Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Kedinginan


__ADS_3

"Bikin minuman hangat ya?" ucap Viona sambil membalas pelukan sang suami dengan erat.


"Sedang dibikinkan oleh Sya." Wajah Fatir menyusup ke leher Viona yang jenjang itu dan dengan nakalnya memberikan kecupan kecil namun merindingnya menjalar ke seluruh tubuh Viona.


"Apaan sih? jangan gitu dong. Merinding nih." Suara Viona begitu lirih.


"Aku sangat kedinginan sayang." Balas Fatir dengan nada sedikit bergetar.


"Mas? ini minuman jahe nya." Pekik Sya dari balik pintu.


Viona melepas pelukan Fatir dan berjalan mendekati pintu.


Blak!


Sya sedang berdiri memegangi sebuah nampan berisi secangkir teh jahe. Viona langsung terima dan senyuman manisnya.


"Terima kasih ya Sya?" ucap Viona.


Sya mengangguk lalu dengan cepat kembali meninggalkan tempat tersebut. Viona bawa masuk dan tidak lupa mengunci pintu.


Viona berjalan mendekati suaminya yang sekarang duduk di tepi tempat tidur. Memberikan secangkir minuman jahe buatan Sya. "Ini diminum dulu!"


Fatir menyesapnya sedikit demi sedikit hingga menimbulkan rasa hangat menjalar ke tubuhnya. Kemudian minuman yang tinggal sisa setengahnya itu Fatir simpan di meja. Mengedarkan penglihatannya ke arah Viona yang duduk di sampingnya.


"Baby Vivian nyenyak ya tidurnya?" Fatir menoleh ke arah baby Vivian yang tertidur sangat nyenyak.


"Iya, kekenyangan mungkin. Habis minum asi banyak banget." Viona seraya mengangguk.


Tangan Fatir merengkuh tubuh Viona dengan sangat mesra. "Semoga baby Vivian anteng Bobonya. Biar ayah dan Bundanya bisa mesraan."


Viona mengerucutkan bibir depannya. Lalu menyandarkan kepala di atas dada Fatir. "Hem, manja nih?"

__ADS_1


"Biar saja, minta di manja juga sama istri sendiri, asal jangan sama istri orang saja." Goda Fatir sambil mengelus rambut Viona yang bergelombang itu.


"Awas saja kalau begitu. Aku potong dadu burung itu, aku rebus lalu aku berikan buat pakan ikan." ucap Viona geram.


"Aw! takut ..." Nanti kamu gak bisa pakai lagi dong," ungkap Fatir seraya menangkupkan tangan yang satunya.


"Biarin, dari pada di pakai orang. Enak amat. Mendingan gak punya," kata Viona seraya mendongak.


"Jangan dong ah, Aku bisa rugi kalau begitu." Langsung menangkap bibir Viona yang ada di depannya itu.


Sehingga Viona tak mampu lagi berkata-kata kecuali menikmati sentuhan yang ada. Viona memposisikan dirinya supaya Fatir lebih leluasa melakukan maunya.


Fatir terus m******* lembut dan penuh gairah tapi sayang tidak bisa lebih seperti biasanya untuk mencurahkan hasratnya sebab Viona sedang masa nifas. Bibirnya bergerak turun ke leher dan menghujaninya dengan kecupan kecil tapi fungsinya lumayan dahsyat bagi yang menerimanya.


Napas keduanya terengah-engah. Viona berusaha melayani suaminya dengan baik meskipun tidak dengan cara yang intim seperti biasanya, yang penting mampu membahagiakan sang suami saja.


Fatir terlentang dengan napas yang sangat memburu dan terlihat turun naik Hasratnya yang memuncak hingga membakar ubun-ubun tak bisa dengan sempurna tersalurkan. Melirik ke arah sang istri yang berbaring di sampingnya, merengkuh kepalanya dibawa ke dalam pelukan. "Tidurlah di dada ku."


Viona buru-buru bangun dan memakai pakaiannya. Mencari kotak obat yang kebetulan ada di kamar tersebut, sesaat kemudian kembali membawa segelas air putih dan obat demam.


"Mas, minum obat dulu biar cepat turun demamnya." Viona begitu cemas melihat sang suami tampak lemah.


Setelah minum obat Fatir pun kembali membaringkan dirinya di bantal. Tangan Viona membenarkan selimut di tubuh Fatir yang masih polos itu, baby Vivian terbangun mungkin haus atau popoknya basah menjadikan Viona mendekat dan mengambilnya.


"Uu! sayang Bunda bangun. Lapar ya?" langsung memberi ASI-nya dengan penuh kasih sayang. "Yang anteng ya sayang ... Ayah lagi demam." Netra Viona melirik ke arah sang suami yang terpejam dan nampak menggigil.


...****...


Keesokan harinya. Pagi-pagi buta Fatir sudah siap-siap ke kedai. Namun sebelum berangkat ia mengajak berkomunikasi dengan baby nya, yang ditidurkan di atas tempat tidur miliknya.


Fatir tiduran miring dan menumpukan tangan menyangga kepalanya miring menghadap baby Vivian. "Sayang. Jadi anak yang Sholehah ya? yang pinter seperti bunda!" punggung jarinya mengelus pipi si baby dengan sangat lembut. Anak itu tampak nyenyak.

__ADS_1


"Lho, Mas. Kamu mau ke mana? kamu demam lho, jangan pergi-pergi dulu." Suara Viona dari dekat pintu kamar mandi.


"Mas, mau ke kedai." Fatir bangun dan duduk.


Setelah mendekat Viona mengecek suhu tubuh Fatir. "Masih hangat sayang, istirahat di rumah ya?"


"Aku harus kerja sayang ... aku gak ke napa-napa cuma diam biasa, aku pergi dulu ya?" Fatir berdiri namun Viona menggelengkan tangan di leher sang suami.


Viona menatap dengan sangat lekat. "Baiklah. Tapi sarapan dulu dan minum obat ya?"


"Iya, tapi temenin ya?" lirih Fatir sambil mengelus pipi Viona.


Keduanya berjalan menuju ruang makan dan di tangga bertemu Sya yang menanyakan baby Vivian. Sekalian saja Viona menitipkan baby ke Sya, selama ia menemani Fatir sarapan.


"Baik Mbak, Sya dengan senang hati untuk menjaga baby Vivian. Mas, sedikit pucat! Mas sakit?" pada akhirnya Sya heran dengan kondisi sang kakak.


"Mas, cuma demam biasa. Ini juga sudah baikan. Titip Baby ya?" lalu Fatir kembali berjalan dengan dengan Viona yang memegang tangannya tampak mesra.


"Oke! Sya melanjutkan niatnya menemani baby Vivian.


Ibu Afiah melihat sang putra pucat, jelas ia bertanya dan mencemaskan keadaan putranya. Namun Fatir menenangkan kalau dia cuma demam biasa dan sebentar lagi juga akan berangkat ke kedai.


Bu Afiah cuma bisa menghela napas dengan sikap anaknya yang keras kepala dan sangat bertanggung jawab itu.


"Ibu Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja dan aku mohon doa nya saja. Semoga semua hajat ku segera tercapai," harap Fatir.


Viona bengong. "Emang kamu punya hajat apa, Mas?" Viona penasaran ....


****


Jangan lupa like komen dan vote nya🙏

__ADS_1


__ADS_2