Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Tidak sudi


__ADS_3

Setibanya di apartemen. Fatir bergegas masuk dan menemukan Viona di kamar duduk bersandar di bahu tempat tidur.


Hati Fatir merasa lega setidaknya Viona baik-baik saja. Fatir berjalan gontai mendekati Viona yang asyik dengan laptop nya. "Kok pulang duluan? kan aku jemput!" mendekat hendak mencium kening Viona yang langsung bergerak menghindar.


Fatir merasa heran. "Kenapa nih? suami pulang kok monyong gitu. Bikin aku gemas aja." Goda Fatir sambil mendudukkan dirinya di samping Viona.


Viona melepas cincin yang melingkar di jari manisnya dan ia simpan di sebelah dekat Fatir. "Kamu mau nikahin kekasih mu kan? aku kembalikan ini dan nanti aku urus perceraian kita." Menunduk menyembunyikan perasaannya yang hancur.


Degh!


"Apa maksud mu Vi? kau akan mengurus perceraian kita, Ada apa nih? tadi pagi kita masih baik-baik saja dan kenapa sekarang kau begini!" kedua netra mata Fatir menatap lekat pada Viona yang tak mau bersitatap dengannya.


"Baiklah, siakan kau urus perceraian kita tapi ... sampai kapanpun aku tak akan mau melepaskan mu."


Sontak Viona mendongak. "Terus kau mau menduakan ku gitu iya?"


"Tidak, mana mungkin aku mendua! satu aja aku belum bisa mencukupi mu kok." Dengan santainya dan memeluk guling serta menempelkan kepalanya ke belakang.


Viona jadi gak habis pikir. "Dia sedang hamil dan butuh tanggung jawab dari mu, jadi lepaskan aku dan nikahi dia."


"Vi ... kan kemarin sudah dengar semuanya obrolan kami. Masih ragu juga hem?" Fatir kembali menatap lekat istrinya yang sedingin es itu.


"Dia tadi datang padaku dan mengatakan semuanya. Kalau dia mengandung anak darimu," air mata Viona tak kuasa terbendung lagi yang akhirnya tumpah ruah membasahi wajahnya. Luapan rasa kecewa dan sakit di dadanya mengingat perkataan Soraya.


Fatir heran, kok bisa Soraya menemui Viona? atau ketemu di mana. "Kamu ketemu dia di mana hem?"


Viona yang terisak, tak lantas menjawab. Ia sibuk dengan isakan tangisnya. "Ka-kantor."


"Untuk apa dia datang menemui mu segala?" selidik Fatir, namun Viona menggeleng.


"Aku tanya sama kamu. Gimana caranya dia bisa hamil anak ku? sementara aku ndak pernah menyentuhnya!" lirih Fatir sambil mengusap air mata Viona.


Viona menepis tangan Fatir dan mengusap wajahnya yang basah itu. "Aku ndak tahu dan ndak mau tahu." Hik hik hik.


Walau Viona menolak di sentuhnya. Namun Fatir menarik kepala Viona ke dalam pelukannya. Ia tak tega melihat Viona menangis, mulanya Viona berontak namun karena pelukan Fatir mengunci akhirnya Viona terdiam tenggelam dalam dada bidang Fatir.


"Gimana aku bisa percaya sa-sama kamu? ka-kalau kamu aja pernah berpose memeluk dia mesra di kamar," gumam Viona dalam pelukan.


"Maksud mu?" sambil terus mengusap rambut Viona sampai ke punggung dengan lembut. Hanya ada suara isakkan tangis Viona saja yang terdengar.


"Aku rasa sudah lama sekali, aku berpori dengan nya. Kalau gak salah terakhir itu sebelum aku kenal kamu, itupun banyak orang sebab dia sedang uang tahun." Kenang Fatir.


Viona mulai tenang, tangisnya berhenti merasa nyamannya pelukan Fatir. Rasanya tak ingin lepas ataupun jauh dari tubuh Fatir yang memberi aura hangat dan tenang.


Cuph!


Beberapa kali Fatir mengecup mesra pucuk kepala Viona. "Aku ndak tahu apa aja yang sudah dia bicarakan sama kamu tapi aku harap kamu percaya sama aku. Aku ndak akan meninggalkan mu apalagi menikahinya, sebab hanya kamu istri aku selamanya." Fatir menyematkan cincin kawin pada jari manis Viona kembali.

__ADS_1


Viona bergerak dan menjauh. "Apa kamu jujur sama aku?" Netra matanya yang masih berembun menatap lekat kedua manik mata Fatir seolah mencari kebenarannya di sana.


"Tak ada yang aku tutupi sayang ... aku berani sumpah demi Allah. Kalau aku tidak pernah menyentuh dia--"


Jari Viona menempel di bibi Fatir. Manik matanya bergerak menatap sang suami. "Aku percaya sama kamu." Viona kembali ke pelukan Fatir.


Fatir merekatkan pelukannya. Cuph! mengecup kening Viona berkali-kali. "Terima kasih kau sudah percaya padaku. Jangan marah lagi ya? Aku mencintai mu."


Mendengar kata cinta dari Fatir refleks Viona mendongak dan menatap wajah Fatir, kedua netra matanya bergerak-gerak. "Benarkah?" ragu.


"Apa selama kita menikah, aku pernah bercanda?" sahut Fatir semakin mengeratkan pelukannya. Membuat Viona kesusahan bernapas dan memukul punggung Fatir.


"He he he, saking bahagianya aku." Fatir sedikit memudarkan tangannya.


"Kalau sampai terbukti, dia hamil akibat ulah mu. Aku pastikan tak ada maaf lagi untuk mu!" jelas Viona mendongak.


"Iya, sayang ... Percaya saja ada ku. Jarum milik ku hanya menghunus milik mu saja, tak ada yang lain lagi." Bisik Fatir di telinga Viona.


Membuat bulu kuduk Viona meremang. Apalagi ketika bibir Fatir terbenam di bibirnya, sehingga memejamkan kedua kelopak matanya.


Fatir me***** habis seluruhnya. Dari biasa sampai luar biasa geloranya. Sampai-sampai menyeruak dorongan dari dalam, sebuah keinginan yang meluap-luap tuk menyalurkan hasrat terpendam.


Di sela napas yang tersengal dan menikmati pagutan yang kian memanas serta manisnya yang memabukkan itu. Dihiasi dengan degup jantung yang berpacu lebih cepat dari biasanya sehingga kedua tubuh keduanya terpaku bagai tersengat aliran listrik yang teramat dahsyat.


Perlahan Viona mendorong dada Fatir dengan alasan. "Aku mau masak buat makan malam."


"Mas, aku mau masak dulu lho!" lirih Viona.


"Nanti saja saja ya?" suara Fatir dengan napas yang memburu.


Viona yang mudah luluh dengan sikap sosok Fatir tidak membantah lagi. Ia hanya diam dan pasrah menerima perlakuan Fatir yang kian agresif. Dan membuatnya melayang terbuai terbawa perasaan.


...****...


Hari ini Bambang mendengar selentingan angin kalau Soraya hamil dan akan segera menikah dengan seseorang yang entah siapa.


"Raya tunggu? aku ingin bicara!" Bambang mengejar langkah Soraya yang kian cepat di koridor rumah sakit yang niatnya mau ke kantin.


"Buat apa? gak ada yang harus kita bicarakan." Soraya terus berjalan tanpa menoleh.


"Ada. Ada yang harus bicarakan." geph! Bambang menangkap tangan Soraya yang langsung di tepis kasar.


Berhenti berjalan dan menatap tajam ke arah Bambang. "Apa sih? antara kita tidak ada yang harus di bicarakan, mau kamu apa?"


Bambang terdiam sambil menatap lekat. "Apa benar kau hamil?"


"Itu bukan urusan mu!" ketus Soraya sambil kembali berjalan.

__ADS_1


"Itu urusan ku, sebab kamu pasti hamil dari benih ku. Itu anak ku!" Bambang menghadang langkah Soraya.


"Aku jelaskan ya? ini bukan anak mu," Soraya tak terima kalau ank yang dikandung anaknya Bambang.


"Bohong, itu anak ku. Sebab aku yang pertama yang me--"


"Cukup, aku gak perduli. Dan jangan pernah mengakui ini anak mu, sebab ini bukan anak kamu." Matanya melotot dengan sempurna.


"Raya, kau apa-apaan? jelas-jelas dia benih ku!" Bambang dengan yakinnya.


"Hilo ... kita melakukan itu tanpa sadar. Jadi anggap saja itu tidak pernah terjadi dan tutup mulut mu jangan bahas itu lagi." Pekik Soraya yang tertahan serta matanya bergerak melihat kanan dan kiri khawatir ada yang mendengar argumentasi mereka berdua.


"Aku, mau jujur sama kamu. Aku sengaja melakukan itu sama kamu, sebab aku cinta sama kamu Raya. Jujur aku melakukan itu dengan sengaja dan terencana," Bambang mengakui semuanya.


Plak!


Bekas lima jari Soraya tergambar di pipi Bambang dengan sekuat tenaga. "Kurang ajar kau. Sudah menghancurkan hidup ku, aku tak sudi mengandung anak mu camkan itu!"


Bambang memegangi pipinya yang merah bekas telapak tangan Soraya. "Tapi bagaimanapa pun, dia tetap anak ku dan aku akan mengakuinya di hadapan orang tua mu."


"Tidak perlu, sebab aku akan menikah dengan pilihanku. kau tak perlu repot-repot untuk itu," timpal Soraya sambil berlari meninggalkan Bambang yang masih mematung.


"Aku harus segera datang menghadap orang tuanya. Sebelum dia menikahi pria lain." Gumamnya Bambang bertekad dalam hati.


"Dasar kurang ajar. Enak saja mengakui anaknya, iya sih. Tapi aku gak sudi menikah dengan dia amit-amit." Umpat Soraya sambil terus berjalan.


Pada malam hari Soraya sedang harap-harap cemas menunggu kedatangan Fatir yang tak kunjung juga. Namun di saat penantiannya datanglah seseorang yang diterima oleh sang bunda.


Soraya langsung menghampiri dan berharap kalau yang datang tersebut adalah Fatir. Namun alangkah terkejutnya Soraya ternyata yang datang itu Bambang.


"Kamu, ngapain datang lagi ke sini?" Soraya langsung mengsomasi Bambang.


"Raya ... jangan gitu Nduk. Pamali." Tegur Bu Siti pada Soraya.


"Saya ingin bicara sama ibu dan bapak!" ucap Bambang mengangguk hormat.


Bu Siti terdiam sesaat. "Oh, Ibu panggilkan dulu ya?" kemudian Bu Siti ngeloyor ke dalam.


Soraya berdiri dan menatap tajam pada Bambang. setelah sang bundanya pergi, soraya menarik tangan Bambang. "Sebaiknya kamu pulang sekarang itu pintu masih terbuka, buat apa kau datang apalagi berbincang sama orang tua ku. Pulang sana!" mendorong punggung Bambang supaya pergi.


"Raya ... ngapain kamu di situ nduk? Nak Bambang, bukannya mau ngobrol sama kami?" manik mata bu Siti melihat bergantian pada Soraya dan Bambang.


Soraya melotot dengan sempurna, ia tidak menyetujui kalau Bambang datang dan ingin bicara sama orang tua nya ....


****


Apa kabar kalian semua ? makasih ya masih setia dengan karya ku ini🙏

__ADS_1


__ADS_2