Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Luruh


__ADS_3

Kedua netra mata Hendra mengarah ke depan rumah yang tampak sepi sekali. Seperti tak ada kegiatan orang sama sekali dan akhirnya kakinya turun.


Brugh!


Pintu mobil yang di tutup. Hendra berjalan mendekati pintu dan tangannya mengarah ke bell yang ada di samping kanan pintu tersebut. Tidak lama menunggu muncullah seorang wanita yang tentunya lebih muda darinya.


"Mas, masuk Mas? mana istri dan anak mu, ndak diajak kah?" suara Sita sangat antusias dengan kedatangan sang kakak.


"Apa kabar kamu?" tanya Hendra sambil melangkah mengikuti Sita ke ruang tamu. Manik matanya menyapu seluruh ruangan yang tampak rapi.


"Baik, Mas sendiri gimana?" Sita balik tanya serta mendudukkan bokongnya di sofa.


"Baguslah." Hendra menganggukkan kepalanya.


"Mas libur ya?" selidik Sita menatap lekat sang kakak.


"Em, aku sudah resign dari hampir satu bulan lalu--"


"Apa, berhenti? gak salah Mas?terus Mas kerja apa sekarang. Kok bisa resign?" rentetan pertanyaan dari Sita kepalanya menggeleng seakan tidak percaya kalau kakaknya menganggur.


"Ndak, itu benar." Hendra celingukan seakan mencari seseorang.


"Terus, sehari-hari kamu dari mana?" Sita menatap lekat.


"Tabungan, menggunakan yang ada saja," sahut Hendra.


"Mas, kok bisa sih. Kamu berhenti dari kerajaan mu itu!" lagi-lagi Sita menggeleng.


"Aku, pusing. Ndak semangat Sita ... Mas kalut. Pokoknya tak semangat buat bekerja!" sambung Hendra.


"Helah, Mas ... kamu kenapa sih gitu amat? kamu itu suami yang harus bertanggung jawab terhadap anak dan istri mu. Jangan seperti ini." Sita tak habis pikir sama kakaknya ini.


Hendra tidak berkata apapun. Ia melamun dan yang terbayang hanyalah wajah Viona seorang, seseorang yang membuat ia tidak semangat pun hidupnya terasa hampa dan kosong.


"Mas, dengar ya? jangan bilang kamu itu mati rasa dan apalah hanya karena Viona. Dia sudah menikah punya suami dan hidup bahagia."


"Kata siapa dia bahagia? di menikah sama pria itu tidak didasari cinta. Itu cuma pelarian saja, dia masih mencintai Mas, Tak ada yang menggantikan Mas dalam hatinya," jelas Hendra begitu yakin.


Sita kebingungan harus berkata apa lagi yang akan membuat Hendra sadar.


"Mas? aku rindu-rindu sama kamu." Tiba-tiba Rumi datang dan memeluk Hendra dengan erat.


"Dari mana kamu Dek,?" membalas pelukan Rumi.


"Kerja lah, Mas sendiri tumben ada di sini, ada angin apa nih?" Rumi mengernyitkan keningnya. Sebab jarang-jarang Hendra datang.


"Dasar nih punya adek datang saja tak boleh ha ha ha ..." Hendra menjitak kening Rumi.


"Ih, sakit. pinjemin aku uang dong, butuh suntikan dana nih."

__ADS_1


"Berapa? nih sepuluh ribu." Hendra memberikan selembar uang sepuluh ribu rupiah.


"Ih ... apaan sih? aku butuhnya 200 juta buat tambah modal. Bukan sepuluh ribu, ada-ada saja." Rumi menggeleng dan memukul tangan Hendra.


"Apa? 200 juta, gak salah kamu ini ha? jangan gak ada, pun ada mendingan buat sehari-hari saja. Lagian gak kerja lagi, Mas lho." Gumam Hendra dengan menyandarkan punggungnya ke bahu sofa.


"Apa Mas? apa aku gak salah dengar?" tanya Rumi sambil memasang kedua telinganya.


"Mas, sudah tidak bekerja di penebangan lagi." Jelas Hendra mengulang ucapannya.


"Ha ..." Rumi mengedarkan pandangannya pada kakak perempuannya, Sita.


Sita mengangguk mengiyakan pertanyaan sang adik sambil menghela napas panjang dan berat. Menatap Hendra yang tampak kosong.


Kemudian Hendra beranjak dan pergi entah mau kemana? di tanya pun tidak menjawab.


"Si, Mas kenapa sik Mbak? kok jadi aneh gitu?" selidik Rumi yang merasa heran.


"Entah, jiwanya jadi kosong begitu. Seolah gak semangat gitu hidupnya, kaya orang linglung iiiy ... amit-amit." Sita bergidik dan berdiri pergi ke belakang meninggalkan Rumi yang masih membatu di tempat.


Hendra membawa langkahnya ke mobil dengan tujuan yang belum di tentukan. Mobil melaju cepat menjauhi kediaman Sita dan Rumi.


Mobil Hendra terus melaju dan akhirnya berhenti di area apartemen Viona.


****


Fatir tengah duduk di sofa dengan sebatang rokok di sela jarinya. Viona yang sengaja memakai lingerie dan menghampiri Fatir, tanpa permisi duduk di paha Fatir dan jemarinya yang lentik menyambar sebatang rokok yang ada di jari Fatir.


Fatir terkesiap. Tiba-tiba Viona duduk di salah satu pahanya. "Apa sih sayang ... ganggu kesenangan orang aja." Netra mata Fatir mengarah ke rokok yang sudah Viona matikan.


"Emangnya. Aku di sini, kamu gak senang ya?" mengalungkan kedua tangan di leher Fatir.


Fatir memicingkan mata. "Senang, tapi ..." ucap Fatir terhenti ketika tangan Viona bergerak dan menari di bawah dagunya turun ke dada.


"Aku sedih, ternyata suami ku gak senang aku di dekatnya." Viona berwajah sedih.


"Siapa sih yang ndak senang istrinya bermanja-manja gini, tapi ada apa nih? jangan-jangan ada gorengan di dalam wajan! Mengerutkan keningnya menatap sang istri dari kepala sampai ujung kaki.


"Ah ... kok gitu sih?" Mengerucutkan bibirnya manja.


"Habis, gak biasanya kaya gini. pakai baju kurang bahan gini juga." Jari Fatir menyentuh baju yang melekat di tubuh Viona.


"Ndak suka? yo wes ... aku ganti lagi." Viona hendak turun namun Fatir tahan dengan cara memeluk pinggang Viona dengan sangat erat.


"Ndak usah, biar aku yang buka saja." Sambil menyeringai.


"Boleh." Tangan Viona memeluk tubuh Fatir.


"Beneran? tapi di sini!" Fatir mulai berfantasi liar. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.

__ADS_1


Dengan malu-malu dan menyembunyikan wajahnya di leher Fatir, Viona mengangguk pelan. Tangannya memeluk erat sang suami.


Bibir Fatir menyeringai puas, mendapat anggukan dari wanitanya. Dengan tidak membuang waktu lagi Fatir mencumbu sang istri dengan sangat lembut dan membuat Viona begitu menikmatinya.


De-se-han kecil lolos dari bibir Viona yang terdengar begitu indah di telinga Fatir sehingga semakin menggugah hasratnya yang lama tak penuhi.


Bibir Fatir terus melahap setiap milik Viona yang menggodanya dan menikmati tanpa henti, membuat keduanya merasakan panas dingin serta bergetar hebat seperti tersengat aliran listrik.


Di tempat yang sama, ada seseorang tengah berdiri di depan pintu, yang entah kenapa tidak terkunci sehingga pria tersebut bisa mendorong dan membukanya sedikit. Sontak matanya melotot dengan sempurna. Melihat ke arah sofa yang tampak jelas orang yang ada di atasnya sedang melakukan ritual pribadi.


Ya, Hendra sengaja datang ingin bertemu dengan Viona untuk meluapkan rasa rindu yang mengisi ruang hatinya. Namun apa yang dia lihat saat ini? Viona sedang bergulat dengan suaminya dan gak tanggung-tanggung melakukannya itu di atas sofa, tampak jelas pula Viona begitu menikmati terlihat dari bibirnya yang mengulas senyuman dan membalas setiap kecupan dari Fatir penuh napsu. Jelas mendadak tubuh pria itu bergetar. Tangannya mengepal pun gigi mengerat, tampak kemarahan dan cemburu membakar hati orang tersebut.


Ingin rasanya menyeruak masuk dan menghentikan itu serta memukul si pria itu sampai babak belur. Namun untungnya otak Hendra masih berfungsi dengan baik, bagaimanapun mereka suami istri yang tak ada hak buat Hendra untuk mengganggu apalagi memisahkannya. Perlahan pintu ia tutup kembali, mengatur napasnya yang bergemuruh, dadanya terasa sesak dan kedua matanya berembun timbul buliran air menghiasi sudut matanya.


Tubuhnya luruh, berjongkok dekat dinding. Hatinya berasa di sayat dengan ujung pisau tajam mengoyak perasaannya, pria tegap dan tampan ini mengalami hancurnya perasaan. Kemudian ia berdiri menatap daun pintu sesaat, lalu membawa langkahnya yang lebar dengan secepat mungkin menjauhi tempat tersebut.


Di dalam apartemen. Fatir dan Viona tetap asik melakukan aksinya yang makin memanas, keduanya meluapkan rasa rindu yang lama tak tersalurkan pada tempatnya. Mereka saling memuaskan satu sama lain, peluh pun menghiasi terpapar cahaya sinar lampu sehingga mereka tampak bermandikan cahaya.


"Sakit gak sayang?" selidik Fatir dengan lirih di sela ritualnya tersebut.


Viona menggeleng dan wajahnya mengguratkan kebahagiaan yang sulit bila harus diungkapkan. Bibirnya mengulas senyuman puas. Fatir terus melahap bibir Viona tangannya tak luput bergerilya. M****** bukit tinggi milik Viona, membuat sang pemilik bersuara nikmat dan menaikan lagi geloranya.


Pun Fatir melenguh nikmat dan terus melancarkan aksinya yang terus menggempur Viona yang asyik pula di bawah kungkungan nya. Kini bibirnya beralih pada puncak bukit yang menggodanya. Ia sambar dan menikmatinya bergantian.


Namun tiba-tiba Viona melonjak bangun. "Ya ampun ... pintu, belum aku kunci sayang."


Jelas Fatir terkesiap, sedang asyik-asyiknya bercinta. Viona bangun. Namun Fatir tidak membiarkan Fiona beranjak dan kepalanya mengarah ke pintu yang kata Viona belum dikunci.


Dengan terpaksa Fatir Melepas senjatanya, beranjak dan berjalan dengan sesuatu yang menggantung. Mana hidup lagi, Viona menahan tawanya merasa lucu melihat Fatir yang berjalan membawa senjata yang hidup itu.


Detik kemudian setelah mengunci pintu, Fatir kembali mendekati dan hendak melanjutkan kembali yang tertunda barusan. Namun Viona sekilat berdiri dan berlari ke kamar sambil tertawa, Fatir mengejar dan menangkap tubuh Viona lantas di peluknya erat.


Di bawanya ke tempat tidur dan dibaringkan di sana. Sehingga mengekspos tubuh Viona yang seutuhnya membuat Fatir merasa tidak tahan untuk melanjutkan pergulatannya kembali. Dengan lembut ia menyusuri lorong yang penuh kenikmatan itu, apalagi sekarang pintu masuknya sudah mulai terbiasa di lewati senjata tumpul milik Fatir yang ukurannya lebih dari normal.


Viona menggigit bibir bawahnya ketika Fatir melancarkan aksinya yang ke sekian kali, terus menggempur lawannya sampai kehabisan tenaga. Ia sendiripun akhirnya tumbang juga di samping tubuh polos sang istri. Viona tersenyum puas dan Fatir beberapa kali mendaratkan kecupannya di pipi dan kening Viona lalu berakhir di bibir sebagai ucapan terima kasih yang sudah memberikan sesuatu yang selalu Fatir dambakan.


"Ahk ... capek sayang. Makasih sudah membuat aku puas malam ini. Sangat puas." Gumam Fatir sambil memeluk kepala Viona di dadanya.


****


Brak!


Brak!


Brak!


Suara mobil yang yang menabrak pembatas jalan sehingga mobil tersebut beberapa jungkir balik dan terpental beberapa meter ....


****

__ADS_1


Fatir dan Viona mengucapkan selamat hari raya🙏 tidak terasa sebulan sudah berlalu dimana kita menahan haus dan lapar khususnya. Aku ucapkan mohon maf lahir dan batin.


__ADS_2