
"Kalau SIM, surat ijin menikah. Sudah punya, he he he ... kalau SIM C ada, kalau SIM berkendara lain belum minat." Jawab Fatir sambil tertawa kecil.
"Nak Fatir bisa aja. Tentulah kalau SIM itu, makanya kalian berdua akan menikah." Oma tersenyum manis. Dengan bu Asri.
Sepanjang perjalanan, Viona hanya Diam tak sedikitpun mengeluarkan suaranya. Dia duduk bersandar dengan pandangan keluar jendela.
"Ayo turun Vi? sudah sampai," ajak bu Asri, setelah mobil yang Fatir kemudikan terparkir sempurna.
"Mah, Oma, Vi tunggu di sini ajalah. Vi malas ngapa-ngapain." Suara Viona lesu.
"Kamu kenapa sayang? sakit!" tanya bu Asri menatap cemas.
"Kamu sakit bukan? Vi kamu kenapa?" oma terlihat sangat cemas.
"Vi, gak ke napa-napa Oma. Cuma lagi mager aja tuk jalan," ucap Viona lagi.
"Terus gimana dong?" bu Asri menoleh sang bunda.
"Ya, sudah kita berdua aja belanjanya. Mungkin nanti Vi menyusul," oma menarik tangan Asri.
"Iya, nanti Vi menyusul." Kata Viona.
"Nak Fatir. Temenin Vi aja ya?" pesan oma sambil melirik Viona yang tampak kurang semangat.
"Baiklah Oma," akhirnya Fatir masuk kembali ke dalam mobil. Duduk di tempat semula. Melirik ke arah Viona yang cuma diam. Kemudian pandangannya lepas ke sekitar.
"Makasih, atas semua kebaikan mu dan keluarga. Mungkin ... saya tak bisa membalasnya," ungkap Fatir. Sekilas melirik ke arah Viona.
"Sama-sama," gumam Viona singkat tanpa menoleh sedikitpun. Saat ini Viona sedang benar-benar merasakan kehampaan jiwa. Gairah hidupnya lagi down.
Fatir memberikan air mineral yang sebelumnya ia bukakan segelnya. "Ini minum dulu. Sepertinya anda sedang kurang sehat.
Netra mata Viona mengarah ke botol tersebut, ia tatapi sementara waktu. Lalu kemudian mengambil dan meneguknya, ia berikan kembali pada Fatir yang memegang tutupnya.
Tangan Viona menekan sebuah tombol agar kursi jok mundur ke belakang, biar enak tuk bersandar ia merasakan kepalanya sedikit pening.
Fatir melihat Viona yang menyandarkan kepalanya ke jok dan memejamkan kedua kelopak matanya. Fatir pandangi dalam waktu lama, kemudian ia mengalihkan pandangan ke tempat lain. Hingga ia memutuskan untuk menyusul oma dan bu Asri ke pusat pembelanjaan.
Setelah mereka bertemu. "Nak Fatir, mana Vi?" tanya oma Yani.
"Iya, mana Viona?" bu Asri pun menatap heran.
"Eh ... Viona. Tidur di mobil, Oma, Tante. Sepertinya kecapean." Jawab Fatir sedikit menunjuk ke belakang.
"Tidur?" oma dan bu Asri saling pandang.
"Ya, sudah. Kami selesai kok belanjanya, kita pulang saja." Bu Asri mengajak pulang.
Fatir mengambil alih beberapa kantong belanjaan dari tangan oma Yani. Kasian sudah tua, sementara bu Asri pun membawa belanjaan banyak.
__ADS_1
Ketiganya berjalan menuju dimana mobil Viona terparkir. Viona masih tertidur nyenyak.
"Ya ampun ... Vi, kok tidur di mobil sih?" suara sang bunda sambil menyimpan barang-barang di bagasi.
Viona pun terbangun, mendengar riuh suara sang bunda dan oma nya. Netra matanya mengarah pada Fatir yang sudah duduk di belakang kemudi. Perlahan menggosok matanya. " Pukul berapa nih?"
"Sudah sore sayang ..." tutur bu Asri.
"Sepertinya kamu kurang fit, Vi harus segera periksa ke dokter. Sebelum sakit itu menyerang," ucap oma Yani.
"Iya, sayang. Benar kata oma. Nak Fatir, kita ke jalan xx dulu ke dokter pribadi kami. Biar Viona periksa kesehatan," perintah Asri melirik ke arah Fatir.
"Ck, Oma, Mama ... Vi baik-baik saja, paling cuma kecapean." elak Viona.
"Makanya dari itu periksakan ke dokter, sekalian Nak Fatir juga cek kesehatan, mau nikah kan!" oma melihat keduanya bergantian.
Viona menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu ia lepaskan dengan sangat panjang. Fatir melirik wanita cantik itu.
"Ibu, ngapain kita ke tempat dokter? suruh aja ke rumah. Kita langsung pulang aja." Protes Asri.
"Oh, iya. Kok saya jadi linglung ya? Ya sudah kita pulang saja." Oma tersenyum simpul.
"Jadi gimana nih Oma, pulang apa ke tempat dokter?" tanya Fatir menoleh ke belakang.
"Pulang saja, Nak Fatir. Oma lupa, kalau dokternya tak suruh datang saja." Ujar bu Asri. Dengan lembut.
Tak selang lama, tibalah di dapan gerbang. Menunggu di bukakan scurity. Memang benar Viona tampak lesu dan terlihat lunglai dia tampak lemas sekali. Oma menyuruh Fatir untuk menggendongnya.
Fatir pun tampak ragu dan tak berani tuk menyentuh Viona. Begitupun Viona, ia menolak di gendong oleh Fatir. Dengan alasan bisa jalan sendiri kok, akhirnya di tuntun sama bu Asri. Fatir mengikuti dari belakang sambil membawa banyak paper bag.
"Harus Fit dong sayang, lusa kalian menikah. Masa mempelai pengantinnya sakit?" gumamnya bu Asri.
"Iya, kurang bahagia dong kalau mempelai wanitanya sakit?" tambah oma.
"Vi butuh istirahat aja Oma, Mama." Viona langsung di bawa ke kamarnya.
"Nak Fatir, barang nya simpan aja di situ, biar nanti bi Ijah yang bereskan," oma Yani menunjuk meja. "Nak Fatir ikut sama Oma."
Fatir pun mengikuti langkah oma Yani menaiki anak tangga yang akhirnya Fatir yang menuntun tangan oma Yani. "Hati-hati Oma."
"Maklum, Oma sudah tua, cepat capek. Tapi jangan khawatir, Oma sudah biasa."
"Oma, mau ke mana?" tanya Fatir dengan tangan masih menuntun tangan oma Yani.
"Ini kamarnya Vi, Nak Fatir mau masuk atau mau tunggu di sofa aja?" menunjuk sofa yang berada depan kamar Viona.
Dengan helaan napas yang panjang. "Fatir tunggu di sini saja Oma." Ia duduk di sofa tanpa oma persilahkan.
"Baiklah, Oma masuk dulu ya!" langkah kaki Oma Yani tertuju mendekati pintu kamar Viona.
__ADS_1
Tidak lama dokter. Pribadi pun datang memeriksa kondisi Viona. Dan oma berpesan kalau Fatir menunggu dulu nanti di panggil.
"Sedang apa kau di sana?" suara pak Rusadi yang baru menginjakkan kaki di lantai itu.
Mengagetkan Fatir yang sedang menikmati sebatang rokok di tangannya. "Om, apa kabar?"
"Baik, sedang apa di sini?" ulang pak Rusadi.
"Itu, sedang menunggu dokter." Menunjuk ke kamar Viona.
"Papa, kunci mobil di mana?" tanya seorang perempuan berambut pirang.
"Ada di laci, emang Sita mau ke mana?" tanya balik pak Rusadi. Rupanya wanita itu bernama Sita anak pak Rusadi dari istri yang pertama.
"Mau nganterin Aldi pengen ke alfamart. Oh ini ya calon mantu Papa, tajir gak?" tanya wanita itu menatap sinis.
"Boro-boro, jualan aja mie ayam." Jawab sang ayah.
Deg!
Fatir menundukkan pandangannya. Wajahnya merah menahan malu, ditambah lagi rasa sakit yang menyapa hatinya. Ia mematikan rokok yang masih setengahnya, di remas sampai hancur. Berkali-kali menghela napas panjang.
Wanita berambut pirang itu pergi begitu saja. Di susul oleh pak Rusadi ke bawah.
"Nak Fatir masuk?" bu Asri memanggil Fatir dan mengajaknya masuk ke kamar Viona.
Di depan pintu, Fatir ragu-ragu tuk masuk. "Nggak pa-pa nih Tante? saya masuk."
Bu Asri menoleh dan tersenyum. "Ndak ... masuklah, lagian ada oma dan Mama, dokter juga. Sebentar lagi kalian ini suami istri, berarti akan menjadi kamar mu juga," tutur bu Asri tak menghilangkan senyumnya. Ia mengerti, mungkin Fatir merasa gak enak.
Akhirnya dengan rasa ragu dan risih menghantui, Fatir mengayunkan langkahnya masuk ke kamar tersebut dan langsung matanya tertuju pada Viona yang berbaring di kasur berselimutkan selimut tebal dan berbulu.Mata indahnya pun terpejam.
"Vi, cuma kecapean." Suara oma yang berada di dekat Viona berbaring.
Netra mata Fatir beralih pada oma Yani sambil mengangguk, kemudian ia duduk di sofa tuk di periksa kesehatannya.
Sesekali manik mata Fatir menatap ke arah Viona yang tertidur. Wajahnya terlihat lebih cantik, kemudian ia menunduk dalam.
"Nak, Fatir jangan khawatir. Vi baik-baik saja," ucap bu Asri mesem melihat ekspresi Fatir yang tampak cemas.
"Oh, ini calon mempelai pria nya?" selidik dokter itu.
"Iya dok, gimana dengan kesehatan calon mantu saya dok?" tanya bu Asri, begitupun oma Yani menatap penasaran pada dokter.
Dokter tersebut tersenyum. "Baik, gak ada masalah. Perokok ya?" sahut dokter tatapannya mengitari bu Asri dan oma Yani. Kemudian beralih kepada Fatir yang berada di depannya ....
****
Hai ... apa kabar reader ku hari ini? semoga kabar baik ya, jangan lupa like dan komennya🙏
__ADS_1