
Viona begitu merindukan sebuah pelepasannya. Sebagai wanita dewasa dan bersuami, kali ini sudah siap menyerahkan semuanya. Pada suami yang entah sampai kapan rumah tangga nya bertahan, Ah Viona tidak perduli dan tak ingin memikirkan yang lain, selain menikmati yang sedang berlangsung sekarang.
Perlahan tangan Fatir menarik semua yang melekat di tubuh barby nya ini. Sehingga dengan jelas tampak semua pahatan yang begitu indah mampang di depan mata membuat kedua mata Fatir yang posisinya duduk di hadapan Viona seakan tak berkedip sedikitpun.
Dengan pelan Viona bangun dan bergantian membuka pakaian yang masih Fatir kenakan. Sekilas terlihat dengan ujung matanya kalau pedang panjang sudah siap beraksi dan mengonyak korbannya.
Jantung Viona berdegup semakin tak menentu walau matanya berusaha berpaling, tapi namanya di depan mata. Jelas tetap terlihat walau bayang-bayang nya.
Senyum Fatir kian merekah. Memandangi mangsanya yang terlihat sudah tak sabar untuk merasakan yang ah Viona pun belum tau gimana rasanya. Begitupun Fatir yang masih belum pengalaman dalam hal ini.
Tangan Fatir mendorong pelan tubuh Viona yang polos itu, lalu tangannya menarik selimut untuk menutupi kedua tubuh itu. Ia merasa malu bila harus terekspos begitu saja. Kemudian meraih remote dan mematikan lampu dan menggantinya dengan sinar yang temaram.
Viona yang sudah tak tentu rasa semakin merasakan tak karuan. Tangannya kembali merangkul pundak Fatir yang sudah berada di atasnya.
Tatapan Fatir kian berkabut napsu. Tatapan semakin lekat dan mendekati wajah Viona dan kembali mengecup wajah Viona dari mulai kening, pipi dan bibir lanjut turun ke bawah menyusuri setiap jengkal kulit Wanita yang sudah mulai dibanjiri dengan keringat di tubuhnya itu.
Sejenak Fatir tertegun. "Aku sudah baca doa belum ya?" batin Fatir sambil menggaruk kulit kepalanya. "Tapi yakin kok sudah tadi."
Viona merasa heran melihat kelakuan Fatir, namun itu tak berlangsung lama. Fatir meneruskan aksinya dengan lembut dan berusaha membuat lawannya merasa nyaman. Tangan Viona beralih meremas rambut Fatir yang berada diantara bulatan miliknya dan sesekali memainkan mulut di puncaknya memberikan rasa sensasi yang aneh dan menjalar di tubuhnya.
"Oh, ini yang mereka bilang nikmatnya?" dalam hati Viona, kedua matanya terpejam dan menggigit bibir bawahnya.
Sementara waktu tangan dan bibir Fatir dengan asyiknya bermain-main di area itu. Seperti balita yang sedang mencari asi nya. Walau si juniornya sudah tidak tahan untuk mencari sarangnya. Namun tetap ia tahan sampai sang lawan benar-benar menyerah agar dengan lebih mudah ia menjebol gawang yang mungkin akan sulit di kalahkan.
Padahal Viona sudah cukup siap tuk menerimanya serangan dari Fatir dan tambah penasaran dibuatnya. Namun pria ini masih betah juga menggantung dirinya, apa mungkin ia harus memintanya untuk segera? gengsi amat pikir Viona.
****
Di sebuah kamar hotel, ada dua insan yang sedang memadu kasih, Mereka lupa kalau itu pergumulan yang terlarang bagi mereka.
Setelah puas dengan ritualnya. Kedua insan itu mengakhiri dan saling memeluk erat.
"Sayang. Bagai mana kalau kita rencanakan buka usaha sendiri? agar nanti kita sudah menikah punya usaha."
"Aku setuju sayang, setuju banget. Tapi buka usaha apa?" sahut si wanitanya mendongak.
"Usahanya ... kita ..." si pria masih berpikir. "Kita akan buka restoran Jepang yang lagi marak sekarang itu,"
"Iya, aku setuju tuh," sambung si wanita dengan mata yang berbinar.
"Tapi ... aku--" si pria menggantung ucapannya dengan wajah sedih.
"Tapi apa?" menatap penasaran.
__ADS_1
"Aku kekurangan modal," jawab pria itu.
"Berapa? aku ada sayang, kalau kamu mau pinjem."
"Oya Rumi, beneran kamu mau bantu aku?" Dewo melonjak bangun, senang mendengar Rumi bersedia meminjamkan uang adanya.
Rupanya kedua insan itu Dewo dan Rumi yang makin hari semakin dekat dan seakan tak ada jarak lagi, sudah seperti layaknya pasangan suami istri saja.
"Iya dong sayang ... kan buat kita juga hasilnya kan? berapa emang kurangnya?" sambung Rumi penasaran.
"Em ... sekitar 500 jutaan. Itupun kemungkinan masih kurang, buat sewa tempat, pekerja. Perabotan dan modal awal.
Rumi menghela napas panjang. "Aky cuma punya 150 juta saja. Itupun tabungan ku buat sehari-hari juga."
"Hem ... segitu mah gak cukup sayang," cuph! mendaratkan kecupan hangat di keningnya Rumi.
"Terus gimana dong?" Rumi menatap cemas.
"Gimana kalau kamu usahakan sekitar 3 atau 4 lah. Nanti aku cari kurangnya ke kawan atau cari pinjaman ke BANK, gimana sayang sanggup gak? masa gak bisa sayang cari segitu? bagus-bagus 5 lebih lah. Dan aku akan mencari modal lainnya." Bujuk Dewo pada kekasihnya itu.
Rumi terdiam sejenak, sampai akhirnya ia tersenyum lebar. Ia ada mempunyai ide bagus. "Baiklah sayang, aku akan usahakan demi kamu, demi masa depan kita." Memeluk erat.
Dewo tersenyum senang. Wanita ini begitu mudah ia dekati, bahkan mungkin ia perdaya. Tangannya mengusap punggung Rumi lembut.
"Aku akan, usahakan ya sayang?" ucap Rumi sambil menyender ke bahu Dewo yang tengah fokus menyetir.
"Iya, sayang. Nanti malam kita lihat lokasinya ya? aku jamin kau pasti suka dengan lokasi yang aku pilih." Kata Dewo seraya melirik sesaat yang kemudian kembali fokus dengan setir di tangan.
Setibanya di kediaman Rumi mobil pun berhenti dan Rumi segera turun, sebelumnya mengecup bibir Dewo sebagai salam perpisahan.
"Mampir dulu yu sayang?" ajak Rumi lalu kemudian turun.
"Sudah siang. Lain kali saja. Bay ..." balas Dewo. Dewo segera melarikan mobilnya. Sementara Rumi berdiri sambil melambaikan tangan sampai mobil Dewo raib dan hilang dari pandangan.
"Dari mana kamu Dek, semalaman gak pulang?" selidik Sita yang berdiri di pinggir pintu memegangi sodet. Mungkin dia lagi memasak dan menyempatkan diri ke depan membukakan pintu buat sang adik, Rumi.
"Biasalah Mbak, hilangkan penat, lagian. hari Minggu kan?" jawabnya dengan santai.
"Kamu dengan siapa semalam? aku telepon tidak kau angkat sama sekali," tatapan sang kakak begitu tajam ia tak setuju adiknya dekat dengan Dewo.
"Dengan Dewo Mbak ... kan sudah aku bilang, aku pergi sama dia ngapain sih bawel amat? lagian sudah pulang nih!" ketus Rumi sambil melenggang melintasi sang kakak yang masih betah berdiri.
Mata Sita melotot, mendapati merah-merah hampir di semua bagian leher sang adik. Langkah Sita mengejar Rumi dan menangkap tangannya.
__ADS_1
Geph!
"Apa semua ini?" telunjuknya menunjuk ke arah leher Rumi yang penuh tanda merahnya.
Rumi yang terhenti langkahnya dan menoleh ke arah Sita, mulai memperlihatkan taringnya. "Mbak, biasalah namanya juga orang pacaran. Kenapa sih mengintrogasi ku terus? aku ini bukan anak ABG lagi Mbak, aku sudah dewasa bahkan aku itu sudah berpengalaman. Jangan sok ngatur!"
"Kau ini! siapa yang bilang kamu anak ABG ha? kamu memang sudah berpengalaman. Sudah jadi janda dan harus pandai memilih laki-laki," sambung Sita tak kalah tegasnya.
"Dia pria tajir Mbak. Anak orang kaya, pewaris juga perusahaan besar, makanya dulu papa mau jodohkan Viona dengan dia. Untung saja si Viona bego, gak mau di jodohkan sama dia. Akhirnya akulah yang akan beruntung," ungkap Rumi dan mengakhiri dengan senyuman.
"Rumi, dengar saran Mbak ya? cari laki itu bukan cuma tajir saja--"
"Sudah, cukup-cukup!" Rumi menutup kedua telinganya. Gak mau mendengar nasihat dari sang kakak dan kemudian ia pergi begitu saja.
"Eeh ..." pekik Sita sembari menatap punggung sang adik, Rumi. Kepalanya menggeleng.
****
Viona dibuat lemas tak berdaya di buatnya oleh perlakuan lembut Fatir yang terus mencumbunya hingga sudah tidak terhitung lagi Viona merasakan getaran hebat di tubuhnya. Ia mulai sedikit kecewa dan lelah menunggu namun Fatir masih juga belum mengarahkan bola ke gawang yang sudah siap menganga.
Pikiran Viona yang mulai traveling kalau Fatir gak normal. Dengan gemasnya Viona ingin meremas bola itu dan memasukannya ke dalam gawangnya sendiri. Namun ia terlalu tidak punya keberanian untuk itu.
Mungkin Fatir terlalu santai dalam hal ini entah sengaja atau gimana? dia terus bolak-balik dari atas ke bawah, atas dan bawah lagi. Ia kembali m****** benda kenyal Viona yang selalu menjadi candu untuknya. M******* lembut.
Turun lagi, bermain-main dengan kedua puncak yang tinggi menjulang dan terus melambai untuk di jamah. Ketika hasrat bercintanya mulai memuncak Fatir menatap ke arah Viona yang sesekali memejamkan mata sibuk menikmati rasa yang ada, yang tidak tahu harus di jabarkan dengan kata-kata.
"Bolehkah bila aku memintanya?" menatap lekat dan suara nyaris tak terdengar saking bergetar nya.
Dengan tatapan yang begitu sayu dan tampak pasrah. Viona mengangguk dan tangannya semakin erat merangkul punggung Fatir sehingga tubuhnya begitu menempel. Dan tanpa sadar ia membuka jalan lebar-lebar.
Fatir tersenyum bahagia. Seakan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Fatir pun mengarahkan bola nya yang siap ia tendang menuju gawang yang sudah menunggu kedatangannya.
"Hek!" Viona sedikit memekik menggigit bibir bawahnya. Ternyata rasanya sakit, dan mata pun mengeluarkan buliran bening. Kemudian Fatir kembali melahap bibir Viona dengan lembut agar dapat mengalihkan rasa sakit yang dirasakan Viona.
Ternyata mencetak gol yang pertama itu tidak semudah yang di bayangkan. Ia sendiri pun sangat kesusahan untuk membobolnya dan hampir putus asa sehingga memberi jeda. Tangannya begitu lembut membelai rambut, pipi dan anggota tubuh lainnya yang dapat memberi dukungan dalam menjalankan ritual yang di tunggu dari sekian bulan lalu itu.
Kemudian Fatir melanjutkan tendangannya. Dengan perlahan-lahan memainkan tapi pasti akan mengoyak gawang tersebut, keringat pun membanjiri tubuhnya dan seakan bermandikan cahaya yang tersorot sinar walaupun temaram.
Viona pun yang mulanya kesakitan jadi enjoy dan Begitu happy dalam menikmatinya. Suara-suara aneh pun lolos dari bibir mungil Viona membuat Fatir semakin bergairah. Hingga akhirnya Viona merasakan ada yang ingin keluar. Ia mencoba bangun namun di cegah Fatir. "Aku pengen pipis sebentar," dengan suara pelan dan napas ngos-ngosan ....
****
Maaf? mungkin yang tertulis di atas mengandung api, mana yang menunggu panas-panas seperti itu? yang tidak suka skip aja ya🙏
__ADS_1