Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Hancur


__ADS_3

Fatir terdiam menatap intens wajah Viona dan ia kira Viona terbangun, Namun ternyata cuma ngigau saja terlihat dari matanya yang tidak terbuka sedikitpun. rangkulan tangan di pundaknya pun perlahan memudar.


Bibir Fatir tersenyum lucu. Kemudian menggerakkan matanya pada selimut lalu menariknya menyelimuti tubuh wanita yang sudah berapa hari ini tidak bertegur sapa.


Jemari Fatir menyingkirkan anak rambut yang menghalangi kening Viona lantas dengan lembut Ia mengecupnya hangat.


Detik kemudian ia berjalan keluar kamar menuju dapur menghampiri meja makan. Seperti biasa di meja tersedia masakan Viona yang kini sudah terbiasa dengan lidahnya, benar saja sudah tersedia hidangan untuknya.


Fatir langsung melahap hidangan yang ada sampai ludes. Selesai makan lanjut nyuci, kemudian bersiap tidur.


Ia berbaring di samping Viona yang tampak begitu lelap. Malam semakin larut dan suasana semakin dingin menyelinap ke dalam kulit. Menembus ke dalam tulang.


Tubuh Viona merapat ke tubuh Fatir yang memunggungi. Merasakan pergerakan Tubuh Viona akhirnya Fatir merubah posisi dan berhadapan dengan Viona yang begitu dekat dengan dirinya.


Netra mata menatap wajah yang tampak cantik meskipun tanpa polesan sama sekali. Bruk! tangan Viona memeluk pinggang Fatir yang berhadapan dengannya.


Bibir Fatir mengulas senyuman lalu kembali memejamkan matanya. Sekitar pukul 03.00 Fatir terbangun dan bergegas ke kamar mandi tuk bersih-bersih.


Viona yang sengaja memasang alarm agar dia terbangun, dikala Fatir sudah bangun dan sebelum pergi kembali. Viona menggosok matanya dan menoleh ke arah kamar mandi yang terdengar suara air keran yang mengalir, dia yakin kalau Fatir sedang mandi di sana. Ia menggeliat nikmat.


10 menit kemudian Fatir keluar dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Sejenak kedua pasang mata mereka bertemu, Fatir segera mengalihkan pandangan dan berjalan ke arah lemari tuk mengambil pakaiannya.


"Kenapa selalu terlalu larut malam pulangnya? apa sesibuk itukah kerjaan mu sehingga setiap hari kita tidak bertemu." Viona menatap ke arah Fatir yang memunggungi.


"Iya, sibuk." Jawab Fatir Singkat.


"Sesibuk itukah? kenapa juga gak pernah mengantar ku ke kantor!" sambung Viona kembali.


"Kan bisa pergi sendiri ... lagian kalau aku antar terus takut mengganggu, mungkin saja kamu pengen ketemu sama siapa gitu. Jadi biar aja, kamu pergi sendiri." Jawab Fatir sambil mengenakan kaosnya.


"Apa maksudmu? kamu curiga sama aku! tiap pagi aku nunggu kamu pulang, walau untuk sekedar mengantar aku pergi kerja," ungkap Viona.


"Aku pernah datang ke kantor untuk menjemput mu, tapi kata Alisa kamu sedang keluar dan katanya sedang ada urusan dengan seseorang."


"Kapan, kan bisa telepon?" suara Viona lirih.


"Entah hari apa aku lupa,"

__ADS_1


"Oh ... aku sudah resign dari tempat kerja aku yang itu, sekarang aku lebih fokus di kantor pusat. Jadi nggak di sana lagi." Lanjut Viona.


"Oh aku nggak tahu, lagian kamu nggak pernah cerita," ucap Fatir sambil mengambil sebuah kemeja dari lemari.


Viona turun dari tempat tidur dan berjalan mendekati Fatir yang sedang berdiri mengancingkan kemejanya. "Apa kamu masih marah sama aku?" tanya Viona.


"Marah! enggak, emang kenapa?" Fatir menunduk dan memalingkan muka dari tatapan Fiona.


"Buktinya, kamu nggak mau menatapku. Itu berarti kamu masih marah sama aku!" Viona menatap sendu dan tangannya membantu mengancingkan kerah kemeja Fathir.


Kemudian Fatir membalas tatapan Viona yang sendu itu, dengan tatapan yang lekat dan tersimpan rasa yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Keduanya bersitatap, berbicara tanpa kata mengungkapkan rasa melalui mata, lalu tangan Fatir membelai halus pipi Viona.


Tatapan Fatir terus mengarah pada bibir Viona yang selalu menggodanya, yang membuat dia sulit untuk menahan diri. Ia mengangkat dan menempelkan telunjuknya mengelus lembut bibir itu, Viona hanya menatap dan merasakan gugup ketika telunjuk tangan patir menyentuh bibir tersebut.


Fiona menjadi salah tingkah, namun kedua tangannya malah merangkul leher Fatir dan tubuhnya semakin mendekat, kedua tangan petir bergerak menangkup kedua pipi Viona dan bergerak mengelus halus. Tampak jelas dari sorot mata keduanya bahwa ada sebuah gelora yang menginginkan sesuatu, darahnya mengalir deras dan berdesir hangat. Tatapan keduanya yang sendu dan mulai berkabut.


Fatir seakan tak bisa menahan diri lagi, melihat bibir Fiona yang merah natural tampak ranum dan melambai untuk ia dekati dan ia lahap, kedua netra mata Viona terpejam seolah menunggu dan pasrah. Wajah Fatir semakin mendekat dan tak ayal bibir keduanya menyatu.


Viona memejamkan matanya semakin kuat menikmati sentuhan hangat yang patir berikan, s****** lembut yang menghanyutkan dan bikin hati keduanya melayang jauh. Membuat keduanya terhanyut dalam suasana dingin dan kehangatan dari bibirnya masing-masing.


Tangan kanan Fathir menarik tengkuk Viona untuk memperdalam ciumannya. Sementara tangan yang kanan memeluk punggung Viona sehingga tubuh keduanya begitu rapat, sampai tak ada celah sedikitpun untuk sekedar angin lewat.


Sejenak Fatir melepaskan kecupannya. Agar keduanya bisa menghirup oksigen yang terbuang begitu saja dan beberapa saat kemudian ia kembali mendekati wajah Viona dan menyatukan lagi bibirnya dengan bibir Viona yang semakin basah menggoda.


Kali ini sentuhannya semakin memanas sehingga Fathir tidak bisa mengontrol dirinya lagi, tanpa di suruh. Tangan Fatir menyapa salah satu bukit yang indah, yang Viona miliki.


Viona tidak berani membuka mata dan ia sibuk dengan detak jantungnya yang berdegup kencang bahkan seolah mau lompat dari tempatnya.


Dadanya naik turun dan napas pun kian tak beraturan. Sekarang Viona pasrah bila harus menyerahkan kesucian nya saat ini juga.


Fatir menyeret langkahnya otomatis tubuh Viona pun terseret ke tempat tidur dan perlahan Fatir mendorong tubuh Viona berbaring dalam kungkungan tubuhnya yang tegap. Tangan Viona perlahan membuka kancing kemeja Fatir yang baru saja dipasangkan.


Waktu sudah menunjukkan hampir jam 4 pagi, lalu Fatir tersadar kalau sesungguhnya dia itu harus pergi ke pasar, sontak melonjak bangun dan merapikan pakaiannya. Seketika kedua mata Viona terbuka dan bangun, ia kira kelanjutannya akan terjadi sesuatu yang akan menebarkan hati, ternyata jauh dari ekspektasi nya Fatir melenggang pergi tanpa mengucapkan sesuatu apa pun.


Viona heran seraya memanggil. "Mas mau ke mana? jangan pergi dulu apa nggak bisa perginya nanti?" kata-kata itu lolos keluar dari bibir Viona tanpa sadar.


Fatir yang sudah hampir melintasi pintu berbalik badan. "Tidak bisa, aku sudah kesiangan. Maaf, aku pergi dulu." Cuman itu yang Fatir ucapkan seraya menutup pintu.

__ADS_1


Viona menatap kecewa punggung Fatir yang hilang dibalik pintu. Tangannya mengepal memukul kasur dan menggigit bibirnya kesal. Ia menjatuhkan tubuhnya memeluk guling, matanya berkaca-kaca dan menetes hangat ke guling.


Dia menangis tersedu ada rasa dongkol dan menyiksa hati. Ingin menjerit meluapkan sesak di dadanya.


Sementara Fatir yang bergegas berjalan menuju motor yang terparkir di tempat. Perasaan Fatir berkecamuk tak tentu rasa. Sebuah dorongan yang meluap-luap harus ditahan lagi dan lagi. Sejenak ia berdiri menetralisir perasaan nya saat ini.


Kemudian Fatir menaiki sepeda motornya. Setelah mengenakan helm Fatir melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sangat tinggi.


****


Hari-hari Soraya mengurung dirinya di kamar tanpa mau makan dan minum, kerjaannya cuman menangis dan menangis meratapi nasib bahwa kekasih hatinya telah menghianati. Bertahun-tahun menjalin hubungan dengannya namun pada kenyataannya dia malah menikah memilih wanita lain.


Betapa hancur, hatinya terluka. Kecewa, sesuatu perasaan tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Rasa cinta yang teramat dalam terhadap Fatir seorang pria yang menjadi kekasihnya bertahun-tahun lamanya, kini meninggalkannya begitu saja dan bahagia dengan wanita lain. Mungkin wajar kalau ia merasa terpuruk, begitu hancur dan seakan tak sanggup menghadapi hidup tanpa kekasihnya itu.


Orang tuanya begitu sedih melihat Soraya seperti demikian. Sulit dibujuk untuk makan, sulit dibujuk untuk keluar dari kamarnya. Kerjaannya cuma mengurung diri di kamar saja. Mereka berusaha menghibur namun semua sia-sia dia tetap kekeuh dan berkeras hati, kalau dia hanya ingin menikah dengan Fatir seseorang sangat amat dicintainya.


Orang tuanya berusaha menjelaskan, bahwa mungkin ini takdir dan mereka memang tidak berjodoh. Tapi omongan dari orang tuanya itu nggak masuk ke kepala Soraya, dia seorang bidan yang tenaganya dibutuhkan oleh masyarakat. Dalam berapa hari ini tidak bisa diganggu dan dibutuhkan tenaganya, Jangankan mengurus orang lain atau ibu yang melahirkan mengurus dirinya sendiri aja sudah tidak terurus.


Menjadikan orang tuanya bingung harus bagaimana cara membujuk anak wanita satu-satunya itu, bahkan Soraya sering berkicau bak burung yang bernyanyi. Kalau dia akan mencoba bunuh diri karena percuma hidup juga bila tanpa Fatir seorang pria yang menjadi kekasihnya sekian lama ini.


Kedua orang tuanya cuma bisa mengelus dada dan terus berusaha meyakinkan kalau suatu saat nanti Soraya akan ditemukan dengan pria yang lebih baik dari sosok Fathir.


Bu Siti duduk di tepi tempat tidur menatap putrinya yang tengah duduk memeluk lutut dengan tatapan kosong ke depan dan mata terus berkaca-kaca. "Raya ... mungkin memang kamu tidak berjodoh dengan Fatir dan kamu harus yakin, kalau suatu saat nanti akan ada sosok pria yang mencintaimu lebih. Pokoknya pria yang lebih baik dari sosok Fatir--"


"Aku tidak mau Bu. Yang aku mau itu mas Fatir seorang." Timpal Soraya tanpa menoleh sang bunda.


"Tapi dia sudah menikah sama wanita lain. Kamu jangan seperti ini terus, Nak ... tidak baik kamu harus menjalani hidup." Timpal Bu Siti menatap sedih.


"Tapi Fatir sangat mencintaiku, Bu, aku yakin dia menikah dengan wanita itu terpaksa! bukan karena cinta dan aku juga yakin cuman aku yang dia cintai, Bu." Soraya menatap tajam pada ibunya.


"Sayang ... Soraya Putri Ibu. kalau dia memang terpaksa kenapa dia tas memilihnya? tentunya Fatir akan akan memilih mu, Nduk. Sementara dia terus memilih wanita itu buktinya dalam berapa hari ini Fatir nggak pernah datang untuk menengok kamu Nduk, yakinlah dia itu sudah bahagia dengan istrinya. Jadi tak perlu kamu pikirkan lagi apa lagi menyiksa dirimu seperti ini." Lirih Bu Siti sambil mengusap punggung Soraya.


"Sudahlah Bu, jangan menasehatiku lagi aku pengen sendiri. Ibu keluar saja biarkan aku di sini, menangis sampai Fatir datang untuk ku, Bu," usir Soraya pada ibunya. Dengan mata menatap tajam ....


****


Dukung aku terus ya reader ku, agar aku tambah semangat menulisnya🙏

__ADS_1


__ADS_2