
Fatir dibawa ke sebuah lapangan yang ada pesawat jet pribadinya.
"Silakan Tuan masuk?" titah dua orang tersebut.
Dalam pikiran Fatir masih tak habis pikir mau dibawa ke mana yang sebenarnya? dan ketemu siapa? Ia hanya termangu melihat dalamnya jet ini yang tampak mewah bahkan di meja sudah tersedia makanan, minuman kaleng dan buah-buahan.
"Yang sebenarnya saya ini mau di bawa ke mana dan siapa yang yang ingin bertemu dengan saya?" selidik Fatir menatap dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Tuan duduk saja dengan tenang. Sebab kami bukan orang jahat Tuan." Hanya itu yang mereka katakan.
Fatir duduk dengan hati yang tetap gundah gulana yang tak mengerti apa-apa sampai harus terdampar di jet pribadi seperti ini.
Jet mulai lepas landas yang di kendalikan seorang pilot yang usianya tidak jauh beda dengan dua bodyguard yang mendampingi Fatir. Mata Fatir lepas memandangi keluar jendela, rasanya baru kali ini naik pesawat pribadi lagi. Seumur-umur baru merasakan berada di angkasa seperti ini.
Namun sayang suasananya yang mungkin kurang tepat, jadinya ia tak bisa mendapatkan pemandangan yang bagus. Sebab yang terlihat hanya kegelapan dan sinar dari puing yang membawanya.
"Tuan, makan dan minumlah?" suara salah satu bodyguard membuyarkan lamunan Fatir yang melamun.
"Ha? iya makasih." Balas Fatir singkat sambil menyandarkan pundaknya di bahu kursi.
Selang beberapa waktu, yang Fatir rasakan begitu singkat pesawat yang Fatir tumpangi mendarat sempurna. Dan di bodyguard membawa Fatir ke dalam mobil Alphard yang sudah tersedia di sana.
Fatir tambah kebingungan. Netra nya bergerak kanan dan kiri namun untuk mengenali lokasi yang ia lewati tapi sepertinya sulit tuk ia kenali sebab suasana pada malam hari.
Dalam 10 menit saja mobil Alphard sudah berhenti yang Fatir rasa di area hotel mewah. Jantung nya semakin berdebar, berdegup nya semakin kencang. Dua bodyguard itu menggandeng tangan Fatir dari kanan dan kiri membawa Fatir memasuki lobby.
Semua pegawai di sana mengangguk hormat pada Fatir dan bodyguard tersebut. Fatir yang penampilan nya jauh dari kata rapi, ia hanya mengenakan t-shirt berwarna moca dan celana pendek warna senada namun dengan kualitas serta harga yang di atas rata-rata.
Di depan lift. Ada dua bodyguard menyambut kedatangan mereka, mengangguk hormat pada Fatir yang masih kebingungan. Ini di mana? dan perjalanan belum berakhir juga.
"Kalian cukup sampai di sini saja, Tuan saya yang mengantar," ucap salah satu bodyguard yang menyambut mereka.
Dua bodyguard yang membawa Fatir mengangguk dan memutar tubuhnya. Sebelum itu menatap ke arah Fatir yang tampak bingung dan semakin gusar, kemudian berlalu meninggalkan mereka bertiga.
"Ayo Tuan, ikut kami?" orang itu menyilakan Fatir berjalan di depan memasuki pintu lift yang sudah di bukakan. Diikuti oleh keduanya di belakang.
Dengan bingung Fatir menuruti arahan dari para bodyguard tersebut. Terlihat jari orang itu memijit no 10, Fatir pikir oh berati tujuannya ke lantai 10. Di balik rasa bingung, cemas. Ada rasa penasaran juga.
Ting!
Pintu terbuka. "Silakan Tuan?" menunjuk ke depan.
Perlahan kaki Fatir melangkah ke depan yang orang tersebut tunjuk, setelah sedikit berjalan. Tibalah di depan pintu kamar no 202. Membuat jantung Fatir semakin tak karuan.
__ADS_1
Terdengar salah satu diantara mereka bicara dengan seseorang melalui alat kecil yang berada di telinganya.
"Tuan, sudah sampai Nyonya."
"Nyonya? siapa yang mereka maksud! jadi penasaran." Batin Fatir sambil menatap orang tersebut.
Kemudian orang satu lagi membukakan pintu yang rupanya tidak di kunci dari dalam. "Silakan masuk, Tuan. Nyonya sudah menunggu anda di dalam."
Kini Netra mata Fatir menatap daun pintu yang terbuka setengahnya. Dari situ terlihat kamar yang begitu mewah. Dengan helaan napas, Fatir mengayunkan langkahnya ke dalam.
Sinar lampu yang temaram menambah syahdu yang berada di dalamnya. Manik mata Fatir mencari penghuni kamar ini.
Krett ....
Daun pintu di tutup dari luar dan Fatir hanya sendirian masuk. Kaki Fatir seakan bergetar dan mematung di tempat dan netra matanya terus bergerak menyapu setiap sudut ruangan tersebut.
Tiba-tiba ada yang memeluk tubuh Fatir dari belakang. Membuat Fatir sungguh terkejut dan sontak menepis serta membalikkan tubuhnya.
"Vi?" gumam Fatir menggeleng tak menyangka kalau dirinya dibawa ke tempat sang istri.
"Iya, siapa lagi?" tangan Viona kembali merangkul tubuh Fatir dengan penuh rasa rindu dan bahagia akhirnya bisa bersama suami juga di sana.
Walau masih bingung apa maksud semua ini. Fatir membalas pelukan sang istri penuh ke hangatkan dan memberi kecupan di pucuk kepala Viona.
Setelah sesaat dalam keheningan dan mencurahkan rasa rindu akhirnya Fatir membuka suaranya. "Apa maksud semua ini?" seraya membelai rambut Viona lembut.
"Boleh. Tapi kok dengan cara yang bikin aku jantungan gini? membuat Ibu khawatir. Masalahnya bodyguard mu tak ada yang bilang aku mau dibawa kemana? temui siapa? seolah menjadi misteri," ujar Fatir dengan tangan kini mengelus pipi Viona.
"Biar saja mereka ndak bilang. Lalu bilang, mungkin kamu ndak mau ketemu aku!" Viona melepas pelukannya dan berjalan ke arah tempat tidur.
"Kalau di jemput gini, ya. Mau tidak mau pasti ikut sayang, tapi setidaknya kasih konfirmasi dulu biar ndak ada yang cemas atau khawatir."
"Ya sudah. kasih tau aja ibu kalau kamu bertemu aku," ucap Viona sambil menunjuk ponselnya di atas nakas.
Langkah Fatir mendekat dan duduk di sisi Viona. "Terus kenapa tadi ndak balas chat ku? telepon juga ndak diangkat. Tega ya bikin aku khawatir." Tangan Fatir merengkuh pinggang Viona.
Viona menoleh seakan memberikan senyuman. "Sengaja! lagian aku ndak percaya dengan omongan mu."
"Sayang ... aku ndak salah dan aku punya rekamannya di ponsel--"
"Mana ponselnya?" Viona menyela ucapan Fatir dan meminta ponsel Fatir.
"Mana ku bawa, Vi. Di rumah, mana sempat aku bawa ponsel?" timpal Fatir seraya mencium bahu sang istri.
__ADS_1
"Hem." Bibir Viona sedikit maju ke depan. "Kirim kabar dulu Ibu. biar ndak cemas." Kepala Viona nyender ke leher Fatir dengan manjanya.
"Baiklah." Tangan Fatir meraih ponsel Viona lalu mengirim pesan pada no Adam kalau dirinya bersama sang istri dan baik-bauk saja.
Sementara Viona betah menempelkan kepalanya di bawah leher sang suami dengan tangan memeluk erat.
"Mas?"
"Hem!" sahut Fatir sambil menyimpan kembali ponsel Viona ke tempat semula setelah mengirim pesan ke kontak Adam.
"Maksudnya kamu di jemput, supaya menemani ku dan menjaga ku. Tadi aja ada orang yang mengintai kamar ku, aku takut. Pulang juga gak mungkin sebab kerjaan ku masih belum rampung di sini," sambung Viona.
Manik mata Fatir bergerak memandangi wajah Viona yang berada di bawah dagunya. "Terus kamu ndak ke napa-napa, kan?" Fatir tampak cemas.
"Aku baik-baik saja, orangnya keburu ketangkap bodyguard ku. Tapi tetap saja menyisakan rasa was-was. Khawatir. Takut," semakin mengeratkan pelukannya di tubuh sang suami.
"Syukurlah, kalau sudah ke tangkap. Baiklah, aku akan menjaga mu dengan semampu ku. Tapi ... kan ada bodyguard yang senantiasa menjaga mu?" mengernyitkan dahinya.
Dengan refleks tangan Viona menepuk paha Fatir. "Emangnya boleh bodyguard ku menjaga ku di kamar ini. Tidur di sini? boleh? oke pulang sana. Biar mereka tidur di sini bersama ku!"
"Ja-jangan dong sayang ... enak saja mereka tidur di sini? ndak-ndak. Ndak boleh bukan muhrim." Fatir merangkul tubuh Viona yang merajuk.
"Habis kamu gitu!" Viona mengerucutkan bibir tipisnya.
"Iya-iya, aku bersama mu. Biarpun aku meninggalkan kerjaan ku dalam beberapa hari ini."
"Ck. Yang kamu pikirkan itu kerjaan ... terus?" Viona kesal.
"Vi ... karena itu mata pencarian ku sayang, cuma dari situ aku dapatkan uang buat istri dan keluarga ku." Menangkupkan tangannya di wajah Viona yang tampak kesal.
"Iya-iya, aku faham." Balas Viona.
Sesaat keduanya terdiam cuma kedua pasang mata saja yang saling bersitatap. Saling menyelami perasaan masing-masing yang bergemuruh itu.
Dengan perlahan Fatir memajukan wajahnya mendaratkan kecupan di kening, pipi dan berakhir di bibi tipis nan ranum menggoda.
Tangan Viona memegang kedua lengan Fatir. Menikmati penyatuan bibir keduanya awalnya biasa saja tapi lama-lama menjadi luar biasa dan penuh gelora. Fatir menggerakkan tangan yang satu lagi ke tengkuk sang istri, menguncinya dan memperdalam sentuhannya. Mengeksplor yang dia suka.
Kemudian bergerak turun ke ceruknya. Membuat sang empu merinding di seluruh tubuh terutama di bagian intinya, menyeruak sesuatu yang sulit diucapkan.
Fatir tak berhenti begitu saja pergerakannya yang perlahan tapi pasti semakin mencari titik lemah sang istri, untuk meruntuhkan tembok penghalang yang sebentar lagi mulai runtuh. Bukan cuma hidung, bibir yang bekerja namun tangan juga begitu aktif menjelajah tempat-tempat yang menurutnya indah.
Kini Viona sudah tampak pasrah, Tak kuasa lagi menunjukan keagresifan nya. Apalagi kawah gunung Semeru sudah menyemburkan lahar panasnya. Sementara Fatir masih bersikap santai, dengan lembut dan lihai melakukan setiap aksinya. Peluh yang sudah mulai bercucuran dan bercampur ....
__ADS_1
****
Mohon dukungan nya. Reader ku ... jangan lupa like, komen dan vote juga. Makasih🙏