tidak pernah--" Viona menggantungkan kalimatnya. Dalam hati menyadari kalau dialah yang meminta Fatir tuk menjadi suaminya. Viona menunduk tak ada guna melayani omongan Soraya.

__ADS_1


"Benar kan kalau kamu itu wanita penggoda dan merebut dari ku, harus kau tahu ya? Fatur itu sangat mencintai ku. Gak mungkin dia jatuh ke pelukanmu kalau kamu tak menjebaknya!" pekik Soraya.


"Cukup Raya. Cukup, malu." Sela Fatir. "Kamu gak tahu alasannya gimana? lagian kamu itu sudah aku putuskan tapi kamu gak mau, Raya," suara Fatir dengan nada rendah.


"Aku gak gak mau tahu alasan apapun. Dan aku gak mau putus sebab kita saling mencintai, itu kenyataannya." Balas Soraya dengan yakin.


"Tapi, sekarang Mas sudah menikah dan itu kenyataannya. Bukan main-main." Jelas Fatir berdiri di hadapan Soraya.


"Aku gak mau dengar apapun. Kamu itu milikku selamanya gak akan ada wanita yang bisa memiliki kamu Mas selain aku." Soraya kekeh.


"Ndak bisa, saat ini aku suami dia. Tolong mengerti."


"Kamu tega, kamu menyakiti ku Mas. Orang yang sudah tulus mencintai mu. Menemani mu dari berapa tahun lalu, kamu lupa sama janji kita Mas, hik hik hik." Akhirnya Soraya menangis juga sebagai luapan kekesalan dan amarahnya.


"Bukan maksud ku untuk menyakiti mu, Dulu aku mau menikahi mu, namun ayahmu gak mau kita menikah seadanya--"


"Tapi kan setelah itu Bapak menyetujui Mas. Dan sudah ku bilang itu sama kamu Mas." Soraya menatap tajam.


"Ketika kamu bilang itu, aku sudah tak pegang uang sama sekali dan aku sudah memberi kamu pilihan, silahkan menikah dengan pria lain. Sebab aku seorang yang punya banyak tanggungan. Belum tentu bisa membuat mu bahagia."


"Tidak, aku tidak mau menikah dengan yang lain selain kamu Mas. Hik hik hik." Soraya menggeleng kasar. "Sekarang aku minta sama kamu Mas. tinggalin dia. Aku bisa terima kamu apa ada Mas," memeluk tangan Fatir. Dengan suara memelas.


Deg!


Jantung Viona seakan berhenti berdetak ketika mendengar kata tinggalkan. Mata Viona menatap ke arah Soraya. "Bagaimanapun kami itu sudah menikah mbak. Jadi gak segampang itu juga, pastinya butuh proses buat kami mengurus semuanya."


Fatir dan Viona sama sekali tak menyangka kalau Soraya akan melakukan itu pada Viona setelah tadi menampar pipi Fatir.


"Soraya?" Fatir mengambilkan tisu untuk mengeringkan wajah dan baju Viona yang basah kuyup.


Soraya meraih tangan Fatir menjauhkannya dari Viona. "Sekarang kamu harus pilih satu diantara dua. Kamu pilih aku atau wanita ****** ini?"


Deg!


Hati Viona teramat sakit mendengar hinaan dan dipermalukan seperti ini oleh Soraya, ia berdiri dan menyambar tasnya. Menatap ke arah Fatir yang tampak bingung.


"Jawab Mas. Sekarang pilih aku atau wanita itu?" Kamu pasti pilih aku kan Mas?" sambil mendelik pada Viona.


Viona menatap tajam ke arah Soraya dan Fatir yang juga memandangi dirinya. Kemudian Viona pergi membawa hati yang sulit ia gambarkan, rasa sakit dan dongkol dalam dadanya serta rasa malu yang harus ia terima, tidak lupa membawa paper bag miliknya.


"Vi, tunggu?" Fatir berniat menyusul namun tangan si cengkram oleh Soraya.


Viona tak pedulikan suara Fatir yang menyuruhnya menunggu. Ia terus berjalan membawa hatinya yang luka. Matanya berkaca-kaca luapan dari perasaannya saat ini. Ia mengakui ini memang salahnya yang sudah mengajak Fatir menikah hanya untuk tujuannya walau menguntungkan buat keduanya. Viona mendapatkan seluruh warisan dari Oma nya dan kehidupan Fatir pun terangkat oleh adanya Viona.


"Mas jawab. Mas memilih aku kan?" tanya Soraya memalingkan wajah Fatir dari punggung Viona. Agar melihat ke arah dirinya dan dengan yakinnya kalau Fatir akan memilih dirinya, secara ia lah Cinta pertama dan terakhirnya Fatir. Pikirnya.

__ADS_1


Fatir menatap lekat Soraya, menangkupkan kedua tangan di wajah Soraya, sehingga Soraya merasa menang dan berada di atas awan. "Aku sangat mencintai mu. Tapi dia istri ku dan aku bertanggung jawab akan dirinya, lupakan aku! banyak pria yang akan lebih mencintaimu."


Fatir berlalu setelah meninggalkan uang buat bayar makannya bersama Viona. Kemudian ia membawa langkah lebarnya untuk menyusul Viona.


"Mas! Mas jangan pergi. Mas! kamu tega sama aku Mas." Pekik Soraya. Tangisnya pun pecah terdengar begitu pilu. Tubuhnya merosot ke lantai duduk simpul sambil terus menangis dan teriak-teriak memanggil nama Fatir.


Orang-orang melihatnya ada yang simpati ada juga yang menganggap itu berlebihan. Ada juga yang merekam sehingga di sebarkan di medsos dengan judul istri tua melabrak istri muda yang lebih cantik.


Ada juga yang ngasih judul "Suami dah bosan? istri tua di tendang" Dalam hitungan detik saja rekaman itu menyebar dan menjadi buah bibir. Dasar perebut laki orang. Gak ada laki-laki lain apa? yang lebih pantas, Istri tua aja yang kurang bening. Lihat saja istri muda begitu bening dan bohai. Dasar laki-laki tak tahu diri dan laki tak tahu bersyukur, itulah diantara komentar para netizen yang maha benar itu.


Viona duduk di mobil, mau bawa pun kuncinya di Fatir. Dia menangis sebagai luapan rasa kecewa dan luka di dada.


Tampak Fatir menyusul dan duduk di belakang setir. "Maaf perkataan Soraya tadi."


"Ndak apa-apa. Aku yang salah, aku memang penggoda. Berani merebut calon suami orang, tapi aku gak masalah kok bila kamu mau menikahi dia. Silahkan aja itu hak kamu, dan bila kamu mau cerai aku juga silahkan! aku gak keberatan. Gak ada masalah," ujar Viona namun hatinya bertambah sakit, seolah bertolak belakang dengan apa yang ia ucapkan barusan. Air matanya berjatuhan membasahi pipi.


"Suutt ..." telunjuk Fatir menempel di bibir Viona. "Jangan bicara apapun lagi. Kita pulang ya!" Jemarinya mengusap pipi Viona yang basah. Sorot matanya begitu lembut menatap intens pada Viona.


Viona tak bersuara lagi. Matanya terus memperhatikan ke arah Fatir yang nyetir.


Saat ini Fatir merasakan sesuatu gejolak yang sulit ia ungkapkan. Soraya adalah seorang wanita yang dari lama ia cinta, sementara Viona jelas-jelas statusnya istri sah baginya seseorang yang mengikatnya dengan janji suci yang tak mungkin ia ingkari. Sesekali Fatir melirik ke arah Viona yang juga terkadang melihat ke arahnya.


Wanita ini begitu baik pada dia dan keluarga, rasanya gak wajar bila harus meninggalkan dia hanya demi perasaan cinta pada sang kekasih yang belum tentu berjodoh.


Selang beberapa lama tibalah mobil di tempat parkir yang biasa. Keduanya turun, Fatir mengambil paper bag dari tangan Viona. Viona tersenyum melihatnya dan kemudian berjalan menyusul langkah Fatir.


"Ih, takut. Gelap banget." Gumam Viona sambil meraih tangan Fatir.


"Penakut!" suara Fatir pelan. sambil tersenyum.


Viona mencubit kecil tangan Fatir. "Bukan penakut tapi malu." Kilah Viona menarik bibirnya mesem.


"Sama aja." Sesampainya di rumah.


"Assalamu'alaikum, Bu. Vi bawakan baju baru buat kalian lho." Viona menghampiri bu Afiah dan anak-anaknya.


"Buat aku ada gak? Mbak cantik kenapa gak ajak-ajak aku sih!" Sidar bangun dari baringan nya.


"Oh, Lain kali aja ya. Emang mau beli apa sih? baju, sudah aku belikan." Timpal Viona.


"Ya ... cuci mata aja Mbak." celetuk Adam dari pintu kamarnya.


"Oh, oke. Tak aku kasih buat jalan-jalan." Viona merogoh tas dan mengeluarkan uang warna merah ia bagikan pada yang ada di sana, mereka begitu senang menerimanya. Kemudian ia pamit masuk kamar.


Viona berdiri menunggu Fatir selesai Solat, lalu Viona masuk dan duduk di tepi tempat tidur sambil menerima pesan dari seseorang yang membuat mata Viona terbelalak ....

__ADS_1


****


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Makasih sudah mampir jangan lupa dukungannya 🙏


__ADS_2