
"Nih, rokoknya aku kembalikan." Rumi memberikan rokok Fatir setelah menghisapnya dan mengalunkan asap ke langit.
Fatir menatap rokok tersebut. "Ambil saja. Aku masih ada." Risih bila harus mengambilnya kembali.
Langkah bi Ijah semakin dekat membawakan nampan yang berisi dua cangkir kopi. Mata Fatir tertuju pada dua cangkir kopi yang bi Ijah hidangkan. "Makasih Bi?"
"Sama-sama Den."
Fatir menoleh pada Rumi sebentar. "Suami Mbak mana?" Fatir mulai membuka obrolan.
Rumi kembali mengeluarkan asap rokok dari hidung sebelum menjawab. "Saya gak bersuami."
"Oh," ucap Fatir singkat. Kedua netra matanya memandangi langit yang terbentang luas itu.
"Oya, Den sepertinya Non Vi sudah menunggu Aden di atas," ujar bi Ijah.
"Oya, permisi Mbak? saya mau istirahat dulu." Fatir langsung beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Rumi membelalakkan matanya dengan sempurna pada bi Ijah. "Kamu tahu kan? saya lagi ngobrol sama dia. Malah di suruh pergi, kopi aja belum dia minum."
"Non Rumi. Den Fatir itu sudah di tunggu istrinya di kamar, emangnya saya salah ya?" bi Ijah menatap dalam ke arah Rumi. "Kopi mah gampang. Tinggal saya teguk saja."
"Daras pembantu gak punya akhlak." Rumi berdiri dan pergi langsung.
Bi Ijah menggeleng melihat Rumi melengos meninggalkannya. ''Dasar anak majikan gak ada akhlak. Masa mau deketin suami adiknya, gak lucu tau,''
Fatir memasuki kamar Viona, dan sang empu sudah bersiap tidur. Dia berbaring memunggungi tempat Fatir tidur.
"Sudah salat isya belum Non?" sapa Fatir.
"Sudah." Jawabnya Viona.
"Kapan?"
"Tadi, sebelum tiduran." Balas Viona lagi.
Fatir tersenyum usil. "Mana? gak ada bekasnya."
"Iih ... aku bilang udah ya udah, tadi ketika kamu sama kak Rumi." Viona melonjak bangun, merasa kesal dengan omongan Fatir.
"Kok marah? gak boleh marah mbak, nanti cepat tua. Kalau cepat tua kan sayang harta nya banyak, gak nikmatin." Sambil melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
"Uuh ... Bawel amat sih? di bilang sudah juga." Gerutu Viona memandangi punggung Fatir.
Malam terlewati begitu saja. tidur bersama dan satu selimut namun terhalang sebuah guling sebagai pemisahnya.
Tik tik tik!
Suara jarum jam dinding yang menunjukan pukul 03.00 dini hari. Fatir terbangun, membuka matanya perlahan dan mendapati sebuah wajah yang cantik tengah tertidur lelap.
Sejenak Fatir duduk dan memandangi sosok wanita yang tengah tertidur itu. Kemudian ia turun berjalan menuju kamar mandi tuk bersih-bersih.
__ADS_1
Setalah usai dua rakaat. Ia siap-siap tuk pergi, sebelumnya mendekati Viona yang masih terlelap. "Mbak? eh Vi ... saya pergi dulu ya!"
"Hem, kemana?" gumam Viona dengan suara serak khas bangun tidur tanpa membuka matanya sedikitpun.
"Mau ke pasar. Belanja buat berjualan," suara Fatir pelan.
"Jam segini?" sambung Viona kembali.
"Iya, pintu nanti siapa yang kunci?" tanya Fatir masih berdiri di tepi tempat tidur.
"Em ... jam berapa nih?" Viona masih memejamkan mata.
"Sekarang, sekitar pukul 03."
"Di laci ada kunci cadangan, kunci aja dari luar." Suara Viona sambil mengeratkan pelukan pada guling. Menarik selimut, melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda.
Fatir tersenyum. Mencari kunci yang Viona maksudkan, sebelum menutup pintu. Fatir menatap Viona yang tak bergeming, mendekati meja rias dan menyimpan sebuah amplop berwarna cokelat. Lalu menutup pintu rapat-rapat dan bergegas menuruni anak tangga sambil mengenakan jaketnya.
Seperti yang Viona bilang ia mengunci pintu dari luar. Fatir segera membawa motor tidak lupa menggunakan helm nya. "Bismillah."
Setelah subuh, Viona terbangun dari tidurnya. Menggercapkan matanya menoleh ke tempat biasa Fatir tidur. Kemudian bersih-bersih lanjut salat subuh. Kemudian beres di dalam kamar, Membuka gorden dan tempat tidur. Di lanjut bersolek bersiap pergi kerja dan kebetulan mau menghadiri rapat di perusaan yang sekarang ia pegang, kalau ke BANK agak siangan.
Namun apa yang ia temukan di meja. Sebuah amplop cokelat yang agak tebal. Setelah di buka ternyata isinya uang dan secarik kertas.
Berisi tulisan, "Ini uang tiga juta, buat belanja sebulan ke depan. Maaf saya cuma bisa ngasih segitu, saya harap dengan uang ini bisa membantu uang belanja." Itu isi secarik kertas yang Fatir tulis.
Sungguh ini sesuatu yang tidak pernah Viona kira sebelumnya. Ia tak menyangka kalau Fatir akan melakukan ini memberinya uang belanja. Dan dengan uang itu cukup lah untuk berdua tentunya dengan gaya hidup yang sederhana.
Kemudian Viona memasukannya ke dalam tas. Menyelesaikan memoles wajahnya, setelah itu bergegas turun menuju dapur untuk sarapan.
"Bi?" panggil Viona lantas duduk sembari membuat susu hangat.
"Aden mana, Non?" tanya bi Ijah.
"Em, dia gak ada. Sudah pergi dari dini hari tadi," sahut Viona.
"Dini hari? kemana Non? gak Non usir kan?" bi Ijah kaget.
Viona menoleh. "Bibi ... tega amat aku usir dia! dia itu ke pasar buat jualan. Ada-ada aja bi Ijah ini." Menggeleng.
"Oh, buat jualan toh ... bibi kira apa? he he he ..."
Viona mengambil sebuah amplop dari tasnya. "Bi ini uang buat belanja bulanan. Uang ini dari Fatir buat belanja."
"Apa, Nak Fatir ngasih uang belanja?" suara Bu Asri dari arah belakang.
Viona menoleh mereka, mama dan oma nya. "Iya. Ma."
"Ternyata mantu Oma seorang pria bertanggung jawab. Oma suka pria macam itu pekerja keras dan sangat bertanggung jawab."
Viona tersenyum tipis. Kemudian sarapan, semua berkumpul di meja makan. Rumi yang siap-siap berangkat kerja sekaligus pulang ke kediamannya, Sementara Sita sudah pulang kemari juga bersama suaminya.
__ADS_1
"Kemana suami mu? jangan bilang masih tidur, masa istri kerja dianya sendiri enak-enak tiduran." Pak Rusadi menatap ke arah Viona.
Viona sudah membuka mulut bersiap menjawab. Namun Oma Yani sudah mendahului menjawab pertanyaan Rusadi.
"Siapa yang masih tidur? suami Vi sudah bangun sebelum kamu melek." Jawab Oma Yani sambil sedikit mendelik.
Pak Rusadi tak menjawab lagi, dia menunduk sambil makan.
"Papa. Aku mau pulang, mau ngasih apa? uang saku atau apa gitu. Mama juga!" suara Rumi hiasi keheningan.
"Heran, yang ada di dalam otak mu cuma duit dan duit saja." Oma Yani sinis.
"Oma, namanya juga orang normal ya butuh duit lah. Cuma orang gila yang gak butuh duit!" balas Rumi dengan nada agak tinggi.
"Tenang ... nanti Papa transfer. Sudah jangan ribut." Pak Rusadi menenangkan putrinya.
Oma Yani mendelik. Kemudian menatap sang cucu. "Fatir pasti belum sarapan Vi, bawakan lah buat dia sarapan."
"Tapi jauh Oma, Vi ada pertemuan di perusahan. Ke BANK juga pasti agak siang."
"Kamu ini Vi. Kasian dia, masa mau kamu biarkan beli. Duit lagi sayang." Lirih wanita tua itu.
"Mulai sekarang, Vi harus belajar masak sayang. Gak mungkin kan beli terus atau mengandalkan Bibi. Ada kalanya suami ingin masakan istri." Bu Asri menatap lembut pada putri semata wayangnya.
"Nanti lah Vi pikirkan. Sekarang Vi sibuk," mengakhiri sarapannya dengan segelas air putih. Kemudian meraih tasnya lalu berpamitan.
Sambil menyetir, di telinganya terngiang ucapan Oma dan sang bunda barusan. "Belajar masak? malas amat, buat apa ada goofod? ah ada-ada saja. Tapi benar juga sih gimana kalau aku mendadak miskin. Bahkan gak punya suami." Baginya beradu argumen.
Seharian ini Viona sibuk dengan kerjaannya. Dari mulai perusahaan nya sampai sampai bekerja di BANK, Baru pulang pukul empat sore dan langsung ke Rumah sakit, ia ingat kalau sudah janji sama Bu Afiah akan datang ke Rumah sakit setelah menikah.
Dikarenakan gak punya nomor ponsel Fatir. Viona menghubungi Sidar supaya bilang sama Fatir. Ditunggu di Rumah sakit.
Viona datang sendiri ke Rumah sakit, dan Alisa gak bisa ngantar sebab beby nya kurang sehat. Ia berjalan menjinjing kantong makanan dan buah-buahan.
"Assalamu'alaikum ... Bu, Vi datang." Langsung mencium punggung tangan sang ibu mertua.
"Nduk ... sama siapa? mana Fatir!" tanya bu Afiah.
"Em ... sendiri, dia jualan. Mungkin nanti ke sini, belum ada datang kan?" Viona menyimpan buah tangannya di meja.
"Belum," lirih bu Afiah.
Kemudian Viona menghampiri Sya yang duduk di kursi roda. "Apa kabar Sya?" Lantas memeluknya.
"Mbak cantik, makin cantik saja. Aku sudah melihat pernikahan kalian dari ponsel Mas Sidar. Mbak sangat cantik dan Mas Fatir tampan."
"Oya, dah lihat ya?" Viona berjongkok di depan Sya menatapnya dengan lembut.
Di lorong Rumah sakit, sedang berjalan seorang wanita cantik rambut panjang lurus menuju ruangan dimana Sya di rawat ....
****
__ADS_1
Apa kabar semua reader ku. Semoga kabar baik ya? mohon dukungannya.🙏